Situasi Kesehatan Kerja

Badan pusat statistik mengestimasikan puncak bonus demografi (keuntungan/peluang yang akan didapat oleh suatu negara jika mencapai kondisi rasio ketergantungan rendan karena jumlah penduduk usia produktif (15-64tahun) lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk usia nonproduktif (anak-anak dan lansia) akan terjadi pada tahun 2025, seperti tampak pada gambar ini.

data kecelakaan kerja

Kualitas generasi di masa tersebut akan menentukan peluang Indonesia menjadi negara maju. Perbaikan upaya kesehatan kerja menjadi penting untuk menciptakan SDM yang berkualitas agar bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal.

Jumlah angkatan kerja diperkirakan sebesar 121,9 juta pada Agustus 2014. Jumlah angkatan kerja tahun 2012 dan 2013 (Agustus) hampir sama, sedangkan dari tahun 2013 ke tahun 2014 angkatan kerja di Indonesia naik 1,7 juta. Sama halnya dengan jumlah bekerja, tahun 2012 dan 2013 (Agustus) hampir sama. Jumlah yang bekerja tahun 2013 dan 2014 naik 1,8 juta seperti tampak pada gambar di bawah ini.

data kecelakaan kerja konstruksi

Tingkat partisipasi angkatan kerja tahun 2014 diperkirakan sebesar 69,2%. Bila dilihat dari tahun 2012-2014 terjadi peningkatan tingkat partisipasi angkatan kerja (tahun 2012 = 66,9%, tahun 2014 = 69,2%)

data kecelakaan kerja di indonesia tahun 2015

Masalah kesehatan potensial pada pekerja:

  • Kecelakaan Kerja
  • Penyakit Akibat Kerja
  • Penyakit Tidak Menular
  • Penyakit Menular

Setiap pekerjaan selalu mengandung potensi resiko bahaya dalam bentuk kecelakaan kerja. Besarnya potensi kecelakaan dan penyakit kerja tersebut tergantung dari jenis produksi, teknologi yang dipakai, bahan yang digunakan, tata ruang dan lingkungan bangungan serta kualitas manajemen dan tenaga tenaga pelaksana.

Jumlah kasus kecelakaan akibat kerja tahun 2011-2014 yang paling tinggi pada 2013 yaitu 35.917 kasus kecelakaan kerja (Tahun 2011 = 9.891; Tahun 2012 = 21.735; Tahun 2014 = 24.910). Provinsi dengan jumlah kasus kecelakaan akibat kerja tertinggi pada tahun 2011 adalah Provinsi Banten, Kalimantan Tengah dan Jawa Timur; Tahun 2012 adalah Provinsi Jambi, Maluku dan Sulawesi Tengah; Tahun 2013 adalah Provinsi Aceh, Sulawesi Utara dan Jambi; tahun 2014 adalah Provinsi Sulawesi Selatan, Riau dan Bali.

data kecelakaan kerja indonesia

Untuk jumlah kasus penyakit akibat kerja tahun 2011-2014 terjadi penurunan (tahun 2011 = 57.929; tahun 2012 = 60.322; tahun 2013 = 97.144; tahun 2014 = 40.696). Provinsi dengan jumlah kasus penyakit akibat kerja tertinggi pada tahun 2011 adalah Provinsi Jawa Tengah, Sulawesi Utara dan Jawa Timur; tahun 2012 adalah Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Jawa Barat; tahun 2013 adalah Provinsi Banten, Gorontalo dan Jambi; tahun 2014 adalah Provinsi Bali, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan seperti tampak gambar di bawah ini.

data kecelakaan kerja tahun 2014

Pravelensi Penyakit Tidak Menular (PTM) penduduk di usia produktif akan berpengaruh pada produktifitas kerja kelompok penduduk angkatan kerja dan bekerja. Di bawah ini tujuh penyakit tidak menular tertinggi menurut Riskesdas tahun 2013 yang akan mempengaruhi pada produktifitas kerja kelompok penduduk angkatan kerja dan bekerja.

data kecelakaan akibat kerja

Tingginya prevalensi PTM sangat dipengaruhi oleh beberapa factor resiko antara lain perilaku hidup yang tidak sehat. Tiga faktor risiko tertinggi menurut Riskesdas tahun 2013 adalah kurang aktifitas, kebiasaan merokok dan konsumsi sayur dan buah tiap hari.

Peningkatan Pelayanan Kesehatan pada Kelompok Rentan (Migran, Pekerja Perempuan, Nelayan, Penyelam, Tenaga Kerja Indonesia)

Pekerja Perempuan

Pekerja perempuan di Indonesia dalam usia reproduksi mempunyai permasalahan kesehatan. Hasil studi menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada Wanita Usia Subur (WUS) sebesar 26,4% (SKRT, 2014) selain itu hasil penelitian di beberapa industri di Tangerang, Jakarta dan Depok memperlihatkan bahwa anemia pada pekerja perempuan menunjukkan besaran antara 24-42%.

Padahal pekerja perempuan yang menderita anemia, output kerjanya rata-rata 5% lebih rendah serta kapasitas kerjanya perminggu rata-rata 6,5 jam lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak anemia (Scholz, dkk, 1997; Untoro, dkk, 1988). Anemia gizi besi juga mengakibatkan pekerja menjadi mudah sakit, mudah terjadi kecelakaan sehingga angka absensi meningkat dan kemungkinan apabila hamil akan mempunyai resiko saat melahirkan serta melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah.

Permasalahan lainnya adalah tingkat pendidikan pekerja perempuan masih rendah. Data BPS tahun 2014 (Agustus) menunjukkan bahwa 50,91% berpendidikan SD ke bawah. Hal ini berpengaruh terhadap kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan gizi. Di samping lingkungan yang kurang menguntungkan di mana biasanya tinggal di pemukiman yang kurang memperhatikan sanitasi, memungkinkan pekerjaan tersebut mengalami penyakit infeksi kronis seperti malaria, TBC dan kecacingan.

Pemerintah sejak tahun 1996 telah menanggulanginya dengan menurunkan prevalensi anemia gizi besi pada pekerja perempuan. Salah satu upayanya adalah kerjasama antara Direktur Jendral Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan (Binawas), Departemen Tenaga Kerja dan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan telah menyepakati upaya penanggulangan anemia gizi bagi pekerja perempuan dengan dikeluarkannya Keputusan Bersama Nomor Kep 22/BW/1996 dan Nomor 202/BM/DJ/BGM/II/1996 tanggal 13 Februari 1996 tentang “Penanggulangan Anemia Gizi (Kekurangan Zat Besi) bagi Pekerja Perempuan”.

Selain itu, sejak tahun 1997 telah dicanangkan Gerakan Pekerja Wanita Sehat Produktif (GPWSP). Gerakan ini lebih merupakan suatu upaya yang berkesinambungan baik dari pemerintah, masyarakat maupun pengusaha untuk mengupayakan peningkatan kesehatan pekerja perempuan. Beberapa waktu terakhir gerakan tersebut sudah tidak berjalan lagi sementara makin banyaknya permasalahan kesehatan pekerja perempuan untuk itu dibuat Pedoman Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP) pada tahun 2012 yang merupakan kesepakatan bersama antara Kementrian Kesehatan, Kementrian Dalam Negeri, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Sumber : infodatin

 

Penyebab Kecelakaan Kerja

penyebab kecelakaan kerja

Dunia usaha Indonesia saat ini sedang menghadapi perubahan besar dan cepat sebagai dampak globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia, sehingga perlu meningkatkan daya saing dengan memproduksi barang dengan mutu terbaik pada tingkat harga yang kompetitif. Untuk itu perlu peningkatan mutu sumber daya manusia seiring dengan efisiensi perusahaan. Proses industrialisasi telah mendorong tumbuhnya industri di berbagai sektor dengan menerapkan berbagai teknologi dan menggunakan bermacam-macam bahan. Hal ini mempunyai dampak, khususnya terhadap tenaga kerja berupa resiko kecelakaan dan penyakit. Untuk mengurangi dampak tersebut perlu dilaksanakan syarat keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja (AM. Sugeng Budiono, 2003:203).

Kesehatan dan keselamatan kerja telah menjadi salah satu pilar penting ekonomi makro maupun mikro, karena keselamatan dan kesehatan kerja tidak bisa dipisahkan dari produksi barang dan jasa. Untuk itu perusahaan harus menekan resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja, karena kecelakaan akan menyebabkan kelambatan produksi, padahal ketepatan waktu dapat menghemat biaya yang besar, sebaliknya ketidaktepatan dalam memenuhi jadwal dapat berakibat kerugian yang besar pada perusahaan dan pelanggan (Depnaker RI, 1996:42).
Dalam setiap bidang kegiatan manusia selalu terdapat kemungkinan terjadinya kecelakaan, tidak ada satu bidang kerjapun yang dapat memperoleh pengecualian. Kecelakaan dalam industri sesungguhnya merupakan hasil akhir dari suatu aturan dan kondisi kerja yang tidak aman (ILO, 1989:15). Kecelakaan tidak terjadi kebetulan melainkan ada sebabnya, oleh karena itu kecelakaan dapat dicegah asal kita cukup kemauan untuk mencegahnya (Suma’mur PK., 1996:212). Kecelakaan juga timbul sebagai hasil gabungan dari beberapa faktor.

Faktor yang paling utama adalah faktor perlatan teknis, lingkungan kerja, dan pekerja itu sendiri. Misalnya dalam suatu pabrik mungkin saja kekurangan peralatan yang aman, atau dengan perkataan lain mesin-mesin tidak dirancang baik untuk dilengkapi dengan alat pengamanan secukupnya. Lingkungan kerja yang bising sehingga tenaga kerja tidak mendengar isyarat bahaya. Suhu ruangan buruk sehingga para pekerja jadi mudah letih dan tak mampu lagi untuk berkonsentrasi terhadap tugas-tugas yang ditanganinya, kurang baiknya pengaturan sirkulasi udara menyebabkan terkumpulnya uap beracun yang pada akhirnya mengakibatkan kecelakaan. Demikian pula para pekerja itu sendiri dapat menjadi faktor penyebab bila mereka tidak mendapat latihan yang memadai atau mereka belum berpengalaman dalam tugasnya (ILO, 1989:16).
Agar dapat melakukan tindakan pencegahan dan keselamatan kerja, perlu diketahui dengan tepat bagaimana dan mengapa kecelakaan kerja terjadi. Agar efektif upaya pencegahan harus didasari pengetahuan penyebab kecelakaan yang lengkap dan tepat. Pengumpulan dan pencatatan data kecelakaan dimaksudkan untuk mendapat informasi yang lengkap guna upaya pencegahan kecelakaan tersebut (Syukri Sahab, 1997:60).

Wawancara dengan korban kecelakaan bisa menggali informasi mengenai kejadian yang langsung berkaitan dengan kejadian kecelakaan kerja. Informasi ini hendaknya keterangan tentang kejadian yang sebenarnya, tidak ada hal yang ditutupi, terutama yang berkaitan dengan kesalahan dalam operasi (Syukri Sahab, 1997:177). Di negara maju yang telah memberikan perhatian yang besar terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, kerugian akibat kecelakaan kerja ternyata masih cukup besar. Lees mengutip Fletcher& Douglas (Depnaker RI, 1996:41) yang menghitung kerugian akibat kecelakaan dalam setahun pada sebuah industri skala medium sebagai berikut: terjadi 71 kasus cidera berat, 10522 kasus cidera ringan dan 35500 kasus yang mengalami kerugian material dengan total kerugian sebesar 1.273.518 US Dollar.

Di Amerika Serikat menurut National Council rata-rata lebih dari 10.000 kasus kecelakaan fatal dan lebih dari 2 juta kasus cidera tiap tahun dengan kerugian mencapai lebih dari 65 Milyar US Dollar, sedangkan di Inggris Health and Safety Executive mencatat kejadian kebakaran pada industri kimia dan minyak bumi dengan total kerugian 98,9 juta pound. Jumlah kejadian 687 kali atau rata- rata 53 kejadian setiap tahun (Depnaker RI, 1996:41).m Menurut ILO, setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian yang disebabkan oleh karena penyakit atau kecelakaan akibat hubungan pekerjaan. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat hubungan pekerjaan, dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya (Depkes RI, 2007:2).

Meskipun telah mengalami penurunan jumlah, namun angka kecelakaan kerja di Indonesia masih menempati urutan tertinggi untuk wilayah Asia Tenggara. Ini karena, lemahnya kesadaran dalam menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Menurut data Depnakertrans RI tahun 2006, jumlah kasus kecelakaan kerja di Indonesia pada tahun 2003 sebanyak 105.846 kasus, tahun 2004 sebanyak 95.418 kasus, tahun 2005 sebanyak 96.081, dan tahun 2006 sebanyak 70.069 kasus. Jumlah tersebut menurun sebesar 37,12 persen dalam kurun waktu 4 tahun terakhir ini (BIKKB Riau, 2007:1), sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 83.714 kasus dan tahun 2008 turun sebesar 55,82% dari tahun 2007 menjadi 36.986 kasus (Himakesja, 2009:1).

Laporan Kecelakaan Kerja

Laporan Kecelakaan Kerja

Mengumpulkan fakta-fakta (dengan cara peninjuan on the spot, wawancara dan lain-lain) adalah bagian dari pekerjaan berkaitan dengan pemeriksaan kecelakaan kerja. Nilai dari perkerjaan ini ditentukan oleh terpkannya atau tidak “pengobatan” atau cara-cara pencegahan agar kecelakaan kerja yang sama tidak terjadi lagi di kelak kemudian hari.

Ada 2 aspek dasar yang perlu di perhatikan dalam pekerjaan pemeriksaan kecelakaan ini :

a. Dasar Pemeriksaan

Menemukan penyebab dari kecelakaan dan kemudian segera mengadakan tindakan-tindakan koreksi.

Dalamk pemeriksaan ini dapat diterapkan teknik bertanya saat pemeriksaan sebagai berikut:

Siapa ….. terluka?

Dimana ….. terjadi?

Bila ….. terjadi?

Apa ….. penyebab-penyebab penunjang dan langsung?

Mengapa ….. tindakan tidak aman atau kondisi tidak aman bisa terjadi (dibiarkan)?

b. Tindakan Koreksi

Setelah diketahui sebab-sebab kecelakaan dari dasar pemeriksaan di atas, maka langkah selanjutnya adalah segera diambil tindakan koreksi melaui pemeriksaan. Tindakan koreksi ini juga harus berdasarkan atas kasus-kasus kecelakaan kerja masing-masing.

Ada 4 macam tindakan koreksi:

  1. Engine revision: perbaikan terhadap mesin-mesin
  2. Persuation and peal including instructional: persuasi, himbuan, intruksi tentang cara kerja yang aman.
  3. Personal adjusment: penempatan, pemindahan atau mutasi pegawai ke pekerjaan yang sesuai.
  4. Disiplin: ini adalah tindakan koreksi yang paling penting berupa penerapan disiplin, tindakan administrative dan sebagainya.

Pemeriksaan berupa laporan kecelakaan ini penting dilakukan selanjutnya dapat dijadikan acuan untuk tetap menjaga lingkungan kerja yang aman agar resiko kecelakaan serupa tidak terjadi kembali.