Keselamatan Kerja dan Kesehatan Di Industri Konstruksi

Industri konstruksi merupakan sektor industri yang mempunyai tingkat risiko tinggi baik dari segi risiko usaha maupun risiko keselamatan kerja dan kesehatan. Berdasarkan data dari International Labor Organization (ILO) yang dikutip dalam Bisnis Indonesia (22 Januari 2010) menyebutkan setidaknya ada 1,1 juta kasus kematian setiap tahunnya di dunia, akibat kecelakaan kerja atau penyakit yang ditimbulkan lingkungan kerja.

King dan Hudson (1985) menyatakan bahwa kematian pada proyek konstruksi di negara-negara berkembang lebih tinggi 3 kali lipat dibandingkan dengan di negara-negara maju sebagai akibat penegakan hukum yang sangat lemah. Tingginya tingkat risiko ini akan berpengaruh terhadap keseluruhan tingkat keberhasilan pekerjaan konstruksi.

Kegagalan penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif seperti penundaan penyelesaian proyek, menurunnya produktifitas kerja, membengkaknya anggaran, rusaknya citra perusahaan penyedia jasa, serta akibat-akibat negatif lainnya.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan K3 yang baik sebagai salah satu bagian dari CSR dapat menjadi competitive strategy bagi perusahaan. Porter (1985) menjelaskan competitive strategy sebagai kemampuan perusahaan untuk menciptakan optimum value bagi klien.

Pelaksanaan K3 yang baik terbukti dapat meningkatkan serta memperbaiki kedisiplinan kerja serta produktivitas karyawan yang akhirnya mempengaruhi produktivitas perusahaan. Muniz et al. (2009) menemukan beberapa aspek kunci yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan K3 yaitu : kebijakan, insentif & partisipasi karyawan, pelatihan, komunikasi, perencanaan serta control/pengawasan.

Perusahaan kontraktor yang memiliki catatan pelaksanaan K3 yang baik (tanpa kecelakaan kerja) pada proyek-proyek sebelumnya akan lebih mudah untuk mendapatkan kepercayaan  dari  stakeholder  atau  klien  untuk  mendapatkan  proyek-proyek selanjutnya.

 

Standar Keselamatan Kerja – Keselamatan dan Kesehatan Kerja

keselamatan dan kesehatan kerjaTujuan Dari Sistem Manajemen K3:

  1. Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehat kerja yang setingi – tingginya baik buruh, petugas pegawai negeri dan pekerja bebas.
  2. Sebagai upaya untuk mencegah dan memberi penyakit dan kecelakaan akibat kerja, meme meningkatkan kesehatan dan gizi para tenag merawat dan meningkatkan efisiensi dan da produktifitas tenaga manusia, memeberanta kerja dan melipatgandakan gairah serta keni bekerja.

 

Teori Keselamatan & Kesehatan Kerja

Pengertian Manajemen Menurut James A.F. Ston Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengenda dari anggota organisasi serta penggunaan sumua yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pengertian Manajemen Menurut Mary Parker Fo Manajemen adalah suatu seni, karena untuk mel pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan keteram

Manajemen

planning

organizing

actuating

controlling

leadership

Faktor Penyebab Kontrol Kurang Baik

  1. Program manajemen keselamatan & kesehat kurang baik.
  2. Standar program kurang tepat atau mendalami standar tersebut.
  3. Pelaksanaan standar tidak tepat.

Program Manajemen Tentang K3

  1. Kepemimpinan dan administrasinya
  2. Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terpadu
  3. Pengawasan
  4. Analisis pekerjaan dan prosedural
  5. Penelitian dan analisis pekerjaan
  6. Latihan bagi tenaga kerja
  7. Pelayanan kesehatan kerja
  8. Penyediaan alata pelindung diri
  9. Peningkatan kesadaran terhadap keselamatan dan keseha
  10. Sistem pemeriksaan
  11. Laporan dan pendapatan

Sumber Penyebab Dasar

a) Faktor perorangan

  • kurang pengetahuan
  • kurang keterampilan
  • Motivasi kurang baik
  • Masalah fisik dan mental

b) Faktor pekerjaan

  • Standar kerja kurang
  • Standar perencanaan
  • Standar perawatan ya
  • Standar pembelian ya

 

Perbuatan Substandar

  • Menjalankan yang bukan tugasnya
  • Melepaskan alat pengaman atau membuat alat pengaman tidak berfungsi
  • Membuat peralatan yang rusak
  • Tidak memakai alat pelindung diri
  • Membuat sesuatu secara berlebihan
  • Menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya
  • Mengangkat berlebihan
  • Posisi kerja yang tidak tepat
  • Bersenda gurau, bertengkar
  • Berada dalam pengaruh alkohol atau obat -obatan

 

Kondisi Substandar

  • Pengamanan tidak sempurna
  • Alat pelindung diri yang tidak memenuhi syarat
  • Bahan atau peralatan kerja yang telah rusak
  • Gerak tidak leluasa karena tumpukan benda
  • Sistem tanda bahaya tidak memenuhi syarat
  • House keeping & Layout yang jelek
  • Lingkungan kerja yang mengandung
  • bahaya ( iklim kerja, panas/
  • dingin, ventilasi kurang baik,
  • tingkat kebisingan tinggi,
  • penerangan tidak
  • memenuhi syarat

 

Faktor – Faktor Penyebab  Terjadinya Kecelakaan Kerja

  • Faktor fisik
    Penerangan, suhu udara, kelembaban, cepat rambat udara, suara, vibr radiasi, tekanan udara, dll.
  • Faktor kimia
    Gas, uap, debu, kabut, asap, awan, cairan dan benda – benda padat.
  • Faktor biologi ( baik golongan hewan maupun tumbuh – tumbuhan )
  • Faktor fisiologis
    Konstruksi mesin ( sikap & cara kerja )
  • Faktor mental psikologis
    Susunan kerja, hubungan diantara pekerja dan pengusaha, pemelihara

 

  1. Langkah Penerapan Sistem Manajemen
    Tahap Persiapan
    Tahapan ini merupakan langkah awal yang harus dila perusahaan dan melibatkan seluruh lapisan manajem personel mulai dari komitmen sampai kebutuhan su yang dibutuhkan.
  2. Tahap Pengembangan dan Penerapan
    Tahapan ini Berisi langkah – langkah yang harus dilak organisasi atau perusahaan dengan melibatkan banyak pihak.

Manfaat Penerapan Sistem Manajemen

  • Perlindungan karyawan
  • Pekerja merupakan aset Perusahaan yang harus dipelihar keselamatannya.
  • Karyawan yang terjamin keselamatan dan kesehatannya a lebih optimal dibandingkan karyawan yang terancam K3-n
  • Memperlihatkan kepatuhan pada peraturan dan Undang – Undang
  • Mengurangi biaya
  • Membuat sistem manajemen yang efektif
  • Meningkatakan kepercayaan dan kepuasan pelanggan

 

Penyebab utama kecelakaan kerja adalah kurang pengendalia

Sumber kecelakaan dan ketidakselamatan dalam bekerja ada perorangan dan Faktor pekerjaan

Kurang Pengendalian dapat diminimasi dengan implementasi

 

Perlunya Pendidikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Perlunya Pendidikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Penyebab kecelakaan kerja yang kerap kali di temui adalah perilaku yang tidak aman sebesar 88%, kondisi lingkungan yang tidak aman sebesar 10%, atau kedua hal tersebut diatas terjadi secara bersamaan. Oleh sebab itu, pelaksanaan pendidikan dan pelatihan keselamatan dan kesehatan tenaga kerja dapat mencegah perilaku yang tidak aman dan memperbaiki kondisi lingkungan yang tidak aman.

Pendidikan  dan pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja juga berguna agar tenga kerja memiliki pengetahuan dan kemampuan mencegah kecelakaan kerja, mengembangakn budaya kesehatan dan keselamatan kerja, memahami ancaman dan bahaya di tempat kerja dan menggunakan langkah pencegahan kecelakaan kerja.

Kendala yang biasa terjadi dalam pelaksanaan perjanjian kerjasama dalam lingkung K3

  • Pemahaman karyawan mengenai isi dari perjanjian kerjasama : Perlu adanya musyawarah terkait hal ini, musyawarah pembinaan atau koordinasi dan sosialisasi antara pengurus serikat pekerja dengan para pelaku
  • Tidak optimalnya penanganan keselamatan kerja : Cara mengatasi hal ini, apabila terjadi kecelakaa berarti tindakan pencegahan tidak berhasil, maka pihak manajemen perlu mempelajari apa yang salah.
  • Kebijakan perusahaan yang tidak tegas : Perlu adanya tindakan yang tegas apabila terdapat pegawai yang tidak disiplin

Undang-undang yang mengatur apabila terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang keselamatan dan kesehatan kerja misalnya pengusaha tidak menyediakan alat keselamatan kerja tau perusahaan tidak memeriksakan kesehatan dan kemampuan fisik pekerja. Undang-undang ini memuat ancaman pidana kurungan paling lama 1 tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 15000.000 (lima belas juta rupiah) bagi yang tidak menjalankan ketentuan undang-undang tersebut.

Sumber:

  • Indonesia.Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja.
  • Indonesia.Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
  • Indonesia. Undang – Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
  • Indonesia. Peraturan Menteri No. 5 tahun 1996 mengenai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

 

 

Apakah di Indonesia ada Undang-Undang yang mengatur mengenai K3?

Kesadaran mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja sangat diperlukan, Resiko kecelakaan kerja dapat terjadi kapan saja.Undang-Undang No. 1/1970 dan No. 23/1992 mengatur mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Tentu tidak ada pekerja yang menginginkan terjadinya kecelakaan kerja, Namun resiko kecelakaan kerja dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Oleh sebab itu Keselamatan dan Kesehatan Kerja yg atau K3 adalah salah satu peraturan pemerintah yang menjamin keselamatan dan kesehatan kita dalam bekerja.

 Apa itu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)?

Keselamatan dan Kesehatan kerja merupakan sebuah situasi dalam pekerjaan yang sehat dan aman itu pekerjaan yang di jalani, perusahaan dan juga bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.

Keselamatan dan kesehatan kerja juga adalah suatu usaha untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidk diinginkan yang mengakibatkan kecelakaan kerja.

Apakah di Indonesia ada Undang-Undang yang mengatur mengenai K3?

Undang-Undang yang mengatur K3 adalah sebagai berikut :

  • Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Undang-Undang ini mengatur dengan jelas tentang kewajiban pimpinan tempat kerja dan pekerja dalam melaksanakan keselamatan kerja.

  • Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.

Undang- Undang ini menyatakan bahwa secara khusus perusahaan berkewajiban memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik pekerja yang baru maupun yang akan dipindahkan ke tempat kerja baru, sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan kepada pekerja, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Sebaliknya para pekerja juga berkewajiban memakai alat pelindung diri (APD) dengan tepat dan benar serta mematuhi semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan.  Undang-undang nomor 23 tahun 1992, pasal 23 Tentang Kesehatan Kerja juga menekankan pentingnya kesehatan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya hingga diperoleh produktifitas kerja yang optimal. Karena itu, kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja dan syarat kesehatan kerja.

  • Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang ini mengatur mengenai segala hal yang berhubungan dengan ketenagakerjaan mulai dari upah kerja, jam kerja, hak maternal, cuti sampi dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Sebagai penjabaran dan kelengkapan Undang-undang tersebut, Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) dan Keputusan Presiden terkait penyelenggaraan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), diantaranya adalah :

  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja Pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi
  • Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida
  • Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan
  • Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit Yang Timbul Akibat Hubungan Kerja

 

Alat Keselamatan Kerja Kapal

alat keselamatan kerja di kapal

Keselamatan kerja merupakan prioritas penting bagi pelaut profesional saat bekerja di atas kapal. Seluruh perusahaan pelayaran memastikan bahwa crew mereka mengikuti prosedur keamanan pribadi dan aturan semua operasi yang dibawa diatas kapal

Untuk mencapai keamanan maksimal di kapal, langkah awal memastikan bahwa seluruh crew kapal memakai peralatan pelindung pribadi mereka dibuat untuk berbagai macam jenis pekerjaan yang dilakukan pada kapal.

Berikut ini adalah peralatan dasar pelindung diri yang harus ada disebuah kapal untuk menjamin keselamatan pekerja.

 

  1. Menggunakan Pelindung

Pakaian pelindung adalah coberall yang melindungi tubuh anggota awak dari bahan-bahan berbahaya seperti minyak panas, air, percikan pengelasan dll hal ini dikenal ‘Dangri’ or ‘Boiler Suit’

 

  1. Helm

Bagian paling penting bagi tubuh manusia adalah kepala. Perlu perlindungan terbaik yang sediakan oleh helm plastik keras di atas kapal. Sebuah tali dagu juga di sediakan dengan helm yang menjaga helm di tempat ketika perjalanan atau jatuh.

 

  1. Sepatu Safety

Max dari ruang internal kapal digunakan oleh kargo dan mesin, terbuat dari logam keras yang sangat berbahaya bagi pekerja. Manfaat Sepatu Safety disini untuk memastikan bahwa tidak ada luka yang terjadi di kaki para pekerja atau crew di atas kapal.

 

  1. Sarung Tangan

Berbagai jenis sarung tangan disediakan di kapal, sarung tangan ini digunakan dalam operasi dimana hal ini menjadi keharusan untuk lindungi tangan orang-orang. Beberapa sarung tangan yang diberikan adalah sarung tangan tahan panas, untuk bekerja di permukaan yang panas, sarung tangan kapas, untuk operasi pekerjaan yang normal, sarung tangan las, sarung tangan kimia, dll.

 

  1. Googles

Mata adalah bagian paling sensitif dari tubuh manusia dan pada oprasi sehari-hari memiliki kemungkinan besar untuk cedera mata, kaca pelindung atau kacamata digunakan untuk perlindungan mata, sedangkan kacamata las digunakan untuk operasi pengelasan yang melindungi mata dari percikan intensitas tinggi.

 

  1. Plug

Di ruang mesin kapal menghasilkan suara 110 – 120db ini merupakan frekuensi suara yang sangat tinggi untuk telinga manusia, bahkan dalam beberapa menit dapat menyebabkan sakit kepala, iritasi dan gangguan pendengaran. Sebuah penutup telinga atau stiker telinga digunakan pada kapal untuk mengimbangi suara yang di dengar oleh manusia dengan aman.

 

  1. Safety Harness

Operasi kapal rutin mencakup perbaikan dan pengecetan permukaan yang tinggi memerlukan anggota crew untuk menjangkau daerah-daerah yang tidak mudah di akses. Safety harness di gunakan oleh operator di suatu ujung dan di ikat pada titik kuat pada ujung talinya.

 

  1. Masker

Kan karbon yang melibatkan partikel berbahaya dan menor yang berbahaya bagi tubuh manusia jika terhirup secara langsung, untuk menghindari masker wajah digunakan sebagai perisai dari partikel berbahaya.

 

  1. Chemikcl Suit

Bahan kiami di atas kapal sangat sering digunakan dan beberapa bahan kimia sangat berbahaya bila berkontak langsung dengan kulit manusia, Chemical suit digunakan untuk menghindari situasi seperti itu.

 

  1. Welding Perisai

Welding adalah kegiatan yang umum di atas kapal untuk perbaikan struktural dll. Juru las yang dilengkapi dengan perisai las atau topeng yang melindungi mata dari kontak langsung dengan sinar ultraviolet dari percikan las. Hal ini harus diperhatikan dan sebaiknya pemakaian Welding sheeld sangat diharuskan untuk keselamatan pekerja.