Cara Membudayakan Keselamatan di Tempat Kerja

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Erat Produktivitas KerjaSeringkali kita menganggap bahwa membudayakan Keselamatan Kerja adalah sesuatu yang sulit. Sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan, Hal-hal yang dianggap sulit bisa menjadi sederhana Jika Area kerja anda pimpin dengan aturan-aturan keamanan yang baik dan benar selain itu memimpinya dengan penuh konsistensi dengan menanamkan kepercayaan yang  kuat  dikalangan karyawan.

Cara kerja yang aman dan sehat sangat penting diperhatikan. Budaya  kerja dengan dasar keamanan  yang kuat dapat terlihat dari nilai-nilai yang fokus pada keamanan, sistem manajemen, program, dan seluruh karyawan mahir dan giat dalam menyingkirkan bahaya dan risiko bahaya di tempat kerja.

Berikut adalah tips atau cara  cara menjaga keselamatan kerja agar dapat membudayakan keselamatan di tempat kerja. Tips ini juga merupakan rangkuman dari beberapa artikel tips keselamatan kerja dari literatur dan praktek-praktek suskes yang pernah dicapai diberbagai perusahaan.

10 Tips Membudayakan Keselamatan di Tempat Kerja / Safety tips di tempat kerja

1. Disain area kerja yang aman.

Di area kerja terdapat banyak peralatan. Dimulai dari peralatan yang paling  sederhana  sampai  pada  peralatan  yang  canggih.  Seperti:
bangku, lemari dan meja kerja; furnitur; konveyor; peralatan ringan s/d berat;  dan kendaraan.  Pengaturan tata  letak  sangat  penting  untuk membantu mencapai efisiensi dan efektifitas kerja, mencegah error, dan terakhir menekan kejadian yang tidak diharapkan yang berakibat kecelakaan.

2. Selalu Menjaga kebersihan area kerja.

Ini adalah bagian cara kerja yang aman dan sehat, area kerja yang bersih adalah wilayah kerja yang aman dan sehat. Banyak usaha usaha untuk meningkatkan kesehatan kerja yang dapat dilakukan. Pada area kerja yang bersih bahaya tersingkirkan, disamping itu area kerja yang bersih akan meningkatkan produktivitas yang lebih bersar dari karyawan.

3. Libatkan karyawan.

cara mengatasi lingkungan kerja yang tidak aman yaitu salah satunya dengan cara melibatkan karyawan anda dalam proses perencanaan safety. Karyawan adalah orang pertama yang paling memahami situasi ditempat kerja. Mereka juga akan termotivasi dengan baik untuk safety.

4. Memberikan Instruksi kerja yang jelas.

Pesan pesan keselamatan dalam bekerja sangat penting bagi karyawan. Berikan    instruksi    kerja    yang    jelas.    Berikan    pelatihan    untuk memperjelas   dan  meningkatkan   pemahaman.  Instruksi   diberikan dalam  bentuk  tertulis  dan  pastikan  mereka  karyawan  membaca, mempelajari dan memahaminya. Dan yang terakhir pastikan karyawan anda mengakui sebagai penerimaan terhadap program kerja safety anda.

5. Fokus pada hal-hal yang feasible atau masuk akal dilakukan.

Fokuskan  upaya  keselamatan  anda  pada  masalah  yang  paling mungkin  bisa  dilakukan.  Memberikan  fokus  kepada  masalah  yang
besar adalah penting, namun hal tsb termasuk yang tidak mungkin bisa dilaksanaan oleh karyawan dan hal ini akan berkontribusi kepada terjadi pelanggaran yang berdampak kepada cidera atau kecelakaan.

6. Membuka diri untuk menerima masukan, kritikan dari bawahan.

Ini bagian dari cara mengatasi lingkungan kerja yang tidak nyaman bagi karywan. Mendorong    karyawan    untuk    melaporkan kepada    anda    tentang kekurangan,  isu-isu,  wawasan dalam  masalah safety. Hal  ini  akan berdampak terhadap membudayakan safety di tempat kerja. Pimpinan tempat kerja harus membuka diri untuk menerima masukan, kritikan dari bawahan.

7. Melakukan Observasi.

Anda harus melakukan observasi dan mempelajari setiap karyawan melakukan pekerjaan mereka. Perhatikan dan lakukan koreksi pada mereka yang melakukan jalan pintas, dan memberikan pengharggan kepada mereka yang melakukan tugas-tugas secara baik dan mereka di jadikan sebagai teladan bagi staf yang lain.

8. Menjaga semua mesin dan peralatan dalam keadaan baik.

Adalah  tanggung  jawab  majikan  untuk  memastikan  bahwa  semua mesin dan peralatan kerja berada didalam kondisi yang baik. Pastikan juga memelihara shift kerja, roster kerja dengan sebaik-baiknya.

9. Hazard, bahaya.

Hindari bahaya yang tidak perlu. Untuk hal itu lakukan pemeriksaan rutin   atau   sesering   mungkin   tempat   kerja   anda.   Adalah   perlu
pemahaman, kemahiran untuk melakukan Identifikasi Bahaya dengan
baik dan benar.

10. Melakukan Review.

Setiap tahun, atau tiap ada perubahan di tempat kerja harus dilakukan peninjauan  kembali  pedoman  kerja  keselamatan  di  tempat  kerja. Mulailah review tahunan dengan melakukan pemeriksaan tempat kerja anda, dan penelaahan menyeluruh terhadapa Sistem, program keselamatan anda.

Demikianlah tips  cara menjaga keselamatan kerja sekaligus Membudayakan Keselamatan di Tempat Kerja yang dapat diterapkan guna mewujudkan keselamatan dalam bekerja sehingga terhindar dari kecelakaan kerja.

 

 

Teori dan Konsep Hubungan Keselamatan Kerja dan Produktivitas Kerja Karyawan

Teori dan Konsep Hubungan Keselamatan Kerja dan Produktivitas Kerja KaryawanKeselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja (Simanjuntak, 2005 : 39).

Pengaruh Keselamatan Kerja terhadap Produktivitas Kerja Karyawan (Andri Saputra) keselamatan kerja sebagai suatu kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan. keselamatan kerja merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait dengan pekerjaan.

keselamatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.

keselamatan kerja adalah rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan. Berdasarkan pendapat para ahli di atas mengenai keselamatan kerja, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa keselamatan kerja adalah upaya dari suatu perusahaan untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut, serta upaya untuk mencegah bahaya yang dapat mengancam keselamatan karyawan saat bekerja.

Indikator Keselamatan Kerja

Indikator-indikator dari keselamatan kerja menurut Sedarmayanti (2009 :118) terdiri dari 3 (tiga) faktor, di antaranya:

1. Faktor lingkungan kerja.
2. Faktor manusia (karyawan) yang meliputi:

  • Faktor fisik dan mental: Kurang penglihatan atau pendengaran, otot lemah, reaksi mental lambat, lemah jantung atau organ lain, emosi dan syaraf tidak stabil, serta lemah badan.
  • Pengetahuan dan keterampilan: Kurang memperhatikan metode kerja yang aman dan baik, kebiasaan yang salah, dan kurang pengalaman.
  • Sikap: Kurang minat / perhatian, kurang teliti, malas, sombong, tidak peduli akan suatu akibat, dan hubungan yang kurang baik.

3. Faktor Alat dan mesin kerja yang meliputi:

  • Penerangan yang kurang.
  • Mesin yang tidak terjaga
  • Kerusakan teknis

Produktivitas Kerja Karyawan

Teori-teori yang membahas tentang produktivitas kerja sangatlah bervariasi, tetapi makna pokok dari produktivitas kerja adalah kemampuan seorang tenaga kerja dalam menghasilkan sesuatu di dalam pekerjaannya, dimana keadaan tersebut dapat tercapai apabila tenaga kerja tersebut mendapat perhatian yang besar dari pimpinannya atas segala kebutuhannya.

Ada beberapa definisi mengenai produktifitas kerja, antara lain: eJournal Ilmu Pemerintahan, Volume 2, (3), 2014 : 3059-3069 3064 Menurut Kusriyanto (2000 : 2), produktivitas kerja adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu. Sedangkan menurut Hasibuan (2003 : 105), produktivitas kerja adalah perbandingan antara output dengan input, dimana output harus mempunyai nilai tambah dan teknik pengerjaannya yang lebih baik.

Selanjutnya Tjutju Yuniarsih (2009 : 156) mengemukakan bahwa produktivitas kerja dapat diartikan sebagai hasil kongkrit (produk) yang dihasilkan oleh individu atau kelompok, selama satuan waktu tertentu dalam suatu proses kerja. Dalam hal ini, semakin tinggi produksi yang dihasilkan dalam waktu yang semakin singkat, maka dapat dikatakan bahwa tingkat produktivitasnya mempunyai nilai yang tinggi, dan begitu pula sebaliknya.

Kemudian Nawawi (2009 : 157) mengemukakan bahwa produktivitas kerja merupakan perbandingan antara hasil yang diperoleh (output) dengan jumlah sumber daya yang dipergunakan sebagai masukan (input). Berdasarkan definisi-definisi para ahli mengenai produktivitas kerja di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa produktivitas kerja adalah kemampuan seorang tenaga kerja dalam berproduksi dibandingkan dengan input yang digunakan, seorang tenaga kerja dapat dikatakan produktif apabila mampu menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan yang diharapkan dalam waktu yang tepat.

Indikator Produktivitas Kerja Karyawan

Untuk mengetahui produktivitas kerja dari setiap pekerja/pegawai, maka perlu dilakukan sebuah pengukuran produktivitas kerja. Menurut Henry Simamora (2004 : 612), indikator-indikator yang digunakan dalam pengukuran produktivitas kerja meliputi kuantitas kerja, kualitas kerja, dan ketepatan waktu.

1. Kuantitas kerja merupakan suatu hasil yang dicapai oleh pegawai/pekerja dalam jumlah tertentu dengan perbandingan standar yang ada atau telah ditetapkan oleh lembaga/perusahaan.

2. Kualitas kerja merupakan suatu standar hasil yang berkaitan dengan mutu dari suatu produk yang dihasilkan oleh pegawai/pekerja, dalam hal ini merupakan suatu kemampuan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan secara teknis dengan perbandingan standar yang telah ditetapkan oleh lembaga/perusahaan.

3. Ketepatan waktu merupakan tingkat suatu aktivitas yang diselesaikan pada awal waktu yang telah ditentukan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output, serta mampu memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain. Ketepatan waktu diukur dari persepsi pegawai/pekerja terhadap suatu aktivitas yang disediakan di awal waktu sampai menjadi output. Pengaruh Keselamatan Kerja terhadap Produktivitas Kerja Karyawan (Andri Saputra) 3065

Teori dan Konsep Hubungan Keselamatan Kerja dan Produktivitas Kerja Karyawan

Sebuah perusahaan yang baik dan sehat adalah perusahaan yang selalu memperhatikan kondisi karyawannya, dalam hal ini keselamatan kerja karyawannya. Penerapan program keselamatan kerja yang optimal bagi karyawan secara langsung erat hubungannya dengan produktivitas kerja karyawan, karena penerapan program keselamatan kerja merupakan salah satu cara memotivasi karyawan untuk meningkatkan produktivitas kerja mereka.

Motivasi akan timbul dari diri karyawan untuk bekerja sebaik mungkin apabila mereka merasa aman dan nyaman dalam melaksanakan pekerjaannya tanpa ada resiko yang dapat mengancam keselamatan jiwanya, selain itu karyawan juga akan senang karena mereka merasa diperhatikan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Akan tetapi sebaliknya, apabila program keselamatan kerja tidak dijalankan secara intensif dan optimal, maka dapat menurunkan produktivitas kerja karyawan, yaitu penurunan semangat dan gairah kerja karyawan akibat mereka merasa takut mengambil resiko untuk membahayakan jiwanya dan tentunya karena mereka merasa tidak diperhatikan oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

Perihal mengenai uraian di atas semakin diperkuat oleh beberapa teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Sebagaimana disebutkan oleh Andriana Pusparini, Jusuf, dan Sugeng Budiono (2008 : 5), bahwa program keselamatan kerja salah satu tujuannya adalah melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi dan produktivitas.

Kemudian, ditambahkan pula oleh Anwar Prabu Mangkunegara (2007 : 162), bahwa dengan adanya program keselamatan kerja, maka akan meningkatkan kegairahan, produktivitas, dan partisipasi kerja dari tenaga kerja. Senada dengan yang disampaikan oleh Andriana Pusparini, Jusuf, Sugeng Budiono, dan Anwar Prabu Mangkunegara, ditegaskan pula oleh Sedarmayanti (2009 : 109-110) bahwa program keselamatan kerja akan meningkatkan produktivitas kerja dari tenaga kerja. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa program keselamatan kerja erat hubungannya terhadap harapan akan peningkatan produktivitas kerja, karena salah satu tujuan dari diadakannya program keselamatan kerja itu adalah demi tercapainya peningkatan produktivitas kerja.

Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehat Sebagai Upaya Mengurangi Kecelakaan Kerja

Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehat Sebagai Upaya Mengurangi Kecelakaan Kerja
Bagaimanapun kecilnya resiko yang diderita akibat dari suatu peristiwa kecelakaan kerja, kan berakibat kerugian baik yang berupa cedera pada tenaga kerja, maupun kerusakan pada harta benda. Sekecil apapun kecelakaan itu teljadi, paling tidak akan berakibat penurunan efisiensi. usaha pencegahan kecelakaan dititik beratkan pada perbaikan,  penyempurnaan kondisi peralatan dan lingkungan kelja, karena pada periode tersebut orang masih beranggapan bahwa sebab utama teljadinya kecelakaan adalah dari kondisi peralatan atau lingkungan kerja yang tidak beraturan.

 

Sebagian besar kecelakaan kerja disebabkan oleh faktor manusia. Dengan munculnya teori ini, maka usaha keselamatan kerja tidak hanya diarahkan terhadap perbaikan kondisi yang tidak aman, tetapi juga diarahkank epadap endekatan dari segi manusia. tindakan tidak aman dari segi manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti latar belakang pendidikan, pengetahuan, ketrampilan, psikologi dan lain sebagainya. Kedua faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja tidak terlepas dari fungsi manajemen di tempat kerja. Berikut ini digambarkan ilustrasi bahwa fungsi manajemen sangat menentukan sekali dalam mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

Definisi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesebatan Kerja
Sistemm anajenk eselamatand an kesehatan kerja adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaanta, nggungjawab,pelaksanaanp,r osedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan,penerapapne,n capaian, pengkajian , dan pemeliharaan kebijakan K3 dalarn rangka pengendalianre siko yang berkaiatand engank egiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang nyaman, efisien dan produktif.

 

4 Prinsip-prinsip Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan daD Kesehatan Kerja

Berikut ini akan dijabarkan prinsip-prinsip dalam melakukan penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja

Disini yang perlu menjadi perhatian penting terdiri atas 3 hal yaitu kepemimpinan, tinjauan awal K3 dan kebijakan K3.

1. Kepernimpinand an Komitmen

Pembentukan komittmen untuk menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dati seluruh pihak yang ada di tempat kerja. Disamping itu juga perlu diejawantahkan dengan adanya organisasiorganisasi dari tempat..”kerja yang mendukung terciptanya sistem manajemen K3; penyediaan anggaran dan personel, melakukan perencanaan K3 serta yang terakhir melakukan penilaian atas kinerja K3 yang telah djterapkan.

2. Tinjauan Awal K3
Tempat kerja harus diIakukan peninjauan awal atas K3 di tempat kerja dengan tara -cara :

  • Mengidentiflkasi kondisi yang ada ditempat kerja,.
  • mengidentiflkasi sumberbahaya dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di tempat kerja
  • Adanya pemenuhan akan pengetahuan dan peraturan perundangan
  • Membandingkan penerapan yang ada di tempat kerja dengan penerapan yang dilakukan oleh tempat kerja lain yang lebih baik.
  • Meninjau sebab akibat dari kejadian yang membahayakan dan hal-hal lain yang terkait dengan K3; dan
  • Menilai efisiensi dan efektivitas dari sumber daya yang telah disediakan

3. Kebijakan K3

Kebijakan ini harus melewati proses konsultasi dengan pekerja atau wakil pekerja dan disebarluaskan kepada seluruh pekerja.

Kebijakan ini juga harus bersifat dinamis , artinya sering ditinjau ulang agar selalu sesuai dengan kondisi yang ada. Untuk benar-benar menunjukkan kesungguhan dari komitmen yang diiniliki, maka komitmen tersebut harus tertulis dan ditanda tangani oleh pengurus tertinggi dari tempat kerja tersebut. Komitmen tertulis tersebut selanjutnya disebut kebijakan yang harus memuat visi dan misi, kerangka dan program kerja yang bersifat wnwn dan atau operasional

PERENCANAAN

Perencanaan yang dibuat barns efektif dengan mernuat sasaran yang jelas sebagai pengejawantahand ari kebijakan K3 di tempat kerja dan indikator kinerja serta apat menjawab kebijakan K3. Hal yang perlu diperbatikan dalam perencanaan adalah identiflkasi sumber bahaya, penilaian dan pengendalian resiko serta basil tinjauan awal terbadap K3.

Dalam perencanaan ini  secara lebih rinci terbagi menjadi beberapa hal :

Perencanaan identiflkasi bahaya, penilaian dan pengendalian resiko dari kegiatan, produk barang dan jasa.

  1. Pemenuhan akan peraturan perundangan dan persyaratanla iIU1ya.
  2. Menetapkan tujuan dan sasaran dari kebijakan K3 yang dapat diukur menggunakan satuan lindikator
  3. pengukurans, asaranp encapaiand anj angka waktu pencapaian.
  4. Menggunakan indikator kinerja sebagai penilaian kineIja K3 sekaligus menjadi informasi keberhasilan pencapaian sistem
    manajemen K3
  5. Menetapkan sistem pertanggung jawaban dan Saranau ntuk mencapaki ebijakan K3.

 

PENERAPAN

Setelah membuatk omitmen dan perencanaanm, aka selanjutnya adalah penerapan sistem manajemen keselamatan kerja dan kesehatank erja. Yang perlu menjadi perhatian pada tahap ini adalah :

Adanya Jaminan Kemampuan Ketersediaan personil yang terlatih dal1 memaharni sistemm anajemen keselamatan dan kesehatan kerja, sarana yang menunjang dan ketersediaan dana yang mencukupi dari perencanaan yang telah dibuat.

Menjadikan penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem m~ajemen perusahaan.

Menjadikan semua pihak untuk berperan serta 3ecara aktif dalam penerapan dan menciptakan budaya kerja yang mendukung penerapan dan pengeinbangan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Hal ini ditunjang dengan penunjukkan tanggung jawab dan tanggung gugat dari pekerjaan serta menciptakan jalur komunikasi yang efektif.

Mengadakan pembicaraan dengan pekerja mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dan meningkatkan motivasi dan kesadaran dari semua pihak tentang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Mengadakan pelatihan untuk terus menunjang sistem manajemen yang telah diterapkan.

Kegiatan Pendukung Diperlukan komunikasi dua arab yang efektif antara pekerja dan pengurus serta pelaporan rutin sebagai sumber penting dalam penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Juga perlu dijamin bahwa infonnasi mengalir dari pengurus ke karya\”an demikian juga sebaliknya.

Prosedur pelaporan informasi yang terkait clan tepat wakw harus ditetapkan untuk menjamin bahwa sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dipantau clan kinerjanya ditingkatkan. Pelaporan dibedakan alas kepentigannya menjadi internal (terjadinya insiden, ketidaksesuaian, kinerja K3 dan identi[lkasi sumber bahaya) clan eksternal (menangani yang dipersyaratkan di peraturan perundangan).

Perdokumentasian harus dibuat sesuai dengan kebutuhan .Proses dan prosedur kegiatan di tempat kerja harus ditentukan clan didokumentasilca Tahap berik11t adalah pendokumentasian. Dokumen harus dapat diidentifikasi, ditinjau ulang, direvisi, disetujui oleh personil yang bertanggungja wab beradad i tempat yang diperlukan dan dokumen usang harus segera disingkirkan kecuali yang digunakan untuk keperluan khusus. Te rakhir adalaha danyaja minan pencatatan yang merupakan sarana untuk menunjukkan kesesuaian penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

ldentifikasi sumber bahaya, penilaian dan pengendalian resiko Dilakukan manajemen resiko ( identifikasl sumber bahaya, penilaian resiko clan pngendalian resiko). Pengendalian resiko tersebut sudah harus dimulai dari sebelum perancangan clan rekayasa, pada saat perancangan clan rekayasa, setelah perancangan clan rekayasa dengan melakukan tinjauan ulang kontrak dan memperhatikanp ada saatp embelian. Disamping itu untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan perlu dipersiapkan prosedur untuk menghadapi keadaan darurat,m enghadapini siden dan pemulihan keadaan darurat.

PENGUKURAN DAN EVALUASI

Pengkuran dan evaluasi ini merupakan alat yang berg~a untuk :

  • Mengetahui keberhasilan penerapan sistem
    manajemen keselmnatan dan kesehatan
    kerja
  • Melakukan identiftkasi tindakan perbaikan
  • Mengukur, memantau dan meengevaluasi kinerja sistem manajemen dan keselamatan dan kesehatan kerja. Untuk menjaga tingkat kepercayaan terhadap data yang akan dipero1eh maka beberapa proses harns di1akukan seperti kalibrasi a1at, pengujian pera1atan dan contoh piranti 1unak d’ln perangkat keras.

Ada 3 (tiga) kegiatan da1am me1akukan

pengukurand an eva1uasi:

1. Inspeksi dan Pengujian .
Harus ditetapkan dan dijaga konsistensi dari prosedur inspeksi, pengujian dan pemantauan yang berkaiatan dengan kebijakan K3.

2. Audit sistem manajemen kese1amatan dan kesehatan kerja
Audit ini di1akukan untuk mengetahui keefektifan dari penerapan sistem manajemen kesematan daIl kesehataIl kelja di ternpat kelja. Hal yang perlu diperhatikan dalam audit adalah :

  • Sisternatik dan independen
  • Frekuensi audit berkala
  • Kemampuan dan keahlian
    petugasnya
  • Metodologi yang digunakan
  • Berdasarkan hasil audit
    sebelumnya dan sumber bahaya
    yangada
  • Hasilnya dijadikan sebagai bahan
    tinjauan manajernen dan jika
    diperlukan ditindak lanjuti
    dengan tindakan perbaikan

3. Tindakan Perbaikan dan Pencegahan

Merupakan basil temuan dari audit dan harus disetujui oleh pihak manajemen dan dijamin pelaksanaalulya secara sisternatik dan efektif

 

 

Pendidikan Terhadap Perilaku K3 dan Kejadian Kecelakaan Kerja

penyebab kecelakaan kerjaOrang-orang yang masih menetap di perusahaan memiliki pengalaman kerja yang lebih lama, itu karena mereka memang tidak memiliki alasan untuk keluar dari perusahaan kecuali karena usia atau mengalami kecelakaan kerja. Sehingga masa kerja atau pengalaman kerja yang lama bukan merupakan faktor penentu bahwa pekerja dapat berperilaku aman selama bekerja.

Masa kerja dapat menjadi penyebab dari terjadinya kecelakaan pada suatu pekerjaan karena tenaga kerja baru biasanya belum mengetahui secara mendalam tentang pekerjaan dan keselamatannya. Sementara itu, masa kerja yang lama ditambah dengan praktik yang terus-menerus akan dapat menambah pengetahuan serta meningkatkan kecakapan seseorang, pekerjaan juga akan semakin bermutu dan cepat selesai.

Mengutip Notoatmodjo (2003), perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong dan kekuatan penahan. Kekuatan pendorong dalam hal ini adala faktor yang mendorong motivasi pekerja dan penahannya adalah faktor yang menyebabkan ketidakpuasan pekerja. Oleh karena itu, sebaiknya pekerja diberikan reward sebagai bentuk penghargaan dari perilaku aman yang telah diterapkan sebagai bentuk dukungan kepada perusahaan dalam mengurangi frekuensi kejadian kecelakaan kerja. Penghargaan merupakan konsekuensi positif yang diberikan kepada individu atau kelompok dengan tujuan untuk mengembangkan, mendukung, dan memelihara perilaku yang diharapkan.

Pendidikan Terhadap Perilaku K3 dan Kejadian Kecelakaan Kerja

Pendidikan seseorang penting dan harus diperhatikan untuk meningkatkan kesadaran akan arti pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja. Pendidikan adalah proses seseoarang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial yakni orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal. Sehingga semakin tinggi pendidikan normal yang dicapai, maka semakin baik pula proses pemahaman seseorang dalam menerima sebuah informasi baru. Terdapat jenis pekerjaan tertentu yang lebih membutuhkan keterampilan, fisik dan skill dibandingkan dengan kemampuan pendidikan formal. Sehingga faktor pendidikan belum tentu menentukan tindakan tidak aman yang dilakukan oleh pekerja.

 

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

sistem keselamatan dan kesehatan kerja

Pekerjaan-pekerjaan teknik bangunan banyak berhubungan dengan alat,baik yang sederhana sampai yang rumit, dari yang ringan sampai alat-alat berat sekalipun. Sejak revolusi industri sampai sekarang,pemakaian alat-alat bermesin sangat banyak digunakan.

Pada setiap kegiatan kerja, selalu saja ada kemungkinan kecelakaan. Kecelakaan selalu dapat terjadi karena berbagai sebab.berperan sangat penting dalam pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja karena adanya fasilitas yang maka pelaksanaan aktivitas pekerjaan berjalan dengan baik,begitu pula sebaliknya.

Yang dimaksudkan dengan kecelakaan adalah kejadian yang merugikan yang tidak terduga dan tidak diharapkan dan tidak ada unsur kesengajaan. Kecelakaan kerja dimaksudkan sebagai kecelakaan yang terjadi ditempat kerja,yang diderita oleh pekerja dan atau alat-alat kerja dalam suatu hubungan kerja.

Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh dua golongan penyebab :

1. Tindakan perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan ( unsafe human acts).
2. Keadaan-keadaan lingkungan yang tidak aman ( unsafe condition ).
Walaupun manusia telah berhati-hati,namun apabila lingkungannya tidak menunjang ( tidak aman ), maka kecelakaan dapat pula terjadi. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itulah diperlukan pedoman bagaimana bekerja yang memenuhi prinsip-prinsip keselamatan.

Keselamatan kerja
Keselamata kerja adalah usaha-usaha yang bertujuan untuk menjamin keadaan,keutuhan dan kesempurnaan tenaga kerja (baik jasmaniah maupun rohaniah), beserta hasil karya dan alat-alat kerjanya ditempat kerja. Usaha-usaha tersebut harus dilaksanakan oleh semua unsur yang terlibat dalam proses kerja, yaitu pekerja itu sendiri, pengawas/kepala kelompok kerja,perusahaan,pemerintah,dan msayarakat pada umumnya. Tanpa ada kerja sama yang baik dari semua unsur tersebut tujuan keselamatan kerja tidak mungkin dapat dicapai secara maksimal.

Adapun sasaran keselamatan keerja secara terinci adalah :

1. Mencegah terjadinya kecelakaan ditempat kerja.
2. Mencegah timbulnya penyakit akibat kerja.
3. Mencegah/mengurangi kematian akibat kerja
4. Mencegah atau mengurangi cacat tetap
5. Mengamankan material,konstruksi,pemakaian,pemeliharaan bangunan-bangunan,alat-alat kerja,mesin-mesin,dan instalasi-instalasi.
6. Meningkatkan produktivitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan menjamin kehidupan produktifnya.
7. Menjamin tempat kerja yang sehat,bersih,nyaman,dan aman sehingga dapat menimbulkan kegembiraan semangat kerja.
8. Memperlancar,meningkatkan dan mengamankan produksi,industri serta pembangunan.Kesemuanya itu menuju pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan umat manusia ( Bambang Endroyo 1989 ).

 

Ruang Lingkup Kesehatan dan Keselamatan Kerja

materi kesehatan dan keselamatan kerja
Program Pelayanan Kesehatan Kerja. Sebagaimana pelayanan kesehatan masyarakat pada umumnya, pelayanan kesehatan dan keselamatan masyarakat pekerja yaitu meliputi pelayanan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif.

Pelayanan Preventif.

Pelayanan ini diberikan guna mencegah terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit menular di lingkungan kerja dengan menciptakan kondisi pekerja dan mesin atau tempat kerja agar ergonomis, menjaga kondisi fisik maupun lingkungan kerja yang memadai dan tidak menyebabkan sakit atau membahayakan pekerja serta menjaga pekerja tetap sehat.

Kegiatannya antara lain meliputi:
1. Pemeriksaan kesehatan yang terdiri atas:
a. Pemeriksaan awal/sebelum kerja.
b. Pemeriksaan berkala.
c. Pemeriksaan khusus.
2. Imunisasi.
3. Kesehatan lingkungan kerja.
4. Perlindungan diri terhadap bahaya dari pekerjaan.
5. Penyerasian manusia dengan mesin dan alat kerja.
6. Pengendalian bahaya lingkungan kerja agar ada dalam kondisi aman (pengenalan, pengukuran dan evaluasi).

Pelayanan Promotif.

Peningkatan kesehatan (promotif) pada pekerja dimaksudkan agar keadaan fisik dan mental pekerja senantiasa dalam kondisi baik. Pelayanan ini diberikan kepada tenaga kerja yang sehat dengan tujuan untuk meningkatkan kegairahan kerja, mempertinggi efisiensi dan daya produktivitas tenaga kerja

Kegiatannya antara lain meliputi:
1. Pendidikan dan penerangan tentang kesehatan kerja.
2. Pemeliharaan dan peningkatan kondisi lingkungan kerja yang sehat.
3. Peningkatan status kesehatan (bebas penyakit) pada umumnya.
4. Perbaikan status gizi.
5. Konsultasi psikologi.
6. Olah raga dan rekreasi.

Pelayanan Kuratif.

Pelayanan pengobatan terhadap tenaga kerja yang menderita sakit akibat kerja dengan pengobatan spesifik berkaitan dengan pekerjaannya maupun pengobatan umumnya serta upaya pengobatan untuk mencegah meluas penyakit menular di lingkungan pekerjaan. Pelayanan ini diberikan kepada tenaga kerja yang sudah memperlihatkan gangguan kesehatan/gejala dini dengan mengobati penyakitnya supaya cepat sembuh dan mencegah komplikasi atau penularan terhadap keluarganya ataupun teman kerjanya.

Kegiatannya antara lain meliputi:
1. Pengobatan terhadap penyakit umum.
2. Pengobatan terhadap penyakit dan kecelakaan akibat kerja.

Pelayanan Rehabilitatif.

Pelayanan ini diberikan kepada pekerja karena penyakit parah atau kecelakaan parah yang telah mengakibatkan cacat, sehingga menyebabkan ketidakmampuan permanen, baik sebagian atau seluruh kemampuan bekerja yang biasanya mampu dilakukan sehari-hari.

Kegiatannya antara lain meliputi:
1. Latihan dan pendidikan pekerja untuk dapat menggunakan kemampuannya yang masih ada secara maksimal.
2. Penempatan kembali tenaga kerja yang cacat secara selektif sesuai kemampuannya.
3. Penyuluhan pada masyarakat dan pengusulan agar mau menerima tenaga kerja yang cacat akibat kerja.

Bahaya Potensial Di Laboratoria Teknik Fisika.

Bahaya potensial di Laboratoria Teknik Fisika dibagi menjadi lima perantara diantaranya: Chemical agent, Physical agent, Biological agent, Psychological agent, Ergonomical agent/Mecanical agent.

Chemical agent.
Bahan kimia yang berpotensi menimbulkan bahaya di Laboratorium adalah:
1. Asam Nitrat (HNO3)
2. Asam Sulfat ( H2SO4)
3. Asam Klorida (HCL)
4. N-Hexane
5. Aseton
6. Asam Peroksida (H2O2)

Physical agent.
Debu.
Debu dan uap/asap (fume) merupakan salah satu sumber gangguan yang tidak dapat diabaikan. Dalam kondisi tertentu debu merupakan bahaya yang dapat menimbulkan kerugian besar. Tempat kerja yang prosesnya mengeluarkan debu atau uap, dapat menyebabkan pengurangan kenyamanan kerja, gangguan penglihatan, gangguan fungsi faal paru-paru, bahkan dapat menimbulkan keracunan umum.

Pekerjaan di Laboratoria Teknik Fisika yang dapat mengeluarkan debu atau uap diantaranya pemrosesan material logam, keramik atau gelas yang dapat berupa pengeboran, pemotongan, pembubutan, pengelasan pemanasan atau pembakaran. Kegiatan lainnya yang dapat menimbulkan debu atau uap yaitu penyolderan yang terkait dengan pekerjaan elektronika dan pemipaan tembaga. Debu juga dapat ditimbulkan dari bahan insulasi termal maupun akustik, misalnya debu dari glasswool.

Pengontrolan debu dalam ruang kerja:

1. Metode pencegahan terhadap debu dan uap ialah:

  • Memakai metode basah: Lantai disiram air supaya debu tak beterbangan di udara. Pengeboran basah (wet drilling) untuk mengurangi debu yang ada di udara. Debu jika di semprot dengan uap air akan berflocculasi lalu mengendap.
  • Dengan alat: Scrubber, Elektropresipitator, Ventilasi umum.

2. Pencegahan terhadap sumber: diusahakan debu tidak keluar dari sumber yaitu dengan pemasangan local exhauster.
3. Perlindungan diri terhadap pekerja antara lain berupa tutup hidung atau masker.

Kebisingan.

Bising dapat diartikan sebagai suara yang timbul dari getaran-getaran yang tidak teratur dan periodik, kebisingan merupakan suara yang tidak dikehendaki. Manusia masih mampu mendengar bunyi dengan frekuensi antara 16-20.000 Hz, dan intensitas dengan nilai ambang batas (NAB) 85 dB (A) secara terus menerus. Intensitas lebih dari 85 dB dapat menimbulkan gangguan dan batas ini disebut critical level of intensity. Kebisingan merupakan masalah kesehatan kerja yang timbul di Laboratoria Teknik Fisika. Sumber kebisingan berasal aktivitas di laboratorium material logam atau dari peralatan praktikum atau penelitian (misalnya bising dari kompresor).

Gangguan Kebisingan di tempat Kerja.

Pengaruh utama dari kebisingan terhadap kesehatan adalah kerusakan pada indera-indera pendengar, yang menyebabkan ketulian progresif.
Gangguan kebisingan di tempat kerja dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Gangguan Fisiologis.

Gangguan fisiologis adalah gangguan yang mula-mula timbul akibat bising. Dengan kata lain fungsi pendengaran secara fisiologis dapat terganggu. Pembicaraan atau instruksi dalam pekerjaan tidak dapat didengar secara jelas sehingga dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pembicara terpaksa berteriak-teriak, selain memerlukan tenaga ekstra juga menimbulkan kebisingan. Kebisingan juga dapat mengganggu cardiac output dan tekanan darah.

2. Gangguan Psikologis.

Gangguan fisiologis lama-lama bisa menimbulkan gangguan psikologis. Suara yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan stress, gangguan jiwa, sulit konsentrasi dan berpikir, dan lain-lain.

3. Gangguan Patologis Organis.

Gangguan kebisingan yang paling menonjol adalah pengaruhnya terhadap alat pendengaran atau telinga, yang dapat menimbulkan ketulian yang bersifat sementara hingga permanen.

Pengendalian Kebisingan di lingkungan kerja.

1. Menghilangkan transmisi kebisingan terhadap pekerja.

Untuk menghilangkan atau mengurangi transmisi kebisingan terhadap pekerja dapat dilakukan dengan isolasi tenaga kerja atau mesin yaitu dengan menutup atau menyekat mesin atau alat yang yang mengeluarkan bising.

Pada dasarnya untuk menutup mesin mesin yang bising adalah sebagai berikut:

  • Menutup mesin serapat mungkin.
  • Mengolah pintu-pintu dan semua lobang secara akustik.
  • Bila perlu mengisolasi mesin dari lantai untuk mengurangi penjalaran getaran.

2. Menghilangkan kebisingan dari sumber suara.

Menghilangkan kebisingan dari sumber suara dapat dilakukan dengan menempatkan perendam dalam sumber getaran.

3. Mengadakan perlindungan terhadap karyawan.

Usaha melindungi karyawan dari kebisingan di lingkungan kerja dengan memakai alat pelindung diri untuk telinga telinga atau personal protective device yaitu berupa ear plugs dan ear muffs.

Suhu Udara.

Suhu tubuh manusia yang dapat kita raba/rasakan tidak hanya didapat dari metabolisme, tetapi juga dipengaruhi oleh panas lingkungan. Makin tinggi panas lingkungan, semakin besar pula pengaruhnya terhadap suhu tubuh. Sebaliknya semakin rendah suhu lingkungan, makin banyak pula panas tubuh akan hilang. Dengan kata lain, terjadi pertukaran panas antara tubuh manusia yang didapat dari metabolisme dengan tekanan panas yang dirasakan sebagai kondisi panas lingkungan. Selama pertukaran ini serasi dan seimbang, tidak akan menimbulkan gangguan, baik penampilan kerja maupun kesehatan kerja.

Tekanan panas yang berlebihan merupakan beban tambahan yang harus diperhatikan dan diperhitungkan. Beban tambahan berupa panas lingkungan dapat menyebabkan beban fisiologis misalnya kerja jantung menjadi bertambah. Nilai ambang batas untuk cuaca (iklim) kerja adalah 21oC – 30oC suhu basah. Suhu efektif bagi pekerja di daerah tropis adalah 22oC – 27oC. Yang dimaksud dengan suhu efektif adalah suatu beban panas yang dapat diterima oleh tubuh dalam ruangan. Suhu efektif akan memberikan efek yang nyaman bagi orang yang berada di luar ruangan. Cuaca kerja yang diusahakan dapat mendorong produktivitas antara lain dengan pengondisian udara di tempat kerja.

Kesalahan-kesalahan sering dibuat dengan membuat suhu terlalu rendah yang berakibat keluhan-keluhan dan kadang diikuti meningkatnya penyakit pernafasan. Sebaiknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Suhu diset pada 25oC – 26oC.
  • Penggunaan AC di tempat kerja perlu disertai pemikiran tentang keadaan pengaturan
    suhu di rumah.
  • Bila perbedaan suhu di dalam dan luar lebih 5oC, perlu adanya suatu kamar adaptasi.
    Contoh: suhu panas dari kompor, preheating furnace, porcelain furnace, pengecoran logam, dan lain-lain.

 

Kelembaban Udara.

Kelembaban adalah: banyaknya air yang terkandung dalam udara, biasa dinyatakan dalam persentase. Kelembaban ini berhubungan atau dipengaruhi oleh suhu udara, dan secara bersama-sama antara suhu, kelembaban, kecepatan udara bergerak dan radiasi panas dari udara tersebut akan mempengaruhi keadaan tubuh manusia pada saat menerima atau melepaskan panas dari tubuhnya. Suatu keadaan dengan suhu udara sangat panas dan kelembaban tinggi, akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh secara besar-besaran karena sistem penguapan. Pengaruh lain adalah makin cepatnya denyut jantung karena makin aktifnya peredaran darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen, dan tubuh manusia selalu berusaha untuk mencapai keseimbangan antara panas tubuh dengan suhu di sekitarnya.

Pencahayaan.

Pada umumnya pekerjaan memerlukan upaya penglihatan. Untuk melihat manusia membutuhkan pencahayaan. Oleh sebab itu salah satu masalah lingkungan di tempat kerja yang harus diperhatikan adalah pencahayaan. Pencahayaan yang kurang memadai merupakan beban tambahan bagi pekerja, sehingga dapat menimbulkan gangguan performance (penampilan) kerja yang akhirnya dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan kerja.

Radiasi

Sumber radiasi dapat berasal dari alam dan buatan. Dampak radiasi terhadap kesehatan tergantung pada: lamanya terpapar, jumlah yang diserap, tipe dan lebih spesifik lagi adalah panjang gelombang. Pancaran yang paling berbahaya adalah gelombang pendek, termasuk ionisasi dan radiasi sinar ultraviolet. Akibat radiasi ultraviolet pada umumnya mengenai mata dan kulit, bila mengenai mata dapat menyebabkan conjuctivitis.

Kebijakan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Laboratorium

Kesehatan kerja (Occupational health) merupakan bagian dari kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan semua pekerjaan yang berhubungan dengan faktor potensial yang mempengaruhi kesehatan pekerja. Bahaya pekerjaan (akibat kerja), seperti halnya masalah kesehatan lingkungan lain, bersifat akut atau kronis (sementara atau berkelanjutan) dan efeknya mungkin segera terjadi atau perlu waktu lama. Efek terhadap kesehatan dapat secara langsung maupun tidak langsung. Kesehatan masyarakat kerja perlu diperhatikan, oleh karena selain dapat menimbulkan gangguan tingkat produktivitas, kesehatan masyarakat kerja tersebut dapat timbul akibat pekerjaannya.

Sasaran kesehatan kerja khususnya adalah para pekerja dan peralatan kerja di lingkungan Laboratoria pada Program Studi Teknik Fisika. Melalui usaha kesehatan pencegahan di lingkungan kerja masing-masing dapat dicegah adanya bahaya dan penyakit akibat dampak pencemaran lingkungan maupun akibat aktivitas dan produk Laboratorium terhadap masyarakat konsumen baik di lingkungan Laboratorium itu sendiri maupun masyarakat sekitarnya.

Tujuan kesehatan kerja adalah:

  1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di semua lapangan pekerjaan ke tingkat yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental maupun kesehatan sosial.
  2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh tindakan/kondisi lingkungan kerjanya.
  3. Memberikan perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
  4. Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.

Kesehatan kerja mempengaruhi manusia dalam hubungannya dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya, baik secara fisik maupun psikis yang meliputi, antara lain: metode bekerja, kondisi kerja dan lingkungan kerja yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan kerja, penyakit ataupun perubahan dari kesehatan seseorang. Pada hakikatnya ilmu kesehatan kerja mempelajari dinamika, akibat dan problematika yang ditimbulkan akibat hubungan interaktif

3 komponen utama yang mempengaruhi seseorang bila bekerja yaitu:

1. Kapasitas kerja: Status kesehatan kerja, gizi kerja, dan lain-lain.
2. Beban kerja: fisik maupun mental.
3. Beban tambahan yang berasal dari lingkungan kerja antara lain: bising, panas, debu, parasit, dan lain-lain.

Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu kesehatan kerja yang optimal. Sebaliknya bila terdapat ketidakserasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja

Adapun dasar hukum yang terkait dengan pelaksanaan sistem manajemen K3 antara lain:

  1. UU No.1 tahun 1970 tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
  2. UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
  3. Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
  4. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor: Kep-51/Men/1999 Tentang Nilai Ambang
    Batas Faktor Fisika di tempat kerja.
  5. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor: Kep-187/Men/1999 Tentang Pengendalian
    Bahan Kimia Berbahaya di tempat kerja.
  6. Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
    Lingkungan.
  7. Surat Edaran Dirjen Binawas No.SE.05/BW/1997 tentang Penggunaan Alat Pelindung Diri.
  8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No: PER.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen
    Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
  9. Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang timbul Akibat hubungan
    Kerja.
  10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 876/Menkes/SK/IX/VIII/2001 tentang Pedoman
    teknis analisis dampak lingkungan.
  11. Keputusan Menteri kesehatan Nomor 1217/Menkes/SK/IX/2001 tentang pedoman
    penanganan dampak radiasi.
  12. Keputusan Menteri kesehatan Nomor 315/Menkes/SK/III/2003 tentang
    1405/MENKES/SK/IX/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran
    dan Industri.
  13. Keputusan Menteri kesehatan Nomor 315/Menkes/SK/III/2003 tentang komite kesehatan
    dan keselamatan kerja sektor kesehatan.

 

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Erat : Produktivitas Kerja

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Erat Produktivitas KerjaSumber daya manusia merupakan peranan penting bagi keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan, karena manusia merupakan aset hidup yang perlu dipelihara dan dikembangkan. Oleh karena itu karyawan harus mendapatkan perhatian yang khusus dari perusahaan. Kenyataan bahwa manusia sebagai aset utama dalam organisasi atau perusahaan, harus mendapatkan perhatian serius dan dikelola dengan sebaik mungkin.

Hal ini dimaksudkan agar sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan mampu memberikan kontribusi yang optimal dalam upaya pencapaian tujuan organisasi. Dalam pengelolaan sumber daya manusia inilah diperlukan manajemen yang mampu mengelola sumber daya secara sistematis, terencana, dan efisien. Salah satu hal yang harus menjadi perhatian utama bagi manajer sumber daya manusia ialah sistem keselamatan dan kesehatan kerja.

Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Undang-undang No. 13 tahun 2003 pada pasal 86 dan 87, tentang perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Undang-undang tersebut menekankan bahwa setiap perusahaaan wajib melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja sebagai hak tenaga kerja.

Pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan sangatlah penting karena bertujuan untuk menciptakan sistem keselamatan dan kesatuan kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mengurangi kecelakaan.

Keselamatan dan kesehatan kerja berkaitan dengan produktivitas kerja karyawan. Produktivitas kerja adalah sikap mental yang berprinsip bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini. Dari definisi tersebut, perusahaan seharusnya menjaga mutu kehidupan para karyawan dengan memberikan jaminan terhadap keselamatan dan kesehatan karyawannya.

Ketika mereka melaksanakan pekerjaannya harus dilakukan dengan cara dan dalam lingkungan K3 yang memenuhi syarat serta menganggarkan alokasi dana untuk pelaksanaan program K3. Pekerjaan yang menuntut produktivitas kerja tinggi hanya dapat dilakukan oleh tenaga kerja dengan kondisi kesehatan yang prima.

 

Komputer yang Ergonomis untuk meningkatkan Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Komputer yang Ergonomis untuk meningkatkan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Berkomputer dengan menerapkan prinsip-prinsip ergonomis merupakan cara tepat dalam menghindari ketidaknyamanan, yang pada akhirnya akan menimbulkan gangguan kesehatan seperti yang dijelaskan di atas. Berikut beberapa panduan cara kerja dan pengaturan tempat maupun perangkat kerja yang akan mampu menghindarkan anda dari ketidaknyamanan berkomputer. Berikut akan dibahas secara singkat mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan ergonomis khususnya hal-hal yang berhubungan dengan penggunaan komputer dan teknologi informasi lainnya.

Pertama, pengaturan kontrol dan display. Pengaturan kontrol dan display yang tidak tepat akan mengakibatkan inefisiensi dan frustasi bagi pengguna terutama jika pengguna berada dalam tekanan yang besar dan dihadapkan pada sekumpulan kontrol dan display dalam jumlah yang banyak. Pengorganisasian kontrol dan display bergantung pada domain dan aplikasi yang dibuat, namun akan meliputi,

  1. Fungsional, yakni kontrol dan display diatur sedemikian rupa sehingga terhubung secara fungsional antara satu dengan lainnya;
  2. Sekuensial, yakni kontrol dan display diorganisasikan dengan menunjukan urutan penggunaannya pada aplikasi tertentu;
  3. Frekuensi, yakni kontrol dan display ditempatkan sesuai dengan frekuensi penggunaannya, dengan fungsi yang paling sering digunakan diletakkan pada lokasi yang mudah diakses. Selain pengaturan kontrol dan display, keseluruhan interface harus diatur sedemikian rupa sehingga tepat dengan posisi pengguna.

Kedua, lingkungan fisik dari interaksi. Ergonomis juga memperhatikan perancangan lingkungan kerja sistem seperti tempat mesin diimplementasikan, siapa yang menggunakannya, bagaimana pengguna mengoperasikannya, dan sebagainya. Lingkungan fisik sistem ini mempengaruhi penerimaan sistem oleh pengguna dan bahkan aspek kesehatan dan keselamatan pengguna. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan dalam perancangan sistem interaktif. Salah satu pertimbangan yang juga terkait dengan lingkungan fisik ini adalah ukuran fisik pengguna. Sistem apapun sebaiknya mudah dijangkau oleh pengguna dengan ukuran tubuh yang kecil termasuk mereka yang menggunakan kursi roda, dan sebaliknya pengguna dengan ukuran fisik yang besar tidak terjepit dalam setting sistem. Secara khusus, pengguna harus merasa nyaman dan aman.

Ketiga, isu kesehatan. Meskipun pekerjaan menggunakan komputer bukan sesuatu yang membahayakan, namun harus juga dipikirkan dampak perancangan sistem interaktif yang dibuat terhadap kesehatan dan keselamatan pengguna.
Ada beberapa faktor lingkungan fisik yang secara langsung mempengaruhi kualitas interaksi dan kinerja pengguna, yaitu

  1. Posisi fisik, yakni pengguna harus dapat menjangkau semua kontrol dengan nyaman dan dapat melihat keseluruhan display, tidak harus berdiri dalam jangka waktu yang panjang, dan sebagainya;
  2. Temperatur, yakni suhu yang terlalu panas atau dingin akan mempengaruhi kinerja dan kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa kinerja seseorang akan menurun pada suhu yang tinggi atau rendah karena hilangnya konsentrasi;
  3. Pencahayaan, yakni tingkat pencahayaan harus disesuaikan dengan lingkungan kerja. Pencahayaan yang cukup dengan posisi yang tepat harus disediakan untuk memudahkan pengguna melihat layar;
  4. Suara atau kebisingan, yakni suara yang berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Tingkat suara atau kebisingan harus dipertahankan pada level yang sesuai atau nyaman karena suara dapat menjadi stimulus bagi pengguna dan menjadi suatu konfirmasi terhadap aktifitas sistem;
  5. Waktu, yakni waktu yang perlu diperlukan pengguna untuk mengakses sistem juga harus diperhatikan. Ada beberapa perangkat keras yang membahayakan kesehatan jika diakses dalam waktu yang lama seperti display CRT tidak baik untuk wanita hamil. Penggunaan teknologi komputer yang secara intensif dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti stress, kerusakan otot tangan dan leher, kelelahan mata, ekspos terhadap radiasi, bahkan kematian kecelakaan yang disebabkan oleh komputer. Orang-orang yang duduk di depan PC atau terminal tampilan visual atau visual display terminal(VDT) dalam pekerjaan berkecepatan tinggi untuk mengetik secara berulang-ulang akan menderita masalah kesehatan, yang umum disebut kelainan trauma kumulatif atau cumulative trauma disorder(CTD). Jari-jemari, pergelangan tangan, leher, dan punggung dapat menjadi lemah dan sakit sehingga tidak dapat bekerja.

Keempat, penggunaan warna. Warna yang digunakan pada display harus dapat dibedakan dan tidak mempengaruhi kontras. Jika warna digunakan sebagai indikator, maka harus disertakan informasi lainnya. Warna juga berkaitan dengan kesepakatan yang umum dan sesuai dengan harapan pengguna, misalnya merah digunakan untuk menandai peringatan, hijau untuk sistem yang sedang berjalan dengan normal, dan sebagainya.

Kelima, tipe interaksi. Pemilihan tipe interaksi yang tepat dapat memberikan efek yang baik terhadap dialog antara pengguna dengan komputer sehingga tujuan dari interaksi antara pengguna dan komputer tersebut dapat tercapai. Terdapat beberapa tipe interaksi yang umum digunakan, yaitu:

  1. Command Line Interface (CLI) merupakan bentuk dialog interaktif yang pertama dan masih dipakai hingga saat ini. Dengan CLI, pengguna memberikan instruksi langsung kepada komputer dengan menggunakan tombol fungsi, karakter tunggal, command singkat atau panjang;
  2. Menu terdapat pada menu-driven interface, sekumpulan pilihan tersedia bagi pengguna ditampilkan pada layar dan dapat dipilih dengan menggunakan mouse atau tombol numeric maupun alphabetic;
  3. Natural language merupakan mekanisme komunikai yang atraktif. Natural language dapat mengerti input tertulis, dan suara. Namun, masih banyak kekurangan dalam hal ambiguitas (kerancuan) pada aspek sintaks dan semantik;
  4. Q/A & Query dialogue mekanismenya adalah pengguna diberikan serangkaian pertanyaan yang dalam bentuk jawaban ya atau tidak, pilihan ganda atau dalam bentuk kode dan dibimbing tahap demi tahap selama proses interaksi;
    (5) Form-fills and spreadsheet pada umumnya digunakan untuk aplikasi data entry dan data retrieval. Bentuk form-fill adalah berupa display yang menyerupai selembar kertas dengan beberapa field untuk diisi. Spreadsheet merupakanvariasi dari form-fill;
  5. WMP Interface (Windows, Icons, Menu, Pouinters) merupakan default interface untuk sebagian besar sistem komputer interaktif yang digunakan saat ini terutama pada PC dan desktop workstation. Interaksi melibatkan paling sedikit 2 partisipan, yaitu pengguna dan sistem. Keduanya memiliki karakteristik yang kompleks dan berbeda dalam berkomunikasi dan memandang tugas serta domain. Oleh karena itu, interface harus menerjemahkan komunikasi diantara mereka secara efektif sehingga interaksi tersebut berhasil.

Agar tercapai kesehatan dan keselamatan serta kenyamanan dalam bekerja maka setiap pengguna komputer harus lebih memperhatikan dan mempedulikan faktor manusia dan ergonomis dari penggunaan komputer itu sendiri. Selain itu perancangan dan pengembangan produk teknologi komputer harus lebih menekankan faktor sosial dan ergonomis yang dapat memberikan keamanan dan keselamatan bagi penggunanya.