Klasifikasi Kecelakaan Kerja

klasifikasi kecelakaan kerja menurut jenis kecelakaan

Menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tahun 1952, kecelakaan kerja dapat diklasifikasikan sebagai berikut (ILO, 1980:43)

Klasifikasi menurut Jenis Kecelakaan Menurut jenisnya, kecelakaan dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Terjatuh,
  2. Tertimpa benda jatuh,
  3. Tertumbuk atau terkena benda, terkecuali benda jatuh,
  4. Terjepit oleh benda,
  5. Gerakan yang melebihi kemampuan,
  6. Pengaruh suhu tinggi,
  7. Terkena arus listrik,
  8. Kontak dengan bahan berbahaya atau radiasi,
  9. Jenis lain termasuk kecelakaan yang datanya tidak cukup atau kecelakaan lain yang belum masuk klasifikasi tersebut

Klasifikasi menurut Penyebab

Mesin

Mesin yang dapat menjadi penyebab kecelakaan, diantaranya

  1. Pembangkit tenaga terkecuali motor listrik,
  2. Mesin penyalur (transmisi),
  3. Mesin-mesin untuk mengerjakan logam,
  4. Mesin pengolah kayu,
  5. Mesin pertanian,
  6. Mesin pertambangan,
  7. Mesin lain yang tak terkelompokkan.

Alat angkutan dan peralatan terkelompokkan

Klasifikasi ini terdiri dari:

  1. Mesin pengangkat dan peralatannya,
  2. Alat angkutan yang menggunakan rel,
  3. Alat angkutan lain yang beroda,
  4. Alat angkutan udara,
  5. Alat angkutan air,
  6. Alat angkutan lain.

Peralatan lain

Penyebab kecelakaan kerja oleh peralatan lain diklasifikasikan menjadi:

  1. Alat bertekanan tinggi,
  2. Tanur, tungku dan kilang,
  3. Alat pendingin,
  4. Instalasi listrik, termasuk motor listrik tetapi dikecualikan alat listrik (tangan),
  5. Perkakas tangan bertenaga listrik,
  6. Perkakas, instrumen dan peralatan, diluar peralatan tangan bertenaga listrik,
  7. Tangga, tangga berjalan,
  8. Perancah (Scaffolding),
  9. Peralatan lain yang tidak terklasifikasikan.

Material, Bahan-bahan dan radiasi

Material, Bahan-bahan dan radiasi yang dapat menjadi penyebab kecelakaan diklasifikasikan menjadi:

  1. Bahan peledak,
  2. Debu, gas, cairan, dan zat kimia, diluar peledak ,
  3. Kepingan terbang,
  4. Radiasi,
  5. Material dan bahan lainnya yang tak terkelompokkan.

Lingkungan kerja

Faktor dari Lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kecelakaan diantaranya berupa:

  1. Di luar bangunan,
  2. Di dalam bangunan,
  3. Di bawah tanah.

Perantara lain yang tidak terkelompakkan Penyebab kecelakaan berdasarkan perantara lain yang tidak terkelompokkan terbagi atas:

  1. Hewan,
  2. Penyebab lain. Perantara yang tidak terklasifikan karena kurangnya data. Kurangnya data penunjang dari penyebab kecelakaan, dapat diklasifikasikan tersendiri dalam satu kelompok.

Klasifikasi menurut Sifat Luka

Menurut sifat luka atau kelainan, kecelakaan dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Patah tulang,
  2. Dislokasi atau keseleo,
  3. Regang otot atau urat,
  4. Memar dan luka yang lain,
  5. Amputasi,
  6. Luka lain-lain,
  7. Luka di permukaan,
  8. Gegar dan remuk,
  9. Luka bakar,
  10. Keracunan-keracunan mendadak,
  11. Akibat cuaca dan lain-lain,
  12. Mati lemas,
  13. Pengaruh arus listrik,
  14. Pengaruh radiasi,
  15. Luka yang banyak dan berlainan sifatnya.

Klasifikasi menurut Letak Kelainan

Berdasarkan letak kelainannya,

jenis kecelakaan dapat dikelompokkan pada:

  1. Kepala,
  2. Leher,
  3. Badan,
  4. Anggota atas,
  5. Anggota bawah,
  6. Banyak tempat,
  7. Kelainan umum,
  8. Letak lain yang tidak dapat dimasukkan klasifikasi tersebut.

Sedangkan menurut Bennet NB. Silalahi dalam analisa sejumlah kecelakaan, kecelakaan kerja dapat dikelompokkan kedalam pembagian kelompok yang jenis dan macam kelompoknya ditentukan sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya kelompok: Tingkat Keparahan Kecelakaan Dalam Mijin Politie Reglement Sb 1930 No. 341 kecelakaan dibagi menjadi 3 tingkat keparahan, yakni mati, berat dan ringan.

Dalam PP 11/1979 keparahan dibagi dalam 4 tingkat yakni mati, berat, sedang dan ringan. Daerah Kerja atau Lokasi Dalam pertambangan minyak dan gas bumi, ditentukan kelompok daerah kerja: seismik, pemboran, produksi, pengolahan, pengangkutan, dan pemasaran.

Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Data laporan kecelakaan kerja yang tersedia dapat diketahui bahwa jumlah kasus kecelakaan kerja dari tahun 2003 sampai 2006 secara berturut-turut sebanyak 2003 sebanyak 4 kasus , 2004 sebanyak 9 kasus, 2005 5 sebanyak 3 kasus, 2006 sebanyak 7 kasus, tetapi pada tahun 2007 terdapat kenaikan jumlah kasus yakni sebesar 11 kasus kecelakaan kerja. Untuk menanggulangi terjadinya kecelakaan kerja yang berakibat terganggunya proses produksi sehingga menyebabkan kerugian perusahaan, maka perlu diketahui faktor resiko penyebab kecelakaan tersebut sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan. Bertolak dari latar belakang tersebut, peneliti akan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja yang terjadi selama Tahun 2007.

Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari- hari sering disebut dengan safety saja, oleh American Society of Safety Engineers (ASSE) diartikan sebagai bidang kegiatan yang ditujukan untuk mencegah semua jenis kecelakaan yang ada kaitannya dengan lingkungan dan situasi kerja (AM. Sugeng Budiono, 2003:171). Sumber lain mengatakan bahwa, keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan (Suma’mur PK., 1989:1).

Keselamatan kerja merupakan tanggung jawab keseluruhan organisasi. Lini dan staf sama-sama bertanggung jawab, dan antar keduanya perlu adanya koordinasi serta pembagian tugas dan tanggung jawab (Depnaker RI, 1996:46). Kinerja perusahaan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja sifatnya relatif, karena tidak pernah ada keselamatan dan kesehatan kerja yang mencapai sempurna. Dengan demikian selalu dapat diupayakan perbaikan ). Kesehatan kerja ialah ilmu yang mempelajari hubungan antara pekerjaan dan kesehatan. Hubungan itu dapat terjadi dua arah. Arah pertama adalah bagaimana pekerjaan mempengaruhi kesehatan, sedangkan arah kedua adalah bagaimana kesehatan mempengaruhi pekerjaan.

Dalam hal tersebut pertama dipelajari masalah kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. Dalam hal kedua dipelajari bagaimana pekerjaan yang sakit agar tetap dapat menjalankan pekerjaannya secara produktif . Kesehatan kerja meliputi segala upaya untuk mencegah penyakit akibat kerja dan penyakit lainnya pada tenaga kerja. Tujuannya ialah agar tenaga kerja ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan kondisi mentalnya sehingga setiap tenaga kerja berada dalam keadaan sehat dan sejahtera pada saat ia mulai bekerja sampai selesai masa baktinya.

Tujuan, Saran dan Sasaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja Program keselamatan dan kesehatan kerja ditujukan untuk mencapai sasaran jangka pendek dan jangka panjang.

Dalam keadaan tertentu manajer keselamatan dan kesehatan kerja dapat menyusun program cepat (Crash Program) untuk mencapai sasaran yang mendesak (Depnaker RI, 1996:46.) Occupational Safety and Health Administration, suatu badan yang berwenang mengawasi keselamatan dan kesehatan kerja di Amerika Serikat, menyarankan 4 program keselamatan dan kesehatan kerja sebagai berikut:

(1) Kemauan (commitment) manajemen dan keterlibatan pekerja,

(2) Analisis resiko tempat kerja,

(3) Pencegahan dan pengendalian bahaya,

(4) Pelatihan pekerja, penyelia, dan manajer (Depnaker RI, 1996:47).

Sasaran manajemen keselamatan dan kesehatan kerja ialah mengurangi dan menghilangkan faktor-faktor yang berperan dalam kejadian kecelakaan dan penyakit akibat kerja di tempat kerja sehingga terwujud suatu tempat kerja yang  aman dan sehat yang dapat mendukung proses berproduksi yang efisien dan produktif (Syukri Sahab, 2001:175). Sedangkan dalam UU No.1 Tahun 1970 Pasal 3 ayat 1 tentang Keselamatan Kerja, disebutkan bahwa tujuan pemerintah membuat aturan keselamatan dan kesehatan kerja adalalah sebagai berikut:

1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan,

2. Memberi pertolongan pada kecelakaan,

3. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja,

4. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran,

5. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai,

6. Menyelenggarakan suhu dan kelembaban udara yang baik,

7. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup,

8. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban,

9. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya,

10. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan,

11. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya,

12. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerja yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi Kecelakaan Kerja Secara umum, kecelakaan selalu diartikan sebagai “kejadian yang tak
terduga”.

 

Penyebab Kecelakaan Kerja

penyebab kecelakaan kerja

Dunia usaha Indonesia saat ini sedang menghadapi perubahan besar dan cepat sebagai dampak globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia, sehingga perlu meningkatkan daya saing dengan memproduksi barang dengan mutu terbaik pada tingkat harga yang kompetitif. Untuk itu perlu peningkatan mutu sumber daya manusia seiring dengan efisiensi perusahaan. Proses industrialisasi telah mendorong tumbuhnya industri di berbagai sektor dengan menerapkan berbagai teknologi dan menggunakan bermacam-macam bahan. Hal ini mempunyai dampak, khususnya terhadap tenaga kerja berupa resiko kecelakaan dan penyakit. Untuk mengurangi dampak tersebut perlu dilaksanakan syarat keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja (AM. Sugeng Budiono, 2003:203).

Kesehatan dan keselamatan kerja telah menjadi salah satu pilar penting ekonomi makro maupun mikro, karena keselamatan dan kesehatan kerja tidak bisa dipisahkan dari produksi barang dan jasa. Untuk itu perusahaan harus menekan resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja, karena kecelakaan akan menyebabkan kelambatan produksi, padahal ketepatan waktu dapat menghemat biaya yang besar, sebaliknya ketidaktepatan dalam memenuhi jadwal dapat berakibat kerugian yang besar pada perusahaan dan pelanggan (Depnaker RI, 1996:42).
Dalam setiap bidang kegiatan manusia selalu terdapat kemungkinan terjadinya kecelakaan, tidak ada satu bidang kerjapun yang dapat memperoleh pengecualian. Kecelakaan dalam industri sesungguhnya merupakan hasil akhir dari suatu aturan dan kondisi kerja yang tidak aman (ILO, 1989:15). Kecelakaan tidak terjadi kebetulan melainkan ada sebabnya, oleh karena itu kecelakaan dapat dicegah asal kita cukup kemauan untuk mencegahnya (Suma’mur PK., 1996:212). Kecelakaan juga timbul sebagai hasil gabungan dari beberapa faktor.

Faktor yang paling utama adalah faktor perlatan teknis, lingkungan kerja, dan pekerja itu sendiri. Misalnya dalam suatu pabrik mungkin saja kekurangan peralatan yang aman, atau dengan perkataan lain mesin-mesin tidak dirancang baik untuk dilengkapi dengan alat pengamanan secukupnya. Lingkungan kerja yang bising sehingga tenaga kerja tidak mendengar isyarat bahaya. Suhu ruangan buruk sehingga para pekerja jadi mudah letih dan tak mampu lagi untuk berkonsentrasi terhadap tugas-tugas yang ditanganinya, kurang baiknya pengaturan sirkulasi udara menyebabkan terkumpulnya uap beracun yang pada akhirnya mengakibatkan kecelakaan. Demikian pula para pekerja itu sendiri dapat menjadi faktor penyebab bila mereka tidak mendapat latihan yang memadai atau mereka belum berpengalaman dalam tugasnya (ILO, 1989:16).
Agar dapat melakukan tindakan pencegahan dan keselamatan kerja, perlu diketahui dengan tepat bagaimana dan mengapa kecelakaan kerja terjadi. Agar efektif upaya pencegahan harus didasari pengetahuan penyebab kecelakaan yang lengkap dan tepat. Pengumpulan dan pencatatan data kecelakaan dimaksudkan untuk mendapat informasi yang lengkap guna upaya pencegahan kecelakaan tersebut (Syukri Sahab, 1997:60).

Wawancara dengan korban kecelakaan bisa menggali informasi mengenai kejadian yang langsung berkaitan dengan kejadian kecelakaan kerja. Informasi ini hendaknya keterangan tentang kejadian yang sebenarnya, tidak ada hal yang ditutupi, terutama yang berkaitan dengan kesalahan dalam operasi (Syukri Sahab, 1997:177). Di negara maju yang telah memberikan perhatian yang besar terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, kerugian akibat kecelakaan kerja ternyata masih cukup besar. Lees mengutip Fletcher& Douglas (Depnaker RI, 1996:41) yang menghitung kerugian akibat kecelakaan dalam setahun pada sebuah industri skala medium sebagai berikut: terjadi 71 kasus cidera berat, 10522 kasus cidera ringan dan 35500 kasus yang mengalami kerugian material dengan total kerugian sebesar 1.273.518 US Dollar.

Di Amerika Serikat menurut National Council rata-rata lebih dari 10.000 kasus kecelakaan fatal dan lebih dari 2 juta kasus cidera tiap tahun dengan kerugian mencapai lebih dari 65 Milyar US Dollar, sedangkan di Inggris Health and Safety Executive mencatat kejadian kebakaran pada industri kimia dan minyak bumi dengan total kerugian 98,9 juta pound. Jumlah kejadian 687 kali atau rata- rata 53 kejadian setiap tahun (Depnaker RI, 1996:41).m Menurut ILO, setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian yang disebabkan oleh karena penyakit atau kecelakaan akibat hubungan pekerjaan. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat hubungan pekerjaan, dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya (Depkes RI, 2007:2).

Meskipun telah mengalami penurunan jumlah, namun angka kecelakaan kerja di Indonesia masih menempati urutan tertinggi untuk wilayah Asia Tenggara. Ini karena, lemahnya kesadaran dalam menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Menurut data Depnakertrans RI tahun 2006, jumlah kasus kecelakaan kerja di Indonesia pada tahun 2003 sebanyak 105.846 kasus, tahun 2004 sebanyak 95.418 kasus, tahun 2005 sebanyak 96.081, dan tahun 2006 sebanyak 70.069 kasus. Jumlah tersebut menurun sebesar 37,12 persen dalam kurun waktu 4 tahun terakhir ini (BIKKB Riau, 2007:1), sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 83.714 kasus dan tahun 2008 turun sebesar 55,82% dari tahun 2007 menjadi 36.986 kasus (Himakesja, 2009:1).

Laporan Kecelakaan Kerja

Laporan Kecelakaan Kerja

Mengumpulkan fakta-fakta (dengan cara peninjuan on the spot, wawancara dan lain-lain) adalah bagian dari pekerjaan berkaitan dengan pemeriksaan kecelakaan kerja. Nilai dari perkerjaan ini ditentukan oleh terpkannya atau tidak “pengobatan” atau cara-cara pencegahan agar kecelakaan kerja yang sama tidak terjadi lagi di kelak kemudian hari.

Ada 2 aspek dasar yang perlu di perhatikan dalam pekerjaan pemeriksaan kecelakaan ini :

a. Dasar Pemeriksaan

Menemukan penyebab dari kecelakaan dan kemudian segera mengadakan tindakan-tindakan koreksi.

Dalamk pemeriksaan ini dapat diterapkan teknik bertanya saat pemeriksaan sebagai berikut:

Siapa ….. terluka?

Dimana ….. terjadi?

Bila ….. terjadi?

Apa ….. penyebab-penyebab penunjang dan langsung?

Mengapa ….. tindakan tidak aman atau kondisi tidak aman bisa terjadi (dibiarkan)?

b. Tindakan Koreksi

Setelah diketahui sebab-sebab kecelakaan dari dasar pemeriksaan di atas, maka langkah selanjutnya adalah segera diambil tindakan koreksi melaui pemeriksaan. Tindakan koreksi ini juga harus berdasarkan atas kasus-kasus kecelakaan kerja masing-masing.

Ada 4 macam tindakan koreksi:

  1. Engine revision: perbaikan terhadap mesin-mesin
  2. Persuation and peal including instructional: persuasi, himbuan, intruksi tentang cara kerja yang aman.
  3. Personal adjusment: penempatan, pemindahan atau mutasi pegawai ke pekerjaan yang sesuai.
  4. Disiplin: ini adalah tindakan koreksi yang paling penting berupa penerapan disiplin, tindakan administrative dan sebagainya.

Pemeriksaan berupa laporan kecelakaan ini penting dilakukan selanjutnya dapat dijadikan acuan untuk tetap menjaga lingkungan kerja yang aman agar resiko kecelakaan serupa tidak terjadi kembali.

 

3 Posisi Cemerlang di Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas

Untuk para pencari kerja di Indonesia, bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan minyak dan gas adalah impian akan masa depan yang cerah. Benar adanya, Perusahaan pertambangan minyak dan gas dikenal sebagai perusahaan yang memberikan gaji/kompensasi tinggi.

Indonesia memiliki banyak ladang minyak dan gas yang sudah maupun belum diekspoitasi sehingga banyak perusahaan asing menanamkan modal mereka di negara ini. Para penacari kerja ataupun  para karyawan yang sudah bekerja di untungkan dengan hal ini karena masih banyak peluang pekerjaan, Selain darpada itu, Bekerja di sebuah perusahaan pertambangan juga memberikan prestise bagi pekerjanya karena mereka telah berhasil mengalahkan ribuan pesaing.

Perusahaan pertambangan minyak dan gas memberikan gaji yang jauh diatas rata-rata bagi para pekerja entry level di bandingkan perusahaan lainnya. Di perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang mengelola pertambangan di Indonesia, gaji pekerja entry level mereka bisa mencapai Rp. 4.000.000 – Rp. 8.000.000, tergantung dengan posisi dan kompetensi yang dimiliki pekerja. Di perusahaan asing, anda bisa mendapat jumlah gaji yang lebih besar lagi.

Dari data salah satu situs penyedia lowongan pekerjaan di Indonesia, terdapat 3 posisi yang paling dibutuhkan di perusahaan pertambangan, diantaranya adalah

1. Health Safety and Environment Senior Officer

Health Safety and Environment

Divisi ini diciptakan untuk menjamin dan memberikan lingkungan kerja yang kondusif bagi kesehatan dan keselamatan kerja bagi karyawan perusahaan. Posisi ini diharuskan meminimalisir kemungkinan terjadinya kesalahan dan kecelakaan kerja.

Biasanya Persyaratan untuk bekerja di posisi ini adalah :

• Memiliki gelar sarjana di bidang yang terkait dengan pertambangan, pengalaman paling tidak 5 tahun.
• Menguasai pengetahuan yang mendalam mengenai perijinan, peraturan keselamatan, sistem manajemen dan audit, berbagai jenis pelatihan dibidang keselamatan, kesehatan dan lingkungan.
• Mempunyai kemampuan untuk menganalisa keadaan dan kebutuhan perusahaan dengan akurat, memiliki integritas tinggi dan berkomitmen dengan keselamatan tenaga kerja.

2. Senior Geologist

sepatu safety pekerjaan pertambangan

Senior geologist bertugas untuk merencanakan mulai dari riset, review dan menilai data geologi dan geofisika dari sebuah area pertambangan. Setelah selesai merencanakan, mereka akan bekerja sama dengan tim pengeboran untuk memulai dan melaksanakan program eksplorasi. Seorang Senior Geologist harus dapat mengawasi setiap aktifitas selama proses dan berlangsungnya pengeboran dan eksplorasi, mengembangkan dan menjaga model geological untuk setiap area eksplorasi.

Kualifikasi yang harus dimiliki seorang calon pekerja yang ingin menjadi Senior Geologist adalah:

• Memiliki gelar sarjana Geologi
• Menguasai modeling software
• Paling tidak berpengalaman selama 10 tahun di industri yang sama
• Memiliki kemampuan komunikasi dan kepemimpinan yang baik

3. Geophysicist

sepatu safety tahan minyak

Tanggung jawab seorang Geophysicist di antaranya menghitung, menganalisa keadaan fisik bumi secara keseluruhan, termasuk menentukan peralatan dan metode yang cocok dengan keadaan keadaan bumi sebelum eksplorasi dilakukan. Posisi ini akan banyak bekerja di lapangan dan laboratorium.

• Memiliki gelar sarjana teknik geofisika.
• Memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dalam menerjemahkan data yang diperoleh kepada anggota tim, klien, manajer senior dan rekannya dalam presentasi .
• Spesialisasi tertentu sangat bisa menjadi nilai tambahnya. Contohnya seperti menjadi seismologist (‘membaca’ gerakan bumi, gempa), tectnophysicist (mempelajari lempeng tektonik).

 

Kecelakaan Pekerjaan Proyek Bangunan

produktivitas tenaga kerja proyek konstruksi

Konstruksi bangunan adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan seluruh tahapan yang dilakukan di tempat kerja. Pekerjaan proyek konstruksi bangunan melibatkan beberapa aspek diantaranya adalah bahan bangunan, pesawat/ bahan bangunan  instalasi/ bahan bangunan peralatan, tenaga kerja, dan penerapan teknologi. Semua aspek tersebut dapat merupakan sumber kecelakaan kerja yang bahkan dapat mengakibatkan kematian atau kerugian material.

Dulu para ahli beranggapan suatu kecelakaan dikarenakan oleh tindakan pekerja yang salah. Namun sekarang anggapan itu telah berbeda padnangan, yaitu bahwa kecelakaan kerja bukan hanya disebabkan oleh tindakan pekerjanya saja, tetapi juga faktor-faktor organisasi dan manajemen. Para pekerja dan pegawai seharusnya dapat diarahkan dan dikontrol oleh pihak manajemen guna terciptanya suatu kegiatan kerja yang aman. Berdasarkan teori-teori penyebab kecelakaan terbaru, maka pihak manajemen harus bertanggungjawab terhadap keselamatan kerja para pekerjanya.
Pekerja proyek harus di lengakapi alat keselamatan kerja yang memadai dengan standarisasi nasional agar kecelakaan pada saat bekerja dapat berkurang. Alat Pelindung Diri untuk para pekerja proyek bangunan harus benar-benar berkualitas guna terciptanya rasa aman dan nyaman saat bekerja. Alat Pelindung Diri (APD) seperti: Safety Helmet, Safety Belt, Safety Shoes, Sepatu Karet, Sarung Tangan, Masker (Respirator) dan lain-lain sesuai standar nasional.

kecelakaan kerja konstruksi bangunan

Angka kecelakaan kerja konstruksi di Indonesia masih termasuk buruk. Pada tahun 2015 2.375 Orang Meninggal dalam Kecelakaan Kerja Menurut Juan Somavia, Dirjen ILO, industri konstruksi termasuk paling rentan kecelakaan, diikuti dengan anufaktur makanan dan minuman, Tidak hanya di negara-negara berkembang, di negara maju sekalipun kecelakaan kerja konstruksi masih memerlukan perhatian serius. Oleh karena itu, harus ditemukan cara pencegahan yang efektif.

sepatu safety tahan minyak

Selain daripada itu pekerjaan proyek konstruksi tidak hanya menuntut akurasi dalam perencanaan kekuatan, Tetapi juga perlu dicermati tentang metode dan teknologi konstruksinya. Kesalahan dalam metode konstruksi akan berakibat yang sangat fatal, yaitu korban jiwa tenaga kerjanya. Contoh : Membiarkan tembok baru yang tinggi tanpa bingkai (perkuatan yang cukup) dari kolom dan sloof beton bertulang atau besi profil tentunya sangat berbahaya ketika menerima gaya horisontal (dalam hal ini hembusan angin). Selain itu tembok dengan panjang 50 m, akan sangat riskan jika tidak diberikan dilatansi yang cukup.

sepatu safety yang bagus merk apa

Pemerintah sejak lama sudah mempertimbangkan terkait masalah perlindungan tenaga kerja, yaitu melalui UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja. Sesuai dengan perkembangan jaman, pada tahun 2003, pemerintah mengeluarkan UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Undang undang ini mencakup berbagai hal dalam perlindungan pekerja yaitu upah, kesejahteraan, jaminan sosial tenaga kerja, dan termasuk juga masalah keselamatan dan kesehatan kerja.

Permasalahan pada jasa konstruksi yang bertumpu pada tenaga kerja, tentu saja tidak dapat ditangani dengan cara-cara yang umum yang dilakukan di negara maju. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah keteladanan pihak Pemerintah yang mempunyai fungsi sebagai pembina dan juga “the biggest owner.”

Manajemen pekerjaan proyek bangunan sangat berperan dalam pencegahan kecelakaan di proyek konstruksi. Peran tersebut mulai dari perancanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan. Selanjutnya dapat pula ditinjau dari komponen manusia, material, uang, mesin/alat, metode kerja, informasi.

Sejarah Sepatu Boots

model sepatu boots terbaru
Model Sepatu Boots di buat oleh seoarang yang berasal dari Mongol dari kulit binatang Yak

 

Untuk mengulas sejarah sepatu boots, Baiknya kita flash back ke ke beberapa ratus tahun ke belakang. Beberapa versi sejarah sepatu yang saat ini sedang menjadi trend anak muda. Namun kali ini kita akan mengualas di tahun 1200an.

Di tahun 1200an masehi, bangsa mongolia yang terletak di daerah khatulistiwa sudah terlebih dahulu membuat alas kaki yang terbuat dari kulit Yak, Yak adalah sejenis sapi yang hidup di daerah mongolia. Mereka membuat alas kaki dengan model mirip dengan boots di jaman sekarang.

Tujuan bangsa mongolia membuat alas kaki ini adalah untuk melindungi kaki mereka dari dinginnya salju yang sepanjang waktu menyelimuti daerah tempat tinggal mereka.

Efek hangat dari kulit binatang ini menjadi pilihan utama dalam membuat alas kaki. Jadi awalya sepatu boots di buat dengan tujuan untuk melindungi kaki dari dinginnya salju.

Perkembangan jaman membuat perubahan, Penggunaan sepatu boots semakin meluas. Awalnya penyebutan sepatu boots adalah untuk sepatu yang tinggi yang kuat dan dapat melindungi kaki dari benda-benda berbaya. Masa revolusi industri eropa, Sepatu boots banyak digunakan oleh para pekerja untuk melindungi kaki mereka saat bekerja.

model sepatu boot karet
model sepatu boot karet

Saat ini boots yang sering di gunakan pekerja industri terbuat dari karet khusus yang tahan terhadap bahan kimia dan di lengkapi toe cap atau pelindung besi di bagian depan.

Di Amerika, Sepatu boots lebih populer digunakan oleh cowboy, dengan model lebih runcing di bagian depannya. dan di bagian belakang terdapat gerigi yang berfungsi sebagai pengganti pecut saat menaiki kuda mereka. Anda dapat melihatnya di film-film cowboy pada masa itu.

model sepatu boot cowboy
model sepatu boot cowboy

Di Indonesia, Pada awalnya Boots di kenal sebagai sepatu tinggi berahan karet yang di gunakan oleh para pekerja untuk melindungi kaki dari hujan taupun bahan-bahan kimia yang berbahaya. Saat ini sapatu boots mulai merambah ke dunia fashion dengan bahan yang berbeda-beda dan dengan desain yang variatif.

model sepatu boots safety
model sepatu boots di indonesia

Boot dapat menambah kesan tough dan dare to be defferent bagi pemakainya. kesan itu dapat terlihat ketika melihat para pekerja tambah yang terlihat gagah dan tidak takut dengan apapun yang dipijaknya.