Pengertian, Jenis, Penyebab dan Pencegahan Kecelakaan Kerja

fungsi k3

 

Penyebab dan pencegahan kecelakaan kerja – Kecelakaan kerja ialah suatu peristiwa yang tidak diinginkan serta tidak diduga sebelumnya yang bisa memunculkan korban manusia serta atau harta benda (Permenaker No. 03/MEN/1998). Pemahaman lainnya kecelakaan kerja ialah semua peristiwa yang tidak direncanakan yang mengakibatkan atau berpotensial mengakibatkan cidera, kesakitan, kerusakan atau kerugian yang lain (Standard AS/NZS 4801:2001). Sedangkan pengertian kecelakaan kerja menurut OHSAS 18001:2007 ialah peristiwa yang terkait dengan pekerjaan yang bisa mengakibatkan cidera atau kesakitan (bergantung dari keparahannya) peristiwa kematian atau peristiwa yang bisa mengakibatkan kematian.

Di bawah ini beberapa pemahaman kecelakaan kerja dari beberapa sumber buku:

  • Menurut Suma’mur (2009), kecelakaan kerja ialah suatu peristiwa atau momen yang tidak diharapkan yang merugikan pada manusia, mengakibatkan kerusakan harta benda atau kerugian pada proses.
  • Menurut Gunawan serta Waluyo (2015), kecelakaan ialah suatu peristiwa yang (tidak direncanakan) serta tidak diinginkan yang bisa mengganggu proses produksi/operasi, mengakibatkan kerusakan harta benda/asset, mencederai manusia, atau mengakibatkan kerusakan lingkungan.
  • Menurut Heinrich (1980), kecelakaan kerja atau kecelakaan karena kerja ialah suatu peristiwa yang tidak terencana serta tidak terkendali akibatnya karena suatu aksi atau reaksi suatu objek, bahan, orang, atau radiasi yang menyebabkan cidera atau peluang karena lainnya.
  • Menurut Reese (2009), kecelakaan kerja adalah hasil langsung dari tindakan tidak aman serta kondisi tidak aman, yang kedua-duanya bisa dikendalikan oleh manajemen. Aksi tidak aman serta kondisi tidak aman dikatakan sebagai pemicu langsung (immediate/primary causes) kecelakaan sebab keduanya ialah pemicu yang pasti / riil serta dengan cara langsung ikut serta saat kecelakaan berlangsung.
  • Menurut Tjandra (2008), kecelakaan kerja ialah satu kecelakaan yang berlangsung saat seseorang lakukan pekerjaan. Kecelakaan kerja adalah momen yang tidak direncanakan yang dikarenakan oleh suatu aksi yang tidak waspada atau suatu kondisi yang tidak aman atau keduanya.

Jenis-jenis Kecelakaan Kerja

Menurut Bird serta Germain (1990), ada tiga tipe kecelakaan kerja, yakni:

  • Accident, yakni peristiwa yang tidak diharapkan yang memunculkan kerugian baik buat manusia ataupun pada harta benda.
  • Incident, yakni peristiwa yang tidak diharapkan yang belum memunculkan kerugian.
  • Near miss, yakni peristiwa hampir celaka dalam kata lainnya peristiwa ini hampir memunculkan peristiwa incident atau accident.

Berdasar pada tempat serta waktu, kecelakaan kerja dibagi jadi empat tipe, yakni (Sedarmayanti, 2011):

  1. Kecelakaan kerja karena langsung kerja.
  2. Kecelakaan saat atau waktu kerja.
  3. Kecelakaan di perjalanan (dari rumah ke tempat kerja serta sebaliknya, lewat jalan yang wajar).
    Penyakit karena kerja.

Berdasar pada tingkatan karena yang diakibatkan, kecelakaan kerja dibagi jadi tiga tipe, yakni (Suma’mur,1981):

  • Kecelakaan kerja enteng, yakni kecelakaan kerja yang perlu penyembuhan di hari itu serta dapat melakakukan tugasnya kembali atau istirahat < 2 hari. Contoh: terpeleset, tergesek, terkena pecahan beling, terjatuh serta terkilir.
  • Kecelakaan kerja Sedang, yakni kecelakaan kerja yang membutuhkan penyembuhan serta perlu istirahat saat > 2 hari. Contoh: terjepit, luka sampai robek, luka bakar.
  • Kecelakaan kerja berat, yakni kecelakaan kerja yang alami amputasi serta kegagalan fungsi badan. Contoh: patah tulang.

Pemicu Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja berlangsung sebab tingkah laku anggota yang kurang berhati-hati atau asal-asalan atau juga bisa sebab kondisi yang tidak aman, apa itu berbentuk fisik, atau dampak lingkungan (Widodo, 2015).

Berdasar pada hasil statistik, pemicu kecelakaan kerja 85% dikarenakan aksi yang beresiko (unsafe act) serta 15% dikarenakan oleh keadaan yang beresiko (unsafe condition). Keterangan ke-2 pemicu kecelakaan kerja itu ialah seperti berikut (Ramli, 2010):

  • Keadaan yang beresiko (unsafe condition) yakni beberapa faktor lingkungan fisik yang bisa memunculkan kecelakaan seperti mesin tanpa pengaman, penerangan yang tidak cocok, Alat Pelindung Diri (APD) tidak efisien, lantai yang berminyak, dan sebagainya.
  • Aksi yang beresiko (unsafe act) yakni tingkah laku atau kesalahan-kesalahan yang bisa memunculkan kecelakaan seperti asal-asalan, tidak menggunakan alat pelindung diri, dan sebagainya, perihal ini dikarenakan oleh gangguan kesehatan, gangguan pandangan, penyakit, risau dan minimnya pengetahuan dalam proses kerja, langkah kerja, dan sebagainya.

Sedang menurut Ridley (2008), pemicu terjadinya kecelakaan kerja ialah seperti berikut:

a. Keadaan Kerja

  • Pengendalian manajemen yang kurang.
  • Standard kerja yang minim.
  • Tidak penuhi standard.
  • Peralatan yang tidak berhasil atau tempat kerja yang tidak memenuhi.

b. Kekeliruan Orang

  • Ketrampilan serta pengetahuan yang minim.
  • Permasalahan fisik atau mental.
  • Motivasi yang minim atau salah peletakan.
  • Perhatian yang kurang.

c. Aksi Tidak Aman

  • Tidak ikuti cara kerja yang sudah di setujui.
  • Mengambil jalan singkat.
  • Singkirkan atau tidak memakai peralatan keselamatan kerja.

d. Kecelakaan

  • Peristiwa yang tidak terduga.
  • Karena kontak dengan mesin atau listrik yang beresiko.
  • Terjatuh.
  • Terhantam mesin atau material yang jatuh dan lain-lain.

Kecelakaan kerja bisa juga dikarenakan oleh faktor-faktor seperti berikut (Rachmawati, 2008):

  • Aspek fisik, yang mencakup penerangan, suhu udara, kelembapan, cepat rambat udara, nada, vibrasi mekanis, radiasi, desakan udara, dan sebagainya.
  • Aspek kimia, yakni berbentuk gas, uap, debu, kabut, awan, cairan, serta beberapa benda padat.
  • Aspek biologi, baik dari kelompok hewan ataupun dari tumbuh-tumbuhan.
  • Aspek fisiologis, seperti konstruksi mesin, sikap, serta langkah kerja.
  • Aspek mental-psikologis, yakni formasi kerja, hubungan diantara pekerja atau mungkin dengan entrepreneur, pemeliharaan kerja, dan lain-lain.

Mencegah Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja bisa dihindari dengan memerhatikan faktor-faktor, diantaranya sebagai berikut (Suma’mur, 2009):

a. Aspek Lingkungan
Lingkungan kerja yang penuhi kriteria mencegah kecelakaan kerja, yakni:

  • Penuhi syarat aman, mencakup higiene umum, sanitasi, ventilasi udara, pencahayaan serta penerangan dalam tempat
  • kerja serta penyusunan suhu udara ruangan kerja.
  • Penuhi prasyarat keselamatan, mencakup keadaan gedung serta tempat kerja yang bisa menjamin keselamatan.
  • Penuhi penyelenggaraan ketatarumahtanggaan, mencakup penyusunan penyimpanan barang, peletakan serta pemasangan mesin, pemakaian tempat serta ruang.

b. Aspek Mesin serta perlengkapan kerja

Mesin serta perlengkapan kerja mesti didasarkan pada rencana yang baik dengan memerhatikan ketetapan yang berlaku. Rencana yang baik tampak dari sebaiknya pagar atau tutup pengaman pada beberapa bagian mesin atau perkakas yang bergerak, diantaranya bagian yang berputar-putar. Jika pagar atau tutup pengaman sudah terpasang, mesti didapati dengan tentu efisien tidaknya pagar atau tutup pengaman itu yang dilihat dari bentuk serta ukurannya yang sesuai pada mesin atau alat dan perkakas yang terhadapnya keselamatan pekerja dilindungi.

c. Aspek Peralatan kerja

Alat pelindung diri adalah peralatan kerja yang perlu tercukupi buat pekerja. Alat pelindung diri berbentuk baju kerja, kacamata, sarung tangan, yang kesemuanya mesti pas ukurannya hingga memunculkan kenyamanan dalam penggunaannya.

d. Aspek manusia

Mencegah kecelakaan pada aspek manusia mencakup ketentuan kerja, memperhitungkan batas potensi serta keterampilan pekerja, meniadakan beberapa hal yang mengurangi konsentrasi kerja, menegakkan disiplin kerja, hindari tindakan yang menghadirkan kecelakaan dan menghilangkan terdapatnya ketidakcocokan fisik serta mental.

Kecelakaan kerja bisa juga dikurangi, dihindari atau dijauhi dengan mengaplikasikan program yang diketahui dengan tri-E atau Triple E, yakni (Sedarmayanti,2011):

  • Engineering (Tehnik). Engineering berarti aksi pertama ialah lengkapi semua perkakas serta mesin dengan alat pencegah kecelakaan (safety guards) contohnya tombol untuk hentikan bekerjanya alat/mesin (cut of switches) dan alat lainnya, supaya mereka dengan tehnis bisa terproteksi.
  • Education (Pendidikan). Education berarti perlu memberi pendidikan serta latihan pada para pegawai untuk memberikan rutinitas kerja serta langkah kerja yang pas dalam rencana sampai kondisi yang aman (safety) semaksimal mungkin.
  • Enforcement (Penerapan). Enforcement berarti aksi penerapan, yang memberikan jaminan jika ketentuan pengendalian kecelakaan dikerjakan.

Sejarah Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) Di Indonesia

Konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Sejarah k3 di indonesia – Sejarah keselamatan kerja di Negara Indonesia (k3) di mulai setelah Belanda hadir ke Indonesia pada era ke-17. Saat itu, permasalahan keselamatan kerja di lokasi Indonesia mulai terasa untuk melindungi modal yang ditanam untuk industri. Saat jumlah ketel uap yang dipakai industri Indonesia sekitar 120 ketel uap, hingga munculah undang-undang tentang kerja ketel uap di tahun 1853.

Pada tahun 1898, jumlah ketel uap yang dipakai industri kerja makin bertambah jadi 2.277 ketel uap. Tahun 1890 lalu dikeluarkan ketentuan mengenai pemasangan serta penggunaan jaringan listrik di lokasi Indonesia. Menyusul pada tahun 1907, dikeluarkan ketentuan mengenai pengangkutan obat, senjata, petasan, peluru serta beberapa bahan yang bisa meledak serta berdampak pada keselamatan kerja.

Veiligheids Reglement serta pengaturan khusus menjadi pelengkap ketentuan pengerjaannya dikeluarkan pada tahun 1905. Lalu direvisi pada tahun 1910 di mana pengawasan undang-undang kerja dikerjakan oleh Veiligheids Toezich. Sedang pada tahun 1912 muncul pelarang pada pemakaian fosfor putih.

Undang-undang pengawasan kerja yang berisi kesehatan serta keselamatan kerja atau K3 dikeluarkan tahun 1916. Pada tahun 1927 lahir undang-undang masalah serta di tahun 1930 pemerintah Hindia Belanda membuat revisi undang-undang ketel uap.Riwayat keselamatan kerja di Negara Indonesia (k3) di mulai setelah Belanda hadir ke Indonesia pada era ke-17.

Saat terjadi perang dunia ke II, sedikit catatan riwayat tentang keselamatan dan kesehatan industri kerja, karena waktu itu masih dalam situasi perang hingga banyak industri yang berhenti beroprasi. Semenjak zaman kemerdekaan, riwayat keselamatan kerja berkembang sama dengan dinamika bangsa Indonesia. Beberapa waktu setelah Proklamasi, undang-undang kerja serta undang-undang kecelakaan (khususnya tersangkut permasalahan kompensasi) mulai dibuat. Di tahun 1957 didirikanlah Instansi Kesehatan serta Keselamatan Kerja.

Sedang di tahun 1970, undang-undang no I mengenai keselamatan kerja dibuat. Undang-undang ini sendiri dibuat jadi alternatif Veiligheids Reglement tahun 1920. Sejarah selanjutnya pada tahun 1969, berdirilah ikatan Higiene Perusahaan, Kesehatan serta keselamatan kerja, serta di tahun 1969 dibuat laboratorium keselamatan kerja.

Di tahun 1957, diselenggarakan seminar nasional Higiene Perusahaan serta Keselamatan Kerja K3 dengan topik penerapan Keselamatan Kerja Untuk Pembangunan. Persisnya di bulan Februari 1990, Fakultas Kedokteran Unissula yang bekerja bersama dengan Rumah Sakit Sultan Agung Semarang mengadakan symposium gangguan pendengaran karena kerja yang di buka oleh Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia yang saat itu dijabat oleh Cosmas Batubara.

Pengenalan Metode-metode Identifikasi Bahaya

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Erat Produktivitas Kerja

Pengenalan metode metode identifikasi bahaya – Metode identifikasi adalah teknik yang di kembangkan untuk mengetahui serta mengevaluasi beberapa bahaya yang ada dalam proses kerja. Beberapa cara yang bisa digunakan dalam mengidentifikasi potensi bahaya dalam pekerjaan industri ialah sebagai berikut:

1. What if/check list
Dalam cara ini, tiap-tiap proses dipelajari melalui pendekatan brainstorming untuk memformulasikan tiap-tiap pertanyaan mencakup peristiwa yang akan memunculkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Masing-masing pertanyaan dibagi ke tahapan operasi, teknik, pemeliharaan serta pengawasan.

Tiap-tiap pertanyaan itu memperhitungkan skenario terjadinya insiden, identikasi konsekuensi, penilaian kualitatif untuk memastikan tingkat keparahan konsekuensi, peluang dari semua resiko yang ada serta pembuatan referensi untuk mengurangi bahaya. Cara what if/checklist bisa dipakai untuk mengidentifikasi bahaya potensial dari tiap-tiap tingkatan proses. Cara ini akan efisien jika dikerjakan oleh tim yang memiliki pengalaman untuk evaluasi suatu proses.

2. HAZOPS
Hazard and Operability Study (HAZOPS) dipakai untuk mengidentifikasi persoalan dari operasional proses yang bisa memengaruhi efisiensi produksi serta keselamatan. HAZOPS adalah cara identifikasi resiko yang fokus pada analisa terstruktur tentang operasi yang berlangsung. Dengan memakai HAZOPS, kita harus mempelajari tiap-tiap tingkatan proses untuk mengidentifikasi semua penyimpangan dari keadaan operasi yang normal, menggambarkan bagaimana bisa berlangsung serta memastikan perbaikan dari penyimpangan yang ada.

3. FMEA
Failure Model and Effect Analysis (FMEA) adalah cara identifikasi resiko dengan mengkaji beberapa pertimbangan kesalahan dari perlengkapan yang dipakai serta mengevaluasi dampak dari kekeliruan itu. Kelemahan cara ini ialah tidak memperhitungkan kesalahan manusia. Dalam perihal ini, FMEA mengidentifikasi peluang abnormal atau penyimpangan yang bisa terjadi pada elemen atau perlengkapan yang terlibat dalam proses produksi dan konsekuensi yang ditimbulkan.

4. FTA
Fault Tree Analysis (FTA) adalah suatu teknik yang bisa dipakai untuk memprediksi atau menjadi alat investigasi setelah terjadinya kecelakaan dengan melakukan analisa proses peristiwa. FTA nanti akan menghasilkan penilaian kuantitatif dari probabilitas peristiwa yang tidak diharapkan. FTA adalah cara yang sangat efisien dalam menemukan pokok persoalan sebab bisa memastikan jika kerugian yang diakibatkan tidak berasal dari satu kegagalan. FTA adalah kerangka berfikir terbalik dimana evaluasi berawal dari insiden lalu dikaji sebabnya.

5. ETA
Moment Tree Analysis (ETA) ialah cara yang menunjukkan dampak yang mungkin berlangsung dengan diawali oleh identifikasi penyebab peristiwa serta proses dalam tiap-tiap tingkatan yang memunculkan terjadinya kecelakaan. Dalam melakukan ETA, kita perlu memahami penyebab dari peristiwa serta manfaat skema keselamatan atau mekanisme
kegawatdaruratan yang ada untuk memastikan langkah perbaikan pada dampak yang diakibatkan.

6. JHA
Job Hazard Analysis (JHA) ialah teknik yang fokus pada tahapan pekerjaan menjadi langkah untuk mengidentifikasi bahaya sebelum suatu peristiwa yang tidak diharapkan muncul. Cara ini lebih fokus pada hubungan pada pekerja, tugas/pekerjaan, alat serta lingkungan. Setelah diketahui bahaya yang tidak bisa di hilangkan, maka dikerjakan usaha untuk menghilangkan atau mengurangi resiko bahaya ke tingkat level yang dapat di terima (OSHA 3071).

JHA bisa diaplikasikan dalam berbagai jenis tipe pekerjaan, akan tetapi ada banyak prioritas pekerjaa yang perlu dikerjakan JHA, diantaranya:

  1. Pekerjaan dengan tingkat kecelakaan/kesakitan yang tinggi
  2. Pekerjaan yang punya potensi mengakibatkan luka,cacat atau sakit walau tidak ada insiden sebelumnya
  3. Pekerjaan yang jika berlangsung sedikit kesalahan kecil akan menyebabkan terjadinya kecelakaan parah atau luka
  4. Pekerjaan yang baru atau mengalami perubahan dalam proses serta mekanisme
  5. Pekerjaan cukup kompleks untuk ditulis petunjuk pelaksanaannya

Penyakit-penyakit Akibat Kerja di Rumah Sakit

Penyakit penyakit akibat kerja di rumah sakit

Penyakit penyakit akibat kerja di rumah sakit – Rumah Sakit adalah satu unit service layanan kesehatan pada penduduk. Agar bisa mendapatkan kelebihan serta daya saing maka rumah sakit harus mendapatkan perhatian khusus dalam peningkatan mutu layanannya dengan profesional pada customer, yaitu pasien yang dirawat atau rawat jalan.

Rumah sakit dalam kaca mata publik adalah unit service fungsional sebagai unit dalam service penyuluhan, mencegah serta perlakuan beberapa kasus segala jenis penyakit.

Penyakit karena kerja bisa menyerang semua tenaga kerja di dalam rumah sakit, baik tenaga medis ataupun non medis karena pajanan biologi, kimia serta fisik di lingkungan kerja rumah sakit tersebut. Rumah sakit adalah tempat berkumpulnya beberapa orang sakit ataupun sehat, atau anggota penduduk baik petugas ataupun pengunjung, pasien yang mendapatkan perawatan di dalam rumah sakit dengan beberapa jenis penyakit menyebar.

Perihal ini membuat rumah sakit adalah tempat kerja yang mempunyai kemungkinan pada masalah kesehatan serta kecelakaan kerja buat petugas. Beberapa jenis penyakit yang ada di lingkungan rumah sakit sangat mungkin rumah sakit jadi tempat penyebaran penyakit infeksi baik buat pasien, tenaga kerja ataupun pengunjung. Petugas di lingkungan rumah sakit begitu berdampak dengan kontak langsung pada agent penyakit menyebar lewat darah, sputum, jarum suntuk dan sebagainya.

Persepsi publik berasumsi jika rumah sakit adalah fasilitas kesehatan yang bersih serta sehat, hingga tenaga kerja yang berada di lingkungan rumah sakit tak kan terkena penyakit. Bila kita memandang jika rumah sakit adalah industri service kesehatan yang banyak didatangi penduduk setiap hari bahkan juga pada unit service spesifik yang memakai tenaga kerja shift tetap ada selama 24 jam, seharusnya usaha kesehatan serta keselamatan kerja di dalam rumah sakit bukan adalah hal yang tabu agar bisa diaplikasikan.

Dalam perihal ini sangat berguna bagi tenaga kerja yang berada di lingkungan rumah sakit menjadi usaha perlindungan dari kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja. Pengendalian Sumber Daya Manusia (SDM) di dalam rumah sakit harus bisa jadi perhatian khusus supaya tenaga kerja dapat melakukan peranan serta fungsinya dengan baik. Perihal ini sama dengan paradigma sdm menjadi human capital di dalam rumah sakit.

Perihal ini ikut jadi begitu kompleks sebab terdapatnya pembagian pekerjaan beragam macam profesi yang kerja di lingkungan rumah sakit, serta masing-masing profesi akan mempunyai etika serta budaya kerja yang berbeda-beda. Keadaan seperti ini yang membuat manajemen SDM di lingkungan rumah sakit penuh rintangan.

Oleh karenanya bila tenaga kerja di lingkungan rumah sakit terkapar dengan penyakit karena kerja, jadi beberapa hal yang akan terganggu dalam efektif serta manfaat tenaga kerja di dalam rumah sakit. Sama dengan referensi ILO dalam kewajiban tiap-tiap masyarakat negara agar bisa melakukan serta mengevaluasi kebijaksanaan nasional dalam aplikasi kesehatan serta keselamatan kerja di lingkungan kerja, mengingat rumah sakit adalah fasilitas kesehatan yang mempunyai banyak tenaga kerja baik medis ataupun non medis yang berefek alami kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja.

Tenaga kerja dalam UU No. 14 memiliki hak mendapatkan perlindungan atas kesehatan, keselamatan, kesusilaan, pemeliharaan moril kerja dan perlakuan yang sama dengan martabat manusia serta kepribadian agama. Dalam perihal ini memerlukan usaha perlindungan kesehatan serta keselamatan kerja buat petugas di lingkungan rumah sakit.

Pemicu Penyakit Karena Kerja

Penyakit karena kerja adalah seuatu kendala pada tingkat keamanan dalam kerja, dalam perihal ini memerlukan usaha pencegahan, baik untuk keselamatan ataupun kesehatan beberapa pekerja yang berada di lingkungan rumah sakit. Penyakit karena kerja atau terkait dengan pekerjaan bisa dikarenakan oleh pemajanan di lingkungan kerja dengan terus menerus setiap hari.

Untuk menghadapi perihal ini, maka langkah awal yang terpenting ialah pengenalan/identifikasi bahaya yang dapat muncul serta dievaluasi, lalu dikerjakan usaha pengendalian lewat cara melihat serta mengenal (walk through inspections).

Dalam lingkungan kerja seseorang bisa terganggu kesehatannya, serta gangguan kesehatan karena lingkungn kerja ini cukuplah banyak berlangsung. Penyakit karena kerja diantaranya berlangsung disebabkan karena situasi keadaan kerja seperti udara dingin, panas, bising, bahan kimia, debu dan sebagainya.

Gangguan kesehatan pada pekerja bisa juga dipicu oleh aspek yang terkait dengan pekerjaan ataupun aspek yang tidak terkait dengan pekerjaan. Dengan begitu bisa dikatakan jika status kesehatan penduduk pekerja di pengaruhi bukan hanya oleh bahaya di lingkungan kerja tapi ikut oleh aspek kesehatan pekerja yang akan punya pengaruh pada perilaku pekerja yang tidak konsentrasi.

Di bawah ini adalah contoh penyakit karena kerja yang disebut pemicu dari lingkungan kerja:

A. Aspek fisik

– Suara tinggi yang bising melalui ambang batas normal bisa mengakibatkan ketulian

– Tempratur tinggi bisa mengakibatkan hyperpireksi, heat cramp, heatstres.

– Radiasi sinar elektromagnetik, radioaktif bisa mengakibatkan katarak, tumor dan sebagainya.

– Desakan udara yang tinggi bisa mengakibatkan coison disease

– Getaran bisa mengakibatkan gangguan proses metabolism polineurutis, masalah syaraf.

– Penerangan yang kurang bisa mengakibatkan kerusakan pandangan.

B. Aspek Kimia

– Beberapa bahan kimia yang masuk lewat aliran pernapasan yang bisa membuat resikonya alergi, iritasi, korosif, asphyxia.

– Debu yang bisa menyebabkan pneumoconioses dan sebagainya

– Uap serta gas beracun yang bisa mengakibatkan keracunan

C. Aspek Biologis

– Seperti bakteri, viral diseases, parasitic diseases dan sebagainya

D. Aspek Ergonomi

– Tempat kerja, alat kerja yang tidak ergonomis, langkah kerja yang salah, konstruksi yang salah hingga bisa mempunyai dampak kelelahan pada tubuh.

– Angkat beban yang berat

– Tempat statis

– Tempat membungkuk yang tidak ergonomis

E. Aspek Mental Psikologis

– Jalinan kerja, organisasi kerja, komunikasi social

– Beban kerja mental keadaan penyakita pasien.

– Kerja shift

Penyakit karena kerja serta kecelakaan kerja dikalangan petugas kesehatan serta non kesehatan di lingkungan rumah sakit belumlah terselesaikan dengan baik, hingga berlangsung kecenderungan penambahan prevalensi. Dalam perihal ini perlu mendapatkan perhatian, sebab seseorang yang bekerja bila mengalami kecelakaan atau penyakit karena kerja tidak hanya punya pengaruh pada diri sendiri, tapi ikut produktifitas kerja mengalami penurunan dalam pemberian service kesehatan yang optimal pada pasien.

Kemungkinan petugas rumah sakit pada gangguan kesehatan serta kecelakaan kerja biasanya dikarenakan oleh perilaku petugas dalam kepatuhan melakukan tiap-tiap mekanisme pada kewaspadaan. Lihat hal diatas tentu saja kita perlu mengerti jika dalam cakupan pekerjaan di bagian kesehatan memiliki banyak resiko pada kesehatan pekerja. Tenaga kerja (tenaga medis serta non medis) yang berefek pada penyakit karena kerja di dalam rumah sakit diantaranya:

  1. Perawat yang setiap hari kontak dengan pasien dalam tempo yang lumayan lama 6 sampai 8 jam /hari, hingga tetap terpajan pada mikroorganisme pathogen bisa membawa infeksi dari satu pasien ke pasien yang lainnya. Hasil riset menunjukkan jika tenaga kerja perawat banyak diketemukan cedera sprain serta strain, nyeri pinggang, adalah keluhan paling banyak yang diketemukan pekerja perawat di dalam rumah sakit. Luka sayat serta tusukan jarum yang tidak sesuai mekanisme penggunaannya atau saat pencucian instrument tajam yang beresiko tersayat.
  2. Dokter bisa tertular penyakit dari pasien, terkena bahan kimia anesthesi halotan yang gampang menguap merembes menembus masker hingga mengakibatkan masalah somatic, nyeri kepala, mual sampai masalah fungsi saraf pusat. Robeknya sarung tangan bisa mengakibatkan cedera sayatan serta tusukan jarum.
  3. Dokter gigi, tingginya kandungan HBsAg serta anti HBC beberapa dokter gigi disbanding dengan petugas kesehatan lainnya, perihal ini diduga menjadi pajanan air ludah pasien, penyakit infeksi karena kerja, pajanan dosis rendah seperti merkuri, pajanan bahan penambal lubang gigi yang berkepanjagan bisa mengakibatkan masalah gastrointestinal, lesu, anorexia. Nyeri punggung juga seringkali dihadapi oleh karena tempat kerja yang tidak ergonomis.
  4. Petugas Gizi, menjadi penyaji diet atau makanan pasien, dalam perihal ini petugas gizi biasanya terpajan salmonella berbahan mentah ikan, daging serta sayuran yang setiap hari terkena hingga berefek terjadi masalah gastrointestinal.
  5. Petugas Farmasi yan melayani pembelian serta penyediaan obat-obat pasien semua penyakit, yang setiap hari akan menghirup beberapa bahan kimia semua jenis obat-obatan yang merembes serta menembus masker, perihal ini bisa mengakibatkan kemungkinan keracunan.
  6. Petugas Laboratorium yang setiap hari lakukan pemeriksaan darah, urin, sputum, feses pasien dengan semua jenis penyakit hingga akan berdampak terpajan bakteri ataupun virus yang berasal dari bahan objek kontrol.
  7. Petugas Radiologi, radiasi adalah pajanan yang sangatlah beresiko bagi gangguan kesehatan pekerja, dalam perihal ini memerlukan petugas yang lebih bertanggungjawab dalam usaha pengendaliannya.
  8. Petugas londri rumah sakit yang setiap hari terpajan dengan bahan linen yang berasal dari bekas pakai pasien dengan semua jenis penyakit menyebar, perihal ini bisa mengakibatkan penyebaran bakteri ataupun virus yang berasal dari linen kotor. Bakteri serta virus menebar saat petugas londri melakukan seleksi jenis linen, hingga sangatlah berdampak pada penyakit gangguan pernapasan.
  9. Petugas rumah tangga di lingkungan rumah sakit yang setiap hari bersihkan lantai semua sisi tempat rawat inap pasien semua penyakit menyebar, yang terkena dengan bakteri ataupun virus, hingga bisa menyebabkan virus serta bakteri berterbangan serta terhirup petugas, perihal ini bisa menyebabkan penyakit masalah sistem pernapasan serta infeksi lainnya.

Usaha Pencegahan serta Pengendalian

Supaya tenaga kerja di lingkungan rumah sakit masih efektif serta produktif dalam melakukan pekerjaan serta tanggung jawabnya dan tidak mengalami penyakit karena kerja jadi tindakan untuk menghadapi hal itu memerlukan penerapan manajemen kesehatan serta keselamatan kerja di dalam rumah sakit,

Manajemen kesehatan serta keselamatan kerja rumah sakit menyertakan semua unsur manajemen, karyawan serta lingkungan kerja yang terintegrasi menjadi usaha pencegahan serta kurangi kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja di lingkungan rumah sakit yang mempunyai tujuan ialah membuat tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran paparan lingkungan kerja, yang selanjutnya bisa meningkatkan efesiensi serta produktifitas kerja.

Langkah awal yang peting ialah usaha pengendalian di lingkungan kerja rumah sakit diantaranya kesehatan kerja buat karyawan, sanitasi lingkungan rumah sakit, pengamanan pasien, pengunjung ataupun petugas rumah sakit dan sebagainya. Upaya-upaya yang bisa dikerjakan untuk kurangi serta mnghindarkan kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja ialah seperti berikut:

  1. Lakukan substitusi pengenalan lingkungan kerja lewat cara lihat serta menganal potensial bahaya lingkungan kerja. Mengganti perlengkapan kerja yang tidak wajar gunakan.
  2. Pelajari lingkungan kerja dalam perihal ini menilai karakter serta besarnya potensi-potensi bahaya yang mungkin muncul hingga dengan mudah bisa mengutamakan dalam menangani permasalahan yang lebih potensial.
  3. Pengendalian lingkungan kerja dengan bertindak mengurangi bahkan juga menghilangkan pajanan pada masalah kesehatan pekerja dilingkungan kerja lewat cara teknologi pengendalian.
  4. Pengendalian administratif dengan memperingatkan pekerja agar bisa memakai alat pelindung diri yang benar dan baik, membuat rambu-rambu bahaya dilingkungan kerja yang punya potensi bahaya.
  5. Kontrol kesehatan pekerja dengan berkala untuk mencari aspek pemicu serta upaya penyembuhan.
  6. Pendidikan serta penyuluhan kesehatan serta keselamatan kerja buat pekerja di lingkungan rumah sakit.
  7. Pengendalian fisik lingkungan kerja, mengidentifikasi suhu, kelembapan, pencahayaan, getaran, kebisingan, pengendalian sistem ventilasi dan sebagainya.
  8. Lakukan pengawasan serta monitoring dengan berkala pada lingkungan kerja rumah sakit.
  9. Substitusi berbahan kimia, alat kerja serta mekanisme kerja.

Safety Behavior atau Perilaku Aman dan Kesehatan Kerja (Safety)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Erat Produktivitas Kerja

Sikap aman kesehatan keamanan kerja – Dalam mengidentifikasi serta memahami potensi yang beresiko dalam tempat kerja meliputi : Perilaku serta sikap kerja yang aman. Tindakan dalam mengidentifikasi serta memahami potensi yang beresiko dalam tempat kerja meliputi :

  • Perilaku serta sikap kerja yang aman.
  • Tindakan pemeliharaan tempat kerja.
  • Lingkungan kerja yang aman
  • Perlindungan personal
  • Memakai perlengkapan tangan serta listrik dengan aman.
  • Pemadam kebakaran.

1. Perilaku serta sikap aman.

Kenapa keamaan, kesehatan, kerja (safety) di tempat kerja sangatlah penting? Jika di satu tempat kerja setiap tahun lebih dari 50 orang meninggal, lebih dari 35,000 orang cedera serta lebih dari 5,000 orang sakit yang disebabkan oleh tempat kerja yang tidak aman. Biaya yang perlu ditanggung untuk seluruhnya ialah menakjubkan $ 2.5 Milyar. Tapi kita bisa mencegahnya dengan :

  • Meningkatkan kesadaran pada keamanan, kesehatan, kerja.
  • Memperlakukan keamanan, kesehatan, kerja (safety) dalam tempat kerja.

a. Meningkatkan kesadaran keamanan, kesehatan, kerja (safety).

Bagian yang mutlak untuk melatih anda serta anda meningkatkan kebiasaan berpikir serta berperilaku aman (safety) setiap saat.

Belajar kerja dengan aman :

  • Kapanpun kalian akan mempelajari sesuatu mengenai pekerjaan, kalian diwajibkan untuk belajar serta menanyakan bagaimana kerja dengan aman (safety).

Mencegah kecelakaan :

  • Berlaku cermat pada pencegahan kecelakaan serta sadar pada pemicu serta konsekwensi dari kecelakaan. Bila kalian sudah tahu mengenai apakah pemicu kecelakaan, tentu kalian juga akan tahu apakah yang tidak akan ditangani.

Peringatan Keamanan :

  • Sempatkan diri untuk membaca peringatan keamanan, kesehatan, kerja (safety).

Kehadiran tempat kerja anda :
Ketahuilah kehadiran tempat kerja anda dengan tuntas, mencakup tempat :

  • Pemadam kebakaran.
  • Perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan.
  • Saklar darurat atau emergensi daya listrik.
  • Perlengkapan perlindungan serta pakaian pelindung.
  • Pintu darurat keluar.

b. Perilaku aman dalam tempat kerja.

Perilaku kalian sendiri sebagai aman saat kerja serta istirahat. Mungkin kalian bisa bermain bola, dengan ekstrim akan membahayakan tempat kerja.

  • Janganlah menyandung atau menyenggol orang yang lain.
  • Tetap berjalan dalam tempat kerja, janganlah lari.
  • Janganlah bergurau.
  • Janganlah mempermainkan alat pemadam kebakaran.
  • Janganlah mempermainkan alat atau perlengkapan bengkel.
  • Janganlah mengganggu pengoperasian perlengkapan atau alat yang berhahaya.
  • Konsetrasi pada pekerjaan, tapi sadar kejadian apakah di sekitar tempat kerja anda.
  • Patuhi rambu-rambu keamanan serta pembatas pada ruang terlarang.

Demikian, info yang bisa kami berikan untuk kalian. Semoga info ini bisa bermanfaat untuk kalian semua.

Hierarchy Pengendalian Resiko Bahaya di Rumah Sakit

Resiko Bahaya di Rumah Sakit

Hierarchy pengendalian resiko bahaya di rumah sakit – Dengan meningkatnya pemakaian sarana service kesehatan oleh penduduk, tuntutan pengendalian Sistem Manajemen Keselamatan serta Kesehatan Kerja (SMK3) di dalam rumah sakit makin tinggi. Tenaga kerja di dalam rumah sakit, pasien, pengunjung, pengantar pasien, peserta didik serta penduduk di sekitar rumah sakit ingin memperoleh perlindungan dari masalah kesehatan serta kecelakaan kerja, baik lantaran efek kegiatan pemberian service ataupun sebab keadaan fasilitas serta prasarana di dalam rumah sakit yang tidak standard.

Supaya bisa terbentuk sistem manajemen K3 yang baik, diperlukan sdm yang memiliki kompetensi yang baik juga terpenting untuk mendeteksi serta mengatasi resiko bahaya yang ada di lingkungan rumah sakit. Agar bisa mencapai hal itu karyawan rumah sakit mesti tahu beberapa jenis resiko bahaya di dalam rumah sakit serta langkah pengendaliannya, hingga rumah sakit yang aman buat tenaga kerja, pasien, pengunjung, pengantar pasien, peserta didik serta penduduk di seputar rumah sakit bisa terwujud.

Resiko-resiko bahaya itu semua bisa kita kendalikan melalui 5 hierarchy seperti berikut;

a. Eliminasi

Hirarki teratas yakni eliminasi/menghilangkan bahaya dikerjakan saat design, tujuannya ialah untuk menghilangkan kemungkinan kekeliruan manusia dalam menjalankan suatu sistem sebab terdapatnya kekurangan pada design. Penghapusan bahaya adalah cara yang sangat efisien hingga bukan hanya mengandalkan perilaku pekerja dalam hindari resiko, akan tetapi, penghilangan benar-benar pada bahaya tidak selamanya praktis serta ekonomis.
Misalnya: kemungkinan bahaya kimia karena proses reuse hollow fiber HD bisa di eliminasi saat hollow fiber tak perlu reuse kembali atau single use.

b. Substitusi

Cara pengendalian ini mempunyai tujuan untuk merubah bahan, proses, operasi atau perlengkapan dari yang berbahaya jadi lebih tidak beresiko. Dengan pengendalian ini turunkan bahaya serta kemungkinan minimal lewat disain sistem atau design lagi. Beberapa contoh aplikasi substitusi contohnya: Sistem mekanisasi pada mesin untuk kurangi interaksi mesin-mesin beresiko dengan operator, memakai bahan pembersih kimia yang kurang beresiko, kurangi kecepatan, kapabilitas dan arus listrik, ganti bahan baku padat yang memunculkan debu jadi bahan yang cair atau basah.

c. Eksperimen / Enginering.

Pengendalian ini dikerjakan mempunyai tujuan untuk memisahkan bahaya dengan pekerja dan untuk mencegah terjadinya kekeliruan manusia. Pengendalian ini terpasang pada suatu unit sistem mesin atau perlengkapan.
Beberapa contoh implementasi cara ini contoh ialah sistem tekanan negatif pada ruangan perawatan air borne dissease, pemakaian laminar airflow, pemasangan shield /sekat Pb pada pesawat fluoroscopy (X-Ray), dan sebagainya.

d. Administratif

Kontrol administratif diperuntukkan pengendalian dari bagian orang yang akan melakukan pekerjaan. Dengan dikendalikan cara kerja diharapkan orang akan mematuhi, mempunyai potensi serta ketrampilan cukup untuk merampungkan pekerjaan dengan aman. Jenis pengendalian ini diantaranya seleksi karyawan, terdapatnya standard operasional Mekanisme (SOP), pelatihan, pengawasan, modifikasi prilaku, agenda kerja, perputaran kerja, pemeliharaan, manajemen pergantian, agenda istirahat, dan sebagainya.

e. Alat pelindung diri (APD)

Penentuan serta pemakaian alat pelindung diri adalah merupakan perihal yang sekiranya efisien dalam pengendalian bahaya. APD cuma dipakai oleh pekerja yang akan bertemu langsung dengan kemungkinan bahaya dengan memerhatikan jarak serta waktu kontak dengan kemungkinan bahaya itu. Makin jauh dengan kemungkinan bahaya jadi kemungkinan yang didapatkan makin kecil, begitupun makin singkat kontak dengan kemungkinan bahaya kemungkinan yang didapatkan ikut makin kecil.

Pemakaian beberapa APD terkadang mempunyai dampak negatif pada pekerja seperti kurang bebas dalam kerja, terbatasnya komunikasi dengan pekerja lainnya, alergi pada APD spesifik, dan sebagainya. Beberpa pekeerja yang kurang faham pada efek kemungkinan bahaya dari pekerjaan yang dikerjakan terkadang kepatuhan dalam pemakaian APD ikut jadi rendah. APD reuse memerlukan perawatan serta penyimpanan yang baik hingga kualitas perlindungan dari APD itu tetap maksimal.

Analisa dan Identifikasi Potensi-potensi Bahaya Kebakaran

bahaya kebakaran ditempat kerja

Identifikasi Bahaya

Ilustrasikan pertanyaan :

  1. Adakah potensi kebakaran ?
  2. Berapa besar potensi serta kemungkinannya?
  3. Apakah karena kebakaran ?
  4. Bagaimana program mencegah serta penanggulangannya bila terjadi kebakaran ?

Identifikasi Bahaya

Arah identifikasi bahaya :

  1. Tahu potensi bahaya kebakaran yang ada di tempat kerja.
  2. Tahu tempat serta potensi kebakaran .
  3. Sistimatika Identifikasi Potensi Bahaya
  4. Metodologi identifikasi bahaya

Catatan Rekaman Data Kebakaran

Data Insiden/peristiwa kebakaran yang sempat terjadi awal mulanya baik pada perusahaan tersebut ataupun peristiwa kebakaran dalam tempat lain.

1.Survey potensi
Survey pada semua keadaan yang bisa memunculkan kebakaran dengan memakai daftar periksa:

2. Material
Membuat rincian semua material dengan kwantitatif serta kwalitatif dengan keadaan serta kemungkinan kebakaran yang diakibatkan

3. Perlengkapan Proses
Mengiventarisasi semua proses serta perlengkapan yang berpotensi untuk terjadinya kebakaran.

4. Keadaan Lingkungan
Membuat rincian semua situasi keadaan kerja yang memiliki peluang mengakibatkan kebakaran

WHAT IF ANALYSIS
Metoda simpel yang bisa dipakai dalam identifikasi bahaya ialah what if analysis : tehnik identifikasi bahaya dengan sistematis dengan memakai kata basic what if ….

KelebihanTeknik identifikasi ini:

  • Begitu efisien dipakai pada tahap awal pekerjaan (feasibility study)
  • Menjadi tahap saringan untuk melakukan analisis dengan mendalam dengan memakai teknik-telmik yang lain.
  • Membutuhkan sdm lebih sedikit dalam kurun waktu yang lebih pendek.
  • Bisa dipakai oleh manajemen menjadi bahan pengambilan ketetapan dengan sumberdaya serta biaya terbatas
  • Teknik what if memakai kata bertanya what if untuk beberapa perihal contohnya :
  • What If jika pompa mati mendadak
  • What If jika reaktor tiba – tiba bocor.
  • What If jika mesin pesawat mati.
  • What If jika terjadi blow out.
  • What If jika tiba – tiba tekenan boiler naik
  • What If jika tanki bocor
  • What If jika pipa ke pompa pecah
  • serta lainnya – lainnya.

What If Work Sheet

Equipment Name: /Work place : Ruang Kelas

Analisis Potensi Bahaya

Kegunaan analisis potensi bahaya :

  • Bisa memastikan sumber serta pemicu munculnya bahaya.
  • Bisa memastikan metoda menangani potensi beresiko.

Tingkatan dalam analisis bahaya ialah seperti berikut:

  • Merangkum Potensi Bahaya Pada Masing-Masing Sumber Bahaya.
  • Memastikan frekuensi /probabilitas terjadinya kebakaran itu

Analisis Akibat
Analisis akibat didefinisikan menjadi suatu pelajari mengenai akibat yang diakibatkan pada manusia, harta benda atau lingkungan bila, terjadinya kebakaran .

  • Memastikan frekuensi /probabilitas terjadinya kebakaran itu
  • Analisis Frekuensi/Probabilitas secara-kulitatif
  • Tinggi atau High (Berlangsung lebih dari 1 kali per tahun)
  • Medium (Berlangsung 1 peristiwa per 1 – 100 tahun)
  • Rendah atau Low (Berlangsung 1 peristiwa per 100 –1000 tahun)
  • Analisis Tingkat Keparahan dengan kuantitatif
  • Kebakaran karena kegagalan elemen tunggal misalnya: kegagalan pipa, kegagalan relief valve atau untuk kegagalan satu sistem seperti kegagalan sistem otomatis untuk menghambat meluapnya tangki, ataupun kebakaran di alat transportasi & gedung .

Program Pengendalian Bahaya

Program pengendalian bahaya kebakaran ialah usaha yang dibutuhkan untuk mencegah serta penangulangan kemungkinan kebakaran

Cakupan pekerjaan :

  • Lingkungan Fisik
  • Manusia
  • Perlengkapan

Tujuan :

  • “Engineering” (Eksperimen)
  • “Education” (Pembinaan)
  • “Enforcement” (Penerapan)
  • “Enthusiasm” (Semangat)

Engineering
Engineering atau eksperimen terkait dengan rencana perlengkapan industri seperti perlindungan kebakaran.

Education (Pembinaan)
Pembinaan ialah satu fungsi terpenting dalam mengusahakan mencegah kebakaran yang maksimal, sebab proses ini adalah pekerjaan yang menuju penambahan pengetahuan serta keterampilan beberapa karyawan.

Pengawasan K3 kebakaran
House Keeping yang baik
Safe work practice (cara–kerja yang aman)
Pelatihan dll

Bentuk pembinaan ini ditujukan supaya setiap orang bisa melakukan tindakan aman dalam lakukan tugasnya.

Enforcement (Penerapan)
Kepatuhan serta ketaatan berbentuk tindakan serta tindakan pencegahan serta penanggulangan kebakaran adalah tanda keberhasilan penerapan program
Kunci penting ialah dukungan dari Top Management.

Dukungan yang dibutuhkan berupa :

  1. Prinsip : suatu kemauan atau kesanggupan dari pimpinan puncak yang dituangkan dengan tertulis dengan singkat berisi kebijaksanaan serta tujuan perusahaan di bagian pencegahan serta penanggulangan kebakaran.
  2. Personel : personel yang memiliki wawasan faktor potensi kebakaran.
  3. D a n a : Semua pekerjaan yang memakai fasilitas, sdm serta teknologi tak kan lepas dari keperluan dana.

Keterlibatan
Keterlibatan berdasarkan pekerjaan serta tanggung jawab di antara tingkat jenjang jabatan, sebab unsur pencegahan kebakaran mesti masuk dalam semua pekerjaan yang ada disuatu perusahaan.

Kunci kesuksesan unsur keterlibatan ini bergantung dari keterkaitan Top Manajemen sebab dengan aktifnya Top Manajemen dalam bagian mencegah kebakaran akan dibarengi oleh eselon-eselon dibawahnya.

Contoh keterlibatan Top Manajemen :

  1. Membuat pertemuan untuk mengkaji pencegahan serta penanggulangan kebakaran
  2. Membuat pengawasan
  3. Lakukan tindak lanjut laporan pekerjaan mencegah keebakaran dll
  4. Enthusiasm (Semangat)
  5. Semangat karyawan dalam lakukan pekerjaan sebenarnya tak kan lepas dari aspek dominan yang ada di dalam perusahaan tersebut, meskipun ada pula aspek luar yang memengaruhi.

Aspek terpenting meningkatkan semangat ialah sebab aspek kenal serta imbalan seperti :

  1. Pengenalan program yang terkait dengan keselamatan
  2. Pemberian reward
  3. Peletakan pegawai sama dengan keperluan dengan psikologis pada pekerjaan
  4. Peluang ikut memberikan saran/pendapat

Budayakan Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) dalam Lingkungan Kerja

jenis pekerjaan batu bara

Keselamatan dan kesehatan kerja (k3) dalam lingkungan kerja – Saat bekerja, kita dituntut bekerja dengan detail bahkan juga sempurna. Selain itu, kita juga harus bekerja dengan selamat serta sehat yang seringkali diabaikan oleh beberapa pekerja hingga berakhir kecelakaan kerja.

Di era modern, jenis pekerjaan makin beragam, dimulai dari pekerja buruh sampai profesional. Dengan pekerjaan yang dijalani, tidak hanya memperoleh keuntungan berbentuk materi serta kesejahteraan hidup, tentunya ada resiko yang perlu dijamin. Resiko itu dapat berbentuk kecelakaan kerja.

Anda tentu pernah mendengar mengenai kecelakaan kerja melalui media, melihat langsung dalam tempat kejadian, atau malah sempat merasakannya sendiri. Suatu bagian pekerjaan yang tidak dikerjakan dengan benar dan baik bisa mendatangkan resiko yaitu kecelakaan kerja. Akan tetapi, perihal ini seringkali dihadapi oleh beberapa orang yang memiliki pekerjaan ‘menantang maut’, seperti pekerja bangunan, teknisi listrik, buruh pabrik, dan lain-lain.

Menteri Ketenagakerjaan membeberkan bukti jika angka kecelakaan kerja dengan nasional masih tinggi sekali, yakni 103.000 per tahun. Dari jumlahnya tersebut, 2.400 masalah salah satunya mengakibatkan pekerja meninggal dunia.

Di Indonesia, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) kurang diterapkan dengan maksimal. Perihal ini diikuti dengan masih banyaknya masalah kecelakaan kerja dalam tempat kerja yang memunculkan kerugian, baik moril ataupun materiil. Selain itu, kerugian juga harus dijamin bukan hanya pekerja serta pemilik usaha tapi juga penduduk sekitar serta pemerintah, bahkan juga sampai ke permasalahan lingkungan seperti pencemaran lingkungan.

Aspek pemicu kecelakaan kerja

Perlu diakui jika penerapan K3 bukan hanya merupakan tanggung jawab pemerintah tapi juga semua pihak, terutama masyarakat industri. Namun, tidak hanya memahami pentingnya K3 dalam kerja, kita perlu tahu apa aspek yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja agar bisa menghindarinya di waktu mendatang. Berikut faktor-faktor pemicu kecelakaan kerja:

1. Aspek Langsung: Kondisi serta Tindakan Tidak Aman

Aspek langsung yaitu berbentuk kondisi serta tindakan tidak aman atau beresiko. Beberapa dari kondisi tidak aman, yakni tidak terpasangnya pengaman (safeguard) di bagian mesin yang berputar, tajam atau panas, ada instalasi kabel listrik yang kurang standard (isolasi mengelupas, tidak rapi), alat kerja yang kurang layak pakai, dan lain-lain.

Selain itu, tindakan tidak aman diantaranya bisa berupa kecerobohan, meninggalkan langkah kerja, tidak memakai alat pelindung diri (APD), kerja tanpa perintah, meremehkan petunjuk kerja, tidak mematuhi rambu-rambu dalam tempat kerja, serta tidak mengatur izin kerja. Tindakan tidak aman itu sangatlah beresiko sebelum mengawali pekerjaan dengan resiko atau bahaya tinggi.

2. Aspek Tidak Langsung: Pekerjaan serta Pribadi

Aspek tidak langsung terbagi dalam aspek pekerjaan serta aspek pribadi. Termasuk juga dalam aspek pekerjaan yakni pekerjaan yang tidak sesuai, baik dengan tenaga kerja ataupun dengan kondisi sesungguhnya. Termasuk pekerjaan beresiko tinggi tapi belum ada usaha pengendalian di dalamnya, beban kerja yang tidak sesuai, dan lain-lain.

Sementara aspek pribadi terkait dengan mental atau kepribadian tenaga kerja yang tidak sesuai dengan pekerjaan, konflik, depresi, ketrampilan yang tidak sesuai, dan lain-lain.

3. Aspek Dasar: Lemah Manajemen

Aspek dasar biasanya berkaitan dengan lemahnya manajemen serta pengendaliannya, minimnya fasilitas serta prasarana, minimnya sumber daya, minimnya prinsip, dan lain-lain.

Menurut teori domino H.W Heinrich, peran paling besar pemicu masalah kecelakaan kerja ialah aspek kelalaian manusia, yakni sebesar 88 %. Sedang 10 % yang lain ialah dari aspek ketidaklayakan properti atau barang serta 2 % aspek lain-lain.

Oleh karenanya, sebaiknya kita menjadi pekerja selalu harus konsentrasi serta waspada saat bekerja hingga bisa meminimalisasi kecelakaan itu. Janganlah lupa ikut selalu untuk membuat suasana bahagia saat kita bekerja.

Sejarah Sepatu Boots

model sepatu boots terbaru
Model Sepatu Boots di buat oleh seoarang yang berasal dari Mongol dari kulit binatang Yak

 

Untuk mengulas sejarah sepatu boots, Baiknya kita flash back ke ke beberapa ratus tahun ke belakang. Beberapa versi sejarah sepatu yang saat ini sedang menjadi trend anak muda. Namun kali ini kita akan mengualas di tahun 1200an.

Di tahun 1200an masehi, bangsa mongolia yang terletak di daerah khatulistiwa sudah terlebih dahulu membuat alas kaki yang terbuat dari kulit Yak, Yak adalah sejenis sapi yang hidup di daerah mongolia. Mereka membuat alas kaki dengan model mirip dengan boots di jaman sekarang.

Tujuan bangsa mongolia membuat alas kaki ini adalah untuk melindungi kaki mereka dari dinginnya salju yang sepanjang waktu menyelimuti daerah tempat tinggal mereka.

Efek hangat dari kulit binatang ini menjadi pilihan utama dalam membuat alas kaki. Jadi awalya sepatu boots di buat dengan tujuan untuk melindungi kaki dari dinginnya salju.

Perkembangan jaman membuat perubahan, Penggunaan sepatu boots semakin meluas. Awalnya penyebutan sepatu boots adalah untuk sepatu yang tinggi yang kuat dan dapat melindungi kaki dari benda-benda berbaya. Masa revolusi industri eropa, Sepatu boots banyak digunakan oleh para pekerja untuk melindungi kaki mereka saat bekerja.

model sepatu boot karet
model sepatu boot karet

Saat ini boots yang sering di gunakan pekerja industri terbuat dari karet khusus yang tahan terhadap bahan kimia dan di lengkapi toe cap atau pelindung besi di bagian depan.

Di Amerika, Sepatu boots lebih populer digunakan oleh cowboy, dengan model lebih runcing di bagian depannya. dan di bagian belakang terdapat gerigi yang berfungsi sebagai pengganti pecut saat menaiki kuda mereka. Anda dapat melihatnya di film-film cowboy pada masa itu.

model sepatu boot cowboy
model sepatu boot cowboy

Di Indonesia, Pada awalnya Boots di kenal sebagai sepatu tinggi berahan karet yang di gunakan oleh para pekerja untuk melindungi kaki dari hujan taupun bahan-bahan kimia yang berbahaya. Saat ini sapatu boots mulai merambah ke dunia fashion dengan bahan yang berbeda-beda dan dengan desain yang variatif.

model sepatu boots safety
model sepatu boots di indonesia

Boot dapat menambah kesan tough dan dare to be defferent bagi pemakainya. kesan itu dapat terlihat ketika melihat para pekerja tambah yang terlihat gagah dan tidak takut dengan apapun yang dipijaknya.

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD/PPE) Bagi Pekerja

grafik alat pelindung diri atau APD

Pentingnya mengenal lebih jauh apa itu Alat Pelindung Diri (APD) dan fungsinya untuk para pekerja, Bagi Perkerja lapangan Alat Pelindung Diri (APD) adalah equipment keselamatan kerja yang mutlak digunakan. Banyak tantangan dan bahay yang tak terduga saat bekerja. untuk itu mari kita mengenal lebih jauh beberapa ulasan tentang Alat Pelindung Diri (APD). Read more “Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD/PPE) Bagi Pekerja”