Ketahui Keselamatan Kerja dalam Sektor Pertanian

Keselamatan Kerja dalam Sektor Pertanian

Ada banyak dampak yang harus dihadapi oleh pekerja di bidang pertanian baik itu keamanan, kesehatan, lingkungan, biologis, serta pernafasan. Perlengkapan pertanian bisa juga jadi pemicu kecelakaan kerja di bidang pertanian serta faktor-faktor lainnya. Di bawah ini beberapa resiko kerja yan harus dihadapi oleh pekerja di sektor pertanian:

Kecelakaan Kendaraan Pertanian

Menurut laporan kecelakaan karena kendaraan pertanian banyak terjadi serta hampir setengahnya mengakibatkan kecelakaan fatal. Cedera yang disebabkan oleh kendaraan pertanian cukup serius. Contohnya saja traktor serta kendaraan penyimpanan. Traktor pertanian disampaikan mengakibatkan kematian 1.533 orang di antara tahun 2003 serta 2011, serta mengakibatkan pekerja luka-luka. Langkah aman untuk menghindarinya yakni dengan ikuti langkah-langkah berikut:

Tidak mengizinkan penumpang lain memakai kendaraan pertanian
Tidak mengizinkan orang yang tidak berkepentingan masuk ke area aktivitas pertanian
Mematikan kendaraan pada saat diisi bahan bakarnya
Parkir kendaraan pada saat tidak ada sopir di dalamnya, kendaraan harus dalam kondisi mati.
Sedangkan untuk kendaraan penyimpanan seharusnya tidak menempatkan di dekat rumah penyimpanan. Pastikan jika kendaraan akan gampang keluar dari tempat penyimpanan, jalannya rata serta bersih serta tidak mengizinkan orang lain yang bukan pekerja serta anak-anak berada di tempat penyimpanan.

Kepanasaan

Penyakit yang disebabkan oleh kepanasan bisa mematikan. Tiap tahunnya ribuan pekerja sakit karena kepanasan serta beberapa meninggal. Pekerja yang terkena panas serta dalam kondisi lembab memiliki dampak tinggi terkena penyakit khususnya bila mereka lakukan kerja yang berat serta memakai pakaian pelindung berat serta perlengkapan. Pekerja yang baru memiliki dampak yang lebih besar dari lainnya bila mereka tidak tahan dengan kondisi panas. Untuk mencegah terserang kelelahan serta penyakit sebab kepanasan karena itu perlu banyak minum air, beristirahat, serta berteduh. Bila dalam kondisi terpapar panas matahari karena itu minum air tiap lima belas menit meskipun sedang tidak harus. Beristirahatlah bila merasa lelah, istirahat dilakukan pada tempat yang teduh. Semestinya memberitahu tempat pada pekerja lain hingga bisa dengan mudah ditemukan bila memerlukan bantuan.

Jatuh

Pekerja di bagian pertanian beresiko terjatuh sampai bisa terluka atau bahkan meninggal. Tempat kerja yang terkadang tidak rata serta struktur tanahnya tidak kuat dapat mengakibatkan pekerja terjatuh. Langkah untuk mengatasinya diantaranya:

  • Mengeliminasi dampak
  • Tempatkan alat pencegah jatuh
  • Memakai sistem posisi kerja
  • Memakai tangga tetap atau portable
  • Cedera pada otot serta tulang

Pekerja di bagian pertanian baik itu pertanian tanaman serta produksi hewan cenderung memakai pergerakan yang berulang-ulang dengan urutan yang kurang nyaman hingga dapat mengakibatkan cedera di bagian otot serta tulang. Contohnya saja waktu harus membungkuk terus-menerus waktu menanam atau mencangkul. Teknologi pertanian bisa mengurangi dampak karena pekerjaan pertanian itu tetapi bisa meningkatkan dampak jenis lainnya. Contohnya saja peternak susu sapi tradisional bisa beresiko menderita osteoarthritis pada lututnya, setelah memakai teknologi karena itu hasilnya justru berlangsung gangguan pada pundak, tangan, serta lengannya. Pekerja perlu memakai alat yang wajar, tambalan untuk mengurangi vibrasi, serta mengurangi kegiatan yang berulang-ulang untuk menghindari dampak sakit pada otot ini.

Perlengkapan Berbahaya serta Mesin

Pekerja pertanian secara rutin memakai pisau, cangkul, serta alat potong lainnya, atau memakai mesin. Perlengkapan itu bisa berpotensi memunculkan kecelakaan kerja bila tidak beroperasi serta dioperasikan secara baik. Banyak hal yang dapat dikerjakan diantaranya:

  • Semua alat harus dirawat dengan baik serta digunakan sesuai instruksinya.
  • Perlengkapan yang memakai listrik herus diletakkan dengan benar serta dilapisi dua kali.
  • Pekerja pertanian/peternakan harus memakai alat pelindung diri serta memeriksa pakaiannya tidak ada yang berpotensi bisa tersambar oleh mesin. Rambut yang panjang juga perlu diikat ke belakang.

Bahaya di Area untuk Menyimpan

Area untuk menyimpan hasil panen memang terlihat aman namun punya dampak kerja. Pekerja dapat mengalami kekurangan napas saat ada di area untuk menyimpan serta tertimbun oleh hasil panen itu. Ini pasti sangat beresiko hingga posisi hasil panen harus benar-benar aman serta tidak mencelakakan para pekerja.

Lingkungan Kerja yang Kurang Sehat

Pekerja yang kurang minum air, sarana sanitasi yang buruk, serta tidak terlatih membersihkan tangan dengan benar bisa mengakibatkan berbagai permasalahan kesehatan. Pekerja pertanian dapat terserang heat stroke serta dehidrasi kerana kurang air, infeksi pada saluran kencing sebab toilet yang tidak layak, serta keracunan sebab tidak membersihkan tangan dengan bersih.

Pestisida serta Zat Kimia Lain

Pestisida beresiko jadi sumber penyakit bagi para pekerja. Pekerja yang terkontaminasi oleh pestisida dapat melalui kontak langsung, udara, atau melalui makanan yang terkontaminasi oleh pestisida. Perlu dikerjakan pelatihan khusus buat para pekerja khususnya yang lakukan kontak langsung dengan pestisida serta zat kimia lainnya agar bekerja dengan aman.

Peningkatan K3 Melalui Optimalisasi Sektor Informal

keselamatan dan kesehatan kerja

keselamatan dan kesehatan kerja – Pengusaha kecil serta menengah adalah kelompok industri modern, industri tradisional, serta industri kerajinan dengan nilai investasi serta modal usaha dibawah Rp 70 juta dengan dampak investasi modal/tenaga kerja Rp 625.000 ke bawah.

Berdasar BPS atau Badan Pusat Statistik, usaha-usaha menengah dibagi beberapa bagian, yakni: Usaha rumah tangga terdiri 1-5 tenaga kerja, Usaha kecil menengah terdiri 6-19 tenaga kerja, Usaha menengah terdiri 20-29 tenaga kerja serta Usaha besar lebih dari 100 tenaga kerja.

Tiap jenis usaha serta tempat kerja baik pada sektor resmi atau informal memiliki dampak bahaya gangguan kesehatan serta kecelakaan. Biasanya, para pekerja sektor informal kurang mempunyai kesadaran serta pengetahuan mengenai dampak bahaya yang ada di tempat kerja.

Pekerja di bidang informal mempunyai beban serta waktu kerja lebih sebab tuntutan dari pengusaha pada jumlah produk yang dibuat tanpa memerhatikan kesehatan serta keselamatan pekerjaanya. Ini berlangsung salah satunya sebab minimnya sosialisasi pada pengusaha atau pekerja berkaitan dengan dampak bahaya di lingkungan kerja.

Usaha keselamatan serta kesehatan kerja (K3) tidak hanya hal teknik, mekanik harus memerhatikan dengan khusus faktor manusiawi. Dalam hal ini, menambah pengetahuan serta pemberdayaan pada pekerja mengenai keselamatan kesehatan kerja (K3) adalah hal yang penting .

Pentingnya mencegah penyakit akibat kerja serta kecelakaan bisa di tempuh dengan memberi pemahaman mengenai keselamatan serta kesehatan kerja dan penerapan sikap pada keselamatan kerja pada karyawan untuk mengurangi serta mencegah munculnya kerugian.

Untuk menambah pengetahuan serta kesadaran pada masyarakat industri bidang informal, peranan pos UKK jadi sangat penting. Pos Usaha Kesehatan Kerja (UKK) adalah usaha kesehatan kerja bagi pekerja informal yang bersumberdaya dari, oleh, serta untuk masyarakat pekerja tersebut.

Pekerjaan yang dikerjakan mencakup usaha promotif, mencegah serta penyembuhan sederhana yang berbentuk pertolongan pertama pada kecelakaan serta pertolongan pertama pada penyakit.

Penekanan pada usaha promosi serta preventif untuk mengubah perilaku beberapa pekerja untuk mengurangi dampak kecelakaan serta penyakit karena kerja, dan usaha meningkatkan kesehatan pekerja.

Peranan Kader Pos UKK diantaranya ialah Identifikasi masalah kesehatan di lingkungan kerja, menyusun gagasan pemecahan masalah, melakukan kegiatan kesehatan di lingkungan kerja melalui promo.

Dengan menjalin kemitraan dengan beberapa faksi, lakukan pelayanan kesehatan kerja fundamen, melakukan kewaspadaan dini pada dampak serta masalah kesehatan pekerja, melakukan rujukan ke Puskesmas, pendataan serta pelaporan.

Optimalisasi pos UKK yang ada dipuskesmas jadi langkah riil yang dikerjakan pemerintah untuk menigkatkan kesehatan serta keselamatn bagi masyarakat pekerja pada bidang informal melalui program publikasi.

Kegiatan publikasi adalah kegiatan posisitif yang bisa dikerjakan oleh pos UKK untuk menambah pengetahuan sebab pengetahuan ialah suatu domain yang bisa membentuk tingkah laku.

Pembentukan tingkah laku melalui penambahan pengetahuan diharapkan bisa mengubah iklim keselamatan serta kesehatan (safety climate) yang ada dilingkungan kerja hingga budaya K3 (safety culture) bisa tercipta.

Tidak hanya peningkatan pengatahuan lewat publikasi perlu diselenggarakan pemeriksaan kesehatan dengan berkala khususnya puskesmas yang ada di daerah yang memiliki jumlah UKM yang besar.

Pengecekan kesehatan yang ditujukan ialah pengecekan kesehatan kerja berdasar identifikasi serta analisa dampak bahaya yang ada di tiap UKM.

Sehingga pengecekan kesehatan yang dikerjakan bisa mengambarkan dampak yang berlangsung karena paparan bahaya khusus, contohnya pengecekan faal paru karena paparan debu, pengecekan trans,trans-muconic acid (ttMA) karena paparan benzene dan sebagainya.

pencegahan kecelakaan kerja

Pentingnya Untuk Tidak Mengabaikan Penggunaan Alat Pelindung Diri di Tempat Kerja

pencegahan kecelakaan kerja

pencegahan kecelakaan kerja – Melindungi diri dari risiko pekerjaan tidak hanya untuk keselamatan pribadi saja. Perlindungan diri harus memerhatikan keselamatan orang lain. Kelalaian yang kita kerjakan mungkin tidak membahayakan diri kita tetapi bisa membahayakan orang lain.

Karena itu kepedulian antar sesama pekerja harus ditingkatkan. Begitu juga dengan pemakaian alat pelindung diri. Berikut 3 hal yang bisa terjadi bila Anda menyepelekan fungsi alat pelindung diri:

1. Penggunaan Sepatu Safety.

Sepatu yang Anda pakai waktu bekerja tidak dapat Anda samakan dengan sepatu yang biasa Anda pakai saat berjalan di Mall atau tamasya. Perlindungan kaki saat mengerjakan pekerjaan justru akan semakin lebih berdampak untuk mengakibatkan cedera, terlebih cedera pada ujung kaki yang diakibatkan tidak adanya fitur pelindung ujung kaki pada sepatu yang dipakai pekerja.

Selain itu bila ditelusuri lebih lanjut, benda-benda tajam di area pekerjaan banyak sekali dan begitu beresiko untuk telapak kaki Anda. Beberapa hal beresiko yang dapat diminimalisir bila kita memahami betul apa sebenarnya peranan sepatu safety diciptakan.

2. Pemakaian Pelindung pendengaran.

Pengawas pekerja pabrik seringkali sekali mendapati karyawan mereka dengan sengaja lalai dalam memakai alat pelindung pendengaran. Walau sebenarnya, tingkat kebisingan yang dibuat oleh mesin pabrik tidak dapat disesuaikan secara baik oleh telinga manusia.

Bila terus menerus terpapar polusi suara yang melewati batas jangkauan pendengaran manusia, yakni 40-50 dB, telinga kita akan mengalami kerusakan non-permanen. Pakailah earplug atau earmuff untuk terhindar dari efek ini.

3. Terkontaminasi Beberapa Zat Berbahaya.

Pabrik yang memproduksi benda-benda yang memiliki kandungan logam bisa mengeluarkan polusi Nitrogen Oksida (NOx). Nitrogen Oksida (NOx) salah satu jenis bahan pencemar udara, di samping bahan pencemaran udara lainnya seperti debu, CO, SO2 dan sebagainya.

Baik secara sendiri atau bersamaan bisa menimbulkan masalah pada manusia, hewan serta tumbuhan dan beberapa benda lainnya. Maka, proses pembakaran di industri logam tentu jadi produsen Nitrogen Oksida dalam jumlah besar.

Karena itu solusi yang tepat ialah memakai masker yang dapat menetralisir polusi itu seperti jenis masker carbon active atau microfiber.

Beberapa hal buruk di atas adalah sebagian kecil dari beberapa hal yang mungkin terjadi bila Anda tidak memperdulikan fungsi penggunaan alat pelindung diri Anda dengan baik dan benar. Terapkanlah pemakaian alat pelindung pendengaran dengan benar sebagai budaya kerja serta filosofi jika nyawa Anda benar-benar berharga serta memakai alat pelindung diri secara benar adalah kebiasaan baik bagi Anda dalam bekerja.

Kemalangan dalam bekerja adalah hal yang tidak diperkirakan tapi bila Anda memiliki ketrampilan, pemahaman, serta potensi dalam melindungi diri Anda supaya terhindar dari 3 hal di atas, maka keselamatan Anda akan lebih terjaga.

Masing-masing alat pelindung diri memang tidak saling berkaitan keduanya namun penting untuk dipakai secara keseluruhan dalam melindungi badan kita dalam bekerja. Dalam memakai alat pelindung diri, sebaiknya pakailah alat yang membuat Anda nyaman dalam memakainya.

Hingga pekerja yang memakai alat pelindung diri dapat bergerak secara bebas serta efektifitas kerja bisa dicapai. Diharapkan bagi tiap pemilik perusahaan dapat memberi peralatan alat pelindung diri yang terbaik bagi karyawannya.

Pekerja Wajib Ketahui Jenis dan Sumber Bahaya Di Lingkungan Kerja

sumber bahaya k3

Pengertian Bahaya

sumber bahaya k3 – Bahaya ialah suatu hal yang mempunyai potensi menjadi pemicu kerusakan serta bisa mengakibatkan kerugian baik pada harta benda, lingkungan, atau manusia.

Tipe-tipe Bahaya

Beberapa jenis bahaya, didalamnya meliputu :

Bahaya Keselamatan (Safety Hazard)

Bahaya keselamatan (safety hazard) fokus pada keselamatan manusia yang ikut serta dalam proses, perlengkapan, serta teknologi. Dampak safety hazard bersifat akut, resiko tinggi, serta probabilitas untuk terjadi rendah. Bahaya keselamatan (Safety hazard) bisa menimbulkan resiko cidera, kebakaran, serta segala kondisi yang bisa mengakibatkan kecelakaan pada tempat kerja. Beberapa jenis safety hazard, diantaranya :

  1. Mechanical Hazard, bahaya yang ada pada benda atau proses yang bergerak yang bisa mengakibatkan efek, seperti tertusuk, terpotong, terjepit, tergores, terbentur, dan sebagainya.
  2. Hazard Electrical, adalah bahaya yang berasal dari arus listrik.
  3. Chemical Hazard, bahaya bahan kimia baik berbentuk gas, cair, serta padat yang memiliki sifat gampang terbakar, gampang meledak, serta korosif.

Bahaya Kesehatan

Bahaya kesehatan fokus pada kesehatan manusia. Resiko bahaya kesehatan bersifat akut, konsekuensi rendah, berbentuk tiada henti, serta probabilitas untuk berlangsung tinggi. Beberapa jenis bahaya kesehatan, diantaranya :

  1. Physical Hazard, berupa energi seperti kegaduhan, radiasi, pencahayaan, temperature ekstrim, getaran, dan sebagainya.
  2. Chemical Hazard, berwujud bahan kimia baik berbentuk gas, cair, serta padat yang memiliki karakter toksik, beracun, iritan, serta patologik.
    Biological Hazard, bahaya dari mikroorganisme, terutama yang pathogen yang bisa mengakibatkan gangguan kesehatan.
  3. Ergonomi, adalah bahaya yang bisa mengakibatkan masalah kesehatan sebagai akibat ketidaksesuaian bentuk kerja dengan pekerja. Urutan kerja yang salah serta dipaksakan bisa mengakibatkan gampang capek hingga kerja jadi kurang efektif serta dalam periode panjang bisa menyebakan masalah fisik serta psikologis (stress) dengan keluhan yang seringkali ialah nyeri pinggang kerja

Sumber-Sumber Bahaya di Lingkungan Kerja

Biasanya di semua tempat kerja tetap ada sumber bahaya yang bisa meneror keselamatan atau kesehatan tenaga kerja. Menurut Syukri Sahab (1997), Sumber bahaya itu bisa datang dari :

Manusia
Termasuk juga pekerja serta manajemen. Kesalahan penting kebanyakan kecelakaan, kerugian, serta kerusakan terdapat pada karyawan yang kurang bergairah, kurang trampil, kurang pas, terganggu emosinya yang biasanya mengakibatkan kecelakaan serta kerugian. Disamping itu apa yang diterima atau gagal diterima lewat pendidikan, motivasi, dan pemakaian perlengkapan kerja berhubungan langsung dengan sikap pimpinan dalam tempat kerja.

Bangunan, Instalasi, serta Perlengkapan
Proses bahaya yang berasal dari bangunan, instalasi, serta perlengkapan yang diperlukan dapat berbentuk konstruksi bangunan yang kurang kuat serta tidak memenuhi syarat-syarat yang ada. Diluar itu design ruangan serta tempat kerja dan ventilasi yang baik adalah beberapa hal yang perlu dilihat.

Bahan Baku
Bahan baku yang dipakai pada proses produksi bisa mempunyai bahaya serta dampak yang sesuai karakter bahan baku, diantaranya :

  • Gampang terbakar serta meledak
  • Mengakibatkan alergi
  • Bahan iritan
  • Karsinogen
  • Berbentuk racun
  • Radioaktif
  • Proses Kerja

Bahaya dari proses benar-benar beragam bergantung dari teknologi yang dipakai. Proses yang ada di industri ada yang simpel, tapi ada pula yang prosedurnya sulit. Ada proses yang beresiko serta ada pula proses yang kurang beresiko. Dalam proses kebanyakan dipakai suhu serta tekanan tinggi yang jadi besar dampak bahayanya. Proses dari ini kadang muncul asap, debu, panas, gaduh, serta bahaya mekanis seperti terjepit, terpotong, atau tertimpa bahan. Ini bisa menyebabkan kecelakaan serta penyakit karena kerja.

Langkah Kerja

Bahaya dari langkah kerja yang dikerjakan oleh pekerja yang bisa membahayakan pekerja tersebut atau orang lain di sekelilingnya, yakni :

  1. Langkah mengangkut serta mengangkat, jika dikerjakan secara salah karena itu bisa mengakibatkan cidera serta yang seringkali ialah cidera pada tulang punggung.
  2. Langkah kerja yang menyebabkan hamburan debu serta serbuk logam, percikan api, dan tumpahan bahan beresiko.
    Menggunakan alat pelindung diri yang tidak seharusnya/ tidak cocok keperluan serta langkah menggunakan yang salah.

Lingkungan

Bahaya yang datang dari lingkungan kerja bisa dikelompokkan atas beberapa tipe bahaya yang bisa menyebabkan beberapa masalah keselamatan serta kesehatan kerja, dan penurunan produktivitas kerja serta efisiensi kerja.

Cara Mengetahui Masa Pakai atau Masa Kadaluarsa Sepatu Safety

Sepatu yang awet adalah impian setiap pengguna. Namun terkadang banyak dari kita yang tidak paham, kenapa bagian dari sepatu atau sepatu safety mengalami kerusakan. Bagian sepatu safety shoes yang seringkali mengalami kerusakan ialah pada SOL SEPATU, atau yang biasa disebut sebagai tapak sepatu safety, alas sepatu safety atau out sole (dalam bahasa Inggris).

SOL sepatu safety shoes terletak pada sisi paling bawah sepatu dan langsung bersentuhan dengan tanah. Ada banyak bahan yang digunakan sol tersebut, antara lain Rubber (karet), Polyurethane (PU) serta Thermo Plastic Urethane (TPU).

Pada tipe Polyurethane (PU) serta Thermo Plastic Urethane (TPU) ini yang memiliki masa EXPIRED atau waktu kadaluarsa. Umumnya berkisar 1-2 tahun sejak sepatu itu diproduksi. Keunikan bahan SOL Polyurethane (PU) serta Thermo Plastic Urethane (TPU)ini ialah bila sepatu digunakan dan dibersihkan secara rutin maka semakin awet, bahkan dapat bertahan sampai 2-4 tahun masa pemakaian. Sedangkan bila hanya disimpan tanpa digunakan malah akan gampang rusak, dengan masa kadaluarsa SOL sepatu safety shoes 1-2 tahun seperti tertera di atas.

Bagaimana Cara Cek atau Mengetahui Tanggal Produksi Sepatu Safety Shoes?

Cara Mengetahui Masa Kadaluarsa Sepatu Safety, Di bagian bawah SOL sepatu safety shoes ada LINGKARAN kecil tertulis angka 2 digit di dalamnya dan ada angka mengelilingi lingkaran seperti angka pada jam dinding. Dua digit angka di tengah lingkarann menunjukkan TAHUN PRODUKSI, contohnya angka 20 berarti sepatu safety shoes itu diproduksi tahun 2020.

Selanjutnya ada tanda panah seperti jarum jam akan menunjukkan angka di luar lingkaran. Misalnya jarum itu menunjukkan angka 3 maka sepatu itu diproduksi pada bulan 3, yaitu bulan MARET. Sehingga sepatu safety itu diproduksi pada bulan MARET 2020.

Bila waktu expired SOL sepatu safety shoes itu dihitung 1 tahun ke depan, maka Anda masih aman membeli sepatu itu maksimal bulan FEBRUARI 2021. Selanjutnya bila digunakan setiap hari maka umur sepatu itu akan bertambah 2-4 tahun, tergantung pemakaian serta perawatannya.

Pengertian, Jenis, Penyebab dan Pencegahan Kecelakaan Kerja

fungsi k3

 

Penyebab dan pencegahan kecelakaan kerja – Kecelakaan kerja ialah suatu peristiwa yang tidak diinginkan serta tidak diduga sebelumnya yang bisa memunculkan korban manusia serta atau harta benda (Permenaker No. 03/MEN/1998). Pemahaman lainnya kecelakaan kerja ialah semua peristiwa yang tidak direncanakan yang mengakibatkan atau berpotensial mengakibatkan cidera, kesakitan, kerusakan atau kerugian yang lain (Standard AS/NZS 4801:2001). Sedangkan pengertian kecelakaan kerja menurut OHSAS 18001:2007 ialah peristiwa yang terkait dengan pekerjaan yang bisa mengakibatkan cidera atau kesakitan (bergantung dari keparahannya) peristiwa kematian atau peristiwa yang bisa mengakibatkan kematian.

Di bawah ini beberapa pemahaman kecelakaan kerja dari beberapa sumber buku:

  • Menurut Suma’mur (2009), kecelakaan kerja ialah suatu peristiwa atau momen yang tidak diharapkan yang merugikan pada manusia, mengakibatkan kerusakan harta benda atau kerugian pada proses.
  • Menurut Gunawan serta Waluyo (2015), kecelakaan ialah suatu peristiwa yang (tidak direncanakan) serta tidak diinginkan yang bisa mengganggu proses produksi/operasi, mengakibatkan kerusakan harta benda/asset, mencederai manusia, atau mengakibatkan kerusakan lingkungan.
  • Menurut Heinrich (1980), kecelakaan kerja atau kecelakaan karena kerja ialah suatu peristiwa yang tidak terencana serta tidak terkendali akibatnya karena suatu aksi atau reaksi suatu objek, bahan, orang, atau radiasi yang menyebabkan cidera atau peluang karena lainnya.
  • Menurut Reese (2009), kecelakaan kerja adalah hasil langsung dari tindakan tidak aman serta kondisi tidak aman, yang kedua-duanya bisa dikendalikan oleh manajemen. Aksi tidak aman serta kondisi tidak aman dikatakan sebagai pemicu langsung (immediate/primary causes) kecelakaan sebab keduanya ialah pemicu yang pasti / riil serta dengan cara langsung ikut serta saat kecelakaan berlangsung.
  • Menurut Tjandra (2008), kecelakaan kerja ialah satu kecelakaan yang berlangsung saat seseorang lakukan pekerjaan. Kecelakaan kerja adalah momen yang tidak direncanakan yang dikarenakan oleh suatu aksi yang tidak waspada atau suatu kondisi yang tidak aman atau keduanya.

Jenis-jenis Kecelakaan Kerja

Menurut Bird serta Germain (1990), ada tiga tipe kecelakaan kerja, yakni:

  • Accident, yakni peristiwa yang tidak diharapkan yang memunculkan kerugian baik buat manusia ataupun pada harta benda.
  • Incident, yakni peristiwa yang tidak diharapkan yang belum memunculkan kerugian.
  • Near miss, yakni peristiwa hampir celaka dalam kata lainnya peristiwa ini hampir memunculkan peristiwa incident atau accident.

Berdasar pada tempat serta waktu, kecelakaan kerja dibagi jadi empat tipe, yakni (Sedarmayanti, 2011):

  1. Kecelakaan kerja karena langsung kerja.
  2. Kecelakaan saat atau waktu kerja.
  3. Kecelakaan di perjalanan (dari rumah ke tempat kerja serta sebaliknya, lewat jalan yang wajar).
    Penyakit karena kerja.

Berdasar pada tingkatan karena yang diakibatkan, kecelakaan kerja dibagi jadi tiga tipe, yakni (Suma’mur,1981):

  • Kecelakaan kerja enteng, yakni kecelakaan kerja yang perlu penyembuhan di hari itu serta dapat melakakukan tugasnya kembali atau istirahat < 2 hari. Contoh: terpeleset, tergesek, terkena pecahan beling, terjatuh serta terkilir.
  • Kecelakaan kerja Sedang, yakni kecelakaan kerja yang membutuhkan penyembuhan serta perlu istirahat saat > 2 hari. Contoh: terjepit, luka sampai robek, luka bakar.
  • Kecelakaan kerja berat, yakni kecelakaan kerja yang alami amputasi serta kegagalan fungsi badan. Contoh: patah tulang.

Pemicu Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja berlangsung sebab tingkah laku anggota yang kurang berhati-hati atau asal-asalan atau juga bisa sebab kondisi yang tidak aman, apa itu berbentuk fisik, atau dampak lingkungan (Widodo, 2015).

Berdasar pada hasil statistik, pemicu kecelakaan kerja 85% dikarenakan aksi yang beresiko (unsafe act) serta 15% dikarenakan oleh keadaan yang beresiko (unsafe condition). Keterangan ke-2 pemicu kecelakaan kerja itu ialah seperti berikut (Ramli, 2010):

  • Keadaan yang beresiko (unsafe condition) yakni beberapa faktor lingkungan fisik yang bisa memunculkan kecelakaan seperti mesin tanpa pengaman, penerangan yang tidak cocok, Alat Pelindung Diri (APD) tidak efisien, lantai yang berminyak, dan sebagainya.
  • Aksi yang beresiko (unsafe act) yakni tingkah laku atau kesalahan-kesalahan yang bisa memunculkan kecelakaan seperti asal-asalan, tidak menggunakan alat pelindung diri, dan sebagainya, perihal ini dikarenakan oleh gangguan kesehatan, gangguan pandangan, penyakit, risau dan minimnya pengetahuan dalam proses kerja, langkah kerja, dan sebagainya.

Sedang menurut Ridley (2008), pemicu terjadinya kecelakaan kerja ialah seperti berikut:

a. Keadaan Kerja

  • Pengendalian manajemen yang kurang.
  • Standard kerja yang minim.
  • Tidak penuhi standard.
  • Peralatan yang tidak berhasil atau tempat kerja yang tidak memenuhi.

b. Kekeliruan Orang

  • Ketrampilan serta pengetahuan yang minim.
  • Permasalahan fisik atau mental.
  • Motivasi yang minim atau salah peletakan.
  • Perhatian yang kurang.

c. Aksi Tidak Aman

  • Tidak ikuti cara kerja yang sudah di setujui.
  • Mengambil jalan singkat.
  • Singkirkan atau tidak memakai peralatan keselamatan kerja.

d. Kecelakaan

  • Peristiwa yang tidak terduga.
  • Karena kontak dengan mesin atau listrik yang beresiko.
  • Terjatuh.
  • Terhantam mesin atau material yang jatuh dan lain-lain.

Kecelakaan kerja bisa juga dikarenakan oleh faktor-faktor seperti berikut (Rachmawati, 2008):

  • Aspek fisik, yang mencakup penerangan, suhu udara, kelembapan, cepat rambat udara, nada, vibrasi mekanis, radiasi, desakan udara, dan sebagainya.
  • Aspek kimia, yakni berbentuk gas, uap, debu, kabut, awan, cairan, serta beberapa benda padat.
  • Aspek biologi, baik dari kelompok hewan ataupun dari tumbuh-tumbuhan.
  • Aspek fisiologis, seperti konstruksi mesin, sikap, serta langkah kerja.
  • Aspek mental-psikologis, yakni formasi kerja, hubungan diantara pekerja atau mungkin dengan entrepreneur, pemeliharaan kerja, dan lain-lain.

Mencegah Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja bisa dihindari dengan memerhatikan faktor-faktor, diantaranya sebagai berikut (Suma’mur, 2009):

a. Aspek Lingkungan
Lingkungan kerja yang penuhi kriteria mencegah kecelakaan kerja, yakni:

  • Penuhi syarat aman, mencakup higiene umum, sanitasi, ventilasi udara, pencahayaan serta penerangan dalam tempat
  • kerja serta penyusunan suhu udara ruangan kerja.
  • Penuhi prasyarat keselamatan, mencakup keadaan gedung serta tempat kerja yang bisa menjamin keselamatan.
  • Penuhi penyelenggaraan ketatarumahtanggaan, mencakup penyusunan penyimpanan barang, peletakan serta pemasangan mesin, pemakaian tempat serta ruang.

b. Aspek Mesin serta perlengkapan kerja

Mesin serta perlengkapan kerja mesti didasarkan pada rencana yang baik dengan memerhatikan ketetapan yang berlaku. Rencana yang baik tampak dari sebaiknya pagar atau tutup pengaman pada beberapa bagian mesin atau perkakas yang bergerak, diantaranya bagian yang berputar-putar. Jika pagar atau tutup pengaman sudah terpasang, mesti didapati dengan tentu efisien tidaknya pagar atau tutup pengaman itu yang dilihat dari bentuk serta ukurannya yang sesuai pada mesin atau alat dan perkakas yang terhadapnya keselamatan pekerja dilindungi.

c. Aspek Peralatan kerja

Alat pelindung diri adalah peralatan kerja yang perlu tercukupi buat pekerja. Alat pelindung diri berbentuk baju kerja, kacamata, sarung tangan, yang kesemuanya mesti pas ukurannya hingga memunculkan kenyamanan dalam penggunaannya.

d. Aspek manusia

Mencegah kecelakaan pada aspek manusia mencakup ketentuan kerja, memperhitungkan batas potensi serta keterampilan pekerja, meniadakan beberapa hal yang mengurangi konsentrasi kerja, menegakkan disiplin kerja, hindari tindakan yang menghadirkan kecelakaan dan menghilangkan terdapatnya ketidakcocokan fisik serta mental.

Kecelakaan kerja bisa juga dikurangi, dihindari atau dijauhi dengan mengaplikasikan program yang diketahui dengan tri-E atau Triple E, yakni (Sedarmayanti,2011):

  • Engineering (Tehnik). Engineering berarti aksi pertama ialah lengkapi semua perkakas serta mesin dengan alat pencegah kecelakaan (safety guards) contohnya tombol untuk hentikan bekerjanya alat/mesin (cut of switches) dan alat lainnya, supaya mereka dengan tehnis bisa terproteksi.
  • Education (Pendidikan). Education berarti perlu memberi pendidikan serta latihan pada para pegawai untuk memberikan rutinitas kerja serta langkah kerja yang pas dalam rencana sampai kondisi yang aman (safety) semaksimal mungkin.
  • Enforcement (Penerapan). Enforcement berarti aksi penerapan, yang memberikan jaminan jika ketentuan pengendalian kecelakaan dikerjakan.

Sejarah Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) Di Indonesia

Konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Sejarah k3 di indonesia – Sejarah keselamatan kerja di Negara Indonesia (k3) di mulai setelah Belanda hadir ke Indonesia pada era ke-17. Saat itu, permasalahan keselamatan kerja di lokasi Indonesia mulai terasa untuk melindungi modal yang ditanam untuk industri. Saat jumlah ketel uap yang dipakai industri Indonesia sekitar 120 ketel uap, hingga munculah undang-undang tentang kerja ketel uap di tahun 1853.

Pada tahun 1898, jumlah ketel uap yang dipakai industri kerja makin bertambah jadi 2.277 ketel uap. Tahun 1890 lalu dikeluarkan ketentuan mengenai pemasangan serta penggunaan jaringan listrik di lokasi Indonesia. Menyusul pada tahun 1907, dikeluarkan ketentuan mengenai pengangkutan obat, senjata, petasan, peluru serta beberapa bahan yang bisa meledak serta berdampak pada keselamatan kerja.

Veiligheids Reglement serta pengaturan khusus menjadi pelengkap ketentuan pengerjaannya dikeluarkan pada tahun 1905. Lalu direvisi pada tahun 1910 di mana pengawasan undang-undang kerja dikerjakan oleh Veiligheids Toezich. Sedang pada tahun 1912 muncul pelarang pada pemakaian fosfor putih.

Undang-undang pengawasan kerja yang berisi kesehatan serta keselamatan kerja atau K3 dikeluarkan tahun 1916. Pada tahun 1927 lahir undang-undang masalah serta di tahun 1930 pemerintah Hindia Belanda membuat revisi undang-undang ketel uap.Riwayat keselamatan kerja di Negara Indonesia (k3) di mulai setelah Belanda hadir ke Indonesia pada era ke-17.

Saat terjadi perang dunia ke II, sedikit catatan riwayat tentang keselamatan dan kesehatan industri kerja, karena waktu itu masih dalam situasi perang hingga banyak industri yang berhenti beroprasi. Semenjak zaman kemerdekaan, riwayat keselamatan kerja berkembang sama dengan dinamika bangsa Indonesia. Beberapa waktu setelah Proklamasi, undang-undang kerja serta undang-undang kecelakaan (khususnya tersangkut permasalahan kompensasi) mulai dibuat. Di tahun 1957 didirikanlah Instansi Kesehatan serta Keselamatan Kerja.

Sedang di tahun 1970, undang-undang no I mengenai keselamatan kerja dibuat. Undang-undang ini sendiri dibuat jadi alternatif Veiligheids Reglement tahun 1920. Sejarah selanjutnya pada tahun 1969, berdirilah ikatan Higiene Perusahaan, Kesehatan serta keselamatan kerja, serta di tahun 1969 dibuat laboratorium keselamatan kerja.

Di tahun 1957, diselenggarakan seminar nasional Higiene Perusahaan serta Keselamatan Kerja K3 dengan topik penerapan Keselamatan Kerja Untuk Pembangunan. Persisnya di bulan Februari 1990, Fakultas Kedokteran Unissula yang bekerja bersama dengan Rumah Sakit Sultan Agung Semarang mengadakan symposium gangguan pendengaran karena kerja yang di buka oleh Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia yang saat itu dijabat oleh Cosmas Batubara.

Pengenalan Metode-metode Identifikasi Bahaya

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Erat Produktivitas Kerja

Pengenalan metode metode identifikasi bahaya – Metode identifikasi adalah teknik yang di kembangkan untuk mengetahui serta mengevaluasi beberapa bahaya yang ada dalam proses kerja. Beberapa cara yang bisa digunakan dalam mengidentifikasi potensi bahaya dalam pekerjaan industri ialah sebagai berikut:

1. What if/check list
Dalam cara ini, tiap-tiap proses dipelajari melalui pendekatan brainstorming untuk memformulasikan tiap-tiap pertanyaan mencakup peristiwa yang akan memunculkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Masing-masing pertanyaan dibagi ke tahapan operasi, teknik, pemeliharaan serta pengawasan.

Tiap-tiap pertanyaan itu memperhitungkan skenario terjadinya insiden, identikasi konsekuensi, penilaian kualitatif untuk memastikan tingkat keparahan konsekuensi, peluang dari semua resiko yang ada serta pembuatan referensi untuk mengurangi bahaya. Cara what if/checklist bisa dipakai untuk mengidentifikasi bahaya potensial dari tiap-tiap tingkatan proses. Cara ini akan efisien jika dikerjakan oleh tim yang memiliki pengalaman untuk evaluasi suatu proses.

2. HAZOPS
Hazard and Operability Study (HAZOPS) dipakai untuk mengidentifikasi persoalan dari operasional proses yang bisa memengaruhi efisiensi produksi serta keselamatan. HAZOPS adalah cara identifikasi resiko yang fokus pada analisa terstruktur tentang operasi yang berlangsung. Dengan memakai HAZOPS, kita harus mempelajari tiap-tiap tingkatan proses untuk mengidentifikasi semua penyimpangan dari keadaan operasi yang normal, menggambarkan bagaimana bisa berlangsung serta memastikan perbaikan dari penyimpangan yang ada.

3. FMEA
Failure Model and Effect Analysis (FMEA) adalah cara identifikasi resiko dengan mengkaji beberapa pertimbangan kesalahan dari perlengkapan yang dipakai serta mengevaluasi dampak dari kekeliruan itu. Kelemahan cara ini ialah tidak memperhitungkan kesalahan manusia. Dalam perihal ini, FMEA mengidentifikasi peluang abnormal atau penyimpangan yang bisa terjadi pada elemen atau perlengkapan yang terlibat dalam proses produksi dan konsekuensi yang ditimbulkan.

4. FTA
Fault Tree Analysis (FTA) adalah suatu teknik yang bisa dipakai untuk memprediksi atau menjadi alat investigasi setelah terjadinya kecelakaan dengan melakukan analisa proses peristiwa. FTA nanti akan menghasilkan penilaian kuantitatif dari probabilitas peristiwa yang tidak diharapkan. FTA adalah cara yang sangat efisien dalam menemukan pokok persoalan sebab bisa memastikan jika kerugian yang diakibatkan tidak berasal dari satu kegagalan. FTA adalah kerangka berfikir terbalik dimana evaluasi berawal dari insiden lalu dikaji sebabnya.

5. ETA
Moment Tree Analysis (ETA) ialah cara yang menunjukkan dampak yang mungkin berlangsung dengan diawali oleh identifikasi penyebab peristiwa serta proses dalam tiap-tiap tingkatan yang memunculkan terjadinya kecelakaan. Dalam melakukan ETA, kita perlu memahami penyebab dari peristiwa serta manfaat skema keselamatan atau mekanisme
kegawatdaruratan yang ada untuk memastikan langkah perbaikan pada dampak yang diakibatkan.

6. JHA
Job Hazard Analysis (JHA) ialah teknik yang fokus pada tahapan pekerjaan menjadi langkah untuk mengidentifikasi bahaya sebelum suatu peristiwa yang tidak diharapkan muncul. Cara ini lebih fokus pada hubungan pada pekerja, tugas/pekerjaan, alat serta lingkungan. Setelah diketahui bahaya yang tidak bisa di hilangkan, maka dikerjakan usaha untuk menghilangkan atau mengurangi resiko bahaya ke tingkat level yang dapat di terima (OSHA 3071).

JHA bisa diaplikasikan dalam berbagai jenis tipe pekerjaan, akan tetapi ada banyak prioritas pekerjaa yang perlu dikerjakan JHA, diantaranya:

  1. Pekerjaan dengan tingkat kecelakaan/kesakitan yang tinggi
  2. Pekerjaan yang punya potensi mengakibatkan luka,cacat atau sakit walau tidak ada insiden sebelumnya
  3. Pekerjaan yang jika berlangsung sedikit kesalahan kecil akan menyebabkan terjadinya kecelakaan parah atau luka
  4. Pekerjaan yang baru atau mengalami perubahan dalam proses serta mekanisme
  5. Pekerjaan cukup kompleks untuk ditulis petunjuk pelaksanaannya

Penyakit-penyakit Akibat Kerja di Rumah Sakit

Penyakit penyakit akibat kerja di rumah sakit

Penyakit penyakit akibat kerja di rumah sakit – Rumah Sakit adalah satu unit service layanan kesehatan pada penduduk. Agar bisa mendapatkan kelebihan serta daya saing maka rumah sakit harus mendapatkan perhatian khusus dalam peningkatan mutu layanannya dengan profesional pada customer, yaitu pasien yang dirawat atau rawat jalan.

Rumah sakit dalam kaca mata publik adalah unit service fungsional sebagai unit dalam service penyuluhan, mencegah serta perlakuan beberapa kasus segala jenis penyakit.

Penyakit karena kerja bisa menyerang semua tenaga kerja di dalam rumah sakit, baik tenaga medis ataupun non medis karena pajanan biologi, kimia serta fisik di lingkungan kerja rumah sakit tersebut. Rumah sakit adalah tempat berkumpulnya beberapa orang sakit ataupun sehat, atau anggota penduduk baik petugas ataupun pengunjung, pasien yang mendapatkan perawatan di dalam rumah sakit dengan beberapa jenis penyakit menyebar.

Perihal ini membuat rumah sakit adalah tempat kerja yang mempunyai kemungkinan pada masalah kesehatan serta kecelakaan kerja buat petugas. Beberapa jenis penyakit yang ada di lingkungan rumah sakit sangat mungkin rumah sakit jadi tempat penyebaran penyakit infeksi baik buat pasien, tenaga kerja ataupun pengunjung. Petugas di lingkungan rumah sakit begitu berdampak dengan kontak langsung pada agent penyakit menyebar lewat darah, sputum, jarum suntuk dan sebagainya.

Persepsi publik berasumsi jika rumah sakit adalah fasilitas kesehatan yang bersih serta sehat, hingga tenaga kerja yang berada di lingkungan rumah sakit tak kan terkena penyakit. Bila kita memandang jika rumah sakit adalah industri service kesehatan yang banyak didatangi penduduk setiap hari bahkan juga pada unit service spesifik yang memakai tenaga kerja shift tetap ada selama 24 jam, seharusnya usaha kesehatan serta keselamatan kerja di dalam rumah sakit bukan adalah hal yang tabu agar bisa diaplikasikan.

Dalam perihal ini sangat berguna bagi tenaga kerja yang berada di lingkungan rumah sakit menjadi usaha perlindungan dari kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja. Pengendalian Sumber Daya Manusia (SDM) di dalam rumah sakit harus bisa jadi perhatian khusus supaya tenaga kerja dapat melakukan peranan serta fungsinya dengan baik. Perihal ini sama dengan paradigma sdm menjadi human capital di dalam rumah sakit.

Perihal ini ikut jadi begitu kompleks sebab terdapatnya pembagian pekerjaan beragam macam profesi yang kerja di lingkungan rumah sakit, serta masing-masing profesi akan mempunyai etika serta budaya kerja yang berbeda-beda. Keadaan seperti ini yang membuat manajemen SDM di lingkungan rumah sakit penuh rintangan.

Oleh karenanya bila tenaga kerja di lingkungan rumah sakit terkapar dengan penyakit karena kerja, jadi beberapa hal yang akan terganggu dalam efektif serta manfaat tenaga kerja di dalam rumah sakit. Sama dengan referensi ILO dalam kewajiban tiap-tiap masyarakat negara agar bisa melakukan serta mengevaluasi kebijaksanaan nasional dalam aplikasi kesehatan serta keselamatan kerja di lingkungan kerja, mengingat rumah sakit adalah fasilitas kesehatan yang mempunyai banyak tenaga kerja baik medis ataupun non medis yang berefek alami kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja.

Tenaga kerja dalam UU No. 14 memiliki hak mendapatkan perlindungan atas kesehatan, keselamatan, kesusilaan, pemeliharaan moril kerja dan perlakuan yang sama dengan martabat manusia serta kepribadian agama. Dalam perihal ini memerlukan usaha perlindungan kesehatan serta keselamatan kerja buat petugas di lingkungan rumah sakit.

Pemicu Penyakit Karena Kerja

Penyakit karena kerja adalah seuatu kendala pada tingkat keamanan dalam kerja, dalam perihal ini memerlukan usaha pencegahan, baik untuk keselamatan ataupun kesehatan beberapa pekerja yang berada di lingkungan rumah sakit. Penyakit karena kerja atau terkait dengan pekerjaan bisa dikarenakan oleh pemajanan di lingkungan kerja dengan terus menerus setiap hari.

Untuk menghadapi perihal ini, maka langkah awal yang terpenting ialah pengenalan/identifikasi bahaya yang dapat muncul serta dievaluasi, lalu dikerjakan usaha pengendalian lewat cara melihat serta mengenal (walk through inspections).

Dalam lingkungan kerja seseorang bisa terganggu kesehatannya, serta gangguan kesehatan karena lingkungn kerja ini cukuplah banyak berlangsung. Penyakit karena kerja diantaranya berlangsung disebabkan karena situasi keadaan kerja seperti udara dingin, panas, bising, bahan kimia, debu dan sebagainya.

Gangguan kesehatan pada pekerja bisa juga dipicu oleh aspek yang terkait dengan pekerjaan ataupun aspek yang tidak terkait dengan pekerjaan. Dengan begitu bisa dikatakan jika status kesehatan penduduk pekerja di pengaruhi bukan hanya oleh bahaya di lingkungan kerja tapi ikut oleh aspek kesehatan pekerja yang akan punya pengaruh pada perilaku pekerja yang tidak konsentrasi.

Di bawah ini adalah contoh penyakit karena kerja yang disebut pemicu dari lingkungan kerja:

A. Aspek fisik

– Suara tinggi yang bising melalui ambang batas normal bisa mengakibatkan ketulian

– Tempratur tinggi bisa mengakibatkan hyperpireksi, heat cramp, heatstres.

– Radiasi sinar elektromagnetik, radioaktif bisa mengakibatkan katarak, tumor dan sebagainya.

– Desakan udara yang tinggi bisa mengakibatkan coison disease

– Getaran bisa mengakibatkan gangguan proses metabolism polineurutis, masalah syaraf.

– Penerangan yang kurang bisa mengakibatkan kerusakan pandangan.

B. Aspek Kimia

– Beberapa bahan kimia yang masuk lewat aliran pernapasan yang bisa membuat resikonya alergi, iritasi, korosif, asphyxia.

– Debu yang bisa menyebabkan pneumoconioses dan sebagainya

– Uap serta gas beracun yang bisa mengakibatkan keracunan

C. Aspek Biologis

– Seperti bakteri, viral diseases, parasitic diseases dan sebagainya

D. Aspek Ergonomi

– Tempat kerja, alat kerja yang tidak ergonomis, langkah kerja yang salah, konstruksi yang salah hingga bisa mempunyai dampak kelelahan pada tubuh.

– Angkat beban yang berat

– Tempat statis

– Tempat membungkuk yang tidak ergonomis

E. Aspek Mental Psikologis

– Jalinan kerja, organisasi kerja, komunikasi social

– Beban kerja mental keadaan penyakita pasien.

– Kerja shift

Penyakit karena kerja serta kecelakaan kerja dikalangan petugas kesehatan serta non kesehatan di lingkungan rumah sakit belumlah terselesaikan dengan baik, hingga berlangsung kecenderungan penambahan prevalensi. Dalam perihal ini perlu mendapatkan perhatian, sebab seseorang yang bekerja bila mengalami kecelakaan atau penyakit karena kerja tidak hanya punya pengaruh pada diri sendiri, tapi ikut produktifitas kerja mengalami penurunan dalam pemberian service kesehatan yang optimal pada pasien.

Kemungkinan petugas rumah sakit pada gangguan kesehatan serta kecelakaan kerja biasanya dikarenakan oleh perilaku petugas dalam kepatuhan melakukan tiap-tiap mekanisme pada kewaspadaan. Lihat hal diatas tentu saja kita perlu mengerti jika dalam cakupan pekerjaan di bagian kesehatan memiliki banyak resiko pada kesehatan pekerja. Tenaga kerja (tenaga medis serta non medis) yang berefek pada penyakit karena kerja di dalam rumah sakit diantaranya:

  1. Perawat yang setiap hari kontak dengan pasien dalam tempo yang lumayan lama 6 sampai 8 jam /hari, hingga tetap terpajan pada mikroorganisme pathogen bisa membawa infeksi dari satu pasien ke pasien yang lainnya. Hasil riset menunjukkan jika tenaga kerja perawat banyak diketemukan cedera sprain serta strain, nyeri pinggang, adalah keluhan paling banyak yang diketemukan pekerja perawat di dalam rumah sakit. Luka sayat serta tusukan jarum yang tidak sesuai mekanisme penggunaannya atau saat pencucian instrument tajam yang beresiko tersayat.
  2. Dokter bisa tertular penyakit dari pasien, terkena bahan kimia anesthesi halotan yang gampang menguap merembes menembus masker hingga mengakibatkan masalah somatic, nyeri kepala, mual sampai masalah fungsi saraf pusat. Robeknya sarung tangan bisa mengakibatkan cedera sayatan serta tusukan jarum.
  3. Dokter gigi, tingginya kandungan HBsAg serta anti HBC beberapa dokter gigi disbanding dengan petugas kesehatan lainnya, perihal ini diduga menjadi pajanan air ludah pasien, penyakit infeksi karena kerja, pajanan dosis rendah seperti merkuri, pajanan bahan penambal lubang gigi yang berkepanjagan bisa mengakibatkan masalah gastrointestinal, lesu, anorexia. Nyeri punggung juga seringkali dihadapi oleh karena tempat kerja yang tidak ergonomis.
  4. Petugas Gizi, menjadi penyaji diet atau makanan pasien, dalam perihal ini petugas gizi biasanya terpajan salmonella berbahan mentah ikan, daging serta sayuran yang setiap hari terkena hingga berefek terjadi masalah gastrointestinal.
  5. Petugas Farmasi yan melayani pembelian serta penyediaan obat-obat pasien semua penyakit, yang setiap hari akan menghirup beberapa bahan kimia semua jenis obat-obatan yang merembes serta menembus masker, perihal ini bisa mengakibatkan kemungkinan keracunan.
  6. Petugas Laboratorium yang setiap hari lakukan pemeriksaan darah, urin, sputum, feses pasien dengan semua jenis penyakit hingga akan berdampak terpajan bakteri ataupun virus yang berasal dari bahan objek kontrol.
  7. Petugas Radiologi, radiasi adalah pajanan yang sangatlah beresiko bagi gangguan kesehatan pekerja, dalam perihal ini memerlukan petugas yang lebih bertanggungjawab dalam usaha pengendaliannya.
  8. Petugas londri rumah sakit yang setiap hari terpajan dengan bahan linen yang berasal dari bekas pakai pasien dengan semua jenis penyakit menyebar, perihal ini bisa mengakibatkan penyebaran bakteri ataupun virus yang berasal dari linen kotor. Bakteri serta virus menebar saat petugas londri melakukan seleksi jenis linen, hingga sangatlah berdampak pada penyakit gangguan pernapasan.
  9. Petugas rumah tangga di lingkungan rumah sakit yang setiap hari bersihkan lantai semua sisi tempat rawat inap pasien semua penyakit menyebar, yang terkena dengan bakteri ataupun virus, hingga bisa menyebabkan virus serta bakteri berterbangan serta terhirup petugas, perihal ini bisa menyebabkan penyakit masalah sistem pernapasan serta infeksi lainnya.

Usaha Pencegahan serta Pengendalian

Supaya tenaga kerja di lingkungan rumah sakit masih efektif serta produktif dalam melakukan pekerjaan serta tanggung jawabnya dan tidak mengalami penyakit karena kerja jadi tindakan untuk menghadapi hal itu memerlukan penerapan manajemen kesehatan serta keselamatan kerja di dalam rumah sakit,

Manajemen kesehatan serta keselamatan kerja rumah sakit menyertakan semua unsur manajemen, karyawan serta lingkungan kerja yang terintegrasi menjadi usaha pencegahan serta kurangi kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja di lingkungan rumah sakit yang mempunyai tujuan ialah membuat tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran paparan lingkungan kerja, yang selanjutnya bisa meningkatkan efesiensi serta produktifitas kerja.

Langkah awal yang peting ialah usaha pengendalian di lingkungan kerja rumah sakit diantaranya kesehatan kerja buat karyawan, sanitasi lingkungan rumah sakit, pengamanan pasien, pengunjung ataupun petugas rumah sakit dan sebagainya. Upaya-upaya yang bisa dikerjakan untuk kurangi serta mnghindarkan kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja ialah seperti berikut:

  1. Lakukan substitusi pengenalan lingkungan kerja lewat cara lihat serta menganal potensial bahaya lingkungan kerja. Mengganti perlengkapan kerja yang tidak wajar gunakan.
  2. Pelajari lingkungan kerja dalam perihal ini menilai karakter serta besarnya potensi-potensi bahaya yang mungkin muncul hingga dengan mudah bisa mengutamakan dalam menangani permasalahan yang lebih potensial.
  3. Pengendalian lingkungan kerja dengan bertindak mengurangi bahkan juga menghilangkan pajanan pada masalah kesehatan pekerja dilingkungan kerja lewat cara teknologi pengendalian.
  4. Pengendalian administratif dengan memperingatkan pekerja agar bisa memakai alat pelindung diri yang benar dan baik, membuat rambu-rambu bahaya dilingkungan kerja yang punya potensi bahaya.
  5. Kontrol kesehatan pekerja dengan berkala untuk mencari aspek pemicu serta upaya penyembuhan.
  6. Pendidikan serta penyuluhan kesehatan serta keselamatan kerja buat pekerja di lingkungan rumah sakit.
  7. Pengendalian fisik lingkungan kerja, mengidentifikasi suhu, kelembapan, pencahayaan, getaran, kebisingan, pengendalian sistem ventilasi dan sebagainya.
  8. Lakukan pengawasan serta monitoring dengan berkala pada lingkungan kerja rumah sakit.
  9. Substitusi berbahan kimia, alat kerja serta mekanisme kerja.

Safety Behavior atau Perilaku Aman dan Kesehatan Kerja (Safety)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Erat Produktivitas Kerja

Sikap aman kesehatan keamanan kerja – Dalam mengidentifikasi serta memahami potensi yang beresiko dalam tempat kerja meliputi : Perilaku serta sikap kerja yang aman. Tindakan dalam mengidentifikasi serta memahami potensi yang beresiko dalam tempat kerja meliputi :

  • Perilaku serta sikap kerja yang aman.
  • Tindakan pemeliharaan tempat kerja.
  • Lingkungan kerja yang aman
  • Perlindungan personal
  • Memakai perlengkapan tangan serta listrik dengan aman.
  • Pemadam kebakaran.

1. Perilaku serta sikap aman.

Kenapa keamaan, kesehatan, kerja (safety) di tempat kerja sangatlah penting? Jika di satu tempat kerja setiap tahun lebih dari 50 orang meninggal, lebih dari 35,000 orang cedera serta lebih dari 5,000 orang sakit yang disebabkan oleh tempat kerja yang tidak aman. Biaya yang perlu ditanggung untuk seluruhnya ialah menakjubkan $ 2.5 Milyar. Tapi kita bisa mencegahnya dengan :

  • Meningkatkan kesadaran pada keamanan, kesehatan, kerja.
  • Memperlakukan keamanan, kesehatan, kerja (safety) dalam tempat kerja.

a. Meningkatkan kesadaran keamanan, kesehatan, kerja (safety).

Bagian yang mutlak untuk melatih anda serta anda meningkatkan kebiasaan berpikir serta berperilaku aman (safety) setiap saat.

Belajar kerja dengan aman :

  • Kapanpun kalian akan mempelajari sesuatu mengenai pekerjaan, kalian diwajibkan untuk belajar serta menanyakan bagaimana kerja dengan aman (safety).

Mencegah kecelakaan :

  • Berlaku cermat pada pencegahan kecelakaan serta sadar pada pemicu serta konsekwensi dari kecelakaan. Bila kalian sudah tahu mengenai apakah pemicu kecelakaan, tentu kalian juga akan tahu apakah yang tidak akan ditangani.

Peringatan Keamanan :

  • Sempatkan diri untuk membaca peringatan keamanan, kesehatan, kerja (safety).

Kehadiran tempat kerja anda :
Ketahuilah kehadiran tempat kerja anda dengan tuntas, mencakup tempat :

  • Pemadam kebakaran.
  • Perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan.
  • Saklar darurat atau emergensi daya listrik.
  • Perlengkapan perlindungan serta pakaian pelindung.
  • Pintu darurat keluar.

b. Perilaku aman dalam tempat kerja.

Perilaku kalian sendiri sebagai aman saat kerja serta istirahat. Mungkin kalian bisa bermain bola, dengan ekstrim akan membahayakan tempat kerja.

  • Janganlah menyandung atau menyenggol orang yang lain.
  • Tetap berjalan dalam tempat kerja, janganlah lari.
  • Janganlah bergurau.
  • Janganlah mempermainkan alat pemadam kebakaran.
  • Janganlah mempermainkan alat atau perlengkapan bengkel.
  • Janganlah mengganggu pengoperasian perlengkapan atau alat yang berhahaya.
  • Konsetrasi pada pekerjaan, tapi sadar kejadian apakah di sekitar tempat kerja anda.
  • Patuhi rambu-rambu keamanan serta pembatas pada ruang terlarang.

Demikian, info yang bisa kami berikan untuk kalian. Semoga info ini bisa bermanfaat untuk kalian semua.