Ketahui Mengenai Heat Stress Akibat Paparan Panas dalam Area Kerja

Ketahui Mengenai Heat Stress Akibat Paparan Panas dalam Area Kerja

Tekanan panas yang mengenai tubuh manusia bisa menyebabkan permasalahan kesehatan sampai kematian. Dampak penyakit karena panas yang paling fatal ialah heat stroke. Jika dibiarkan tanpa ada perlakuan yang serius, keadaan ini dapat mengancam jiwa pekerja.

Beberapa pekerja lapangan khususnya pekerja konstruksi, industri minyak serta gas bumi (migas), serta galangan kapal sudah pasti terbiasa bekerja di lingkungan yang panas dalam kurun waktu lama. Tetapi tahukah Anda, keadaan semacam ini mempunyai potensi memunculkan heat stress buat pekerja?

Lingkungan kerja yang tidak nyaman seperti temperatur yang melewati nilai ambang batas (NAB) menyebabkan panas yang bisa memengaruhi performa kerja dan kesehatan badan pekerja. Jika pekerja yang terkena panas tidak dapat menjaga atau mengeset suhu normal dalam tubuhnya, ini dapat menyebabkan munculnya heat stress. Lebih fatal , jika dibiarkan tanpa ada penanganan serius dapat menyebabkan kematian.

Tekanan panas atau heat stress bisa dikatakan sebagai reaksi fisik serta fisiologis pekerja pada suhu yang ada di luar kenyamanan kerja. Suhu yang disebut ialah suhu panas yang berlebihan.

Paparan panas di lingkungan kerja dapat datang dari:

  • Suhu serta kelembaban tinggi, paparan cahaya matahari secara langsung
  • Pergerakan atau saluran udara yang terbatas
  • Kerja fisik yang berat
  • Panas metabolisme badan
  • Baju kerja
  • Tingkat aklimatisasi

Unsur iklim kerja serta non iklim itu yang bisa tingkatkan dampak pekerja terkena heat stress. Sebenarnya heat stress berlangsung jika badan pekerja tidak dapat menyeimbangkan suhu badan normal sebab besarnya paparan panas di luar. Sederhananya, heat stress dapat terjadi saat badan gagal mengatur suhu internal.

Bila badan terkena panas, maka skema yang berada di pada tubuh akan mempertahankan suhu badan internal supaya masih berada pada suhu normal (36-37,5°C) dengan mengeluarkan keringat serta mengalirkan darah makin banyak ke kulit.

Dalam situasi demikian, jantung kerja keras memompa darah ke kulit sisi luar (permukaan badan) serta kelenjar keringat terus keluarkan cairan yang memiliki kandungan elektrolit ke permukaan kulit serta penguapan keringat menjadi langkah efisien untuk menjaga suhu badan agar masih normal.

Tetapi, bila suhu di luar serta kelembaban terlalu tinggi, karena itu keringat tidak bisa menguap serta badan akan gagal menjaga suhu internalnya, dalam keadaan berikut badan mulai terganggu. Keadaan ini memengaruhi potensi seseorang untuk bekerja di lingkungan panas.

Dengan adanya banyak darah mengalir ke kulit, karena itu pasokan darah ke otak, otot-otot aktif serta organ tubuh yang lain jadi menyusut, hingga kelelahan serta permasalahan kesehatan karena panas juga lebih cepat terjadi. Kegagalan badan menyeimbangkan suhu badan internal ini yang selanjutnya dapat menyebabkan munculnya heat stress pada pekerja.

Siapa Saja yang Beresiko Terkena Heat Stress?

Seseorang yang kenakan pakaian pelindung serta bekerja di lingkungan panas, kelembaban tinggi serta mengerjakan kerja fisik berat ialah pekerja yang paling beresiko terserang heat stress. Biasanya heat stress dirasakan oleh pekerja konstruksi, pertambangan, pabrik kaca serta pabrik karet, pabrik peleburan logam, pekerja di area boiler, serta pekerja yang terkena panas lainnya.

Apa Dampak Heat Stress Pada Pekerja?

Heat stress terhitung kemampuan bahaya di lingkungan kerja yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Heat stress, baik karena proses metabolisme badan atau paparan panas dari lingkungan kerja bisa memunculkan permasalahan kesehatan dari yang mudah, seperti heat cramps serta heat exhaustion sampai yang serius, yakni heat stroke.

Heat Cramps

Heat cramps ialah kejang atau kram pada otot, serta dapat menyebabkan tidak sadarkan diri pada pasien. Ini karena disebabkan ketidakseimbangan cairan serta garam selama lakukan kerja fisik yang berat di lingkungan panas.

Tanda-tanda:

Kram pada otot, ngilu atau kejang di perut, lengan atau kaki.

Pertolongan pertama:

  • Hentikan semua kegiatan serta istirahatlah dalam tempat sejuk serta teduh
  • Minum cairan elektrolit, tetapi tidak melewati air minum biasa. Hindari konsumsi tablet garam terkecuali bila direferensikan oleh dokter
  • Hindari kembali lakukan kerja fisik berat selama beberapa saat setelah kram berhenti
  • Selekasnya hubungi petugas medis bila kram tidak mereda dalam kurun waktu satu jam.

Heat Exhaustion

Heat exhaustion berlangsung karena minimnya cairan tubuh atau volume darah. Keadaan ini berlangsung bila jumlah air yang dikeluarkan seperti keringat melewati dari air yang diminum selama terkena panas.

Tanda-tanda:

  • Nadi cepat
  • Keringat berlebihan
  • Kulit pucat
  • Kecapekan berlebihan
  • Pusing
  • Mual serta muntah
  • Emosi tidak konstan
  • Pernafasan pendek serta cepat
  • Suhu badan sedikit mengalami penambahan (37-40°C)
  • Kehilangan kesadaran

Pertolongan pertama:

  • Beristirahatlah dalam tempat yang sejuk serta teduh
  • Minumlah air yang banyak
  • Longgarkan baju serta kompres sisi kepala, leher, serta wajah memakai handuk dingin
  • Bersihkan kepala, wajah, serta leher dengan air dingin
  • Bila gejala tidak berkurang, selekasnya hubungi petugas medis
  • Pastikan ada rekanan kerja yang menemani korban sampai pertolongan datang.

Heat Stroke

Heat stroke ialah dampak heat stress paling serius/ fatal sebab bila dibiarkan tanpa perlakuan serius, keadaan ini dapat menyebabkan koma serta kematian. Penyebabnya ialah paparan panas yang terus-menerus serta berlebihan, dan ketidakberhasilan regulator suhu tubuh.

Tanda-tanda:

  • Suhu badan tinggi (di atas 40°C)
  • Kurang berkeringat waktu cuaca panas
  • Mual serta muntah
  • Kulit memerah
  • Napas cepat serta dangkal
  • Penambahan denyut jantung
  • Sakit kepala
  • Bingung, kejang, halusinasi
  • Tidak sadarkan diri
  • Kram otot

Pertolongan pertama:

  • Selekasnya hubungi petugas medis
  • Bawa serta korban ke tempat sejuk serta teduh
  • Lepas baju pelindung/ baju luar yang korban pakai
  • Letakkan badan korban di bak air dingin atau air es atau membungkus korban dengan selimut pendingin spesial serta menyelimuti korban dengan es. Khususnya pada daerah leher, pangkal paha serta ketiak untuk menurunkan suhu badan.

Apa yang Harus Dikerjakan Perusahaan serta Pekerja untuk Mencegah Heat Stress?

Pada umumnya kasus, heat stress bisa dihindari atau minimal dampak terkena heat stress bisa diminimalisir. Berikut referensi pencegahan heat stress menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA):

1. Membuat program pencegahan heat stress

Perusahaan harus memilih serta menentukan pekerja yang terlatih serta kompeten dalam mengatasi bahaya dalam tempat kerja, diantaranya bahaya paparan panas. Setelah itu, pekerja ini yang akan bertanggungjawab dalam berencana, meningkatkan, melakukan serta mengelola program berkaitan paparan panas dalam tempat kerja.

2. Lakukan identifikasi bahaya

Perusahaan serta pekerja harus lakukan identifikasi bahaya paparan panas untuk meminimalisir kecelakaan kerja, penyakit karena kerja serta penurunan produktivitas kerja. Pekerjaan identifikasi bahaya ini mencakup:

  • Mengetahui bahaya paparan panas serta efek penyakit karena panas bagi pekerja
  • Hitung indeks tekanan panas lewat pengukuran beberapa faktor eksternal lingkungan yang memengaruhi tekanan panas, yakni suhu, kelembaban, kecepatan angin, suhu kering, suhu basah serta suhu radiasi.
  • Lakukan evaluasi pada kesehatan pekerja karena paparan panas, yakni dengan mengukur tekanan darah, denyut nadi serta suhu badan pekerja
  • Tentukan langkah pengaturan serta perbaikan untuk meminimalisir bahaya paparan panas.

3. Lakukan pengendalian teknik

Pengaturan teknik yang bisa dikerjakan ialah menempatkan ventilasi umum, menempatkan exhaust fan, menempatkan dust collector, pemakaian penyekat (shielding) khususnya untuk mengurangi panas radiasi dan mengurangi suhu serta kelembaban lewat pendingin udara.

4. Membuat perlindungan pekerja dari dampak terkena heat stress

Untuk mencegah pekerja dari heat stress, ada banyak hal yang dapat dikerjakan. Hindari melakukan aktivitas fisik berat, lingkungan panas yang berlebihan, paparan cahaya matahari, serta lingkungan dengan kelembaban tinggi jika memungkinkan. Bila tidak memungkinkan, kerjakan beberapa langkah pencegahan di bawah ini:

  • Mulai hari dengan minum air putih secukupnya. Hindari alkohol serta minuman yang memiliki kandungan kafein karena bisa menyebabkan dehidrasi
  • Pakai pakaian berwarna cerah,tipis atau ringan, serta menyerap keringat (bahan katun). Hindari pakaian memiliki bahan sintetis.
  • Lakukan diet imbang. Konsumsi buah, sayuran, protein, serat akan membantu.
  • Mengonsumsi cairan elektrolit, tetapi tidak melebihi air minum biasa
  • Pakai pelindung wajah serta leher
  • Pastikan di ruang kerja terdapat stasiun air minum serta mudah dibuka
  • Minumlah segelas air tiap 15 menit, sekalinya Anda belum merasakan haus
  • Kerjakan istirahat dengan berkala waktu lakukan pekerjaan berat di lingkungan dengan suhu panas serta kelembaban tinggi. Beristirahatlah dalam tempat sejuk serta teduh.
  • Pikirkan untuk sediakan wadah air bertanda khusus yang berisi air serta es untuk membasahi handuk leher, lengan serta lainnya
  • Awasi kondisi fisik Anda serta rekanan kerja untuk mengetahui adanya sinyal atau tanda-tanda penyakit karena panas.
  • Laporkan pada supervisor jika Anda atau menemukan rekanan kerja yang mengalami tanda-tanda heat stress.

5. Aklimatisasi

Aklimatisasi pada suhu tinggi adalah proses rekonsilasi diri seseorang pada lingkungannya. Aklimatisasi pada panas diikuti dengan penurunan suhu tubuh serta pengeluaran garam dari pada tubuh. Proses aklimatisasi ditujukan pada suatu pekerjaan serta suhu tinggi untuk beberapa waktu.

Aklimatisasi panas umumnya terwujud setelah dua minggu, tergantung unsur lingkungan kerja serta unsur pribadi individu (mengonsumsi obat, kondisi fisik, usia serta berat tubuh). Tiap pekerja baru serta pekerja lama yang absen sepanjang dua minggu atau lebih dari pekerjaannya harus diawali dengan 20% beban kerja pada hari pertama, lantas bertambah dengan bertahap tidak kurang dari 20% beban kerja pada hari selanjutnya.

6. Mengelola waktu kerja

Perkembangan agenda kerja serta penataan frekwensi istirahat dikerjakan dalam upaya untuk meminimalisir dampak paparan. Perusahaan bisa mengendalikan jadwal kerja serta istirahat dengan memerhatikan NAB paparan panas.

Di Indonesia, mengenai pekerjaan kerja di industri yang bisa memunculkan iklim kerja panas di mengatur dalam SNI 16-7063-2004 serta Permenakertrans No. PER. 13/MEN/X/2011 mengenai NAB Unsur Fisika serta Kimia di Tempat Kerja.

Dalam membuat rencana responsif genting ini Anda dapat menyertakan seseorang profesional untuk memperoleh masukan mengenai pengerjaan mekanisme responsif darurat berkaitan penyakit akibat panas.