Manajemen Tenaga Kerja & Keselamatan dan Kesehatan Kerja

manajemen kinerja

Manajemen Tenaga Kerja

Ada beberapa pendapat dari para ahli-ahli yang telah memberikan batasan yang beda-beda untuk manajemen tenaga kerja, antara lain :

  1. John D. millet, manajemen diartikan sebagai suatu proses pengarahan, penjurusan, dan pemberian fasilitas kerja kepada orang-orang yang diorganisasikan dalam kelompok-kelompok formal untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
  2. Prof. Oey Liang Lie, manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengkoordinasian dan pengontrolan dari sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Sejarah dan Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia

Abad ke-17, masalah keselamatan dalam perusahaan mulai terasa terutama untuk melindungi modal yang ditanam. Pada tahun 1907, diadakan pengaturan tentang pengangkutan obat, senjata, petasan, peluru dan bahan-bahan yang dapat meledak bagi kepentingan angkatan bersenjata dengan angkutan kereta api. Lebih banyak lagi industriindustri yang relative besar didirikan, sehingga perlu dikeluarkan “Veiligheids reglement” pada tahun 1910, pada tahun 1916 dibuat Undangundang pengawasan tambang yang berisi keselamatan dan kesehatan tambang, kemudian pada tahun 1927 lahir Undang-undang gangguan yang berisi tentang pendirian perusahaan yang membahayakan, kerugian perusahaan dan gangguan. Tiga belas tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1940, keluar pengaturan tentang biaya pemeriksaan keselamatan kerja di perusahaan.

Manajemen Keselamatan dan Keselamatan kerja

Manajemen K3 melakukan semua fungsifungsi manajemen secara utuh yaitu:
1. Menyusun rencana kerja pencegahan dan mengatasi kasus kecelakaan dan penyakit kerja.
2. Menyusun organisasi K3 dan menyediakan alat perlengkapannya.
3. Melaksanakan berbagai program, termasuk:

  • Menghimpun informasi dan data kasus kecelakaan secara periodik
  • Mengidentifikasi sebab-sebab kasus kecelakaan kerja, menganalisa dampak kecelakaan kerja bagi pekerja sendiri, bagi pengusaha dan bagi masyarakat pada umumnya
  • Merumuskan saran-saran bagi pemerintah, pengusaha dan pekerja untuk menghindari kecelakaan kerja
  • Memberikan saran mengenai sistem kompensasi atau santunan bagi mereka yang menderita kecelakaan kerja
  • Merumuskan sistem dan sarana pengawasan, pengamanan lingku-ngan kerja, pengukuran tingkat bahaya, serta kampanye menum-buhkan kesadaran dan penyuluhan keselamatan dan kesehatan kerja

4. Melakukan pengawasan program.

Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mencari dan mengungkapkan keselamatan operasional yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Karena dalam proyek kalau bermasalah dengan biaya (anggaran), maka waktu yang telah ditentukan akan melenceng dari waktu semula begitu pula kinerja yang diperoleh tidak akan maksimal. Tetapi selain itu faktor Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sangatlah berperan penting karena tanpa itu maka biaya, waktu dan kinerja akan terbengkalai.

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

“Sistem” didefinisikan sebagai sekelompok komponen yang terdiri dari manusia dan/atau bukan manusia (non human) yang diorganisir dan diatur sedemikian rupa sehingga komponen-komponen tersebut dapat bertindak sebagai satu kesatuan dalam mencapai tujuan, sasaran atau hasil akhir (Kerzner, 1989).

Dari keseluruhan uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa: “SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA” adalah merupakan bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang 127 berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Pedoman Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia.

Berikut ini akan dijelaskan mengenai pedoman penerapan SMK3 menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor: PER.05/MEN/1996 Sistem Manajemen K3 didalam suatu perusahaan diarahkan kepada kemandirian perusahaan dan sangat bergantung dari rasa tanggung jawab manajemen dan tenaga kerja terhadap tugas dan kewajiban masingmasing serta upaya-upaya untuk menciptakan cara kerja dan kondisi kerja yang selamat. Mekanisme operasi rutin dibuat sedemikian rupa telah diatur melalui sesuatu mekanisme yang konsisten, maka tenaga kerja akan berlaku sebagaimana aturan yang telah dibuat dan peluang penyimpangan dapat diperkecil, peluang penyimpangan sangat berarti bagi pengendalian kemungkinan kecelakaan kerja oleh faktor manusia.

Alat pelindung Diri (APD)

Alat pelindung diri terdiri dari beberapa jenis berdasarkan fungsinya, antara lain:

1. Topi Pelindung (Safety Helmet)

Helm (helmet) sangat penting digunakan sebagai pelindug kepala, dan sudah merupakan keharusan bagi setiap pekerja konstruksi untuk mengunakannya dengar benar sesuai peraturan.

2. Pelindung Mata (safety Glasses)

Kacamata pengaman digunakan untuk melidungi mata dari debu kayu, batu, atau serpih besi yang beterbangan di tiup angin.Mengingat partikel-partikel debu berukuran sangat kecil yang terkadang tidak terlihat oleh mata.

3. Masker Pelindung (safety Mask)

Pelidung bagi pernapasan sangat diperlukan untuk pekerja konstruksi mengingat kondisi lokasi proyek itu sediri.Berbagai material konstruksi berukuran besar sampai sangat kecil yang merupakan sisa dari suatu kegiatan, misalnya serbuk kayu sisa dari kegiatan memotong, mengampelas, mengerut kayu.

4. Penutup Telinga

Alat ini digunakan untuk melindungi telinga dari bunyi-bunyi yang dikeluarkan oleh mesin yang memiliki volume suara yang cukup keras dan bising.Terkadang efeknya buat jangka panjang, bila setiap hari mendengar suara bising tanpa penutup telinga ini.

5. Sarung Tangan

Sarung tanga sangat diperlukan untuk beberapa jenis pekerjaan. Tujuan utama penggunaan sarung tangan adalah melindungi tangan dari benda-benda keras dab tajam selama menjalankan kegiatannya.

6. Jas Hujan (Rain Coat)

Berfungsi melindungi dari percikan air saat bekerja (misal bekerja pada waktu hujan atau sedang mencuci alat).

7. Tali Pengaman (Safety Harness)

Sudah selayaknya bagi pekerja yang melaksanakan kegiatannya pada ketinggian tertentu atau pada posisi yang membahayakan wajib mengenakan tali pengaman atau safety belt. Fungsi utama talai penganman ini dalah menjaga seorang pekerja dari kecelakaan kerja pada saat bekerja,