Mengatasi Masalah Kesehatan Mental Yang Mengancam Pekerja Muda

Masalah Kesehatan Mental Yang Mengancam Pekerja

Kesehatan serta Keselamatan Kerja (K3) menjadi perhatian bagi tiap pekerja, tidak terkecuali bagi para pekerja muda. Penting untuk mewujudkan generasi pekerja yang aman serta sehat dalam bekerja.

Pekerja muda harus menjadi perhatian khusus sebab saat ini banyak pekerja muda dalam beragam sektor tidak mempunyai kesadaran serta belum mengaplikasikan K3. Akibatnya, banyak berlangsung kecelakaan kerja. Bahaya-bahaya yang ditemui dalam kerja berbeda-beda, ada bahaya biologis, bahaya psikososial, bahaya fisik, dan bahaya ekonomis.

Bagi para pekerja muda, para pekerja baru atau itu merupakan pekerjaan pertamanya, dia cenderung tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan bahwa kondisinya sedang tidak sehat. Ia belum memiliki kemampuan secara mental untuk bisa menyuarakan kebutuhannya kepada pihak lain.

Di era ekonomi digital, banyak pekerja muda banyak mempunyai masalah kesehatan mental. Ini karena kondisi serta tuntutan para pekerja media serta kreatif ada pada ranah kognitif serta intelektual, hingga tekanan serta kondisi kerja sangat berdekatan dengan kondisi mental.

Jam kerja yang panjang atau dituntut deadline yang tiada henti yang membuat stres dalam bekerja dapat memengaruhi kondisi mental.

Dalam kondisi ini, diperlukan keterkaitan aktif dari pekerja muda terkait upaya pencegahan K3. Saat ini, telah dikerjakan dengan upaya memasukkan K3 dalam kurikulum anak-anak sekolah yang diharapkan bisa membuat upaya pencegahan sejak awal yaitu bagaimana melindungi diri saat hadapi bahaya.

Peningkatan K3 Melalui Optimalisasi Sektor Informal

keselamatan dan kesehatan kerja

keselamatan dan kesehatan kerja – Pengusaha kecil serta menengah adalah kelompok industri modern, industri tradisional, serta industri kerajinan dengan nilai investasi serta modal usaha dibawah Rp 70 juta dengan dampak investasi modal/tenaga kerja Rp 625.000 ke bawah.

Berdasar BPS atau Badan Pusat Statistik, usaha-usaha menengah dibagi beberapa bagian, yakni: Usaha rumah tangga terdiri 1-5 tenaga kerja, Usaha kecil menengah terdiri 6-19 tenaga kerja, Usaha menengah terdiri 20-29 tenaga kerja serta Usaha besar lebih dari 100 tenaga kerja.

Tiap jenis usaha serta tempat kerja baik pada sektor resmi atau informal memiliki dampak bahaya gangguan kesehatan serta kecelakaan. Biasanya, para pekerja sektor informal kurang mempunyai kesadaran serta pengetahuan mengenai dampak bahaya yang ada di tempat kerja.

Pekerja di bidang informal mempunyai beban serta waktu kerja lebih sebab tuntutan dari pengusaha pada jumlah produk yang dibuat tanpa memerhatikan kesehatan serta keselamatan pekerjaanya. Ini berlangsung salah satunya sebab minimnya sosialisasi pada pengusaha atau pekerja berkaitan dengan dampak bahaya di lingkungan kerja.

Usaha keselamatan serta kesehatan kerja (K3) tidak hanya hal teknik, mekanik harus memerhatikan dengan khusus faktor manusiawi. Dalam hal ini, menambah pengetahuan serta pemberdayaan pada pekerja mengenai keselamatan kesehatan kerja (K3) adalah hal yang penting .

Pentingnya mencegah penyakit akibat kerja serta kecelakaan bisa di tempuh dengan memberi pemahaman mengenai keselamatan serta kesehatan kerja dan penerapan sikap pada keselamatan kerja pada karyawan untuk mengurangi serta mencegah munculnya kerugian.

Untuk menambah pengetahuan serta kesadaran pada masyarakat industri bidang informal, peranan pos UKK jadi sangat penting. Pos Usaha Kesehatan Kerja (UKK) adalah usaha kesehatan kerja bagi pekerja informal yang bersumberdaya dari, oleh, serta untuk masyarakat pekerja tersebut.

Pekerjaan yang dikerjakan mencakup usaha promotif, mencegah serta penyembuhan sederhana yang berbentuk pertolongan pertama pada kecelakaan serta pertolongan pertama pada penyakit.

Penekanan pada usaha promosi serta preventif untuk mengubah perilaku beberapa pekerja untuk mengurangi dampak kecelakaan serta penyakit karena kerja, dan usaha meningkatkan kesehatan pekerja.

Peranan Kader Pos UKK diantaranya ialah Identifikasi masalah kesehatan di lingkungan kerja, menyusun gagasan pemecahan masalah, melakukan kegiatan kesehatan di lingkungan kerja melalui promo.

Dengan menjalin kemitraan dengan beberapa faksi, lakukan pelayanan kesehatan kerja fundamen, melakukan kewaspadaan dini pada dampak serta masalah kesehatan pekerja, melakukan rujukan ke Puskesmas, pendataan serta pelaporan.

Optimalisasi pos UKK yang ada dipuskesmas jadi langkah riil yang dikerjakan pemerintah untuk menigkatkan kesehatan serta keselamatn bagi masyarakat pekerja pada bidang informal melalui program publikasi.

Kegiatan publikasi adalah kegiatan posisitif yang bisa dikerjakan oleh pos UKK untuk menambah pengetahuan sebab pengetahuan ialah suatu domain yang bisa membentuk tingkah laku.

Pembentukan tingkah laku melalui penambahan pengetahuan diharapkan bisa mengubah iklim keselamatan serta kesehatan (safety climate) yang ada dilingkungan kerja hingga budaya K3 (safety culture) bisa tercipta.

Tidak hanya peningkatan pengatahuan lewat publikasi perlu diselenggarakan pemeriksaan kesehatan dengan berkala khususnya puskesmas yang ada di daerah yang memiliki jumlah UKM yang besar.

Pengecekan kesehatan yang ditujukan ialah pengecekan kesehatan kerja berdasar identifikasi serta analisa dampak bahaya yang ada di tiap UKM.

Sehingga pengecekan kesehatan yang dikerjakan bisa mengambarkan dampak yang berlangsung karena paparan bahaya khusus, contohnya pengecekan faal paru karena paparan debu, pengecekan trans,trans-muconic acid (ttMA) karena paparan benzene dan sebagainya.

pencegahan kecelakaan kerja

Pentingnya Untuk Tidak Mengabaikan Penggunaan Alat Pelindung Diri di Tempat Kerja

pencegahan kecelakaan kerja

pencegahan kecelakaan kerja – Melindungi diri dari risiko pekerjaan tidak hanya untuk keselamatan pribadi saja. Perlindungan diri harus memerhatikan keselamatan orang lain. Kelalaian yang kita kerjakan mungkin tidak membahayakan diri kita tetapi bisa membahayakan orang lain.

Karena itu kepedulian antar sesama pekerja harus ditingkatkan. Begitu juga dengan pemakaian alat pelindung diri. Berikut 3 hal yang bisa terjadi bila Anda menyepelekan fungsi alat pelindung diri:

1. Penggunaan Sepatu Safety.

Sepatu yang Anda pakai waktu bekerja tidak dapat Anda samakan dengan sepatu yang biasa Anda pakai saat berjalan di Mall atau tamasya. Perlindungan kaki saat mengerjakan pekerjaan justru akan semakin lebih berdampak untuk mengakibatkan cedera, terlebih cedera pada ujung kaki yang diakibatkan tidak adanya fitur pelindung ujung kaki pada sepatu yang dipakai pekerja.

Selain itu bila ditelusuri lebih lanjut, benda-benda tajam di area pekerjaan banyak sekali dan begitu beresiko untuk telapak kaki Anda. Beberapa hal beresiko yang dapat diminimalisir bila kita memahami betul apa sebenarnya peranan sepatu safety diciptakan.

2. Pemakaian Pelindung pendengaran.

Pengawas pekerja pabrik seringkali sekali mendapati karyawan mereka dengan sengaja lalai dalam memakai alat pelindung pendengaran. Walau sebenarnya, tingkat kebisingan yang dibuat oleh mesin pabrik tidak dapat disesuaikan secara baik oleh telinga manusia.

Bila terus menerus terpapar polusi suara yang melewati batas jangkauan pendengaran manusia, yakni 40-50 dB, telinga kita akan mengalami kerusakan non-permanen. Pakailah earplug atau earmuff untuk terhindar dari efek ini.

3. Terkontaminasi Beberapa Zat Berbahaya.

Pabrik yang memproduksi benda-benda yang memiliki kandungan logam bisa mengeluarkan polusi Nitrogen Oksida (NOx). Nitrogen Oksida (NOx) salah satu jenis bahan pencemar udara, di samping bahan pencemaran udara lainnya seperti debu, CO, SO2 dan sebagainya.

Baik secara sendiri atau bersamaan bisa menimbulkan masalah pada manusia, hewan serta tumbuhan dan beberapa benda lainnya. Maka, proses pembakaran di industri logam tentu jadi produsen Nitrogen Oksida dalam jumlah besar.

Karena itu solusi yang tepat ialah memakai masker yang dapat menetralisir polusi itu seperti jenis masker carbon active atau microfiber.

Beberapa hal buruk di atas adalah sebagian kecil dari beberapa hal yang mungkin terjadi bila Anda tidak memperdulikan fungsi penggunaan alat pelindung diri Anda dengan baik dan benar. Terapkanlah pemakaian alat pelindung pendengaran dengan benar sebagai budaya kerja serta filosofi jika nyawa Anda benar-benar berharga serta memakai alat pelindung diri secara benar adalah kebiasaan baik bagi Anda dalam bekerja.

Kemalangan dalam bekerja adalah hal yang tidak diperkirakan tapi bila Anda memiliki ketrampilan, pemahaman, serta potensi dalam melindungi diri Anda supaya terhindar dari 3 hal di atas, maka keselamatan Anda akan lebih terjaga.

Masing-masing alat pelindung diri memang tidak saling berkaitan keduanya namun penting untuk dipakai secara keseluruhan dalam melindungi badan kita dalam bekerja. Dalam memakai alat pelindung diri, sebaiknya pakailah alat yang membuat Anda nyaman dalam memakainya.

Hingga pekerja yang memakai alat pelindung diri dapat bergerak secara bebas serta efektifitas kerja bisa dicapai. Diharapkan bagi tiap pemilik perusahaan dapat memberi peralatan alat pelindung diri yang terbaik bagi karyawannya.

Standar Keselamatan Kerja – Keselamatan dan Kesehatan Kerja

keselamatan dan kesehatan kerjaTujuan Dari Sistem Manajemen K3:

  1. Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehat kerja yang setingi – tingginya baik buruh, petugas pegawai negeri dan pekerja bebas.
  2. Sebagai upaya untuk mencegah dan memberi penyakit dan kecelakaan akibat kerja, meme meningkatkan kesehatan dan gizi para tenag merawat dan meningkatkan efisiensi dan da produktifitas tenaga manusia, memeberanta kerja dan melipatgandakan gairah serta keni bekerja.

 

Teori Keselamatan & Kesehatan Kerja

Pengertian Manajemen Menurut James A.F. Ston Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengenda dari anggota organisasi serta penggunaan sumua yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pengertian Manajemen Menurut Mary Parker Fo Manajemen adalah suatu seni, karena untuk mel pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan keteram

Manajemen

planning

organizing

actuating

controlling

leadership

Faktor Penyebab Kontrol Kurang Baik

  1. Program manajemen keselamatan & kesehat kurang baik.
  2. Standar program kurang tepat atau mendalami standar tersebut.
  3. Pelaksanaan standar tidak tepat.

Program Manajemen Tentang K3

  1. Kepemimpinan dan administrasinya
  2. Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terpadu
  3. Pengawasan
  4. Analisis pekerjaan dan prosedural
  5. Penelitian dan analisis pekerjaan
  6. Latihan bagi tenaga kerja
  7. Pelayanan kesehatan kerja
  8. Penyediaan alata pelindung diri
  9. Peningkatan kesadaran terhadap keselamatan dan keseha
  10. Sistem pemeriksaan
  11. Laporan dan pendapatan

Sumber Penyebab Dasar

a) Faktor perorangan

  • kurang pengetahuan
  • kurang keterampilan
  • Motivasi kurang baik
  • Masalah fisik dan mental

b) Faktor pekerjaan

  • Standar kerja kurang
  • Standar perencanaan
  • Standar perawatan ya
  • Standar pembelian ya

 

Perbuatan Substandar

  • Menjalankan yang bukan tugasnya
  • Melepaskan alat pengaman atau membuat alat pengaman tidak berfungsi
  • Membuat peralatan yang rusak
  • Tidak memakai alat pelindung diri
  • Membuat sesuatu secara berlebihan
  • Menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya
  • Mengangkat berlebihan
  • Posisi kerja yang tidak tepat
  • Bersenda gurau, bertengkar
  • Berada dalam pengaruh alkohol atau obat -obatan

 

Kondisi Substandar

  • Pengamanan tidak sempurna
  • Alat pelindung diri yang tidak memenuhi syarat
  • Bahan atau peralatan kerja yang telah rusak
  • Gerak tidak leluasa karena tumpukan benda
  • Sistem tanda bahaya tidak memenuhi syarat
  • House keeping & Layout yang jelek
  • Lingkungan kerja yang mengandung
  • bahaya ( iklim kerja, panas/
  • dingin, ventilasi kurang baik,
  • tingkat kebisingan tinggi,
  • penerangan tidak
  • memenuhi syarat

 

Faktor – Faktor Penyebab  Terjadinya Kecelakaan Kerja

  • Faktor fisik
    Penerangan, suhu udara, kelembaban, cepat rambat udara, suara, vibr radiasi, tekanan udara, dll.
  • Faktor kimia
    Gas, uap, debu, kabut, asap, awan, cairan dan benda – benda padat.
  • Faktor biologi ( baik golongan hewan maupun tumbuh – tumbuhan )
  • Faktor fisiologis
    Konstruksi mesin ( sikap & cara kerja )
  • Faktor mental psikologis
    Susunan kerja, hubungan diantara pekerja dan pengusaha, pemelihara

 

  1. Langkah Penerapan Sistem Manajemen
    Tahap Persiapan
    Tahapan ini merupakan langkah awal yang harus dila perusahaan dan melibatkan seluruh lapisan manajem personel mulai dari komitmen sampai kebutuhan su yang dibutuhkan.
  2. Tahap Pengembangan dan Penerapan
    Tahapan ini Berisi langkah – langkah yang harus dilak organisasi atau perusahaan dengan melibatkan banyak pihak.

Manfaat Penerapan Sistem Manajemen

  • Perlindungan karyawan
  • Pekerja merupakan aset Perusahaan yang harus dipelihar keselamatannya.
  • Karyawan yang terjamin keselamatan dan kesehatannya a lebih optimal dibandingkan karyawan yang terancam K3-n
  • Memperlihatkan kepatuhan pada peraturan dan Undang – Undang
  • Mengurangi biaya
  • Membuat sistem manajemen yang efektif
  • Meningkatakan kepercayaan dan kepuasan pelanggan

 

Penyebab utama kecelakaan kerja adalah kurang pengendalia

Sumber kecelakaan dan ketidakselamatan dalam bekerja ada perorangan dan Faktor pekerjaan

Kurang Pengendalian dapat diminimasi dengan implementasi

 

Jenis Pekerjaan Yang Rawan Kecelakaan Kerja

kerugian akibat kecelakaan kerja

Kecelakaan kerja terjadi bukan karena keinginan pekerja itu sendiri, Namun kecelakaan kerja dapat di minimalkan atau dapat dihindari jika sudah memenuhi standar keselamatan kerja. Aturan keselamatan kerja pada pegawai sudah di atur dalam undang-undang kesehatan dan keselamatan kerja, hanya kita harus menjalankan dengan baik dan benar.

Banyak hal yang tak terduga dapat terjadi terkait kecelakaan kerja itu sendiri, pegawai dapat mengalami hal-hal yang tidak diinginkan akibat kecelakaan kerja. Oleh sebab itu, penting untuk kita memahami prosedur maupun standar kecelakaan kerja.

Di indonesia masih banyak perusahaan yang masih mengabaikan standar keselamatan kerja, pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja bagi pegawai sepertinya masih sedikit perusahaan yang memperhatikan hal ini.

Jenis-jenis pekerjaan yang sering terjadi kecelakaan kerja :

Pekerjaan Pabrik Kimia

Pekerjaan dalam pabrik kimia sangat rawan dengan terjadinya kecelakaan kerja. para pegawai setiap hari berinteraksi dengan benda ataupun zat kimia yang berbahaya dari pabrik kimia itu sendiri. medan kerja yang esktrim ini harus lebih di perhatikan agar tidak ada korban akibat kecelakaan kerja.

Pekerjaan Proyek Bangunan

Kecelakaan kerja pekerjaan proyek bangunan sering terjadi karena medan kerja yang sangat dekat dengan kondisi berbahaya, medan kerja yang ekstrim, interaksi dengan benda-benda keras berbahaya seperti batu, besi beton, truk pengangkut semen dan lain-lain. pekerjaan proyek ini selayaknya memenuhi standar keselamatan kerja, jika para pekerja tidak di bekali dengan alat pelindung diri akan sangat sering terjadinya kecelakaan kerja.

Pekerjaan Peleburan Besi

Pekerjaan dalam bidang peleburan besi ini juga sebuah kondisi yang sangat ekstrim, mengingat setiap hari para pekerja harus dihadapkan pada benda berat yaitu besi dan api. mereka para pekerja harus benar-benar di bekali alat pelindung diri untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

Pekerjaan Enginering atau Pekerjaan listrik

Pekerjaan listrik ini juga harus mendapatkan perhatian lebih oleh perusahaan. banyak para pegawai meninggal karena aliran listrik yang cukup besar dan pegawai tersebut sering sekali ditemukan ternyata tidak menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu safety, sarung tangan, jaket dan lain-lain. Hal ini menyebabkan para pekerja menjadi tidak aman dalam bekerja dilingkungan listrik.

Pekerjaan Kebun Kelapa Sawit

Pekerjaan perkebunan kelapa sawit ini cukup ekstrim, karena setiap hari para petani kelapa sawit berinteraksi dengan buah-buah kelapa sawit yang tajam berduri. selain itu medan kerja mereka cukup terjal. Biasanya kebun kelapa sawit berada jauh di tengah hutan yang cukup ekstrim.

Pekerjaan Batu Bara

Pekerjaan batu bara ini sudah jelas wajib menggunakan alat pelindung diri karena pekerjaan ini dalam bidang batu bara ini adalah pekerjaan yang paling esktrim dari pekerjaan-pekerjaan berbahaya lainnya. Perusahaan batu bara haruslah memenuhi kebutuhan para pekerjanya yaitu dengan membekali mereka dengan alat pelindung diri seperti helm, sarung tangan, safety shoes, jaket dan lain-lain.

Pekerjaan Oil dan Gas atau Pabrik Minyak

Pekerjaan yang selalu berinteraksi dengan minyak dan bahan-bahan yang berbaya ini sangat penting menggunakan alat pelindung diri. kondisi medan kerja yang ekstrim dan licin mewajibkan para pekerja menggunakan sepatu safety untuk menjaga kaki mereka dari hal-hal yang tak terduga seperti jatuh karena medan kerja yang licin.

Apakah di Indonesia ada Undang-Undang yang mengatur mengenai K3?

Kesadaran mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja sangat diperlukan, Resiko kecelakaan kerja dapat terjadi kapan saja.Undang-Undang No. 1/1970 dan No. 23/1992 mengatur mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Tentu tidak ada pekerja yang menginginkan terjadinya kecelakaan kerja, Namun resiko kecelakaan kerja dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Oleh sebab itu Keselamatan dan Kesehatan Kerja yg atau K3 adalah salah satu peraturan pemerintah yang menjamin keselamatan dan kesehatan kita dalam bekerja.

 Apa itu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)?

Keselamatan dan Kesehatan kerja merupakan sebuah situasi dalam pekerjaan yang sehat dan aman itu pekerjaan yang di jalani, perusahaan dan juga bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.

Keselamatan dan kesehatan kerja juga adalah suatu usaha untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidk diinginkan yang mengakibatkan kecelakaan kerja.

Apakah di Indonesia ada Undang-Undang yang mengatur mengenai K3?

Undang-Undang yang mengatur K3 adalah sebagai berikut :

  • Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Undang-Undang ini mengatur dengan jelas tentang kewajiban pimpinan tempat kerja dan pekerja dalam melaksanakan keselamatan kerja.

  • Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.

Undang- Undang ini menyatakan bahwa secara khusus perusahaan berkewajiban memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik pekerja yang baru maupun yang akan dipindahkan ke tempat kerja baru, sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan kepada pekerja, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Sebaliknya para pekerja juga berkewajiban memakai alat pelindung diri (APD) dengan tepat dan benar serta mematuhi semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan.  Undang-undang nomor 23 tahun 1992, pasal 23 Tentang Kesehatan Kerja juga menekankan pentingnya kesehatan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya hingga diperoleh produktifitas kerja yang optimal. Karena itu, kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja dan syarat kesehatan kerja.

  • Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang ini mengatur mengenai segala hal yang berhubungan dengan ketenagakerjaan mulai dari upah kerja, jam kerja, hak maternal, cuti sampi dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Sebagai penjabaran dan kelengkapan Undang-undang tersebut, Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) dan Keputusan Presiden terkait penyelenggaraan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), diantaranya adalah :

  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja Pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi
  • Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida
  • Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan
  • Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit Yang Timbul Akibat Hubungan Kerja