Bahaya di Area Kerja Tenaga Perawat dan Pencegahannya

Penyakit penyakit akibat kerja di rumah sakit

Bahaya di area kerja tenaga perawat:

Bahaya utama adalah penyakit menular, cedera otot dan tulang, gangguan tidur.

1.Penyakit menular

Tenaga perawat kemungkinan melakukan kontak yang berhubungan dengan cairan darah berkuman, cairan tubuh, busa, cairan mulut, cairan urine, kotoran manusia, muntahan dan lain-lain sehingga mendapat penularan. Media penularan yang sering terjadi adalah sebagai berikut :

Media penularan
Penularan melalui cairan darah
Penularan melalui udara atau busa
Penularan melalui kontak tubuh
Penularan melalui mulut
(berkontak dengan cairan urine
dan kotoran manusia)

Penyakit menular
Hepatitis B, hepatitis C, AIDS
Flu menular, TBC, SARS
Penyakit kulit biasa, radang infeksi kulit
Radang infeksi perut, hepatitis A

2. Sakit otot dan tulang

Tindakan memindahkan pasien, membalikkan dan menepuk-nepuk punggung pasien, latihan penyembuhan, dikarenakan sering mengeluarkan tenaga berlebihan, gerakan yang tidak benar atau berulang-ulang, mudah menyebabkan cedera di bagian otot dan tulang, apabila tenaga perawat berusia agak tua, maka akan menambah resiko dan tingkat keseriusan cedera di otot dan tulang.

3. Gangguan tidur

Tenaga perawat perlu waktu sepanjang malam atau waktu yang tidak tentu untuk menjaga pasien, sehingga mudah mengalami kondisi tidur pendek, tidur kurang lelap, kesulitan tidur.

Pencegahan bahaya:

Perilaku hidup sehat dan kebiasaan makan yang baik serta melakukan olah raga secara teratur, adalah resep tiada duanya bagi tubuh yang sehat, berikut ini adalah saran pencegahan penularan penyakit menular, cedera otot dan tulang, gangguan tidur.

1. Penularan penyakit menular

1) Rajin mencuci tangan

Dilakukan sebelum makan, setelah berkontak dengan pasien atau melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan cairan kotoran, cairan tubuh pasien, sebelum memakai sarung tangan, dan setelah melepas sarung tangan. Cara mencuci tangan adalah dengan menggunakan air mengalir dan sabun atau cairan pembersih kuman, cuci kedua tangan setidaknya dalam waktu 15-20 detik.

2) Memakai sarung tangan

Pada waktu ada kemungkinan berkontak dengan cairan darah, cairan tubuh, barang cairan dan kotoran, harus mengenakan sarung tangan anti air yang terbuat dari bahan karet, ethylene resin, atau asafetida dan sejenisnya. Pada waktu melepas sarung tangan, harus melalui pergelangan yang ditarik keluar, kemudian sarung tangan dibalikkan keseluruhan, kemudian dibuang, dan segera mencuci tangan. Perhatian: pemakaian sarung tangan tidak dapat menggantikan pentingnya mencuci tangan.

3) Mengenakan masker mulut, masker mata atau masker muka

Pada saat menghadapi kemungkinan adanya cairan tubuh yang beterbangan, seperti : pasien yang batuk atau bersin, harus mengenakan masker mulut atau masker muka dan lain-lain sebagai alat pelindung. Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai masker mulut :

  1. Masker mulut berbentuk datar walaupun memiliki hasil perlindungan, tetapi karena kurang melengkung dan tidak menempel rapat di wajah, hasilnya tidak sebanding dengan masker mulut berbentuk gelas.
  2. Masker mulut sebaiknya digunakan sekali pakai saja, apabila perlu dipakai berulangkali, harus diperhatikan penyimpanan di tempat yang bersih dan berudara lancar. Tetapi untuk kondisi berikut ini pemakaian tidak boleh dilanjutkan : ada kecurigaan pencemaran, berlubang, berubah bentuk, kotor, berbau, hambatan untuk bernafas bertambah dan lain-lain.
  3. Pada saat melepas masker mulut harus menghindari tercemarnya masker mulut,juga menghindari terkena pencemaran dari masker mulut. Sebelum dan sesudah melepas masker mulut, harus mencuci tangan secara bersih.
  4. Pada saat membuang masker mulut yang tercemar, harus menghindari tersebarnya kuman, dengan cara melipat masker ke arah dalam, diletakkan ke dalam kantong plastik yang ditutup rapat.

4) Memakai seragam kerja
Selama waktu kerja harus mengenakan seragam kerja serta rajin diganti dan dicuci. Selesai kerja, meninggalkan kamar pasien untuk istirahat, atau ke ruang makan untuk makan. Seragam kerja dan pakaian lainnya harus dicuci secara terpisah.

2.Pencegahan cedera otot dan tulang

1) Pada saat memindahkan barang, tubuh sebisa mungkin dekat dengan barang tersebut dan hindari gerakan membungkuk atau posisi membungkuk ke arah depan, sebaiknya berlutut atau kedua kaki direndahkan sehingga pusat beban berkurang untuk menghindari cedera di bagian pinggang. Pada saat memindahkan barang jangan hanya memutarkan pinggang, harus dengan satu kaki sebagai tumpuan, kaki yang lain bergerak dan memutarkan seluruh badan untuk menghindari cedera di lutut dan pinggang.

2) Pada saat merawat pasien apabila ada gerakan condong ke depan sebelum membungkuk, harus dengan satu tangan sebagai tumpuan badan untuk menghindari pinggang mendapat beban terlalu besar. Apabila perlu memindahkan pasien, harus dengan kedua kaki merendah sehingga pusat beban terkurang untuk menghindari terjadinya cedera di bagian pinggang.

3) Jagalah posisi duduk yang benar, bagian punggung sebaiknya menempel di punggung kursi, untuk menghindari tulang pinggang melengkung, dapat diganjal dengan barang tumpuan kecil atau bantal kecil, untuk mengurangi beban di tulang pinggang.

3. Saran untuk istirahat tidur

1) Pergunakan waktu istirahat siang, atau istirahat singkat untuk mensuplai waktu tidur.
2) Sebelum tidur lakukan gerakan peregangan, untuk membantu cepat tidur. Tetapi sebelum tidur tidak boleh melakukan olah raga berat.
3) Kegiatan sebelum tidur hendaknya diusahakan penuh kehangatan jangan membuat emosi terlalu tinggi.
4) Dalam hal makanan hendaknya normal, teratur, seimbang sebagai patokan, sebelum tidur hindari konsumsi makanan berlebihan, minum kopi, teh, nikotin dan makanan merangsang lainnya. Apabila lembur malam, makan malam boleh ditambah, tetapi sebelum selesai kerja harus menghindari produk penambah energi dan sebelum tidur jangan makan terlalu kenyang atau mengkonsumsi makanan berlemak tinggi..

4. Hal lain yang perlu diperhatikan

1) Merawat pasien dibatasi untuk satu pasien saja, batasan ruang gerak hanya di satu kamar pasien saja, tidak dibenarkan bergerak di berbagai bagian rumah sakit.
2)Boleh mendapat suntikan vaksinasi untuk memperkecil kemungkinan penularan, seperti vaksinasi untuk hepatitis B, TBC, flu dan lain-lain
3) Memahami perawatan pasien, atau kondisi penyakit menular pasien satu ruangan, untuk mengambil langkah perlindungan diri sendiri yang memadai.
4) Memelihara kebiasaan berolah raga teratur, mempergunakan waktu luang perawatan untuk mengerakkan seluruh otot dan tulang tubuh.
5) Secara aktif mengikuti program pendidikan dan pelatihan yang bersangkutan.
6) Setiap tahun melakukan pemeriksaan kesehatan berkala

Penyakit-penyakit Akibat Kerja di Rumah Sakit

Penyakit penyakit akibat kerja di rumah sakit

Penyakit penyakit akibat kerja di rumah sakit – Rumah Sakit adalah satu unit service layanan kesehatan pada penduduk. Agar bisa mendapatkan kelebihan serta daya saing maka rumah sakit harus mendapatkan perhatian khusus dalam peningkatan mutu layanannya dengan profesional pada customer, yaitu pasien yang dirawat atau rawat jalan.

Rumah sakit dalam kaca mata publik adalah unit service fungsional sebagai unit dalam service penyuluhan, mencegah serta perlakuan beberapa kasus segala jenis penyakit.

Penyakit karena kerja bisa menyerang semua tenaga kerja di dalam rumah sakit, baik tenaga medis ataupun non medis karena pajanan biologi, kimia serta fisik di lingkungan kerja rumah sakit tersebut. Rumah sakit adalah tempat berkumpulnya beberapa orang sakit ataupun sehat, atau anggota penduduk baik petugas ataupun pengunjung, pasien yang mendapatkan perawatan di dalam rumah sakit dengan beberapa jenis penyakit menyebar.

Perihal ini membuat rumah sakit adalah tempat kerja yang mempunyai kemungkinan pada masalah kesehatan serta kecelakaan kerja buat petugas. Beberapa jenis penyakit yang ada di lingkungan rumah sakit sangat mungkin rumah sakit jadi tempat penyebaran penyakit infeksi baik buat pasien, tenaga kerja ataupun pengunjung. Petugas di lingkungan rumah sakit begitu berdampak dengan kontak langsung pada agent penyakit menyebar lewat darah, sputum, jarum suntuk dan sebagainya.

Persepsi publik berasumsi jika rumah sakit adalah fasilitas kesehatan yang bersih serta sehat, hingga tenaga kerja yang berada di lingkungan rumah sakit tak kan terkena penyakit. Bila kita memandang jika rumah sakit adalah industri service kesehatan yang banyak didatangi penduduk setiap hari bahkan juga pada unit service spesifik yang memakai tenaga kerja shift tetap ada selama 24 jam, seharusnya usaha kesehatan serta keselamatan kerja di dalam rumah sakit bukan adalah hal yang tabu agar bisa diaplikasikan.

Dalam perihal ini sangat berguna bagi tenaga kerja yang berada di lingkungan rumah sakit menjadi usaha perlindungan dari kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja. Pengendalian Sumber Daya Manusia (SDM) di dalam rumah sakit harus bisa jadi perhatian khusus supaya tenaga kerja dapat melakukan peranan serta fungsinya dengan baik. Perihal ini sama dengan paradigma sdm menjadi human capital di dalam rumah sakit.

Perihal ini ikut jadi begitu kompleks sebab terdapatnya pembagian pekerjaan beragam macam profesi yang kerja di lingkungan rumah sakit, serta masing-masing profesi akan mempunyai etika serta budaya kerja yang berbeda-beda. Keadaan seperti ini yang membuat manajemen SDM di lingkungan rumah sakit penuh rintangan.

Oleh karenanya bila tenaga kerja di lingkungan rumah sakit terkapar dengan penyakit karena kerja, jadi beberapa hal yang akan terganggu dalam efektif serta manfaat tenaga kerja di dalam rumah sakit. Sama dengan referensi ILO dalam kewajiban tiap-tiap masyarakat negara agar bisa melakukan serta mengevaluasi kebijaksanaan nasional dalam aplikasi kesehatan serta keselamatan kerja di lingkungan kerja, mengingat rumah sakit adalah fasilitas kesehatan yang mempunyai banyak tenaga kerja baik medis ataupun non medis yang berefek alami kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja.

Tenaga kerja dalam UU No. 14 memiliki hak mendapatkan perlindungan atas kesehatan, keselamatan, kesusilaan, pemeliharaan moril kerja dan perlakuan yang sama dengan martabat manusia serta kepribadian agama. Dalam perihal ini memerlukan usaha perlindungan kesehatan serta keselamatan kerja buat petugas di lingkungan rumah sakit.

Pemicu Penyakit Karena Kerja

Penyakit karena kerja adalah seuatu kendala pada tingkat keamanan dalam kerja, dalam perihal ini memerlukan usaha pencegahan, baik untuk keselamatan ataupun kesehatan beberapa pekerja yang berada di lingkungan rumah sakit. Penyakit karena kerja atau terkait dengan pekerjaan bisa dikarenakan oleh pemajanan di lingkungan kerja dengan terus menerus setiap hari.

Untuk menghadapi perihal ini, maka langkah awal yang terpenting ialah pengenalan/identifikasi bahaya yang dapat muncul serta dievaluasi, lalu dikerjakan usaha pengendalian lewat cara melihat serta mengenal (walk through inspections).

Dalam lingkungan kerja seseorang bisa terganggu kesehatannya, serta gangguan kesehatan karena lingkungn kerja ini cukuplah banyak berlangsung. Penyakit karena kerja diantaranya berlangsung disebabkan karena situasi keadaan kerja seperti udara dingin, panas, bising, bahan kimia, debu dan sebagainya.

Gangguan kesehatan pada pekerja bisa juga dipicu oleh aspek yang terkait dengan pekerjaan ataupun aspek yang tidak terkait dengan pekerjaan. Dengan begitu bisa dikatakan jika status kesehatan penduduk pekerja di pengaruhi bukan hanya oleh bahaya di lingkungan kerja tapi ikut oleh aspek kesehatan pekerja yang akan punya pengaruh pada perilaku pekerja yang tidak konsentrasi.

Di bawah ini adalah contoh penyakit karena kerja yang disebut pemicu dari lingkungan kerja:

A. Aspek fisik

– Suara tinggi yang bising melalui ambang batas normal bisa mengakibatkan ketulian

– Tempratur tinggi bisa mengakibatkan hyperpireksi, heat cramp, heatstres.

– Radiasi sinar elektromagnetik, radioaktif bisa mengakibatkan katarak, tumor dan sebagainya.

– Desakan udara yang tinggi bisa mengakibatkan coison disease

– Getaran bisa mengakibatkan gangguan proses metabolism polineurutis, masalah syaraf.

– Penerangan yang kurang bisa mengakibatkan kerusakan pandangan.

B. Aspek Kimia

– Beberapa bahan kimia yang masuk lewat aliran pernapasan yang bisa membuat resikonya alergi, iritasi, korosif, asphyxia.

– Debu yang bisa menyebabkan pneumoconioses dan sebagainya

– Uap serta gas beracun yang bisa mengakibatkan keracunan

C. Aspek Biologis

– Seperti bakteri, viral diseases, parasitic diseases dan sebagainya

D. Aspek Ergonomi

– Tempat kerja, alat kerja yang tidak ergonomis, langkah kerja yang salah, konstruksi yang salah hingga bisa mempunyai dampak kelelahan pada tubuh.

– Angkat beban yang berat

– Tempat statis

– Tempat membungkuk yang tidak ergonomis

E. Aspek Mental Psikologis

– Jalinan kerja, organisasi kerja, komunikasi social

– Beban kerja mental keadaan penyakita pasien.

– Kerja shift

Penyakit karena kerja serta kecelakaan kerja dikalangan petugas kesehatan serta non kesehatan di lingkungan rumah sakit belumlah terselesaikan dengan baik, hingga berlangsung kecenderungan penambahan prevalensi. Dalam perihal ini perlu mendapatkan perhatian, sebab seseorang yang bekerja bila mengalami kecelakaan atau penyakit karena kerja tidak hanya punya pengaruh pada diri sendiri, tapi ikut produktifitas kerja mengalami penurunan dalam pemberian service kesehatan yang optimal pada pasien.

Kemungkinan petugas rumah sakit pada gangguan kesehatan serta kecelakaan kerja biasanya dikarenakan oleh perilaku petugas dalam kepatuhan melakukan tiap-tiap mekanisme pada kewaspadaan. Lihat hal diatas tentu saja kita perlu mengerti jika dalam cakupan pekerjaan di bagian kesehatan memiliki banyak resiko pada kesehatan pekerja. Tenaga kerja (tenaga medis serta non medis) yang berefek pada penyakit karena kerja di dalam rumah sakit diantaranya:

  1. Perawat yang setiap hari kontak dengan pasien dalam tempo yang lumayan lama 6 sampai 8 jam /hari, hingga tetap terpajan pada mikroorganisme pathogen bisa membawa infeksi dari satu pasien ke pasien yang lainnya. Hasil riset menunjukkan jika tenaga kerja perawat banyak diketemukan cedera sprain serta strain, nyeri pinggang, adalah keluhan paling banyak yang diketemukan pekerja perawat di dalam rumah sakit. Luka sayat serta tusukan jarum yang tidak sesuai mekanisme penggunaannya atau saat pencucian instrument tajam yang beresiko tersayat.
  2. Dokter bisa tertular penyakit dari pasien, terkena bahan kimia anesthesi halotan yang gampang menguap merembes menembus masker hingga mengakibatkan masalah somatic, nyeri kepala, mual sampai masalah fungsi saraf pusat. Robeknya sarung tangan bisa mengakibatkan cedera sayatan serta tusukan jarum.
  3. Dokter gigi, tingginya kandungan HBsAg serta anti HBC beberapa dokter gigi disbanding dengan petugas kesehatan lainnya, perihal ini diduga menjadi pajanan air ludah pasien, penyakit infeksi karena kerja, pajanan dosis rendah seperti merkuri, pajanan bahan penambal lubang gigi yang berkepanjagan bisa mengakibatkan masalah gastrointestinal, lesu, anorexia. Nyeri punggung juga seringkali dihadapi oleh karena tempat kerja yang tidak ergonomis.
  4. Petugas Gizi, menjadi penyaji diet atau makanan pasien, dalam perihal ini petugas gizi biasanya terpajan salmonella berbahan mentah ikan, daging serta sayuran yang setiap hari terkena hingga berefek terjadi masalah gastrointestinal.
  5. Petugas Farmasi yan melayani pembelian serta penyediaan obat-obat pasien semua penyakit, yang setiap hari akan menghirup beberapa bahan kimia semua jenis obat-obatan yang merembes serta menembus masker, perihal ini bisa mengakibatkan kemungkinan keracunan.
  6. Petugas Laboratorium yang setiap hari lakukan pemeriksaan darah, urin, sputum, feses pasien dengan semua jenis penyakit hingga akan berdampak terpajan bakteri ataupun virus yang berasal dari bahan objek kontrol.
  7. Petugas Radiologi, radiasi adalah pajanan yang sangatlah beresiko bagi gangguan kesehatan pekerja, dalam perihal ini memerlukan petugas yang lebih bertanggungjawab dalam usaha pengendaliannya.
  8. Petugas londri rumah sakit yang setiap hari terpajan dengan bahan linen yang berasal dari bekas pakai pasien dengan semua jenis penyakit menyebar, perihal ini bisa mengakibatkan penyebaran bakteri ataupun virus yang berasal dari linen kotor. Bakteri serta virus menebar saat petugas londri melakukan seleksi jenis linen, hingga sangatlah berdampak pada penyakit gangguan pernapasan.
  9. Petugas rumah tangga di lingkungan rumah sakit yang setiap hari bersihkan lantai semua sisi tempat rawat inap pasien semua penyakit menyebar, yang terkena dengan bakteri ataupun virus, hingga bisa menyebabkan virus serta bakteri berterbangan serta terhirup petugas, perihal ini bisa menyebabkan penyakit masalah sistem pernapasan serta infeksi lainnya.

Usaha Pencegahan serta Pengendalian

Supaya tenaga kerja di lingkungan rumah sakit masih efektif serta produktif dalam melakukan pekerjaan serta tanggung jawabnya dan tidak mengalami penyakit karena kerja jadi tindakan untuk menghadapi hal itu memerlukan penerapan manajemen kesehatan serta keselamatan kerja di dalam rumah sakit,

Manajemen kesehatan serta keselamatan kerja rumah sakit menyertakan semua unsur manajemen, karyawan serta lingkungan kerja yang terintegrasi menjadi usaha pencegahan serta kurangi kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja di lingkungan rumah sakit yang mempunyai tujuan ialah membuat tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran paparan lingkungan kerja, yang selanjutnya bisa meningkatkan efesiensi serta produktifitas kerja.

Langkah awal yang peting ialah usaha pengendalian di lingkungan kerja rumah sakit diantaranya kesehatan kerja buat karyawan, sanitasi lingkungan rumah sakit, pengamanan pasien, pengunjung ataupun petugas rumah sakit dan sebagainya. Upaya-upaya yang bisa dikerjakan untuk kurangi serta mnghindarkan kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja ialah seperti berikut:

  1. Lakukan substitusi pengenalan lingkungan kerja lewat cara lihat serta menganal potensial bahaya lingkungan kerja. Mengganti perlengkapan kerja yang tidak wajar gunakan.
  2. Pelajari lingkungan kerja dalam perihal ini menilai karakter serta besarnya potensi-potensi bahaya yang mungkin muncul hingga dengan mudah bisa mengutamakan dalam menangani permasalahan yang lebih potensial.
  3. Pengendalian lingkungan kerja dengan bertindak mengurangi bahkan juga menghilangkan pajanan pada masalah kesehatan pekerja dilingkungan kerja lewat cara teknologi pengendalian.
  4. Pengendalian administratif dengan memperingatkan pekerja agar bisa memakai alat pelindung diri yang benar dan baik, membuat rambu-rambu bahaya dilingkungan kerja yang punya potensi bahaya.
  5. Kontrol kesehatan pekerja dengan berkala untuk mencari aspek pemicu serta upaya penyembuhan.
  6. Pendidikan serta penyuluhan kesehatan serta keselamatan kerja buat pekerja di lingkungan rumah sakit.
  7. Pengendalian fisik lingkungan kerja, mengidentifikasi suhu, kelembapan, pencahayaan, getaran, kebisingan, pengendalian sistem ventilasi dan sebagainya.
  8. Lakukan pengawasan serta monitoring dengan berkala pada lingkungan kerja rumah sakit.
  9. Substitusi berbahan kimia, alat kerja serta mekanisme kerja.