Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pengertian sehat digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan pekerjaannya, sementara itu pencegahan kecelakaan kerja sangatlah perlu, yang mana merupakan menyangkut semua masalah dan perilaku manusia.

Keselamatan kerja dalam istilah-istilah sehari-hari sering disebut safety, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Untuk meyakinkan penerapan K3 pada perusahaan maka pemerintah mensyaratkan setiap perusahaan yang mempekerjakan 100 orang karyawan atau lebih atau sifat proses atau bahan produksinya mengandung bahaya karena dapat menybabkan kecelakaan kerja berupa ledakan, kebakaran, pencemaran, dan penyakit akibat kerja, diwajibkan menerapkan dan melaksanakan sistem manajemen K3. Perusahaan perlu berpartisipasi aktif dalam masalah K3 dengan menyediakan rencana yang baik, yang dikenal dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

Menciptakan tenaga kerja yang produktif, sehat dan berkualitas membutuhkan suatu Sistem Manajemen yang khusus mengatur mengenai K3. Hal ini bertujuan :

1. Sebagai alat untuk mencapai derajad kesehatan tenaga kerja yang setinggitingginya, baik buruh, petani, nelayan, pegawai negeri, atau pekerjapekerja bebas.
2. Sebagai upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit dan kecelakaankecelakaan akibat kerja, pemeliharaan, dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja, perawatan dan mempertinggi efisiensi dan daya produktivitas
tenaga manusia dan penglipat ganda kegairahan serta kenikmatan kerja.

Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengkajian, tanggung jawab, prosedur, proses, dan sumber daya yang dibutuhkan dalam pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisiensi dan produktif.

Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terdiri dari beberapa subsistem, yaitu penetapan kebijakan, subsistem perencanaan K3, subsistem pelaksanaan K3, subsistem pengukuran dan evaluasi, serta subsistem peninjauan ulang dan perbaikan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja oleh manajemen.

Manajemen memiliki kewenangan dalam mengontrol setiap aktivitas kerja. Namun seringkali aktivitas tersebut tidak terkontrol dengan baik. Hal ini disebabkan oleh:

1. Manajemen K3 yang kurang terencana dengan baik
2. Kurang cepat atau kurang mendalamnya standar perencanaan
3. Pelaksanaan standar yang tidak tepat

Perencanaan manajemen K3 meliputi:
1. Kepemimpinan dan administrasinya
2. Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terpadu
3. Pengawasan
4. Analisis pekerjaan dan procedural
5. Penelitian dan analisis pekerjaan
6. Latihan bagi tenaga kerja
7. Penyediaan alat pelindung diri (APD)
8. Peningkatan kesadaran terhadap keselamatan dan kesehatan kerja
9. Sistem pemeriksaan dan pendataan

Penerapan sistem manajemen keselataman dan kesehatan kerja dalam Bab III pada pasal 4 Permenaker No. PER05/MEN/1996 maka perusahaan wajib melaksanakan lima prinsip dasar system manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja yaitu:

1. Menetapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan SMK3
2. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan K3
3. Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan mengembangkan kemampuan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan, dan sasaran K3
4. Mengukur secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja K3
5. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja K3

Pejelasan yang lebih terinci mengenai lima prinsip dasar SMK3 adalah sebagai berikut:

1. Komitmen dan Kebijakan
Perusahaan perlu mendefinisikan kebijakan K3 serta menjamin komitmennya terhadap SMK3, yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah:
a. Kepemimpinan dan komitmen
Komitmen sangatlah penting dalam penerapan SMK3 di tempat kerja dari seluruh pihak yang ada di tempat kerja, terutama dari pihak pengurus dan tenaga kerja dan peran serta pihak-pihak lain dalam penerapan ini. Wujud komitmen dalam bentuk:

– Membentuk organisasi-organisasi tempat kerja untuk mendukung terciptanya SMK3
– Menyediakan anggaran dan personil
– Melakukan perencanaan K3
– Melakukan penilaian atas kinerja K3

b. Tinjauan awal K3
Tempat kerja harus melakukan peninjauan awal K3 dengan cara
– Mengidentifikasi kondisi yang ada
– Mengidentifikasi sumber bahaya
– Menetapkan pemenuhan pengetahuan dan peraturan perundangan
– Membandingkan pemenuhan penerapan K3 dengan perusahaan dan sektor lain yang baik
– Meninjau sebab akibat dari kejadian yang membahayakan
– Menilai efisiensi dan efektifitas sumber daya

c. Kebijakan K3
Kebijakan K3 dari suatu organisasi merupakan pernyataan yang disebarluaskan kepada umum dan ditandatangai oleh manajemen senior sabagai bukti pernyataan komitmennya dan kehendaknya untuk bertanggung jawab tehadap K3

2. Perencanaan
Perencanaan yang dibuat oleh perusahaan harus efektif dengan memenuhi kebijakan, target dan sasaran K3. Perencanaan tersebut meliputi perencanaan manajemen risiko, pemenuhan dan penyebarluasan peraturan perundangan dan persyaratan lainnya, menetapkan tjuan dan sasaran k3, dan menggunakan indicator kinerja sebagai penilaian kinerja K3. Kegiatan lainnya adalaha menetapkan system pertanggungjawaban dan sasaran untuk pencapaian kebijakan K3, meningkatkan motivasi dan kesadaran semua pihak tentang SMK3, mengadakan pelatihan untuk terus menunjang sistem manajemen yang diterapkan perusahaan.

3. Penerapan dan Operasi
Manajemen harus menyediakan sumber daya yang penting untuk penerapan, pengendalian dan peningkatan sistem manajemen. Pada penerapan dan operasi meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Struktur dan tanggung jawab
Peranan, tanggung jawab dan kewenangan personil, yang mengatur, melaksanakan dan memeriksa aktivitas yang mempunyai dampak resiko-resiko K3 dalam aktivitas organisasi, fasilitas dan proses harus ditentukan, didokumentasikan dan dikominukasikan untuk pelaksanaan manajemen. Tanggung jawab tertinggi dalam keselamatan dan kesehatan kerja berada pada manajemen puncak. Organisasi harus menunjuk seorang anggota dewan direksi dengan tanggung jawab untuk menerapkan dan melaksanakan persyaratan dengan benar di lokasi dan tempat kegiatan di dalam organisasi.

Anggota manajemen yang ditunjuk harus mempunyai peran dan tanggung jawab:

– Menjamin persyaratan SMK3 dibuat, diterapkan dan dipelihara sesuai dengan persyaratan
– Melaporkan kinerja SMK3 kepada manajemen untuk dikaji dan sebagai dasar peningkatan SMK3

b. Pelatihan, kepedulian dan kompetensi
Personil harus kompeten untuk melakukan tugas-tugas yang mempunyai dampak K3 dalam pekerjaan. Kompetensi harus ditentukan sesuai atas dasar pendidikan, pelatihan, dan pengalaman. Perusahaan harus membuat dan memelihara prosedur untuk memastikan semua karyawan dari setiap fungsi dan tingkat peduli kepada:
– Pentingnya kesesuaian dengan kebijakan dan prosedur K3
– Konsekuensi K3, yang berpotensi dari kegiatan kinerjanya serta manfaat K3 dari kinerja perorangan
– Peranan dan tanggung jawabnya dalam mencapai kesesuaian dengan kebijakan dan prosedur K3 dengan persyaratan SMK3 termasuk persyaratan kesiagaan dan tanggap darurat
– Konsekuensi potensial dari penyimpangan terhadap prosedur operasi ditentukan.

c. Konsultasi dan komunikasi
Perusahaan harus membuat dan memelihara prosedur untuk memastikan informasi K3 yang sesuai  dikomunikasikan dari karyawandan kepada pihak-pihak terkait lainnya. Pengaturan informasi mengenai keterlibatan dan konsultasi harus didokumentasikan dan diberikan kepada pihak-pihak terkait. Untuk itu karyawan harus:
– Terlibat dalam pengembangan dan tujuan kebijakan dan prosedur untuk pengendalian risiko
– Dikonsultasikan apabila ada perubahan berdampak pada K3
– Menjadi wakil dalam hal K3
– Diinformasikan kepada wakil K3 dan wakil manajemen yang dipilih

d. Dokumentasi
Perusahaan harus membuat dan memelihara informasi dalam media cetak maupun elektronik untuk menerangkan inti manajemen dan interaksinya dan memberikan petunjuk dokumentasi yang terkait

e. Pengendalian dokumen dan data
Perusahaan harus membuat dan memelihara prosedur untuk menegndalikan semua dokumen yang disyaratkan oleh peraturan untuk menjamin bahwa:
– Dokumen dapat ditempatkan pada lokasi yang sudah ditentukan
– Dokumen secara berkala ditinjau, dirubah apabila diperlukan dan disetuji kecekupannya oleh personil yang diberi wewenang
– Dokumen mutakhir yang relevan tersedia di seluruh lokasi operasi yang penting bagi berfungsinya SMK3 secara efektif
– Dokumen kadaluarsa segera dimusnahkan dari semua penerbitan dan penggunaan
– Setiap dokumen kadaluarsa yang disimpan untuk keperluan perundang-undangan atau untuk keperluan pemeliharaan pengetahuan diidentifikasi secara tepat

f. Pengendalian operasional
Perusahaan harus mengidentifikasi kegiatan yang berkaitan dengan identifikasi risiko, dimana kendali pengukuran perlu dilakukan. Perusahaan harus merencanakan kegoatan ini termasuk pemeliharaanya untuk menjamin bahwa kegiatan ini dilaksanakan pada kondisi tertentu yaitu dengan:
– Membuat dan memelihara prosedur yang terdokumentasi untuk mengatasi situasi ketiadaan prosedur yang dapat menyababkan penyimpangan dari kebijakan dan tujuan K3
– Menetapkan criteria operasi di dalam prosedur
– Membuat dan memlihara prosedur yang berkaitan dengan identifikasi risiko K3 dari barang, peralaatn, dan jasa yang dibeli oleh perusahaan dan mengkomunikasikan prosedur persyartan yang relevan kepada pemasok dan kontraktor
– Membuat dan memelihara prosedur untuk mendesain tempat kerja, proses, instalasi, mesin, prosedur operasi dan organisasi kerja termasuk adaptasinya terhadap kemampuan manusia untuk menghilangkan atau mengurangi risiko K3

g. Kesiagaan dan tanggap darurat
Perusahaan harus membuat dan memelihara rencana dan prosedur untuk mengidentifikasi adanya potensi dan tanggap kepada insiden dan situasi darurat serta mencegah dan mengurangi terjadinya sakit dan luka yang mungkin berkaiatan dengannya. Perusahaan harus meninjau prosedur kesiagaan dan tanggap darurat khususnya sesudah terjadi kecelakaan atau situasi darurat.

4. Pengukuran dan Evaluasi
Perusahaan perlu mengukur, memantau, dan mengevaluasi kinerja K3 serta melakukan tindakan prefentif dan korektif. Pemgukuran dan evaluasi ini merupakan alat yang berguna untuk mengetahui keberhasilan penerapan SMK3, melakukan identifikasi untuk tindakan perbaikan dan mengukur, memantau, dan mengevaluasi kinerja SMK3.

Ada 3 kegiatan dalam melakukan pegukuran dan evaluasi yaitu:
a. Inspeksi dan pengujian
Harus ditetapkan dan dijaga konsistensinya dari prosedur inspeksi, pengujian, dan pemantauan yang berkaiatan dengan kebijkana K3. Prosedur inspeksi, pengujian dan pemantauan meliputi:
– Personil harus kompeten
– Mencatat inspeksi, pengujian dan pemantauan yang sedang berlangsung
– Peralatan dan metode yang memadai untuk menjamin dipenuhinya standar K3
– Tindakan perbaikan yang harus segera dilakukan
– Penyelidikan insiden
– Menganalisis dan meninjau ulang dari hari temuan

b. Audit SMK3
Audit adalah pemeriksaan secara sistematik dan independen untuk menentukan suatu kegiatan dan hasil-hasil yang berkaiatan sesuai dengan pengaturan yang direncanakan dan dilaksanakan secra efektif dan cocok untuk mencapai kebijakan dan tujuan perusahaan.

c. Tindakan perbaikan dan pencegahan
Temuan, kesimpulan dan saran-saran yang dicapai dari hasil pemantauan, audit dan tinjauan tentang SMK3 perlu didokumentasikan serta tindakan perbaikan dan pencegahan perlu diterapkan. Manajemen harus menjamin bahwa tindakan perbaiakan dan pencegahan tersebut telah dilaksanakan dan juga terdapat suatu tindak lanjut secara
sistematis untuk menjamin efektivitasnya.

5. Tinjauan ulang dan peningkatan oleh pihak manajemen
Perusahaan perlu secara rutin meninjau ulang dan terus menerus menerapkan SMK3 dengan tujuan meningkatkan K3 secara keseluruhan. Tinjauan ulang SMK3 mencakup:

a. Evaluasi terhadap penerpan kebijakan K3
b. Tinjauan ualng terhadap tujuan, sasarn, dan kinerja K3
c. Hasil temuan audit SMK3
d. Evaluasi efektivitas penerapan SMK3 dan kebutuhan untuk mengubah SMK3 sesuai dengan:

– Perubahan perundangan
– Perubahan harapn dan tuntutan dari pihak yang berkepentingan
– Perubahan dalam produk atau kegiatan perusahaan
– Perubahan dalam struktur perusahaan
– Kemajuan dalam ilmu teknologi
– Pengalaman yang didapat dari insiden K3
– Umpan balik
– Tuntutan pasar
– Pelaporan dan komunikasi

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

sistem keselamatan dan kesehatan kerja

Pekerjaan-pekerjaan teknik bangunan banyak berhubungan dengan alat,baik yang sederhana sampai yang rumit, dari yang ringan sampai alat-alat berat sekalipun. Sejak revolusi industri sampai sekarang,pemakaian alat-alat bermesin sangat banyak digunakan.

Pada setiap kegiatan kerja, selalu saja ada kemungkinan kecelakaan. Kecelakaan selalu dapat terjadi karena berbagai sebab.berperan sangat penting dalam pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja karena adanya fasilitas yang maka pelaksanaan aktivitas pekerjaan berjalan dengan baik,begitu pula sebaliknya.

Yang dimaksudkan dengan kecelakaan adalah kejadian yang merugikan yang tidak terduga dan tidak diharapkan dan tidak ada unsur kesengajaan. Kecelakaan kerja dimaksudkan sebagai kecelakaan yang terjadi ditempat kerja,yang diderita oleh pekerja dan atau alat-alat kerja dalam suatu hubungan kerja.

Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh dua golongan penyebab :

1. Tindakan perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan ( unsafe human acts).
2. Keadaan-keadaan lingkungan yang tidak aman ( unsafe condition ).
Walaupun manusia telah berhati-hati,namun apabila lingkungannya tidak menunjang ( tidak aman ), maka kecelakaan dapat pula terjadi. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itulah diperlukan pedoman bagaimana bekerja yang memenuhi prinsip-prinsip keselamatan.

Keselamatan kerja
Keselamata kerja adalah usaha-usaha yang bertujuan untuk menjamin keadaan,keutuhan dan kesempurnaan tenaga kerja (baik jasmaniah maupun rohaniah), beserta hasil karya dan alat-alat kerjanya ditempat kerja. Usaha-usaha tersebut harus dilaksanakan oleh semua unsur yang terlibat dalam proses kerja, yaitu pekerja itu sendiri, pengawas/kepala kelompok kerja,perusahaan,pemerintah,dan msayarakat pada umumnya. Tanpa ada kerja sama yang baik dari semua unsur tersebut tujuan keselamatan kerja tidak mungkin dapat dicapai secara maksimal.

Adapun sasaran keselamatan keerja secara terinci adalah :

1. Mencegah terjadinya kecelakaan ditempat kerja.
2. Mencegah timbulnya penyakit akibat kerja.
3. Mencegah/mengurangi kematian akibat kerja
4. Mencegah atau mengurangi cacat tetap
5. Mengamankan material,konstruksi,pemakaian,pemeliharaan bangunan-bangunan,alat-alat kerja,mesin-mesin,dan instalasi-instalasi.
6. Meningkatkan produktivitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan menjamin kehidupan produktifnya.
7. Menjamin tempat kerja yang sehat,bersih,nyaman,dan aman sehingga dapat menimbulkan kegembiraan semangat kerja.
8. Memperlancar,meningkatkan dan mengamankan produksi,industri serta pembangunan.Kesemuanya itu menuju pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan umat manusia ( Bambang Endroyo 1989 ).