Jenis-jenis Kecelakaan Kerja dan Cara Pencegahannya

Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kecelakaan kerja menurut Suma’mur dalam Dauly (2010) adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan dimana dalam peristiwa tersebut tidak terdapat unsur kesengajaan, terlebih lagi dalam bentuk perencanaan.Sedangkan menurutAlrasyid (2011), kecelakaan akibat kerja adalah suatu peristiwa yang tidak terduga, tidak terencana dan menimbulkan kerugian baik jiwa maupun hartayang disebabkan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan yaituketika pulang dan pergi ke tempat kerja melalui rute yang biasa dilewati.

Jenis-Jenis Kecelakaan Kerja

Jenis-jenis kecelakaan kerja dapat digolongkan dalam lima kelompok besar, yaitu (Dinas PU, 2007):

a. Kecelakaan karena alat pengangkutan dan lalu lintas
Kecelakaan ini pada umumnya disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
1) Penempatan alat dan material yang tidak teratur, kurang baik dan tidak pada tempatnya.
2) Kurangnya disiplin pekerja pengangkutan.
3) Kurangnya keahlian pekerja pengangkutan.
4) Kurangnya pengamanan dalam pengangkutan dan lalulintas.
5) Kesalahan cara pengangkutan material/barang.
6) Kelebihan beban/muatan dalam pengangkutan.
7) Kurang lengkapnya rambu dantanda lalu lintas serta pengaman lainnya.

b. Kecelakaan karena kejatuhan benda Penyebab kecelakaan ini adalah sebagai berikut :
1) Kesalahan dalam membuang benda dari tempat yang tinggi.
2) Penyimpanan/peletakan benda atau peralatan yang tidak pada tempatnya
3) Memasang material/peralatan yang kurang baik dan tidak pada tempatnya.
4) Tidak adanya pengamanan terhadap benda/peralatan yang jatuh.
5) Kesalahan dalam mengangkat material/peralatan ke tempat yang tinggi.
6) Mengangkat material/peralatan dengan muatan berlebihan.
7) Pekerja tidak mengenakan topi pelindung/safety helmet.

c. Kecelakaan karena tergelincir, terpukul, terkena benda tajam/ keras.
Kecelakaan karena tergelincir, terpukul, terkena benda tajam/kerasumumnya sering
terjadi. Kecelakaan ini disebabkankarena :
1) Pada umumnya kecelakaan tergelincir dan terpeleset disebabkan oleh jalan yang licin
dan gelap, berdiri tidak pada tempatnya atau cara kerja yang salah.
2) Kecelakaan kerja karena terpukul disebabkan oleh cara kerja yang salah atau lalai.

d. Kecelakaan karena jatuh dari ketinggian
Kecelakaan ini bisa berakibat fatal, seperti cacat berat maupun meninggal dunia.Oleh karena itu pengawas dan pekerja harus waspada, teliti dan hati-hati padapekerjaan dengan potensi jatuh dari tempat tinggi. Kecelakaan terjatuh dari tempat tinggi dapat terjadi pada pekerja untuk pekerjaan sebagai berikut :

1) Pekerjaan atap, plafon dan akustik.
2) Pekerjaan dinding dan kulit luar dengan menggunakan scaffolding atau gondola.
3) Pekerjaan instalasi listrik, telepon, data, AC dan plumbing.
e. Kecelakaan karena aliran listrik, kebakaran dan ledakan. Kecelakaan ini juga bisa berakibat fatal yang dapat menyebabkan kematian. Kecelakaan ini dapat terjadi pada pekerja karena :
1) Kecelakaan karena aliran listrik terjadi karena adanya kabel listrik yang rusak dan mengenai anggota tubuh pekerja.
2) Kecelakaan karena aliran listrik terjadi karena adanya kelalaian pekerja, tidak mengamankan aliran listrik.
3) Kecelakaan karena kebakaran terjadi karena kepanikan dan tidak berfungsinya peralatan pendeteksian awal terhadap api atau asap dan tidak berfungsinya peralatan pemadam kebakaran seperti sprinkler, APAR atau hydrant.
4) Kecelakaan karena ledakan terjadi karena kurang pengamanan terhadap bahan/material/peralatan yang mudah dan dapat meledak.

Pencegahan Kecelakaan Kerja

Pencegahan kecelakaan kerja yang disebabkan oleh faktor peralatan dan lingkungan kerja dapat dilakukan dengan membuat prosedur kerja standar K3 dan prosedur kerja standar teknis. Pencegahan terhadap kecelakaan kerja pada uraian di atas, dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut (Dinas PU, 2007) :

a. Pencegahan Kecelakaan karena alat pengangkutan dan lalu lintas
Pengaturan lalu lintas kendaraan, orang, barang dan peralatan harus mendapat perhatian dan pengawasan secara teratur.Penempatan barang, material dan peralatan di dalam gedung harus diatur sedemikian rupa, sehingga tidak mengganggu dan membahayakan pekerja dan penghuni pada saat pengangkutan dan pemindahannya. Ketentuan dan persyaratan pengangkutan dan pemindahan barang, material dan peralatan antara lain sebagai berikut:

1) Alat harus dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan.
2) Data dan informasi alat harus lengkap.
3) Perlengkapan tambahan harus ada dan berfungsi dengan baik.
4) Prosedur dan cara penggunaan alat harus benar.
5) Penempatan alat dan material harus baik dan teratur.
6) Disiplin dan keahlian pekerja harus tinggi.
7) Pengamanan dalam pengangkutan dan lalulintas harus baik.
8) Cara pengangkutan material/barang harus benar.
9) Beban/muatan tidak melebihi kapasitas alat pengangkutan.
10) Tanda lalu lintas dan pengaman lainnya harus lengkap.

b. Pencegahan Kecelakaan karena kejatuhan benda Pencegahan kecelakaan yang disebabkan oleh benda-benda jatuh dan bagian bangunan yang rubuh antara lain sebagai berikut :
1) Perlu dipasang jaring atau jala pengaman di area bawah.
2) Harus dipasang tanda “Hati-hati, ada pekerjaan di atas”.
3) Dilarang membuang benda yang tidak terpakai ke bawah.
4) Penyimpanan/peletakan benda atau peralatan harus pada tempatnya.
5) Pemasangan material/peralatan harus baik dan pada tempatnya.
6) Cara mengangkat material/peralatan ke atas harus benar.
7) Mengangkat material/peralatan tidak melebihi batas muatan.
8) Pekerja harus mengenakan topi pelindung/safety helemt.

c. Kecelakaan karena tergelincir, terpukul, terkena benda tajam/ keras
Pencegahan kecelakaan ini antara lain sebagai berikut :

1) Jalan kerja dan tempat injakan kaki harus tetap bersih, cukup terang dan tidak licin.
2) Cara kerja harus dalam posisi dan sikap yang benar.
3) Pekerja harus tetap hati-hati, teliti dan disiplin.
4) Jangan menggunakan alat kerja sembarangan dan bukan semestinya.

d. Pencegahan kecelakaan karena jatuh dari ketinggian
Pencegahan kecelakaan ini antara lain sebagai berikut :
1) Pastikan scaffolding atau gondola layak pakai dan beban tidak melebihi kapasitas.
2) Injakan kaki harus kuat, bersih dan berlapis serta cukup lebar untuk posisi pekerja.
3) Pekerja harus menggunakan semua alat pengaman dan penyelamatan antara lain safety belt, safety rope and safety helmet.

e. Kecelakaan karena aliran listrik, kebakaran dan ledakan
Pencegahan kecelakaan ini antara lain sebagai berikut :
1) Aliran listrik harus ditangani oleh pekerja yang ahli.
2) Pemeliharaan dan perbaikan kabel dan panel harus dilakukan secara kontinyu.
3) Pekerja harus teliti, hati-hati dan waspada serta mengamankan aliran listrik sebelum bekerja.
4) Pekerja dilarang merokok selama bekerja dan membuang api sekecil apapun di tempat bahan-bahan yang mudah terbakar.
5) Penyimpanan bahan-bahan yang mudah terbakar harus jauh dari sumber api dan diberi tanda dilarang merokok. 6) Tempat penyimpanan bahan-bahan yang mudah meledak harus dingin dan tertutup rapat.
7) Pengamanan terhadap peralatan dan bahan material yang dapat meledak harus sangat hati-hati dan teliti.

Keselamatan Kerja dan Kesehatan Di Industri Konstruksi

Industri konstruksi merupakan sektor industri yang mempunyai tingkat risiko tinggi baik dari segi risiko usaha maupun risiko keselamatan kerja dan kesehatan. Berdasarkan data dari International Labor Organization (ILO) yang dikutip dalam Bisnis Indonesia (22 Januari 2010) menyebutkan setidaknya ada 1,1 juta kasus kematian setiap tahunnya di dunia, akibat kecelakaan kerja atau penyakit yang ditimbulkan lingkungan kerja.

King dan Hudson (1985) menyatakan bahwa kematian pada proyek konstruksi di negara-negara berkembang lebih tinggi 3 kali lipat dibandingkan dengan di negara-negara maju sebagai akibat penegakan hukum yang sangat lemah. Tingginya tingkat risiko ini akan berpengaruh terhadap keseluruhan tingkat keberhasilan pekerjaan konstruksi.

Kegagalan penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif seperti penundaan penyelesaian proyek, menurunnya produktifitas kerja, membengkaknya anggaran, rusaknya citra perusahaan penyedia jasa, serta akibat-akibat negatif lainnya.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan K3 yang baik sebagai salah satu bagian dari CSR dapat menjadi competitive strategy bagi perusahaan. Porter (1985) menjelaskan competitive strategy sebagai kemampuan perusahaan untuk menciptakan optimum value bagi klien.

Pelaksanaan K3 yang baik terbukti dapat meningkatkan serta memperbaiki kedisiplinan kerja serta produktivitas karyawan yang akhirnya mempengaruhi produktivitas perusahaan. Muniz et al. (2009) menemukan beberapa aspek kunci yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan K3 yaitu : kebijakan, insentif & partisipasi karyawan, pelatihan, komunikasi, perencanaan serta control/pengawasan.

Perusahaan kontraktor yang memiliki catatan pelaksanaan K3 yang baik (tanpa kecelakaan kerja) pada proyek-proyek sebelumnya akan lebih mudah untuk mendapatkan kepercayaan  dari  stakeholder  atau  klien  untuk  mendapatkan  proyek-proyek selanjutnya.

 

Jenis Pekerjaan Yang Rawan Kecelakaan Kerja

kerugian akibat kecelakaan kerja

Kecelakaan kerja terjadi bukan karena keinginan pekerja itu sendiri, Namun kecelakaan kerja dapat di minimalkan atau dapat dihindari jika sudah memenuhi standar keselamatan kerja. Aturan keselamatan kerja pada pegawai sudah di atur dalam undang-undang kesehatan dan keselamatan kerja, hanya kita harus menjalankan dengan baik dan benar.

Banyak hal yang tak terduga dapat terjadi terkait kecelakaan kerja itu sendiri, pegawai dapat mengalami hal-hal yang tidak diinginkan akibat kecelakaan kerja. Oleh sebab itu, penting untuk kita memahami prosedur maupun standar kecelakaan kerja.

Di indonesia masih banyak perusahaan yang masih mengabaikan standar keselamatan kerja, pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja bagi pegawai sepertinya masih sedikit perusahaan yang memperhatikan hal ini.

Jenis-jenis pekerjaan yang sering terjadi kecelakaan kerja :

Pekerjaan Pabrik Kimia

Pekerjaan dalam pabrik kimia sangat rawan dengan terjadinya kecelakaan kerja. para pegawai setiap hari berinteraksi dengan benda ataupun zat kimia yang berbahaya dari pabrik kimia itu sendiri. medan kerja yang esktrim ini harus lebih di perhatikan agar tidak ada korban akibat kecelakaan kerja.

Pekerjaan Proyek Bangunan

Kecelakaan kerja pekerjaan proyek bangunan sering terjadi karena medan kerja yang sangat dekat dengan kondisi berbahaya, medan kerja yang ekstrim, interaksi dengan benda-benda keras berbahaya seperti batu, besi beton, truk pengangkut semen dan lain-lain. pekerjaan proyek ini selayaknya memenuhi standar keselamatan kerja, jika para pekerja tidak di bekali dengan alat pelindung diri akan sangat sering terjadinya kecelakaan kerja.

Pekerjaan Peleburan Besi

Pekerjaan dalam bidang peleburan besi ini juga sebuah kondisi yang sangat ekstrim, mengingat setiap hari para pekerja harus dihadapkan pada benda berat yaitu besi dan api. mereka para pekerja harus benar-benar di bekali alat pelindung diri untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

Pekerjaan Enginering atau Pekerjaan listrik

Pekerjaan listrik ini juga harus mendapatkan perhatian lebih oleh perusahaan. banyak para pegawai meninggal karena aliran listrik yang cukup besar dan pegawai tersebut sering sekali ditemukan ternyata tidak menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu safety, sarung tangan, jaket dan lain-lain. Hal ini menyebabkan para pekerja menjadi tidak aman dalam bekerja dilingkungan listrik.

Pekerjaan Kebun Kelapa Sawit

Pekerjaan perkebunan kelapa sawit ini cukup ekstrim, karena setiap hari para petani kelapa sawit berinteraksi dengan buah-buah kelapa sawit yang tajam berduri. selain itu medan kerja mereka cukup terjal. Biasanya kebun kelapa sawit berada jauh di tengah hutan yang cukup ekstrim.

Pekerjaan Batu Bara

Pekerjaan batu bara ini sudah jelas wajib menggunakan alat pelindung diri karena pekerjaan ini dalam bidang batu bara ini adalah pekerjaan yang paling esktrim dari pekerjaan-pekerjaan berbahaya lainnya. Perusahaan batu bara haruslah memenuhi kebutuhan para pekerjanya yaitu dengan membekali mereka dengan alat pelindung diri seperti helm, sarung tangan, safety shoes, jaket dan lain-lain.

Pekerjaan Oil dan Gas atau Pabrik Minyak

Pekerjaan yang selalu berinteraksi dengan minyak dan bahan-bahan yang berbaya ini sangat penting menggunakan alat pelindung diri. kondisi medan kerja yang ekstrim dan licin mewajibkan para pekerja menggunakan sepatu safety untuk menjaga kaki mereka dari hal-hal yang tak terduga seperti jatuh karena medan kerja yang licin.

Perlunya Pendidikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Perlunya Pendidikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Penyebab kecelakaan kerja yang kerap kali di temui adalah perilaku yang tidak aman sebesar 88%, kondisi lingkungan yang tidak aman sebesar 10%, atau kedua hal tersebut diatas terjadi secara bersamaan. Oleh sebab itu, pelaksanaan pendidikan dan pelatihan keselamatan dan kesehatan tenaga kerja dapat mencegah perilaku yang tidak aman dan memperbaiki kondisi lingkungan yang tidak aman.

Pendidikan  dan pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja juga berguna agar tenga kerja memiliki pengetahuan dan kemampuan mencegah kecelakaan kerja, mengembangakn budaya kesehatan dan keselamatan kerja, memahami ancaman dan bahaya di tempat kerja dan menggunakan langkah pencegahan kecelakaan kerja.

Kendala yang biasa terjadi dalam pelaksanaan perjanjian kerjasama dalam lingkung K3

  • Pemahaman karyawan mengenai isi dari perjanjian kerjasama : Perlu adanya musyawarah terkait hal ini, musyawarah pembinaan atau koordinasi dan sosialisasi antara pengurus serikat pekerja dengan para pelaku
  • Tidak optimalnya penanganan keselamatan kerja : Cara mengatasi hal ini, apabila terjadi kecelakaa berarti tindakan pencegahan tidak berhasil, maka pihak manajemen perlu mempelajari apa yang salah.
  • Kebijakan perusahaan yang tidak tegas : Perlu adanya tindakan yang tegas apabila terdapat pegawai yang tidak disiplin

Undang-undang yang mengatur apabila terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang keselamatan dan kesehatan kerja misalnya pengusaha tidak menyediakan alat keselamatan kerja tau perusahaan tidak memeriksakan kesehatan dan kemampuan fisik pekerja. Undang-undang ini memuat ancaman pidana kurungan paling lama 1 tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 15000.000 (lima belas juta rupiah) bagi yang tidak menjalankan ketentuan undang-undang tersebut.

Sumber:

  • Indonesia.Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja.
  • Indonesia.Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
  • Indonesia. Undang – Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
  • Indonesia. Peraturan Menteri No. 5 tahun 1996 mengenai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja