Prinsip Dasar Pencegahan Kecelakaan Kerja

Pengertian kecelakaan yang sering dikaitkan dengan alat yang ditimbulkan, untuk memahami dengan baik tetang kecelakaan, maka hal yang harus dipertimbangkan adalah konsepsi akibat yang ditimbulkan. Demikian pula terhadap pengertian kecelakaan tersebut tidak harus selalu dikaitkan dengan akibat yang ditimbulkan atau kerugian yang dialami. Maksud pengertian ini menekankan bahwa suatu kejadian baru dikaitkan kecelakaan apabila mengakibatkan cedera, korban jiwa, penyakit akibat kerja atau kerugian-kerugian lainnya.

Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kecelakaan kerja adalah sebagai berikut:

1. Bagi karyawan
Kecelakaan dari tempat kerja yang ditimbulkan dapat berakibat fatal pada tenaga kerja itu sendiri, misalnya kematian, cacat, cidera serta penderitaan bagi keluarga itu sendiri.

2. Bagi perusahaan
Sedangkan akibat yang diperoleh dari pihak perusahaan adalah seperti memberikan biaya pengobatan bagi si korban, biaya ganti rugi, terjadi kerusakan peralatan, serta turunnya produktifitas kerja dan sebagainya.

3. Bagi masyarakat
Bagi pihak masyarakat akibat dari kecelakaan kerja seperti terjadinya kerusakan lingkungan.

Prinsip Pencegahan Kecelakaan

Pencegahan kecelakaan dalam kaitannya dengan masalah keselamatan dan kesehatan kerja harus mengacu dan bertitik tolak pada konsep sebab akibat kecelakaan, yaitu dengan mengendalikan sebab dan mengurangi akibat kecelakaan. Berdasarkan prinsip pencegahan kecelakaan tersebut, maka fungsi dasar manajemen keselamatan dan kesehatan kerja memegang peranan penting terhadap upaya pengendalian kecelakaan sesuai dengan program yang telah ditetapkan.

Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan:

  1. Peraturan perundangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan mengenai kondisi-kondisi kerja pada umumnya, perencanaan, konstruksi, perawatan dan pengujian dan cara kerja peralatan industri, tugas-tugas pengusaha dan buruh, latihan, supervide medis dan pemeriksaan kesehatan.
  2. Standardisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah resmi, atau tak resmi mengenai konstruksi yang memenuhi syarat-syarat keselamatan umum, atau alat-alat pelindung diri Tabel (3.2)
  3. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang diwajibkan.
  4. Penelitian bersifat teknik, yang meliputi sifat dan ciri-ciri bahan yang berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman, pengujian alat-alat pelindung diri, penelitian tentang pencegahan peledakan gas dan debu, atau
    penelitian tentang bahan-bahan dan desain paling tepat untuk tambang-tambang pengangkat dan peralatan pengangkat lainnnya.
  5. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tetang efek-efek fisiologis dan patologis faktor-faktor lingkungan dan teknologis dan keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan.
  6. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan.
  7. Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang terjadi, banyaknya, mengenai siapa saja, dalam pekerjaan apa, dan apa sebab- sebabnya.
  8. Pendidikan, yang menyangkut pendidikan keselamatan dalam kurikulum teknis, sekolah-sekolah perniagaan atau kursus-kursus pertukangan.
  9. Latihan-latihan, yaitu latihan praktek bagi tenaga kerja, khusunya tenaga kerja yang baru, dalam keselamatan kerja.
  10. Penggairahan, yaitu penggunaan aneka cara penyuluhan atau pendekatan lain untuk menimbulkan sikap selamat.
  11. Asuransi, yaitu insentif financial untuk meningkatkan pencegahan kecelakaan misalnya dalam bentuk pengurangan premi yang dibayar oleh perusahaan jika tindakan-tindakan keselamatan sangat baik.
  12. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan, yang merupakan ukuran efektif tindakan penerapan keselamatan kerja.

Pengertian, Jenis, Penyebab dan Pencegahan Kecelakaan Kerja

fungsi k3

 

Penyebab dan pencegahan kecelakaan kerja – Kecelakaan kerja ialah suatu peristiwa yang tidak diinginkan serta tidak diduga sebelumnya yang bisa memunculkan korban manusia serta atau harta benda (Permenaker No. 03/MEN/1998). Pemahaman lainnya kecelakaan kerja ialah semua peristiwa yang tidak direncanakan yang mengakibatkan atau berpotensial mengakibatkan cidera, kesakitan, kerusakan atau kerugian yang lain (Standard AS/NZS 4801:2001). Sedangkan pengertian kecelakaan kerja menurut OHSAS 18001:2007 ialah peristiwa yang terkait dengan pekerjaan yang bisa mengakibatkan cidera atau kesakitan (bergantung dari keparahannya) peristiwa kematian atau peristiwa yang bisa mengakibatkan kematian.

Di bawah ini beberapa pemahaman kecelakaan kerja dari beberapa sumber buku:

  • Menurut Suma’mur (2009), kecelakaan kerja ialah suatu peristiwa atau momen yang tidak diharapkan yang merugikan pada manusia, mengakibatkan kerusakan harta benda atau kerugian pada proses.
  • Menurut Gunawan serta Waluyo (2015), kecelakaan ialah suatu peristiwa yang (tidak direncanakan) serta tidak diinginkan yang bisa mengganggu proses produksi/operasi, mengakibatkan kerusakan harta benda/asset, mencederai manusia, atau mengakibatkan kerusakan lingkungan.
  • Menurut Heinrich (1980), kecelakaan kerja atau kecelakaan karena kerja ialah suatu peristiwa yang tidak terencana serta tidak terkendali akibatnya karena suatu aksi atau reaksi suatu objek, bahan, orang, atau radiasi yang menyebabkan cidera atau peluang karena lainnya.
  • Menurut Reese (2009), kecelakaan kerja adalah hasil langsung dari tindakan tidak aman serta kondisi tidak aman, yang kedua-duanya bisa dikendalikan oleh manajemen. Aksi tidak aman serta kondisi tidak aman dikatakan sebagai pemicu langsung (immediate/primary causes) kecelakaan sebab keduanya ialah pemicu yang pasti / riil serta dengan cara langsung ikut serta saat kecelakaan berlangsung.
  • Menurut Tjandra (2008), kecelakaan kerja ialah satu kecelakaan yang berlangsung saat seseorang lakukan pekerjaan. Kecelakaan kerja adalah momen yang tidak direncanakan yang dikarenakan oleh suatu aksi yang tidak waspada atau suatu kondisi yang tidak aman atau keduanya.

Jenis-jenis Kecelakaan Kerja

Menurut Bird serta Germain (1990), ada tiga tipe kecelakaan kerja, yakni:

  • Accident, yakni peristiwa yang tidak diharapkan yang memunculkan kerugian baik buat manusia ataupun pada harta benda.
  • Incident, yakni peristiwa yang tidak diharapkan yang belum memunculkan kerugian.
  • Near miss, yakni peristiwa hampir celaka dalam kata lainnya peristiwa ini hampir memunculkan peristiwa incident atau accident.

Berdasar pada tempat serta waktu, kecelakaan kerja dibagi jadi empat tipe, yakni (Sedarmayanti, 2011):

  1. Kecelakaan kerja karena langsung kerja.
  2. Kecelakaan saat atau waktu kerja.
  3. Kecelakaan di perjalanan (dari rumah ke tempat kerja serta sebaliknya, lewat jalan yang wajar).
    Penyakit karena kerja.

Berdasar pada tingkatan karena yang diakibatkan, kecelakaan kerja dibagi jadi tiga tipe, yakni (Suma’mur,1981):

  • Kecelakaan kerja enteng, yakni kecelakaan kerja yang perlu penyembuhan di hari itu serta dapat melakakukan tugasnya kembali atau istirahat < 2 hari. Contoh: terpeleset, tergesek, terkena pecahan beling, terjatuh serta terkilir.
  • Kecelakaan kerja Sedang, yakni kecelakaan kerja yang membutuhkan penyembuhan serta perlu istirahat saat > 2 hari. Contoh: terjepit, luka sampai robek, luka bakar.
  • Kecelakaan kerja berat, yakni kecelakaan kerja yang alami amputasi serta kegagalan fungsi badan. Contoh: patah tulang.

Pemicu Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja berlangsung sebab tingkah laku anggota yang kurang berhati-hati atau asal-asalan atau juga bisa sebab kondisi yang tidak aman, apa itu berbentuk fisik, atau dampak lingkungan (Widodo, 2015).

Berdasar pada hasil statistik, pemicu kecelakaan kerja 85% dikarenakan aksi yang beresiko (unsafe act) serta 15% dikarenakan oleh keadaan yang beresiko (unsafe condition). Keterangan ke-2 pemicu kecelakaan kerja itu ialah seperti berikut (Ramli, 2010):

  • Keadaan yang beresiko (unsafe condition) yakni beberapa faktor lingkungan fisik yang bisa memunculkan kecelakaan seperti mesin tanpa pengaman, penerangan yang tidak cocok, Alat Pelindung Diri (APD) tidak efisien, lantai yang berminyak, dan sebagainya.
  • Aksi yang beresiko (unsafe act) yakni tingkah laku atau kesalahan-kesalahan yang bisa memunculkan kecelakaan seperti asal-asalan, tidak menggunakan alat pelindung diri, dan sebagainya, perihal ini dikarenakan oleh gangguan kesehatan, gangguan pandangan, penyakit, risau dan minimnya pengetahuan dalam proses kerja, langkah kerja, dan sebagainya.

Sedang menurut Ridley (2008), pemicu terjadinya kecelakaan kerja ialah seperti berikut:

a. Keadaan Kerja

  • Pengendalian manajemen yang kurang.
  • Standard kerja yang minim.
  • Tidak penuhi standard.
  • Peralatan yang tidak berhasil atau tempat kerja yang tidak memenuhi.

b. Kekeliruan Orang

  • Ketrampilan serta pengetahuan yang minim.
  • Permasalahan fisik atau mental.
  • Motivasi yang minim atau salah peletakan.
  • Perhatian yang kurang.

c. Aksi Tidak Aman

  • Tidak ikuti cara kerja yang sudah di setujui.
  • Mengambil jalan singkat.
  • Singkirkan atau tidak memakai peralatan keselamatan kerja.

d. Kecelakaan

  • Peristiwa yang tidak terduga.
  • Karena kontak dengan mesin atau listrik yang beresiko.
  • Terjatuh.
  • Terhantam mesin atau material yang jatuh dan lain-lain.

Kecelakaan kerja bisa juga dikarenakan oleh faktor-faktor seperti berikut (Rachmawati, 2008):

  • Aspek fisik, yang mencakup penerangan, suhu udara, kelembapan, cepat rambat udara, nada, vibrasi mekanis, radiasi, desakan udara, dan sebagainya.
  • Aspek kimia, yakni berbentuk gas, uap, debu, kabut, awan, cairan, serta beberapa benda padat.
  • Aspek biologi, baik dari kelompok hewan ataupun dari tumbuh-tumbuhan.
  • Aspek fisiologis, seperti konstruksi mesin, sikap, serta langkah kerja.
  • Aspek mental-psikologis, yakni formasi kerja, hubungan diantara pekerja atau mungkin dengan entrepreneur, pemeliharaan kerja, dan lain-lain.

Mencegah Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja bisa dihindari dengan memerhatikan faktor-faktor, diantaranya sebagai berikut (Suma’mur, 2009):

a. Aspek Lingkungan
Lingkungan kerja yang penuhi kriteria mencegah kecelakaan kerja, yakni:

  • Penuhi syarat aman, mencakup higiene umum, sanitasi, ventilasi udara, pencahayaan serta penerangan dalam tempat
  • kerja serta penyusunan suhu udara ruangan kerja.
  • Penuhi prasyarat keselamatan, mencakup keadaan gedung serta tempat kerja yang bisa menjamin keselamatan.
  • Penuhi penyelenggaraan ketatarumahtanggaan, mencakup penyusunan penyimpanan barang, peletakan serta pemasangan mesin, pemakaian tempat serta ruang.

b. Aspek Mesin serta perlengkapan kerja

Mesin serta perlengkapan kerja mesti didasarkan pada rencana yang baik dengan memerhatikan ketetapan yang berlaku. Rencana yang baik tampak dari sebaiknya pagar atau tutup pengaman pada beberapa bagian mesin atau perkakas yang bergerak, diantaranya bagian yang berputar-putar. Jika pagar atau tutup pengaman sudah terpasang, mesti didapati dengan tentu efisien tidaknya pagar atau tutup pengaman itu yang dilihat dari bentuk serta ukurannya yang sesuai pada mesin atau alat dan perkakas yang terhadapnya keselamatan pekerja dilindungi.

c. Aspek Peralatan kerja

Alat pelindung diri adalah peralatan kerja yang perlu tercukupi buat pekerja. Alat pelindung diri berbentuk baju kerja, kacamata, sarung tangan, yang kesemuanya mesti pas ukurannya hingga memunculkan kenyamanan dalam penggunaannya.

d. Aspek manusia

Mencegah kecelakaan pada aspek manusia mencakup ketentuan kerja, memperhitungkan batas potensi serta keterampilan pekerja, meniadakan beberapa hal yang mengurangi konsentrasi kerja, menegakkan disiplin kerja, hindari tindakan yang menghadirkan kecelakaan dan menghilangkan terdapatnya ketidakcocokan fisik serta mental.

Kecelakaan kerja bisa juga dikurangi, dihindari atau dijauhi dengan mengaplikasikan program yang diketahui dengan tri-E atau Triple E, yakni (Sedarmayanti,2011):

  • Engineering (Tehnik). Engineering berarti aksi pertama ialah lengkapi semua perkakas serta mesin dengan alat pencegah kecelakaan (safety guards) contohnya tombol untuk hentikan bekerjanya alat/mesin (cut of switches) dan alat lainnya, supaya mereka dengan tehnis bisa terproteksi.
  • Education (Pendidikan). Education berarti perlu memberi pendidikan serta latihan pada para pegawai untuk memberikan rutinitas kerja serta langkah kerja yang pas dalam rencana sampai kondisi yang aman (safety) semaksimal mungkin.
  • Enforcement (Penerapan). Enforcement berarti aksi penerapan, yang memberikan jaminan jika ketentuan pengendalian kecelakaan dikerjakan.

Metode Pencegahan dan Berbagai Rangkaian Kecelakaan Kerja

Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Metode pencegahan dan rangkaian kecelakaan kerja – Mencegah kecelakaan ialah ilmu serta seni, sebab enyangkut soal sikap serta perilaku manusia, soal teknis seperti perlengkapan serta mesin dan soal lingkungan.

Pengawasan disimpulkan menjadi panduan atau usaha yang berbentuk koreksi pada semua persoalan itu. Di mana usaha itu adalah aspek terpenting pada tiap-tiap tempat kerja yang akan menjamin K3 dan bisa kurangi atau menghambat kerugian pada pekerjaan produksi industri.

Serangkaian kejadian-kejadian pemicu kecelakaan kerja yang dimaksud juga aspek domino ini salah satunya:

a. Kelemahaan pengawasan managemen atau lack of control management

Pengawasan ini disimpulkan menjadi fungsi managemen berbentuk rencana, koordinasi kepemimpinan atau pelaksana serta pengawasan. Partsipasi aktif management memastikan keberhasilan dari skema K3.

Dalam perihal ini pekerjaan seorang pelaksana atau pemimpin tidak hanya memahami tugas operasional harus juga mampu:

  • mengerti program pencegahan kecelakaan
  • mengerti standar kerja dan meraih standar
  • membina, mengendalikan, mengevaluasi bawahannya.

b. Sebab Dasar

Ada banyak sebab dasar yang memungkinkan timbulnya kemungkinan dari kecelakaan di dunia kerja bisa berlangsung, salah satunya:

  • Kebijakan serta ketetapan management
  • Aspek manusia atau pribadi yang melliputi; minimnya pengetahuan atau ketrampilan ataupun pengalaman, tidak ada motivasi, permasalahan fisik serta mental.
  • Faktur yang mencakup ingkungan/pekerjaan seperti; minimnya ataukah tidak ada standar kerja, kurang design serta pemeliharaan, dan penggunaan alat ataupun bahan yang terlalu berlebih atau abnormal.

c. Karena yang disebut gejala atau symptom

Perihal ini terkait erat dengan masih terdapatnya tindakan aman serta kondisi tidak aman.

Cara Mencegah Kecelakaan pada Dunia Kerja

Adalah program terpadu, pengaturan dari beberapa kegiatan pengawasan atas sikap, pengetahuan serta potensi. dalam perihal ini diketahui dengan 5 tahapan pokok yakni:

a. Organisasi K3

K3 tidak dapat dikerjakan orang perorang atau dapat dikatakan memerlukan organisasi yang struktural seperti safety departement atau departemen K3 yang bisa lakukan tindakan fungsional menjadi safety committee atau panitia pembina K3.

Agar bisa berjalan dengan baik, jadi K3 harus di dukung oleh:

  • Safety Director yang bertindak selaku seorang pemimpin
  • Safety Engineer atau seseorang yang kuasai keselamatan secara tehnis
  • Terdapatnya dukungan managemen
  • Mekanisme yang sistematis, kreatif, pemeliharaan motivasi serta kepribadian pekerja.

b. Menemukan bukti atau permasalahan

Perihal ini dapat dikerjakan dengan cara melalui survey, pengawasan, observasi, investigasi serta ulasan of record atau lihat data yang kemarin.

c. Analisa

Untuk pecahkan permasalahan yang diketemukan pada tahap ini mesti dikenali tentang:

  • Sebab utama permasalahan itu,
  • Tingkat kekerapannya atau frequency rate
  • Tempat
  • Kaitannya dengan manusia atau situasi
  • Hingga nantiya dapat dibuat satu atau lebih pilihan pemecahan.

d. Penentuan/aplikasi alternatif/pemecahan

Beberapa pilihan pemecahan menjadi seleksi untuk diputuskan satu pemecahan yang benar-benar efisien serta effisien dan bisa dipertanggung jawabkan.

e. Penerapan

Sesudah diputuskan pilihan pemecahan yang kemudian dibarengi sebuah tindakan atau realisasinya jadi diperlukan pengawasan supaya tidak berlangsung penyimpangan. salah satunya cara mencegah kecelakaan oleh Johnson, MORT berbentuk “The Performance Cycle Model”

Diagram pemecahan persoalan
Menurut ILO atau International Labour Organitation, ada banyak langkah yang dapat dikerjakan untuk mengindari pengulangan atau terjadinya kecelakaan kerja yang sama, salah satunya yakni:

  • Standarisasi
  • Pengawasan
  • Penelitian teknis
  • Penelitian medis
  • Penelitian psikologis
  • Penelitian statistik
  • Pendidikan
  • Latihan
  • Persuasi
  • Asuransi
  • Aplikasi poin 1 sampai 10 dalam tempat kerja.

Bila kesebelas poin barusan diperinci kembali maka banyak hal terpenting yang perlu dilihat salah satunya yakni:

  1. Ketentuan perundangan, dalam ha ini mencakup terdapatnya ketetapan serta kriteria K3 yang up to date, aplikasi semua ketentuan K3 sejak tahap awal, serta yang paling akhir yakni pengawasan K3 langsung dalam tempat kerja.
  2. Standarisasi yang mencakup terdapatnya pemenuhan standar mengenai K3.
  3. Pengawasan yang perlu dikerjakan pada penerapan K3 serta produksi, mencakup tempat kerja, mesin, pesawat atau alat serta instalasi yang memenuhi kriteria K3.
  4. Penelitian dalam perihal ini mencakup teknis, medis, psikologi serta statistik untuk mendukung perkembangan dari K3.
  5. Pendidikan serta Latihan yang mencakup pekerjaan peningkatan kesadaran akan arti utamanya K3.
  6. Persuasi berbentuk langkah pendekatan K3 dengan pribadi serta bukan dengan sangsi-sangsi.
  7. Asuransi, dalam perihal ini dengan premi yang lebih rendah pada perusahaan yang penuhi syarat K3 dengan FR (Frequency rate) serta SR (Safety Rate) kecil.
  8. Aplikasi K3 di tempat kerja yang perlu siaplikasikan pada lingkungan kerja agar terwujud serta tercukupi kriteria K3.
    Dengan pelajari Serangkaian Kecelakaan Kerja serta mengaplikasikan Cara Pencegahannya, maka peluang kemungkinan kerja yang terjadi dapat ditekan/dikurangi atau bahkan juga di hilangkan.