Upaya Memperkuat ‘Sense of Crisis’ pada Cuaca Ekstrem

Upaya Memperkuat 'Sense of Crisis' pada Cuaca Ekstrem

Beberapa minggu ini, kita diberikan berita tentang banyak daerah di Indonesia mengalami puting beliung serta hujan deras. Cuaca ekstrem ini membuat banyak orang harus mempunyai kewaspadaan tingkat tinggi. Khususnya saudara-saudara kita yang berada di wilayah Aceh, Yogyakarta, Pulau Jawa, serta Sumatera pada umumnya. Berkaitan dengan cuaca ekstrem yang berlangsung, sebenarnya telah diperkirakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Tepatnya pada 2014 BMKG mengeluarkan kabar berita jika dalam 30 tahun ke depan, daerah Indonesia akan mengalami kenaikan temperatur suhu dari 0,5 – 1,4 derajat Celcius sebab pengaruh perubahan iklim. Dampaknya berpengaruh pada respons tiap wilayah di Indonesia pada peningkatan dan penurunan curah hujan. Selain itu, perubahan suhu dan curah hujan berdampak juga terhadap rentan berlangsungnya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia.

Cuaca ekstrem yang sejauh ini berlangsung tetap diikuti dengan bencana alam, berupa banjir serta longsor. Bencana yang berlangsung di sisi lain membawa suatu resiko untuk memengaruhi manusia serta/atau lingkungannya. Kerentanan pada bencana bisa diakibatkan oleh minimnya manajemen bencana yang tepat, dampak lingkungan, atau manusia sendiri. Kerugian yang dihasilkan bergantung pada kapasitas ketahanan komunitas pada bencana.

Indonesia sendiri menempati rangking kedua dalam daftar banyaknya kematian tertinggi karena bencana alam di Asia-Pasifik. Selama 20 tahun terakhir, beberapa bencana alam di negara kita telah mengakibatkan kerugian ekonomi sedikitnya US $ 22,5 miliar. Data ini terdapat dalam The Asia Pacific Disaster Report yang diatur oleh The Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP) serta The UN International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR), yang diterbitkan oleh PBB.

Tanah longsor serta banjir biasa melanda Indonesia, khususnya pada musim hujan. Ini menyebabkan dampak yang sangat buruk pada kehidupan manusia, ekonomi, serta lingkungan. Banjir yang berlangsung di Indonesia umumnya dikarenakan oleh dua faktor yakni banjir karena alami, serta banjir akibat kegiatan manusia. Banjir akibat alami dikuasai oleh curah hujan, fisiografi, erosi serta sedimentasi, kemampuan sungai, kemampuan drainase, serta dampak air pasang.

Sedangkan banjir karena kegiatan manusia disebabkan ulah manusia yang membuat perubahan-perubahan lingkungan, seperti perkembangan kondisi Wilayah Aliran Sungai (DAS), lokasi permukiman di seputar bantaran, rusaknya drainase tempat, kerusakan bangunan pengendali banjir, rusaknya hutan (vegetasi alami), serta rencana skema kontrol banjir yang tidak tepat.

Dampak bencana tidak bisa dihindari sepenuhnya hingga harus dikelola. Manajemen musibah memang tidak berupaya untuk menghilangkan bahaya, tapi untuk menanggulanginya. Dampak bencana bergantung pada elemen yang terbagi dalam bahaya serta kerentanan. Gabungan unsur alam serta manusia membuat dampak bencana. Keberhasilan manajemen dampak bencana didapat bila beberapa langkah struktural serta non-struktural dikerjakan.

Mencegah serta mitigasi musibah meliputi tindakan pengaturan bencana secara struktural, serta tindakan non-struktural seperti prediksi serta peringatan bencana, manajemen dampak bencana, keterlibatan komunitas/warga, penataan institusional, dan lain-lain.

Capacity Building dalam Manajemen Bencana

Kurangnya potensi mengantisipasi bencana di Indonesia diungkap oleh Wijaya (2007) jika yang menjadi permasalahan bukan hanya bencana serta beberapa pemicunya, tetapi antisipasi bencana itu jadi suatu masalah tertentu. Sebagai contoh, sistem peringatan dini membutuhkan struktur yang pasti, institusi yang fleksibel serta sigap, dan sosialisasi yang bisa menyentuh ke seluruh lapisan sosial. Tujuannya, membuat sebuah masyarakat yang tetap waspada menghadapi musibah jadi resiko dari kondisi hidup di wilayah rawan bencana (disaster-prone area).

kapasitas yang kuat untuk menghadapi intimidasi bencana berkaitan dengan program/kegiatan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat. Tujuan intinya ialah masyarakat yang dapat mengantisipasi bencana, dapat mengatasi kondisi darurat, serta dapat pulih dari bencana. Oleh karenanya, program/kegiatan yang bisa dikerjakan diantaranya; pertama, pendidikan serta training, riset serta peningkatan ilmu dan pengetahuan serta teknologi bencana, manajemen bencana lewat penerapan teknologi serta pemetaan spasial.

Ke dua, skema peringatan awal dari beberapa jenis bencana; ketiga, sosialisasi bencana lewat media massa; keempat, training manajemen bencana; serta ke lima, pemberian dukungan teknis serta non-teknis, meningkatkan peranan aktif masyarakat dalam penanggulangan bencana, pembangunan kemampuan masyarakat pada pengenalan ancaman serta kerentanan di wilayahnya.

Pendidikan serta training mengenai pelestarian lingkungan serta pengurangan dampak bencana, terhitung banjir, longsor, serta puting beliung harus diselenggarakan. Muatan materinya sesuai dengan kondisi unik dari potensi situasi kebencanaan serta berdasarkan pada pengalaman bencana yang sebelumnya. Pendidikan serta training itu adalah hak orang untuk memperolehnya.

Manajemen bencana bukan hanya menuntut keterlibatan individu dalam komunitas yang rentan, dan juga keterkaitan instansi pemerintah terkait, LSM, serta bidang swasta. Ini harus di dukung dengan strategi manajemen yang efisien lewat perencanaan operasional, pendidikan serta training kelompok. Peningkatan skema manajemen bencana bisa dimulai dari formulasi kebijakan di tingkat pemerintah untuk kesiapsiagaan komunitas/warga.

Pada akhirnya, pemungutan ketetapan hendaknya adalah kombinasi dari pendekatan top-down serta bottom-up yang memungkinkan keterkaitan semua stakeholder atas fundamen kesetaraan. Para stakeholder terdiri dari pemerintah (yang bertanggungjawab), lembaga akademis, sektor swasta, LSM, serta masyarakat.

Keterkaitan pengetahuan stakeholder dari sudut pandang yang berbeda bersama-sama memungkinkan pandangan resiko bencana yang koheren. Anggota komunitas yang terkena resiko bencana mempunyai kesempatan untuk mengekspresikan keperluan, serta untuk mempromosikan integrasi tuntutan mereka dalam pengambilan ketetapan. Keterkaitan stakeholder memungkinkan untuk melakukan identifikasi serta implementasi tindakan pengendalian bencana yang efisien serta berkepanjangan sebab sebagian besar stakeholder memberi dukungan mereka.

Simpulan

Manajemen musibah yang berkepanjangan memerlukan keterkaitan multi-pihak serta keterlibatan komunitas dengan simultan. Keterlibatan tiap komponen komunitas dalam menjalankan manajemen bencana adalah kunci keberhasilan. Kiranya makin besar keterlibatan mereka dapat meningkatkan kemampuan dalam meminimalisir dampak bencana.

Manajemen bencana harus dikerjakan dengan pendekatan sistematis serta sinergis dari beberapa pihak dalam upaya untuk mengatasi musibah itu. Melalui pendekatan semacam ini diharapkan nanti tidak dilakukan dengan parsial oleh masing-masing pihak, tapi semua komponen bisa terlibat untuk bekerja sama dengan bahu-membahu. Oleh karenanya, menguatkan sense of crisis, kepedulian, loyalitas, peranan, serta tanggung jawab kolektif serta kontinuitas kerja sama dalam kerangka jaringan governance dibutuhkan untuk keberlanjutan pengendalian bencana yang efisien.