Standar Profesi Ahli Teknologi Laboratorium

Pelayanan laboratorium kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Laboratorium kesehatan  sebagai unit pelayanan penunjang medis, diharapkan dapat memberikan informasi yang teliti dan akuratat tentang aspek laoratoris terhadap spesimen/sampel yang pengjiannya dilakukan di laboratorium.

Masyarakat menghendaki mutu hasil pengujian laboratorium terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan penyakit. Ahli teknologi kesehatan yang terdiri dari para analis kesehatan dan praktisi laboratorium lainnya harus senantiasa mengembangkan  diri dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan adanya jaminan mutu terhadap hasil pengujian laboratirium dan tunutan diberikan pelayanan dan prima.

Dalam era globalisasi, tuntuntan standarisasai mutu labtoratorium tidak dielakkan lagi. Peraturan peundang-undangan sudah mulai diarahkan  kepada kesiapan seluruh profesi kesehatan dalam menyongsong era pasar besar tersebut. Ahli teknologi laboratorium kesehatan indonesia harus mampu bersaing dengan ahli-ahli dari negara lain yang lebih maju. Untuk itulah disusun suatu standar profesi bagi para agli teknolgogi laboratorium kesehatan di indonesia.

Dowload lengkap: Standar Profesi Ahli Teknologi Laboratorium disini

pekerja di laboratorium disebut

Pekerja di Laboratorium Disebut? Berikut Adalah Pengertiannya..

Apa yang terbesit dibenak kita ketika pertama kali mendengar kata laboran? mungkin sesuatu yang berhubungan dengan laboratorium? orang-orang yang bekerja di laboratorium? atau pekerja di laboratorium disebut laboran. Betul sekali.Namun, rasanya masih terlalu sempit jika kita mendefinisikan nya hanya dengan pernyataan itu. Karena laboran tidak hanya bekerja di laboratorium, tapi ia punya banyak peran penting lain yang sangat sentral .

Laboran adalah orang yang bertugas membantu aktivitas mahasiswa atau dosen di laboratorium dalam melakukan suatu kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Namun itu baru pengertian sempitnya saja, karena laboran mempunyai banyak peran yang cukup besar dan juga tidak selalu berada di belakang layar.

Karena laboran harus memiliki beberapa keahlian, diantaranya sebagai teknisi, yaitu orang yang berperan untuk beroperasinya peralatan laboratorium. Dan yang kedua, analisis pada bidang tertentu. Dan seorang laboran ini biasa bekerja pada berbagai bidang, diantaranya farmasi, analis kimia, analis kesehatan, dan bidang kesehatan lainnya.

Untuk kualifikasinya sendiri, biasanya seorang laboran merupakan sumberdaya manusia yang mempunyai kompetensi dan pemahaman dalam bidang kimia dengan kualifikasi minimum Diploma (D-3). Dan yang pasti, seorang laboran juga harus tekun, cakap berkomunikasi, kreatif dan inovatif dalam bidang pengelolaan laboratorium yang sangat bermanfaat dan yang dapat berupa :

  1. Pengembangan kinerja peralatan dan bahan yang ada di laboratorium
  2. Pengembangan metode kerja peralatan yang ada di laboratorium
  3. Pengembangkan metode pengujian/kalibrasi dan atau produksi dalam skala terbatas menggunakan peralatan dan bahan yang ada dilaboratorium
  4. Peningkatan mutu produk dalam skala laboratorium
  5. Pengembangan sistem pengelolaan laboratorium
  6. Pembuatan karya produk inovatif

Kalau dilihat dari peran-perannya, sudah pasti seorang laboran harus kenal dan terbiasa dengan bahan-bahan kimia yang ada di laboratorium. Jika kita mengetahui dan menggunakannya sesuai prosedur, semuanya pasti akan berjalan baik-baik saja sebagaimaa mestinya.

Dan hal pertama yang harus dijalankan pastinya “perkenalan”. Ya, seorang laboran harus mengenal semua bahan kimia, berbeda dengan menghapal, berkenalan disini diartikan bahwa seorang laboran harus mengetahui fungsi dan sebab-akibat dari bahan kimia tersebut, karena jika tidak sesuai prosedur, beberapa bahan kimia dapat menimbulkan reaksi-reaksi yang pastinya merugikan kan..?

Nah berikut ada beberapa prosedur bagi kita bahkan laboran agar tidak menyalahgunakan bahan-bahan kimia saat berada di laboratorium berdasarkan Undang-Undang No. 1/1970, Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan MSDS atau LDKB (Lembar Data Keselamatan Bahan) atau dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.472 tahun 1996 disebut LDP (Lembar Data Pengaman), berikut ulasannya:

  1. Pemasangan rambu-rambu K3 meliputi peringatan bahaya sesuai jenis, golongan bahan kimia atau pestisida harus dipasang dengan jelas, mudah dibaca, dimengerti dan terlihat oleh pekerja.
  2. Spesifikasi mutu kemasan/wadah harus tertulis dengan jelas dalam lembaran PP/PO dengan memperhatikan keamanan, ketahanan, efektifitas dan efisiensi. Khusus dalam hal drum (plastik/besi), botol/ bejana bertekanan, harus dicantumkan WARNA yang disesuaikan dengan jenis/golongan gas.
  3. Setiap pembelian/pengadaan bahan kimia (pestisida atau bahan kimia pabrik) harus dicantumkan dengan jelas di dalam lembar PP/PO tentang kelengkapan informasi bahan berupa : (Labeling, Informasi dampak bahaya, Informasi P3K , APD, dan penaganan darurat)
  4. Setiap kecelakaan, tumpahan, kebakaran, termasuk kondisi berbahaya yang tidak mungkin dapat diatasi sendiri, haruslah dilaporkan secepatnya kepada atasan. Berikanlah keterangan yang benar kepada petugas Investigasi guna memudahkan pengambilan langkah-langkah perbaikan selanjutnya agar kasus yang sama tidak terulang kembali.
  5. Lorong agar tetap terjaga dan tidak terhalang oleh benda apapun untuk melakukan inspeksi, jika perlu dibuatkan garis pembatas lintasan alat angkat dan angkut.
  6. Khusus bahan dalam wadah silinder/tabung gas bertekanan agar ditempatkan pada tempat yang teduh, tidak lembab dan aman dari sumber panas seperti (listrik, api, ruang terbuka)
  7. Bahan kimia tidak langsung bersentuhan dengan lantai gudang (menggunakan alas).
  8. Setiap pekerja yang tidak berkepentingan dilarang memasuki gudang penyimpanan bahan kimia atau pestisida dan setiap pekerja yang memasuki gudang harus memakai APD yang disyaratkan.
  9. Pada setiap penyimpanan bahan kimia atau pestisida harus dilengkapi dengan LABELING (label isi, safety, resiko bahaya) dan MSDS atau Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB).
  10. Baca label bahan sekurang kurangnya dua kali untuk menghindari kesalahan dalam pengambilan bahan misalnya antara asam sitrat dan asam nitrat.
  11. Setiap pekerja dilarang makan dan minum ditempat penyimpanan bahan kimia terutama yang beracun.
  12. Hanya pekerja yang sudah mengerti tugas dan tanggung jawab serta adanya rekomendasi dari atasannya dibenarkan menangani pekerjaan pengangkutan bahan kimia berbahaya.
  13. Menaikkan dan menurunkan bahan kimia harus dilakukan dengan hati-hati, jika perlu buatkan bantalan karet/kayu.
  14. Pindahkan sesuai jumlah yang diperlukan.
  15. Jangan menggunakan bahan kimia secara berlebihan.
  16. Jangan mengembalikan bahan kimia ke tempat botol semula untuk menghindari kontaminasi, meskipun dalam hal ini kadang terasa boros.

Seorang laboran juga mempunyai jam kerja yang bahkan terkadang lebih dari mahasiswa dan dosen loh. Karena seorang laboran harus menyiapkan segala kebutuhan praktikum ataupun penelitian dari mahasiswa dan dosen, yang otomatis mereka harus datang lebih pagi dan pastinya pulang lebih larut. Walaupun bergantian atau yang kita biasa kenal dengan shift, tapi ini sudah menjadi konsekuensi tersendiri bagi laboran. Dan tidak jarang, karena kelelahan, mahasiswa menjadi sasarannya. Sasaran? bentar-bentar.. jangan berpikir yang aneh-aneh dulu ya, karena yang dimaksud “sasaran” disini juga merupakan sebab-akibat dari mahasiswa itu sendiri.

Jadi, jika kita sebagai mahasiwa analis, farmasi atau yang lainnya, pastikan jika sudah menggunakan alat praktikum atau penelitian, cuci bersih semua alat dan kembalikan pada ruang alat ya. Karena tidak jarang beberapa mahasiswa masih ada yang tidak patuh akan hal ini, ada beberapa yang tidak tahu, lupa, atau bahkan malas. Nah..ini yang bahaya. Yang namanya menggunakan laboratorium, pastikan kita sudah bekerja sama dan mencintai dengan semua aspek yang ada didalamnya, seperti mematuhi prosedur. Karena dengan begitu, kita sudah turut andil dalam mengurangi beban seorang laboran.

Seperti yang sudah dibahas tadi, agar kita mengenal semua aspek yang ada di dalam laboratorim, seperti bahan kimia dan peralatannya, kita harus mencintai setiap pekerjaan yang sedang kita lakukan di dalamnya, juga menerapkan semua prosedur yang tersedia. Karena, jika sudah diterapkan, dipastikan kerja laboran akan menjadi lebih ringan, dan kita sebagai mahasiswa akan lebih mencintai laboratorium. Dan kalau sudah cinta, segala sesuatu yang kita kerjakan di laboratorium pun akan terasa mudah dan pastinya seorang laboran pun akan lebih nyaman dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu, yuk kita terapkan. Salam Cinta Laboratorium!

Prinsip Manajemen Mutu Iso 9001:2015

Daftar Dokumen Wajib dalam ISO 9001:2015

Dalam mengejar persyaratan dokumen ISO 9001:2015, banyak perusahaan/organisasi yang berfokus pada membuat banyak dokumen yang dianggap berkaitan dengan Sistem Manajemen Mutu, seringkali dokumen yang telah dibuat ternyata tidak masuk dalam persyaratan yang ditetapkan dalam ISO 9001:2015.

Untuk menghindari hal tersebut, ISO Center Indonesia akan menyebutkan dokumen & rekaman wajib apa saja yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan dalam klausul ISO 9001:2015. Selain persyaratan wajib, ISO Center juga akan menyebutkan dokumen non wajib yang bisa digunakan untuk menunjang implementasi Sistem Manajemen Mutu, yang mana dokumen tersebut lazim digunakan oleh kebanyakan organisasi/perusahaan dalam implementasi ISO 9001:2015.

Dokumen Wajib

  • Ruang Lingkup SMM (klausul 4.3)
  • Kebijakan Mutu (klausul 5.2)
  • Sasaran Mutu (klausul 6.2)
  • Kriteria untuk evaluasi dan pemilihan pemasok (klausul 8.4.1)

Untuk persyaratan dengan Tanda (*) hanya wajib dalam kasus-kasus ketika klausul yang relevan tidak dikecualikan atau merupakan bagian dari praktik bisnis organisasi/perusahaan.

Rekaman Wajib

  • Rekaman Pemantauan dan pengukuran peralatan kalibrasi* (klausul 7.1.5.1)
  • Rekaman pelatihan, keterampilan, pengalaman dan kualifikasi (klausul 7.2)
  • Rekaman tinjauan persyaratan produk / jasa (klausul 8.2.3.2)
  • Rekaman tentang hasil tinjauan desain dan pengembangan* (klausul 8.3.2)
  • Rekaman tentang masukan untuk desain dan pengembangan * (klausul 8.3.3)
  • Rekaman pengendalian desain dan pengembangan* (klausul 8.3.4)
  • Rekaman hasil desain dan pengembangan* (klausul 8.3.5)
  • Rekaman perubahan desain dan pengembangan* (klausul 8.3.6)
  • Karakteristik produk yang akan diproduksi dan jasa yang akan diberikan (klausul 8.5.1)
  • Rekaman tentang properti pelanggan (klausul 8.5.3)
  • Rekaman perubahan ketentuan dalam produksi / jasa (klausul 8.5.6)
  • Rekaman kesesuaian produk / jasa dengan kriteria penerimaan (klausul 8.6)
  • Rekam output/hasil yang tidak sesuai (klausul 8.7.2)
  • Pemantauan dan pengukuran hasil (klausul 9.1.1)
  • Program audit internal (klausul 9.2)
  • Hasil audit internal (klausul 9.2)
  • Hasil dari tinjauan manajemen (klausul 9.3)
  • Hasil tindakan korektif (klausul 10.1)

Dokumen Non-Wajib

Ada dokumen non-wajib yang dapat digunakan untuk implementasi ISO 9001. Berikut adalah dokumen-dokumen non-wajib menjadi yang paling umum digunakan:

  • Prosedur untuk menentukan konteks organisasi dan pihak yang berkepentingan (pasal 4.1 dan 4.2)
  • Prosedur untuk menangani risiko dan peluang (klausul 6.1)
  • Prosedur untuk kompetensi, pelatihan dan kesadaran terhadap SMM (klausul 7.1.2, 7.2 dan 7.3)
  • Prosedur untuk pemeliharaan peralatan dan alat ukur (klausul 7.1.5)
  • Prosedur untuk pengendalian dokumen (klausul 7.5)
  • Prosedur penjualan (klausul 8.2)
  • Prosedur untuk desain dan pengembangan (klausul 8.3)
  • Prosedur untuk produksi dan penyediaan jasa (klausul 8.5)
  • Prosedur pergudangan (klausul 8.5.4)
  • Prosedur untuk pengelolaan ketidaksesuaian dan tindakan korektif (klausul 8.7 dan 10.2)
  • Prosedur untuk pemantauan kepuasan pelanggan (klausul 9.1.2)
  • Prosedur untuk audit internal (klausul 9.2)
  • Prosedur untuk tinjauan manajemen (klausul 9.3)

Jika anda berminat untuk mendapatkan pdf Cheklist Dokumen ISO 9001:2015 (Bahasa Indonesia) secara gratis, berikut langkah-langkah yang harus dilakukan :
1. Melakukan pendaftaran di Forum ISO Center Indonesia di isoindonesiacenter.com/pendaftaran-forum/
2. Mendownload filenya di isoindonesiacenter.com/forums/topic/checklist-dokumen-iso-9001-dan-14001/
Mari kita pergunakan layanan forum untuk berdiskusi, saling bertanya dan memberikan jawaban tentang berbagai permasalahan mengenai standar ISO.

Baca juga :

Tips Atau Langkah-langkah Keselamatan Kerja di Laboratorium

Daftar Dokumen Wajib ISO 9001: 2015

Inilah 7 Prinsip Manajemen Mutu ISO 9001:2015

Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 – Di Rilis 15 September 2015

Jenis-jenis Standar ISO yang digunakan Berbagai Sektor Industri

 

Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 - 2015

Daftar Dokumen Wajib ISO 9001: 2015

Dalam penerapan ISO 9001: 2015 diperlukan beberapa dokumen persyaratan yang wajib dimiliki atau dibuat oleh perusahaan sebagai persyaratan proses audit dan sertifikasi iso.

Berikut adalah daftar dokumen yang harus ada atau wajib untuk penerapan ISO 9001 yang terbaru yaitu ISO 9001:2015.

Daftar dokumen yang harus ada atau wajib untuk penerapan ISO 9001

Kebijakan Mutu

Kebijakan mutu merupakan dokumen pertama yang harus dibuat: Kebijakan mutu adalah dokumen yang berisi kebijakan manajemen terhadap mutu. Kebijakan mutu suatu dokumen yang isinya hampir mirip dengan visi misi dengan sedikit perbedaan Ini contoh

Sasaran Mutu

Sasaran mutu atau target tiap-tiap unit kerja merupakan dokumen yang harus dibuat setelah kebijakan mutu. Sasaran mutu harus terukur dan senantiasa dimonitor secara berkala. Orang sering menyebut sasaran mutu dengan istilah KPI (key performance index).

Ruang Lingkup sistem manajemen mutu (SMM)

Harus ada dokumen yang menyatakan ruang lingkup penerapan sistem manajemen mutu.

Rekaman Kalibrasi (Calibration)

Bukti kalibrasi atau verifikasi alat ukur harus tersedia (klausul 7.1.5.2)

Rekaman Kompetensi

Dokumen yang menunjukkan bukti kompetensi personil (klausul 7.2)

Review order dan Perubahan order

Bukti review order atau perubahan order harus ada. Ketika order diterima, order tersebut harus direview untuk menilai order dapat dipenuhi atau tidak dokumen ini biasanya terdapat di bagian sales ataumarketing. Bukti review order bisa dalam bentuk notulen rapat atau tanda tangan yang berwenang dalam dokumen order(klausul 8.2.3)

Bukti seleksi dan evaluasi supplier

Dokumen yang menunjukkan bahwa seleksi dan evaluasi supplier telah dilakukan (klausul 8.4.1).

Kepuasan pelanggan

Bukti survey kepuasan pelanggan telah dilakukan untuk melihat tingkat kepuasan pelanggan terhadap output perusahaan.

Internal Audit

Tersedianya laporan audit yang memuat perbaikan dari hasil temuan audit yang terdokumentasi. (klausul :9.2)

Manajemen review

Bukti tinjauan manajemen telah dilakukan harus bisa ditunjukan sebagai bukti bahwa manajemen puncak mereview dan selalu mengikuti perkembangan sistem manajemen mutu yang ada di perusahaan. (klasul 9.3)

Beberapa dokumen diatas masih belum mencakup semua dokumen yang dibutuhkan atau yang diwaijbkan dalam standar ISO 9001 :2015 yang baru, bisa saja bertambah sesuai dengan pendalaman setiap klausul ISO 9001:2015 dan bagi para praktisi atau yang mendalami ISO 9001:2015 bisa share di Komentar bila ada kekurangan atau masukan lainnya.

Tips keselamatan kerja di laboratorium

Tips Atau Langkah-langkah Keselamatan Kerja di Laboratorium

Bekerja di laboratorium dibutuhkan rules atau aturan keselamatan kerja di laboratorium. Ini adalah hal mutlak yang harus dimiliki dan ditaati oleh para pengguna laboratorium jenis apapun.

Pengertian laboratorium sendiri adalah tempat atau ruangan tertentu yang dilengkapi dengan peralatan untuk mengadakan percobaan, pengukuran, riset ataupun pelatihan ilmiah. Bekerja di laboratorium dapat memicu bahaya sehingga memerlukan tindakan pencegahan keselamatan yang tepat.

Tips keselamatan kerja di laboratorium:

Lakukan Pengawasan Berkala

Pemakaian laboratorium harus terus dipantau atau diawasi secara berkala demi keselamatan bersama. Anda tidak boleh membiarkan sembarang orang -dengan pengetahuan tentang keselamatan kerja di laboratorium yang kurang- melakukan eksperimen di laboratorium tanpa adanya pengawasan.

Penyeleksian izin pemakaian laboratorium adalah sebuah keharusan. Pastikan laboratorium digunakan oleh orang yang memiliki pengetahuan memadai tentang keselamatan kerja di laboratorium.

Menjaga Ruang Kerja Steril

Bekerja di laboratorium, terutama laboratorium mikrobiologi harus steril dari berbagai kemungkinan kontaminan. Seperti semua barang pribadi laboran meliputi tas, jaket dan lain sebagainya. Tidak membawa makanan atau minuman ke dalam laboratorium.

Untuk itulah, hendaknya laboratorium juga dilengkapi dengan ruang penyimpanan barang-barang pribadi laboran. Bisa dalam bentuk loker atau ruangan yang memang disediakan khusus yang jauh dari laboratorium.

Baca juga : Keselamatan dan Kesehatan Kerja Laboratorium Kimia

Perhatikan Kondisi Lab

Kondisi sebelum dan sesudah pemakaian laboratorium harus Anda diperhatikan. Ada beberapa hal yang perlu diseksamai yaitu jangan meninggalkan eksperimen dalam kondisi masih berlangsung atau berjalan. Selain itu, sebelum meninggalkan laboratorium, Anda harus memastikan semua peralatan laboratorium dalam kondisi mati dan bersih.

Jangan pernah meninggalkan pembakar bunsen dan peralatan pemanas lainnya dalam kondisi menyala. Jika ingin keluar atau meninggalkan laboratorium untuk keperluan tertentu, maka sebaiknya Anda mematikan terlebih dahulu pembakar bunsen atau pemanas lainnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan seperti kebakaran.

Gunakan Peralatan Perlindungan

Dari semua aturan keselamatan kerja di laboratorium, bagian ini adalah salah satu yang juga urgent yaitu pemakaian peralatan perlindungan diri. Adapun peralatan standar yang dibutuhkan meliputi sarung tangan, kacamata, alas kaki, sarung tangan dan peralatan perlindungan lainnya.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan dalam aturan keselamatan kerja di laboratorium adalah mengetahui lokasi peralatan keselamatan dan nomor darurat, identifikasi material atau bahan kimia berbahaya dan berhati-hati dalam memakai peralatan atau bahan yang ada.

Inilah 7 Prinsip Manajemen Mutu ISO 9001:2015

Prinsip Manajemen Mutu Iso 9001:2015

Prinsip Manajemen dalam kaitannya dengan Sistem Manajemen Mutu tertuang dalam ISO 9001. Arti prinsip sendiri merupakan suatu kebenaran umum maupun individu yang dijadikan seseorang atau kelompok sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak.

Begitu juga halnya Prinsip Manajemen Mutu dalam ISO 9001 tahun 2015, yang menjadi pedoman bagi siapa saja yang menerapkannya. Berbeda dengan ISO 9001:2008 yang memiliki 8 Prinsip Mutu, pada ISO 9001:2015 hanya terdapat 7 Prinsip Manajemen Mutu.

No ISO 9001:2008 ISO 9001:2015
1 Customer Focus Customer Focus
2 Leadership Leadership
3 Involvement of People Engagement of People
4 Process Approach Process Approach
5 System Approach to Management Improvement
6 Continual Improvement Evidance Based Decision Making
7 Factual Approach Decision Making Relationship Management
8 Mutual Beneficial Suppliers

Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas satu per satu, apa saja pengertian dari 7 Prinsip Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015.

7 Prinsip Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015

1. Customer Focus

Fokus Customer adalah prioritas utama dari Sistem Manajemen Mutu. Bentuk aplikasinya adalah dengan memberikan semua kebutuhan yang melebihi harapan Customer untuk ketercapaian kepuasan pelanggan. Sehingga keberlangsungan hidup perusahaan akan terjamin dalam jangka waktu yang panjang.

2. Leadership

Setiap pimpinan yang ada di perusahaan memiliki peran sebagai pelatih yang memiliki target sesuai sasaran perusahaan melalui pemberdayaan karyawan, pembuat keputusan berdasarkan data dan fakta (decision maker) serta membuat standard sistem manajemen perusahaan yang diwariskan untuk genarasi berikutnya.

3. Engagement of People

Menciptakan dan memberikan nilai lebih kepada Customer akan lebih mudah bila didukung oleh personal yang kompeten, mampu diberdayakan dan terlibat di semua tingkatan di seluruh Perusahaan. Bentuk aplikasinya adalah dengan mempromosikan pendekatan proses dan pentingnya kontribusi setiap tingkatan di Perusahaan.

4. Process Approach

Sistem manajemen mutu yang telah ditetapkan di perusahaan bukan dibuat berdasarkan pendekatan departemen, akan tetapi berdasarkan proses murni yang ada di perusahaan dengan melibatkan seluruh pihak yang terkait.

5. Improvement

Perusahaan yang sukses dan mampu bertahan dalam persaingan adalah Perusahaan yang fokus dalam improvement (peningkatan). Bentuk aplikasinya adalah dengan selalu melakukan perubahan melalui peningakatan berkelanjutan baik internal dan eksternal yang disesuaikan dengan iklim perubahan terkini. Sehingga perusahaan akan selalu siap menghadapi persaingan dengan para kompetitor.

6. Evidence Based Decision Making

Membuat keputusan berdasarkan data dan fakta. Bentuk aplikasinya adalah setiap menetapkan kesimpulan dari sebuah permasalahan ditetapkan berdasarkan analisis fakta dan data yang diperoleh selama melakukan analisa. Sehingga keputusan yang diambil akan menghasilkan keputusan yang produktif dan tepat sasaran.

7. Relationship Management

Untuk mempertahankan kesuksesan Perusahaan harus mengelola hubungannya dengan pihak-pihak yang berkepentingan (interested parties) diantaranya adalah para pemasoknya, mitra kerja, karyawan, pemerintah, masyarakat, dll.

Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 - 2015

Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 – Di Rilis 15 September 2015

Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 di rilis sejak tanggal 15 September 2015 oleh Lembaga International Organization for Standardization (IOS) yang merupakan standar sistem manajemen mutu yang dapat diterapkan pada berbagai organisasi baik itu besar ataupun kecil untuk memenuhi  persyaratan internasional dalam manajemen penjaminan mutu produk/jasa yang dihasilkannya.

Sistem manajemen ini mengacu pada apa yang organisasi lakukan untuk mengelola proses operasional/aktivitas perusahaan, sehingga produk/jasa yang dihasilkan memenuhi tujuan yang ditetapkan, seperti; Memenuhi persyaratan pelanggan dan Sesuai peraturan yang berlaku.

ISO 9001:2015 merupakan basic dari seluruh standar sistem manajemen yang ada. Oleh karena itu dalam ISO 9001:2015 secara spesifik Bab-bab dirancang sesuai struktur dalam Annex SL, yaitu “Hight Level Structure” (HSL) / 10 klausul.

Bab-bab ISO 9001:2015 secara spesifik

  1. Scope / Ruang LIngkup
  2. Normative Reference / Referensi Normatif
  3. Term and Definitations / Terminologi dan Definisi
  4. Context of The Organization / Konteks Organisasi
  5. Leadership / Kepemimpinan
  6. Planning / Perencanaan Sistem Manajemen Mutu
  7. Support / Pendukung
  8. Operation / Operasional
  9. Performance Evaluation / Evaluasi Kinerja
  10. Improvement / Peningkatan

 7 Prinsip Manajemen Mutu :

  1. Customer Focus / Fokus Pada Pelanggan
  2. Leadership / Kepemimpinan
  3. Engagement of People / Keterlibatan Orang
  4. Process Approach / Pendekatan Process
  5. Improvement / Peningkatan
  6. Evidance Based Decision Making / Pengambilan Keputusan Berbasis Bukti
  7. Relationship Manajemen / Hubungan Manajemen

Tujuan Perubahan dalam ISO 9001:2015

  • integrasi dengan sistem manajemen lainnya
  • menyediakan pendekatan yang integrative terhadap konsep manajemen organisasi
  • menyediakan fondasi yang konsisten untuk masa sepuluh tahun ke depan
  • mencerminkan kompleksitas dari lingkungan dimana organisasi beroprasi dewasa ini
  • memastikan standar internasional ini memenuhi kebutuhan seluruh bidang organisasi yang hendak mengadopsinya
  • meningkatkan kemampuan organisasi dalam upaya memuaskan pelanggan.

Hal baru dalam ISO 9001:2015

Hal baru dalam ISO 9001:2015 adalah persyaratan wajib tentang berpikir berbasis risiko (Risk Based Thinking) ada dalam Pasal 6.1 “ Tindakan untuk mengatasi risiko dan peluang “.

Risiko adalah efek ketidakpastian pada hasil yang diharapkan dan konsep pemikiran berbasis risiko ini selalu tersirat dalam pasal persyaratan ISO 9001:2015. Standar ini membuat berpikir berbasis risiko lebih eksplisit dan terwujud dalam persyaratan untuk pembentukan, pelaksanaan, pemeliharaan dan peningkatan terus-menerus dari sistem manajemen mutu.

Manajemen senior harus mampu menunjukan pemahaman risiko bisnis dan bagaimana risiko tersebut dapat berdampak pada kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Sebuah proses manajemen risiko yang efektif akan menjadi bagian yang mewarnai dari design sistem manajemen mutu organisasi yang mengadopsi standar ISO 9001:2015.

Dengan menerapkan berpikir berbasis risiko, organisasi memastikan sistem manajemen dapat mencapai hasil  yang diinginkan dan peningkatan berkelanjutan. Organisasi perlu mengidentifikasi dimana risiko timbul dan memastikan pengendaliannya. Perlu di ingat bahwa risiko yang diidentifikasikan sebagai efek ketidakpastian pada hasil, tidak semua proses sistem manajemen mutu memiliki tingkat risiko yang sama dalam hal kemampuan organisasi untuk memenuhi sasarannya dan konsekwensi dari proses, produk, pelayanan atau ketidakpastian sistem.

Ciri khas dari ISO 9001:2015 adalah tentang persyaratan dokumen. Tidak lagi diwajibkan untuk membuat prosedur pengendalian dokumen. Terminologi pengendalian dokumen di ganti dengan informasi terdokumentasi sesuai Pasal 7.5 “Informasi Terdokumentasi”. Hal ini memberikan tekanan pada informasi yaitu data perlu diklola, dan bukan pada fisik dokumennya.

Organisasi hanya perlu memutuskan informasi apa yang ingin dipertahankan, bagaimana memperbaharui, dan mengendalikan serta melindungi data informasi tersebut secara memadai.

Pasal yang mewajibkan adanya informasi terdokumentasi yang harus disimpan adalah sebagai berikut;

  1. kebijakan mutu (pasal 5.2.2),
  2. sasaran mutu (pasal 6.2.1),
  3. pemantauan dan pengukuran sumberdaya (pasal 7.1.5) khususnya tentang status kalibrasi dan kompetensi personel,
  4. rencana operasional dan pengendalian (pasal 8.1),
  5. review persyaratan terkait produk dan pelayanan (pasal 8.2.3),
  6. perubahan pada persyaratan terkait produk dan pelayanan (pasal 8.2.4),
  7. perencanaan design dan pengembangan (pasal 8.3.2),
  8. input design dan pengembangan (pasal 8.3.3),
  9. output design dan pengembangan (pasal 8.3.5),
  10. output design dan pengembangan (pasal 8.3.5),
  11. perubahan design dan pengembangan (pasal 8.3.6),
  12. pengendalian atas produk dan pelayanan yang disediakan oleh pihak eksternal (pasal 8.4.1),
  13. produksi dan penyediaan pelayanan (pasal 8.5.1),
  14. output design dan pengembangan (pasal 8.3.5),
  15. identifikasi dan kemampuan telusur (pasal 8.5.2),
  16. barang milik pelanggan atau pihak eksternal (pasal 8.5.3),
  17. pengendalian perubahan (pasal 8.5.6),
  18. pelepasan produk dan pelayanan (pasal 8.6),
  19. pengendalian atas output yang tidak sesuai untuk produk dan pelayanan (pasal 8.7),
  20. monitoring, pengukuran, analisa, dan evaluasi (pasal 9.1),
  21. internal audit (pasal 9.2),
  22. tinjauan manajemen (pasal 9.3),
  23. ketidaksesuaian dan tindakan koreksi (pasal 10.2).

 

Terkait penyimpanan informasi terdokumentasi ini dapat berupa media apa saja, baik digital maupunmedia konvensional seperti kertas. Format dan sumber penyimpanan juga tidak disyaratkan secara spesifik, artinya boleh dalam bentuk format apa saja.

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pengertian sehat digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan pekerjaannya, sementara itu pencegahan kecelakaan kerja sangatlah perlu, yang mana merupakan menyangkut semua masalah dan perilaku manusia.

Keselamatan kerja dalam istilah-istilah sehari-hari sering disebut safety, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Untuk meyakinkan penerapan K3 pada perusahaan maka pemerintah mensyaratkan setiap perusahaan yang mempekerjakan 100 orang karyawan atau lebih atau sifat proses atau bahan produksinya mengandung bahaya karena dapat menybabkan kecelakaan kerja berupa ledakan, kebakaran, pencemaran, dan penyakit akibat kerja, diwajibkan menerapkan dan melaksanakan sistem manajemen K3. Perusahaan perlu berpartisipasi aktif dalam masalah K3 dengan menyediakan rencana yang baik, yang dikenal dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

Menciptakan tenaga kerja yang produktif, sehat dan berkualitas membutuhkan suatu Sistem Manajemen yang khusus mengatur mengenai K3. Hal ini bertujuan :

1. Sebagai alat untuk mencapai derajad kesehatan tenaga kerja yang setinggitingginya, baik buruh, petani, nelayan, pegawai negeri, atau pekerjapekerja bebas.
2. Sebagai upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit dan kecelakaankecelakaan akibat kerja, pemeliharaan, dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja, perawatan dan mempertinggi efisiensi dan daya produktivitas
tenaga manusia dan penglipat ganda kegairahan serta kenikmatan kerja.

Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengkajian, tanggung jawab, prosedur, proses, dan sumber daya yang dibutuhkan dalam pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisiensi dan produktif.

Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terdiri dari beberapa subsistem, yaitu penetapan kebijakan, subsistem perencanaan K3, subsistem pelaksanaan K3, subsistem pengukuran dan evaluasi, serta subsistem peninjauan ulang dan perbaikan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja oleh manajemen.

Manajemen memiliki kewenangan dalam mengontrol setiap aktivitas kerja. Namun seringkali aktivitas tersebut tidak terkontrol dengan baik. Hal ini disebabkan oleh:

1. Manajemen K3 yang kurang terencana dengan baik
2. Kurang cepat atau kurang mendalamnya standar perencanaan
3. Pelaksanaan standar yang tidak tepat

Perencanaan manajemen K3 meliputi:
1. Kepemimpinan dan administrasinya
2. Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terpadu
3. Pengawasan
4. Analisis pekerjaan dan procedural
5. Penelitian dan analisis pekerjaan
6. Latihan bagi tenaga kerja
7. Penyediaan alat pelindung diri (APD)
8. Peningkatan kesadaran terhadap keselamatan dan kesehatan kerja
9. Sistem pemeriksaan dan pendataan

Penerapan sistem manajemen keselataman dan kesehatan kerja dalam Bab III pada pasal 4 Permenaker No. PER05/MEN/1996 maka perusahaan wajib melaksanakan lima prinsip dasar system manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja yaitu:

1. Menetapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan SMK3
2. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan K3
3. Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan mengembangkan kemampuan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan, dan sasaran K3
4. Mengukur secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja K3
5. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja K3

Pejelasan yang lebih terinci mengenai lima prinsip dasar SMK3 adalah sebagai berikut:

1. Komitmen dan Kebijakan
Perusahaan perlu mendefinisikan kebijakan K3 serta menjamin komitmennya terhadap SMK3, yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah:
a. Kepemimpinan dan komitmen
Komitmen sangatlah penting dalam penerapan SMK3 di tempat kerja dari seluruh pihak yang ada di tempat kerja, terutama dari pihak pengurus dan tenaga kerja dan peran serta pihak-pihak lain dalam penerapan ini. Wujud komitmen dalam bentuk:

– Membentuk organisasi-organisasi tempat kerja untuk mendukung terciptanya SMK3
– Menyediakan anggaran dan personil
– Melakukan perencanaan K3
– Melakukan penilaian atas kinerja K3

b. Tinjauan awal K3
Tempat kerja harus melakukan peninjauan awal K3 dengan cara
– Mengidentifikasi kondisi yang ada
– Mengidentifikasi sumber bahaya
– Menetapkan pemenuhan pengetahuan dan peraturan perundangan
– Membandingkan pemenuhan penerapan K3 dengan perusahaan dan sektor lain yang baik
– Meninjau sebab akibat dari kejadian yang membahayakan
– Menilai efisiensi dan efektifitas sumber daya

c. Kebijakan K3
Kebijakan K3 dari suatu organisasi merupakan pernyataan yang disebarluaskan kepada umum dan ditandatangai oleh manajemen senior sabagai bukti pernyataan komitmennya dan kehendaknya untuk bertanggung jawab tehadap K3

2. Perencanaan
Perencanaan yang dibuat oleh perusahaan harus efektif dengan memenuhi kebijakan, target dan sasaran K3. Perencanaan tersebut meliputi perencanaan manajemen risiko, pemenuhan dan penyebarluasan peraturan perundangan dan persyaratan lainnya, menetapkan tjuan dan sasaran k3, dan menggunakan indicator kinerja sebagai penilaian kinerja K3. Kegiatan lainnya adalaha menetapkan system pertanggungjawaban dan sasaran untuk pencapaian kebijakan K3, meningkatkan motivasi dan kesadaran semua pihak tentang SMK3, mengadakan pelatihan untuk terus menunjang sistem manajemen yang diterapkan perusahaan.

3. Penerapan dan Operasi
Manajemen harus menyediakan sumber daya yang penting untuk penerapan, pengendalian dan peningkatan sistem manajemen. Pada penerapan dan operasi meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Struktur dan tanggung jawab
Peranan, tanggung jawab dan kewenangan personil, yang mengatur, melaksanakan dan memeriksa aktivitas yang mempunyai dampak resiko-resiko K3 dalam aktivitas organisasi, fasilitas dan proses harus ditentukan, didokumentasikan dan dikominukasikan untuk pelaksanaan manajemen. Tanggung jawab tertinggi dalam keselamatan dan kesehatan kerja berada pada manajemen puncak. Organisasi harus menunjuk seorang anggota dewan direksi dengan tanggung jawab untuk menerapkan dan melaksanakan persyaratan dengan benar di lokasi dan tempat kegiatan di dalam organisasi.

Anggota manajemen yang ditunjuk harus mempunyai peran dan tanggung jawab:

– Menjamin persyaratan SMK3 dibuat, diterapkan dan dipelihara sesuai dengan persyaratan
– Melaporkan kinerja SMK3 kepada manajemen untuk dikaji dan sebagai dasar peningkatan SMK3

b. Pelatihan, kepedulian dan kompetensi
Personil harus kompeten untuk melakukan tugas-tugas yang mempunyai dampak K3 dalam pekerjaan. Kompetensi harus ditentukan sesuai atas dasar pendidikan, pelatihan, dan pengalaman. Perusahaan harus membuat dan memelihara prosedur untuk memastikan semua karyawan dari setiap fungsi dan tingkat peduli kepada:
– Pentingnya kesesuaian dengan kebijakan dan prosedur K3
– Konsekuensi K3, yang berpotensi dari kegiatan kinerjanya serta manfaat K3 dari kinerja perorangan
– Peranan dan tanggung jawabnya dalam mencapai kesesuaian dengan kebijakan dan prosedur K3 dengan persyaratan SMK3 termasuk persyaratan kesiagaan dan tanggap darurat
– Konsekuensi potensial dari penyimpangan terhadap prosedur operasi ditentukan.

c. Konsultasi dan komunikasi
Perusahaan harus membuat dan memelihara prosedur untuk memastikan informasi K3 yang sesuai  dikomunikasikan dari karyawandan kepada pihak-pihak terkait lainnya. Pengaturan informasi mengenai keterlibatan dan konsultasi harus didokumentasikan dan diberikan kepada pihak-pihak terkait. Untuk itu karyawan harus:
– Terlibat dalam pengembangan dan tujuan kebijakan dan prosedur untuk pengendalian risiko
– Dikonsultasikan apabila ada perubahan berdampak pada K3
– Menjadi wakil dalam hal K3
– Diinformasikan kepada wakil K3 dan wakil manajemen yang dipilih

d. Dokumentasi
Perusahaan harus membuat dan memelihara informasi dalam media cetak maupun elektronik untuk menerangkan inti manajemen dan interaksinya dan memberikan petunjuk dokumentasi yang terkait

e. Pengendalian dokumen dan data
Perusahaan harus membuat dan memelihara prosedur untuk menegndalikan semua dokumen yang disyaratkan oleh peraturan untuk menjamin bahwa:
– Dokumen dapat ditempatkan pada lokasi yang sudah ditentukan
– Dokumen secara berkala ditinjau, dirubah apabila diperlukan dan disetuji kecekupannya oleh personil yang diberi wewenang
– Dokumen mutakhir yang relevan tersedia di seluruh lokasi operasi yang penting bagi berfungsinya SMK3 secara efektif
– Dokumen kadaluarsa segera dimusnahkan dari semua penerbitan dan penggunaan
– Setiap dokumen kadaluarsa yang disimpan untuk keperluan perundang-undangan atau untuk keperluan pemeliharaan pengetahuan diidentifikasi secara tepat

f. Pengendalian operasional
Perusahaan harus mengidentifikasi kegiatan yang berkaitan dengan identifikasi risiko, dimana kendali pengukuran perlu dilakukan. Perusahaan harus merencanakan kegoatan ini termasuk pemeliharaanya untuk menjamin bahwa kegiatan ini dilaksanakan pada kondisi tertentu yaitu dengan:
– Membuat dan memelihara prosedur yang terdokumentasi untuk mengatasi situasi ketiadaan prosedur yang dapat menyababkan penyimpangan dari kebijakan dan tujuan K3
– Menetapkan criteria operasi di dalam prosedur
– Membuat dan memlihara prosedur yang berkaitan dengan identifikasi risiko K3 dari barang, peralaatn, dan jasa yang dibeli oleh perusahaan dan mengkomunikasikan prosedur persyartan yang relevan kepada pemasok dan kontraktor
– Membuat dan memelihara prosedur untuk mendesain tempat kerja, proses, instalasi, mesin, prosedur operasi dan organisasi kerja termasuk adaptasinya terhadap kemampuan manusia untuk menghilangkan atau mengurangi risiko K3

g. Kesiagaan dan tanggap darurat
Perusahaan harus membuat dan memelihara rencana dan prosedur untuk mengidentifikasi adanya potensi dan tanggap kepada insiden dan situasi darurat serta mencegah dan mengurangi terjadinya sakit dan luka yang mungkin berkaiatan dengannya. Perusahaan harus meninjau prosedur kesiagaan dan tanggap darurat khususnya sesudah terjadi kecelakaan atau situasi darurat.

4. Pengukuran dan Evaluasi
Perusahaan perlu mengukur, memantau, dan mengevaluasi kinerja K3 serta melakukan tindakan prefentif dan korektif. Pemgukuran dan evaluasi ini merupakan alat yang berguna untuk mengetahui keberhasilan penerapan SMK3, melakukan identifikasi untuk tindakan perbaikan dan mengukur, memantau, dan mengevaluasi kinerja SMK3.

Ada 3 kegiatan dalam melakukan pegukuran dan evaluasi yaitu:
a. Inspeksi dan pengujian
Harus ditetapkan dan dijaga konsistensinya dari prosedur inspeksi, pengujian, dan pemantauan yang berkaiatan dengan kebijkana K3. Prosedur inspeksi, pengujian dan pemantauan meliputi:
– Personil harus kompeten
– Mencatat inspeksi, pengujian dan pemantauan yang sedang berlangsung
– Peralatan dan metode yang memadai untuk menjamin dipenuhinya standar K3
– Tindakan perbaikan yang harus segera dilakukan
– Penyelidikan insiden
– Menganalisis dan meninjau ulang dari hari temuan

b. Audit SMK3
Audit adalah pemeriksaan secara sistematik dan independen untuk menentukan suatu kegiatan dan hasil-hasil yang berkaiatan sesuai dengan pengaturan yang direncanakan dan dilaksanakan secra efektif dan cocok untuk mencapai kebijakan dan tujuan perusahaan.

c. Tindakan perbaikan dan pencegahan
Temuan, kesimpulan dan saran-saran yang dicapai dari hasil pemantauan, audit dan tinjauan tentang SMK3 perlu didokumentasikan serta tindakan perbaikan dan pencegahan perlu diterapkan. Manajemen harus menjamin bahwa tindakan perbaiakan dan pencegahan tersebut telah dilaksanakan dan juga terdapat suatu tindak lanjut secara
sistematis untuk menjamin efektivitasnya.

5. Tinjauan ulang dan peningkatan oleh pihak manajemen
Perusahaan perlu secara rutin meninjau ulang dan terus menerus menerapkan SMK3 dengan tujuan meningkatkan K3 secara keseluruhan. Tinjauan ulang SMK3 mencakup:

a. Evaluasi terhadap penerpan kebijakan K3
b. Tinjauan ualng terhadap tujuan, sasarn, dan kinerja K3
c. Hasil temuan audit SMK3
d. Evaluasi efektivitas penerapan SMK3 dan kebutuhan untuk mengubah SMK3 sesuai dengan:

– Perubahan perundangan
– Perubahan harapn dan tuntutan dari pihak yang berkepentingan
– Perubahan dalam produk atau kegiatan perusahaan
– Perubahan dalam struktur perusahaan
– Kemajuan dalam ilmu teknologi
– Pengalaman yang didapat dari insiden K3
– Umpan balik
– Tuntutan pasar
– Pelaporan dan komunikasi

Standart Bekerja Di Ketinggian

standar operasional prosedur bekerja di ketinggian

Sasaran
Peratuan bekerja di ketingggian ini memberi peserta pengetahuan tentang pencegahan jatuh untuk pekerjaan di ketinggian dan keselamatan penggunaan perancah (scaffolding) melalui:

  • Pengenalan, penilaian dan pengendalian bahaya dan resiko terhadap berbagai fasilitas dan tempat kerja yang dilengkapi fall protection devices, pekerjaan dengan penggunaan scaffolding, platform, tangga, manlift dan alat- alat lain pendukung kerja selamat di ketinggian
  • Materi ini mencakup pemahaman persyaratan penggunaan dan pemeliharaan peralatan pelindung diri pencegahan jatuh
  • Pembahasan program proaktif prilaku aman dalam pencegahan jatuh

Prinsip

  • Bahwa kematian dapat terjadi akibat kecelakaan terjatuh,
  • Walaupun tidak semua, namun pada dasarnya kecelakaan terjatuh dapat dicegah
  • Pencegahan dapat dilakukan melalui pelatihan yang benar dan penggunaan alat pencegah jatuh yang benar

Tanggung Jawab

Karyawan

Penyedia

  • Mendorong karyawan bekerja dengan aman sekaligus memberikan training cara bekerja di ketinggian yang baik.
  • Memastikan bawahannya mematuhi prosedur yang ada.

Pimpinan

  • Merencanakan semua kegiatan kerja dan pengiriman barang tepat waktu sebanyak mungkin sehingga pekerjaan dapat diselesaikan di tempat yang serendah mungkin.

Persyaratan Keselamatan Lainnya

  • Pengaman tempat terbuka.
  • Pasang tanda peringatan agar teman sekerja mengetahui.

Pencegahan Jatuh

Agar bisa selamat dari pekerjaan di ketinggian setaip waktunya, Anda harus mengingat dua hal

  • Gunakan alat pencegah jatuh degan benar menyelamatkan jiwa anda.
  • Peralatan terbaik di dunia tidak bisa menyelamatkan bisa tidak di pergunakan dengan benar.
    (Peralatan terbaik di dunia ini tidak dapat membantu anda jika anada tidak menggunakannya secara benar)

Peralatan Pencegah Jatuh

Merupakan standar yang ditetapkan Perusahaan berdasarkan desain, penggunaan dan aplikasi railings, stairways, ramps, stiles, walkways, platforms dan fixed ladders

  • Desain mengacu pada:
  1. OSHA 29CFR (1910.23 ttg Guarding Floor and Wall and Holes, 1910.24 ttg Fixed Industrial Stairs, 1910.27 ttg Fixex Ladders),
  2. ANSI (A 12.1 – 1973 ttg Safety Requirements for Floor and Wall Opening, Railings, and Toeboards, A 64.1 – 1968 ttg Fixed Industrial Stairs, A 14.3 – 1984 ttg Ladders),

Pagar

Desain penggunaan steel materials merupakan pertimbangan pertama]

  • Penggunaan wooden materials harus dikurangi
  • Guard railing pelindung platforms, walkways, ramps & floors posisi pinggiran terbuka harus memiliki ketinggian minimal 2’6”, jarak lobang terbuka pada railing adalah 3”
  • Guard railing pelindung lantai terbuka adalah 1” x 1” atau

Jarak Bebas Pagar

  • Jarak Bebas Pagar
    Pencatelan alat pada railing bagian atas (jarak bebas minimum 1-1/2 inci sepanjang atas dan sisi railing atas dan sambungan pencantelan di sisi bawah dari railing bagian atas)
  • Jarak antara pada railing pelindung.
    Pencantelan alat pada railing bagian atas (jarak bebas minimum 1-1/2 inci sepanjang atas dan sisi railing atas
    dan sambungan pencantelan di sisi bawah dari railing bagian atas)

Pagar Pelindung

Paar Pelindung Metal

  • Seperti terlampir adalah dua dari beberapa support yang bisa diterima
  • Pipa 1-1/4 inci dengan schedule 40 sangat dianjurkan untuk bagian atas dan tengah pagar

Pagar besi Yang Bisa Dipindahkan

Bisa dipergunakan untuk bagian yang bisa dipindah- pindahkan, sehingga bisa memberi pelindung bagi keselamatan personil

Keadaan-keadaan yang Mensyaratkan Digunakannya Alat Pelindung Jatuh dan Lanyrds

  • Di semua stage, float dan jenis perancah menggantung lainnya.
  • Di perancah dengan decking atau guardrail yang tidak lengkap
  • Di atap yang landai
  • Dalam 2 (dua) meter dari pinggir lantai atau atap dimana tidak terdapat guardrail atau susuran tali kawat.
  • Ketika melepaskan plank lantai, cover lubang, grating, dan sebagainya dari panel terakhir di lantai sementara di ketinggian.

Jenis-Jenis Risiko Yang Harus di Hindari Oleh Perusahaan

Risiko yang dihadapi oleh suatu organisasi atau perusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam maupun dari luar. Oleh karena itu, risiko dalam organisasi sangat beragam sesuai dengan sifat, lingkup, skala dan jenis kegiatannya antara lain yaitu :

1. Risiko finansial (financial risk)

Setiap organisasi atau perusahaan mempunyai risiko finansial yang berkaitan dengan aspek keuangan. Ada berbagai risiko finansial seperti piutang macet, perubahan suku bunga, nilai tukar mata uang dan lain-lain. Risiko keuangan ini harus dikelola dengan baik agar organisasi tidak mengalami kerugian atau bahkan sampai gulung tikar.

2. Risiko pasar (market risk)

Risiko pasar dapat terjadi terhadap perusahaan yang produknya dikonsumsi atau digunakan secara luas oleh masyarakat. Setiap perusahaan mempunyai tanggung jawab terhadap produk dan jasa yang dihasilkannya. Perusahaan wajib menjamin bahwa produk barang atau jasa yang diberikan aman bagi konsumen. Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1986 tentang Perlindungan Konsumen memuat tentang tanggung jawab produsen terhadap produk dan jasa yang dihasilkannya termasuk keselamatan konsumen atau produk (product safety atau product liability).

Perusahaan harus memperhitungkan risiko pasar seperti adanya penolakan terhadap produk atau mungkin tuntutan hukum dari masyarakat konsumen atau larangan beredarnya produk dimasyarakat oleh lembaga yang berwenang. Risiko lain yang berkaitan dengan pasar dapat berupa persaingan pasar. Dalam era pasar terbuka kosumen memiliki kebebasan untuk memilih produk atau jasa yang disukainya dan sangat kritis terhadap mutu, harga, layanan dan jaminan keselamatannya. Setiap produk yang bersaing di pasar bebas menghadapi risiko untuk ditinggalkan konsumen.

3. Risiko alam (natural risk)

Bencana alam merupakan risiko yang dihadapi oleh siapa saja dan dapat terjadi setiap saat tanpa bisa diduga waktu, bentuk dan kekuatannya. Bencana alam dapat berupa angin topan atau badai, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, dan letusan gunung berapi. Disamping korban jiwa, bencana alam juga mengakibatkan kerugaian materil yang sangat besar yang memerlukan waktu pemulihan yang lama.

Di Indonesia, bencana alam merupakan ancaman serius bagi setiap usaha atau kegiatan. Indonesia berada di pertemuan lempeng yang meningkatkan risiko terjadinya gempa. Indonesia berada di antara dua benua dan dua lautan luas yang berpengaruh terhadap pola cuaca dan iklim. Indonesia juga memiliki rantai gunung berapi yang masih aktif. Oleh karena itu, faktor bencana alam harus diperhitungkan sebagai risiko yang dapat terjadi setiap saat.

4. Risiko operasional

Risiko dapat berasal dari kegiatan operasional yang berkaitan dengan bagaimana cara mengelola perusahaan yang baik dan benar. Perusahaan yang memiliki sistem manajemen yang kurang baik mempunyai risiko untuk mengalami kerugian. Risiko operasional suatu perusahaan tergantung dari jenis, bentuk dan skala bisnisnya masing-masing.

Yang termasuk kedalam risiko operasional antara lain yaitu :

a. Ketenagakerjaan

Tenaga kerja merupakan asset paling berharga dan menentukan dalam operasi perusahaan. Pada dasarnya perusahaan telah mengambil risiko yang berkaitan dengan ketenagakerjaan ketika perusahaan memutuskan untuk menerima seseorang bekerja. Perusahaan harus membayar gaji yang memadai bagi pekerjanya serta memberikan jaminan sosial yang diwajibkan menurut perundangan. Di samping itu perusahaan juga harus memberikan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja serta membayar tunjangan jika tenaga kerja mendapat kecelakaan.

Tenaga kerja merupakan salah satu unsur yang dapat memicu atau menyebabkan terjadinya kecelakaan atau kegagalan dalam proses produksi. Mempekerjakan pekerja yang tidak terampil, kurang pengetahuan, sembrono atau lalai dapat menimbulkan risiko yang serius terhadap keselamatan.

b. Teknologi

Aspek teknologi di samping bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas juga mengandung berbagai risiko. Penggunaan mesin modern misalnya dapat menimbulkan risiko kecelakaan dan pengurangan tenaga kerja. Teknologi juga bersifat dinamis dan terus berkembang dengan inovasi baru. Perusahaan yang buta terhadap perkembangan teknologi akan mengalami kemunduran dan tidak mampu bersaing dengan perusahaan lain yang menggunakan teknologi yang lebih baik.

Penerapan teknologi yang lebih baik oleh pesaing akan mempengaruhi produk, biaya dan kualitas yang dihasilkan sehingga dapat menjadi ancaman bagi perusahaan. Oleh karena itu, pemilihan dan penggunaan teknologi harus mempertimbangkan dampak risiko yang ditimbulkan.

c. Risiko K3

Risiko K3 adalah risiko yang berkaitan dengan sumber bahaya yang timbul dalam aktivitas bisnis yang menyangkut aspek manusia, peralatan, material dan lingkungan kerja. Umumnya risiko K3 dikonotasikan sebagai hal yang negatif (negative impact) seperti :

a. Kecelakaan terhadap tenaga kerja dan asset perusahaan
b. Kebakaran dan peledakan
c. Penyakit akibat kerja
d. Kerusakan sarana produksi
e. Gangguan operasi

Menurut data kecelakaan di Indonesia, pada tahun 2007 terjadi 89.000 kecelakaan kerja pada seluruh perusahaan yang menjadi anggota Jamsostek yang meliputi 7 juta pekerja. Salah satu upaya untuk mengendalikan risiko K3 adalah dengan menerapakan sistem manajemen K3 dengan salah satu aspeknya adalah melalui identifikasi bahaya dan penilaian risiko yang diimplementasikan di berbagai perusahaan.5. Risiko keamanan (security risk)

Masalah keamanan dapat berpengaruh terhadap kelangsungan usaha atau kegiatan suatu perusahaan seperti pencurian asset perusahaan, data informasi, data keuangan, formula produk, dll. Di daerah yang mengalami konflik dan gangguan keamanan dapat menghambat atau bahkan menghentikan kegiatan perusahaan.

Risiko keamanan dapat dikurangi dengan menerapkan system manajemen keamanan dengan pendekatan manajemen risiko. Manajemen keamanan dimulai dengan melakukan identifikasi semua potensi risiko keamanan yang ada dalam kegiatan bisnis, melakukan penilaian risiko dan selanjutnya melakukan langkah pencegahan dan pengamanannya.

6. Risiko sosial

Risiko sosial adalah risiko yang timbul atau berkaitan dengan lingkungan sosial dimana perusahaan beroperasi. Aspek sosial budaya seperti tingkat kesejahteraan, latar belakang budaya dan pendidikan dapat menimbulkan risiko baik yang positif maupun negatif. Budaya masyarakat yang tidak peduli terhadap aspek keselamatan akan mempengaruhi keselamatan operasi perusahaan.