Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pengertian sehat digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan pekerjaannya, sementara itu pencegahan kecelakaan kerja sangatlah perlu, yang mana merupakan menyangkut semua masalah dan perilaku manusia.

Keselamatan kerja dalam istilah-istilah sehari-hari sering disebut safety, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Untuk meyakinkan penerapan K3 pada perusahaan maka pemerintah mensyaratkan setiap perusahaan yang mempekerjakan 100 orang karyawan atau lebih atau sifat proses atau bahan produksinya mengandung bahaya karena dapat menybabkan kecelakaan kerja berupa ledakan, kebakaran, pencemaran, dan penyakit akibat kerja, diwajibkan menerapkan dan melaksanakan sistem manajemen K3. Perusahaan perlu berpartisipasi aktif dalam masalah K3 dengan menyediakan rencana yang baik, yang dikenal dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

Menciptakan tenaga kerja yang produktif, sehat dan berkualitas membutuhkan suatu Sistem Manajemen yang khusus mengatur mengenai K3. Hal ini bertujuan :

1. Sebagai alat untuk mencapai derajad kesehatan tenaga kerja yang setinggitingginya, baik buruh, petani, nelayan, pegawai negeri, atau pekerjapekerja bebas.
2. Sebagai upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit dan kecelakaankecelakaan akibat kerja, pemeliharaan, dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja, perawatan dan mempertinggi efisiensi dan daya produktivitas
tenaga manusia dan penglipat ganda kegairahan serta kenikmatan kerja.

Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengkajian, tanggung jawab, prosedur, proses, dan sumber daya yang dibutuhkan dalam pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisiensi dan produktif.

Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terdiri dari beberapa subsistem, yaitu penetapan kebijakan, subsistem perencanaan K3, subsistem pelaksanaan K3, subsistem pengukuran dan evaluasi, serta subsistem peninjauan ulang dan perbaikan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja oleh manajemen.

Manajemen memiliki kewenangan dalam mengontrol setiap aktivitas kerja. Namun seringkali aktivitas tersebut tidak terkontrol dengan baik. Hal ini disebabkan oleh:

1. Manajemen K3 yang kurang terencana dengan baik
2. Kurang cepat atau kurang mendalamnya standar perencanaan
3. Pelaksanaan standar yang tidak tepat

Perencanaan manajemen K3 meliputi:
1. Kepemimpinan dan administrasinya
2. Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terpadu
3. Pengawasan
4. Analisis pekerjaan dan procedural
5. Penelitian dan analisis pekerjaan
6. Latihan bagi tenaga kerja
7. Penyediaan alat pelindung diri (APD)
8. Peningkatan kesadaran terhadap keselamatan dan kesehatan kerja
9. Sistem pemeriksaan dan pendataan

Penerapan sistem manajemen keselataman dan kesehatan kerja dalam Bab III pada pasal 4 Permenaker No. PER05/MEN/1996 maka perusahaan wajib melaksanakan lima prinsip dasar system manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja yaitu:

1. Menetapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan SMK3
2. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan K3
3. Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan mengembangkan kemampuan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan, dan sasaran K3
4. Mengukur secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja K3
5. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja K3

Pejelasan yang lebih terinci mengenai lima prinsip dasar SMK3 adalah sebagai berikut:

1. Komitmen dan Kebijakan
Perusahaan perlu mendefinisikan kebijakan K3 serta menjamin komitmennya terhadap SMK3, yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah:
a. Kepemimpinan dan komitmen
Komitmen sangatlah penting dalam penerapan SMK3 di tempat kerja dari seluruh pihak yang ada di tempat kerja, terutama dari pihak pengurus dan tenaga kerja dan peran serta pihak-pihak lain dalam penerapan ini. Wujud komitmen dalam bentuk:

– Membentuk organisasi-organisasi tempat kerja untuk mendukung terciptanya SMK3
– Menyediakan anggaran dan personil
– Melakukan perencanaan K3
– Melakukan penilaian atas kinerja K3

b. Tinjauan awal K3
Tempat kerja harus melakukan peninjauan awal K3 dengan cara
– Mengidentifikasi kondisi yang ada
– Mengidentifikasi sumber bahaya
– Menetapkan pemenuhan pengetahuan dan peraturan perundangan
– Membandingkan pemenuhan penerapan K3 dengan perusahaan dan sektor lain yang baik
– Meninjau sebab akibat dari kejadian yang membahayakan
– Menilai efisiensi dan efektifitas sumber daya

c. Kebijakan K3
Kebijakan K3 dari suatu organisasi merupakan pernyataan yang disebarluaskan kepada umum dan ditandatangai oleh manajemen senior sabagai bukti pernyataan komitmennya dan kehendaknya untuk bertanggung jawab tehadap K3

2. Perencanaan
Perencanaan yang dibuat oleh perusahaan harus efektif dengan memenuhi kebijakan, target dan sasaran K3. Perencanaan tersebut meliputi perencanaan manajemen risiko, pemenuhan dan penyebarluasan peraturan perundangan dan persyaratan lainnya, menetapkan tjuan dan sasaran k3, dan menggunakan indicator kinerja sebagai penilaian kinerja K3. Kegiatan lainnya adalaha menetapkan system pertanggungjawaban dan sasaran untuk pencapaian kebijakan K3, meningkatkan motivasi dan kesadaran semua pihak tentang SMK3, mengadakan pelatihan untuk terus menunjang sistem manajemen yang diterapkan perusahaan.

3. Penerapan dan Operasi
Manajemen harus menyediakan sumber daya yang penting untuk penerapan, pengendalian dan peningkatan sistem manajemen. Pada penerapan dan operasi meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Struktur dan tanggung jawab
Peranan, tanggung jawab dan kewenangan personil, yang mengatur, melaksanakan dan memeriksa aktivitas yang mempunyai dampak resiko-resiko K3 dalam aktivitas organisasi, fasilitas dan proses harus ditentukan, didokumentasikan dan dikominukasikan untuk pelaksanaan manajemen. Tanggung jawab tertinggi dalam keselamatan dan kesehatan kerja berada pada manajemen puncak. Organisasi harus menunjuk seorang anggota dewan direksi dengan tanggung jawab untuk menerapkan dan melaksanakan persyaratan dengan benar di lokasi dan tempat kegiatan di dalam organisasi.

Anggota manajemen yang ditunjuk harus mempunyai peran dan tanggung jawab:

– Menjamin persyaratan SMK3 dibuat, diterapkan dan dipelihara sesuai dengan persyaratan
– Melaporkan kinerja SMK3 kepada manajemen untuk dikaji dan sebagai dasar peningkatan SMK3

b. Pelatihan, kepedulian dan kompetensi
Personil harus kompeten untuk melakukan tugas-tugas yang mempunyai dampak K3 dalam pekerjaan. Kompetensi harus ditentukan sesuai atas dasar pendidikan, pelatihan, dan pengalaman. Perusahaan harus membuat dan memelihara prosedur untuk memastikan semua karyawan dari setiap fungsi dan tingkat peduli kepada:
– Pentingnya kesesuaian dengan kebijakan dan prosedur K3
– Konsekuensi K3, yang berpotensi dari kegiatan kinerjanya serta manfaat K3 dari kinerja perorangan
– Peranan dan tanggung jawabnya dalam mencapai kesesuaian dengan kebijakan dan prosedur K3 dengan persyaratan SMK3 termasuk persyaratan kesiagaan dan tanggap darurat
– Konsekuensi potensial dari penyimpangan terhadap prosedur operasi ditentukan.

c. Konsultasi dan komunikasi
Perusahaan harus membuat dan memelihara prosedur untuk memastikan informasi K3 yang sesuai  dikomunikasikan dari karyawandan kepada pihak-pihak terkait lainnya. Pengaturan informasi mengenai keterlibatan dan konsultasi harus didokumentasikan dan diberikan kepada pihak-pihak terkait. Untuk itu karyawan harus:
– Terlibat dalam pengembangan dan tujuan kebijakan dan prosedur untuk pengendalian risiko
– Dikonsultasikan apabila ada perubahan berdampak pada K3
– Menjadi wakil dalam hal K3
– Diinformasikan kepada wakil K3 dan wakil manajemen yang dipilih

d. Dokumentasi
Perusahaan harus membuat dan memelihara informasi dalam media cetak maupun elektronik untuk menerangkan inti manajemen dan interaksinya dan memberikan petunjuk dokumentasi yang terkait

e. Pengendalian dokumen dan data
Perusahaan harus membuat dan memelihara prosedur untuk menegndalikan semua dokumen yang disyaratkan oleh peraturan untuk menjamin bahwa:
– Dokumen dapat ditempatkan pada lokasi yang sudah ditentukan
– Dokumen secara berkala ditinjau, dirubah apabila diperlukan dan disetuji kecekupannya oleh personil yang diberi wewenang
– Dokumen mutakhir yang relevan tersedia di seluruh lokasi operasi yang penting bagi berfungsinya SMK3 secara efektif
– Dokumen kadaluarsa segera dimusnahkan dari semua penerbitan dan penggunaan
– Setiap dokumen kadaluarsa yang disimpan untuk keperluan perundang-undangan atau untuk keperluan pemeliharaan pengetahuan diidentifikasi secara tepat

f. Pengendalian operasional
Perusahaan harus mengidentifikasi kegiatan yang berkaitan dengan identifikasi risiko, dimana kendali pengukuran perlu dilakukan. Perusahaan harus merencanakan kegoatan ini termasuk pemeliharaanya untuk menjamin bahwa kegiatan ini dilaksanakan pada kondisi tertentu yaitu dengan:
– Membuat dan memelihara prosedur yang terdokumentasi untuk mengatasi situasi ketiadaan prosedur yang dapat menyababkan penyimpangan dari kebijakan dan tujuan K3
– Menetapkan criteria operasi di dalam prosedur
– Membuat dan memlihara prosedur yang berkaitan dengan identifikasi risiko K3 dari barang, peralaatn, dan jasa yang dibeli oleh perusahaan dan mengkomunikasikan prosedur persyartan yang relevan kepada pemasok dan kontraktor
– Membuat dan memelihara prosedur untuk mendesain tempat kerja, proses, instalasi, mesin, prosedur operasi dan organisasi kerja termasuk adaptasinya terhadap kemampuan manusia untuk menghilangkan atau mengurangi risiko K3

g. Kesiagaan dan tanggap darurat
Perusahaan harus membuat dan memelihara rencana dan prosedur untuk mengidentifikasi adanya potensi dan tanggap kepada insiden dan situasi darurat serta mencegah dan mengurangi terjadinya sakit dan luka yang mungkin berkaiatan dengannya. Perusahaan harus meninjau prosedur kesiagaan dan tanggap darurat khususnya sesudah terjadi kecelakaan atau situasi darurat.

4. Pengukuran dan Evaluasi
Perusahaan perlu mengukur, memantau, dan mengevaluasi kinerja K3 serta melakukan tindakan prefentif dan korektif. Pemgukuran dan evaluasi ini merupakan alat yang berguna untuk mengetahui keberhasilan penerapan SMK3, melakukan identifikasi untuk tindakan perbaikan dan mengukur, memantau, dan mengevaluasi kinerja SMK3.

Ada 3 kegiatan dalam melakukan pegukuran dan evaluasi yaitu:
a. Inspeksi dan pengujian
Harus ditetapkan dan dijaga konsistensinya dari prosedur inspeksi, pengujian, dan pemantauan yang berkaiatan dengan kebijkana K3. Prosedur inspeksi, pengujian dan pemantauan meliputi:
– Personil harus kompeten
– Mencatat inspeksi, pengujian dan pemantauan yang sedang berlangsung
– Peralatan dan metode yang memadai untuk menjamin dipenuhinya standar K3
– Tindakan perbaikan yang harus segera dilakukan
– Penyelidikan insiden
– Menganalisis dan meninjau ulang dari hari temuan

b. Audit SMK3
Audit adalah pemeriksaan secara sistematik dan independen untuk menentukan suatu kegiatan dan hasil-hasil yang berkaiatan sesuai dengan pengaturan yang direncanakan dan dilaksanakan secra efektif dan cocok untuk mencapai kebijakan dan tujuan perusahaan.

c. Tindakan perbaikan dan pencegahan
Temuan, kesimpulan dan saran-saran yang dicapai dari hasil pemantauan, audit dan tinjauan tentang SMK3 perlu didokumentasikan serta tindakan perbaikan dan pencegahan perlu diterapkan. Manajemen harus menjamin bahwa tindakan perbaiakan dan pencegahan tersebut telah dilaksanakan dan juga terdapat suatu tindak lanjut secara
sistematis untuk menjamin efektivitasnya.

5. Tinjauan ulang dan peningkatan oleh pihak manajemen
Perusahaan perlu secara rutin meninjau ulang dan terus menerus menerapkan SMK3 dengan tujuan meningkatkan K3 secara keseluruhan. Tinjauan ulang SMK3 mencakup:

a. Evaluasi terhadap penerpan kebijakan K3
b. Tinjauan ualng terhadap tujuan, sasarn, dan kinerja K3
c. Hasil temuan audit SMK3
d. Evaluasi efektivitas penerapan SMK3 dan kebutuhan untuk mengubah SMK3 sesuai dengan:

– Perubahan perundangan
– Perubahan harapn dan tuntutan dari pihak yang berkepentingan
– Perubahan dalam produk atau kegiatan perusahaan
– Perubahan dalam struktur perusahaan
– Kemajuan dalam ilmu teknologi
– Pengalaman yang didapat dari insiden K3
– Umpan balik
– Tuntutan pasar
– Pelaporan dan komunikasi

Pedoman Keselamatan Akan Bahaya Listrik

Pedoman keselamatan akan bahaya listrik di laboratorium, sebagaimana di tempat-tempat lain, berkaitan dengan pengetahuan akan potensi-potensi bahaya dan tindakan-tindakan pencegahannya. Tindakan-tindakan pencegahan di laboratorium listrik/komputer merupakan hal yang penting karena potensi-potensi bahaya yang ada di dalamnya.

Jika 0,1 Ampereatau lebih arus listrik mengalir melalui kepala atau dada bagian atas, risiko kematian hampir pasti, dan terbukti fatal pada penderita gangguan koroner. Arus listrik yang mengalir melalui tubuh dipengaruhi oleh resistansi tubuh, resistansi antara tubuh dengan lantai, dan tegangan sumber. Jika kulit basah, maka jantung akan lemah dan kontak antara tubuh dengan lantai menjadi besar dan langsung, sehingga tegangan sebesar 40 Volt dapat
berisiko fatal.

Oleh karena itu, hindari mengambil risiko dengan tegangan “rendah” sekalipun. Ketika bekerja di laboratorium, luka-luka seperti luka bakar, patah tulang, terkilir, atau gangguan pada mata, dapat terjadi. Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menghindari terjadinya luka-luka tersebut termasuk risiko akibat sengatan listrik.

Pengguna laboratorium perlu memiliki nomor telepon darurat yang dapat dihubungi untuk pengarahan jika diperlukan. Apabila muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai keselamatan, konsultasikan dengan dengan demonstran ataupun teknisi laboratorium. Mengetahui tindakan-tindakan pencegahan yang tepat merupakan hal yang penting ketika bekerja di laboratorium untuk menghindari risiko bahaya pada diri sendiri maupun orang lain. Bahaya paling umum adalah sengatan listrik yang dapat berakibat fatal apabila tidak berhati-hati.

Pengguna laboratorium perlu mengetahui lokasi dari perangkat-perangkat keselamatan yang
ada di dalam lab:
a. Alat pemadam api
b. Kotak P3K
c. Telepon dan nomor-nomor darurat

Sengatan Listrik

Sengatan listrik disebabkan karena aliran arus listrik melalui tubuh. Tingkat keparahannya bergantung pada besarnya arus. Sengatan listrik sebesar 1mA biasanya menyebabkan rasa kesemutan/geli yang tidak nyaman.  engatan arus listrik di atas 10mA dapat menyebabkan nyeri otot yang cukup parah sehingga korban kesulitan melepaskan konduktor akibat kejang otot. Arus diantara 100mA dan 200mA (50 Hz AC) dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel pada jantung sehingga berisiko kematian. Besarnya tegangan yang menghasilkan arus berisiko fatal bergantung pada resistansi dari kulit. Kulit yang basah dapat memiliki resistansi setidak ya 150Ω dan kulit yang kering 15kΩ. Nilai resistansi tangan dan kaki diperkirakan sebesar 100Ω dan tubuh 200Ω.

Dari nilai-nilai resistansi tersebut,diperkirakan bahwa tegangan 240Volt dapat menyebabkan arus listrik sekitar 500mA mengalir melalui tubuh dengan kondisi kulit basah, sehingga dapat berisiko fatal. Disamping itu nilai resistansi dari kulit juga menurun dengan drastis pada bagian yang terkena kontak langsung dengan konduktor.
Dengan demikian sangat penting sekali untuk segera memisahkan konduktor dengan bagian tubuh yang terkena kontak, untuk mencegah arus meningkat sampai pada level yang dapat mematikan.

Grounding Peralatan

Grounding merupakan hal yang sangat penting. Grounding yang tidak tepat, dapat menyebabkan eror, bising, dan banyak masalah lainnya. Grounding pada peralatan listrik dapat mencegah terjadinya sengatan listrik. Instrumen dan peralatan listrikmemiliki casing yang secara elektrik sudah di insulasi  dari kabel-kabel yang mengalirkan arus listrik. Isolasi tersebut dilakukan dengan cara insulasi pada kabel-kabel listrik sebagaimana dilihatkan pada gambar di bawah.

Namun demikian, apabila insulasi pada kabel cacat/terkelupas dan terjadi kontak langsung antara bagian tersebut dengan casing, maka casing akan berada pada kondisi bertegangan tinggi. Jika pengguna menyentuh alat, maka tegangan tinggi tersebut akan terasa. Jika pengguna sedang berdiri di atas lantai basah dan bersentuhan dengan
casing tersebut, maka arus yang cukup besar akan mengalir melaluinya sebagaimana diperlihatkan pada gambar b. Tapi apabila casingdihubungkan ke tanah (ground) dengan menggunakan kabel ketiga (kabel ground), maka arus dari casing akan mengalir langsung ke tanah tanpa melalui pengguna alat.

Peralatan dengan kabel tiga sumbu lebih aman digunakan. Kabel ketiga yang terhubung ke casing, juga terhubung ke tanah (biasanya melalui pipa atau batangan besi di dalam tanah) melalui stopkontak di dinding.

Selalu perhatikan tindakan-tindakan pencegahan berikut ketika bekerja di laboratorium:
1. Jangan bekerja sendirian jika bekerja dengan peralatan listrik yang bertegangan tinggi, peralatan yang menyimpan energi listrik, atau mesin-mesin yang dioperasikan dengan listrik seperti mesin bor.
2. Ketika merakit, membongkar, atau memodifikasi eksperimen atau proyek, aliran listrik harus diputus dari peralatan. Hubungkan titik-titik dengan tegangan tinggi ke tanah (grounding) dengan penghubung yang terinsulasi dengan baik. Ingat! Kapasitor dapat menyimpan energi dengan kuantitas yang membahayakan.
3. Lakukan pengukuran pada sirkuit aktif atau kapasitor dengan menggunakan alat ukur yang pegangannya terinsulasi dengan baik, serta menjaga salah satu tangan tetap di belakang tubuh atau di dalam saku. Jangan biarkan terjadi kontak antara bagian tubuh manapun baik dengan bagian manapun pada sirkuit maupun peralatan yang terhubung ke sirkuit.
4. Setelah memutus aliran listrik, kosongkan isi kapasitor-kapasitor yang ada di sirkuit. Jangan langsung yakin dengan kapasitor-kapasitor yang seharusnya dalam kondisi kosong. Beberapa jenis kapasitor dapat menyimpan energi residu walaupun telah dikosongkan. Gunakan sejenis konduktor penghubungpada kapasitor, dan jaga agar tetap terhubung sampai alat siap digunakan kembali. Jika menggunakan kapasitor elektrolit, jangan:
• Menggunakan tegangan berlebih
• Menggunakan arus AC
• Menghubungkan dengan keadaan polaritas yang terbalik
5. Berhati-hatilahdalam menggunakan peralatan yang dapat menyebabkan arus pendek jika terhubung dengan elemen-elemen sirkuit yang lain. Gunakan hanya peralatan yang memiliki pegangan dengan insulasi yang baik.
6. Jika terjadi kontak antara seseorang dengan listrik tegangan tinggi segera matikan sumber listrik. Jangan mencoba untuk menarik orang tersebut kecuali jika kita dalam keadaan terinsulasi. Jika korban tidak bernafas, segera beri CPR (bantuan pernafasan) secepatnya sampai korban tersadar, dan segera hubungi pihak rumah sakit.
7. Periksa spesifikasi kabel jika menggunakan arus tinggi. Pastikan timah yang digunakan dapat digunakan untuk tegangan tinggi. Demikian juga untuk timah-timah pada instrumen.
8. Hindari menyentuh secara bersamaan logam selubung (casing) sirkuit serta pipa-pipa di laboratorium yang terhubung ke tanah (seperti pipa air).
9. Pastikan instrumen-instrumen di laboratorium telah di grounding, jangan menyentuh maupun menggunakan peralatan-peralatan listrik yang basah, lembab, atau tidak ada grounding.
10. Jangan pernah menyentuh peralatan listrik jika sedang berdiri di atas lantai basah atau lantai logam.
11. Memakai cincin atau jam tangan di laboratorium listrik dapat membahayakan, karena bendabenda tersebut  dapat bertindak sebagai elektrode pada tubuh manusia.
12. Jika bekerja dengan mesin-mesin berputar, masukkan dasi dan kalung ke dalam baju, atau akan lebih baik jika dilepas.
13. Jangan membuka sirkuit motor DC karena pada kecepatan tinggi dapat menyebabkan ledakan mekanik.
14. Jauhkan mata dari arcingpoint. Lampu arc dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan gangguan mata yang serius. Siraman tembaga cair dapat menyebabkan luka mata permanen.
15. Jangan pernah mengoperasikan circuitbreaker berwarna hitam pada panel sirkuit utama maupun cabang.
16. Dalam keadaan darurat seluruh aliran listrik dalam laboratorium dapat dipadamkan dengan melepas (depressing) tombol merah besar pada panel breaker utama. Ketahui posisinya! Hanya digunakan untuk keadaan darurat.
17. Kursi dan bangku harus diletakkan/dimasukkan di bawah meja ketika tidak digunakan. Duduklah dengan tegak di kursi atau bangku. Berhati-hatilah dengan lantai yang basah.
18. Permainan permainan fisik, berlari-lari, atau gurauan-gurauan fisik tidak boleh dilakukan di laboratorium.
19. Jangan pernah menggunakan air untuk memadamkan kebakaran akibat listrik. Jika mungkin matikan sumber listrik, kemudian gunakan CO2 atau pemadam api jenis kering. Ketahui posisi pemadam api, dan baca petunjuk penggunaannya.
20. Jangan pernah menyentuh satu pun kabel-kabel pada sirkuit.
21. Hindari permukaan yang mendisipasikan panas pada resistor-resistor dengan watt tinggi, karena dapat menyebabkan luka yang parah.
22. Jaga kebersihan mesin-mesin yang berputar.  Langkah-langkah pencegahan sebelum memulai eksperimen agar waktu yang dialokasikan efektif:
a. Sebelum melakukan eksperimen bacalah bahan-bahan yang terkait sebagai persiapan untuk menjawab kuis sebelum eksperimen dan untuk penghitungan hasil eksperimen.
b. Pastikan bahwa perangkat eksperimen yang akan digunakan dalam kondisi baik. Mintalah bantuan dari teknisi atau demonstran laboratorium apabila ada permasalahan.

• Powersupply bekerja dengan benar ketika lampu (LED) indikator Imax (arus maksimum) nonaktif. Arus maksimum akan menghambat pergerakan dial dan dapat menyebabkan kerusakan pada alat. Dua faktor yang dapat menyalakan LED indikator adalah short sirkuit dan suplai arus yang tidak cukup dari peralatan. Untuk memantau dan menjaga suplai power konstan, peralatan harus terhubung dengan sirkuit selama pengukuran tegangan. DMM (Digital Multimeter) jangan digunakan bersamaan dengan osiloskop untuk menghindari hasil yang salah
• DMM yang baterainya sudah lemah jangan digunakan. Dengan pemasangan yang tepat, periksa kondisi sekring-sekring (penting pada pengukuran arus). Bandingkan penggunaan DMM pada berbagai jenis pengukuran lainnya. Verifikasi hasil-hasil pengukuran yang diperoleh dengan nilai-nilai teoritis yang telah dihitung.
• Perlu memahami fungsi dari generator sinyal tegangan. Pastikan frekuensi yang diinginkan muncul dengan menekan tombol multiplier yang tepat. Pengaturan yang tidak tepat (seperti tombol yang ditekan tidak diset pada nilai minimum) dapat menyebabkan nilai yang salah sehingga hasil perhitungan tidak benar.
• Pastikan osiloskop analog maupun digital terkalibrasi dengan baik.

c. Mahasiswa harus yakin bahwa nilai pengukuran yang diperoleh dari komponen-komponen diskrit (seperti resistor, kapasitor, dan induktor) sesuai dengan yang diinginkan.
d. Pengecekan secara berkala pada konektor atau kabel dengan menggunakan DMM harus dilakukan sebelum melakukan eksperimen. Minimalkan penggunaan kabel untuk menghindari kesalahan.
e. Memalsukan hasil pengukuran agar sesuai dengan nilai perhitungan secara teori merupakan tindakan yang tidak etis.

Jenis-Jenis Risiko Yang Harus di Hindari Oleh Perusahaan

Risiko yang dihadapi oleh suatu organisasi atau perusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam maupun dari luar. Oleh karena itu, risiko dalam organisasi sangat beragam sesuai dengan sifat, lingkup, skala dan jenis kegiatannya antara lain yaitu :

1. Risiko finansial (financial risk)

Setiap organisasi atau perusahaan mempunyai risiko finansial yang berkaitan dengan aspek keuangan. Ada berbagai risiko finansial seperti piutang macet, perubahan suku bunga, nilai tukar mata uang dan lain-lain. Risiko keuangan ini harus dikelola dengan baik agar organisasi tidak mengalami kerugian atau bahkan sampai gulung tikar.

2. Risiko pasar (market risk)

Risiko pasar dapat terjadi terhadap perusahaan yang produknya dikonsumsi atau digunakan secara luas oleh masyarakat. Setiap perusahaan mempunyai tanggung jawab terhadap produk dan jasa yang dihasilkannya. Perusahaan wajib menjamin bahwa produk barang atau jasa yang diberikan aman bagi konsumen. Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1986 tentang Perlindungan Konsumen memuat tentang tanggung jawab produsen terhadap produk dan jasa yang dihasilkannya termasuk keselamatan konsumen atau produk (product safety atau product liability).

Perusahaan harus memperhitungkan risiko pasar seperti adanya penolakan terhadap produk atau mungkin tuntutan hukum dari masyarakat konsumen atau larangan beredarnya produk dimasyarakat oleh lembaga yang berwenang. Risiko lain yang berkaitan dengan pasar dapat berupa persaingan pasar. Dalam era pasar terbuka kosumen memiliki kebebasan untuk memilih produk atau jasa yang disukainya dan sangat kritis terhadap mutu, harga, layanan dan jaminan keselamatannya. Setiap produk yang bersaing di pasar bebas menghadapi risiko untuk ditinggalkan konsumen.

3. Risiko alam (natural risk)

Bencana alam merupakan risiko yang dihadapi oleh siapa saja dan dapat terjadi setiap saat tanpa bisa diduga waktu, bentuk dan kekuatannya. Bencana alam dapat berupa angin topan atau badai, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, dan letusan gunung berapi. Disamping korban jiwa, bencana alam juga mengakibatkan kerugaian materil yang sangat besar yang memerlukan waktu pemulihan yang lama.

Di Indonesia, bencana alam merupakan ancaman serius bagi setiap usaha atau kegiatan. Indonesia berada di pertemuan lempeng yang meningkatkan risiko terjadinya gempa. Indonesia berada di antara dua benua dan dua lautan luas yang berpengaruh terhadap pola cuaca dan iklim. Indonesia juga memiliki rantai gunung berapi yang masih aktif. Oleh karena itu, faktor bencana alam harus diperhitungkan sebagai risiko yang dapat terjadi setiap saat.

4. Risiko operasional

Risiko dapat berasal dari kegiatan operasional yang berkaitan dengan bagaimana cara mengelola perusahaan yang baik dan benar. Perusahaan yang memiliki sistem manajemen yang kurang baik mempunyai risiko untuk mengalami kerugian. Risiko operasional suatu perusahaan tergantung dari jenis, bentuk dan skala bisnisnya masing-masing.

Yang termasuk kedalam risiko operasional antara lain yaitu :

a. Ketenagakerjaan

Tenaga kerja merupakan asset paling berharga dan menentukan dalam operasi perusahaan. Pada dasarnya perusahaan telah mengambil risiko yang berkaitan dengan ketenagakerjaan ketika perusahaan memutuskan untuk menerima seseorang bekerja. Perusahaan harus membayar gaji yang memadai bagi pekerjanya serta memberikan jaminan sosial yang diwajibkan menurut perundangan. Di samping itu perusahaan juga harus memberikan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja serta membayar tunjangan jika tenaga kerja mendapat kecelakaan.

Tenaga kerja merupakan salah satu unsur yang dapat memicu atau menyebabkan terjadinya kecelakaan atau kegagalan dalam proses produksi. Mempekerjakan pekerja yang tidak terampil, kurang pengetahuan, sembrono atau lalai dapat menimbulkan risiko yang serius terhadap keselamatan.

b. Teknologi

Aspek teknologi di samping bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas juga mengandung berbagai risiko. Penggunaan mesin modern misalnya dapat menimbulkan risiko kecelakaan dan pengurangan tenaga kerja. Teknologi juga bersifat dinamis dan terus berkembang dengan inovasi baru. Perusahaan yang buta terhadap perkembangan teknologi akan mengalami kemunduran dan tidak mampu bersaing dengan perusahaan lain yang menggunakan teknologi yang lebih baik.

Penerapan teknologi yang lebih baik oleh pesaing akan mempengaruhi produk, biaya dan kualitas yang dihasilkan sehingga dapat menjadi ancaman bagi perusahaan. Oleh karena itu, pemilihan dan penggunaan teknologi harus mempertimbangkan dampak risiko yang ditimbulkan.

c. Risiko K3

Risiko K3 adalah risiko yang berkaitan dengan sumber bahaya yang timbul dalam aktivitas bisnis yang menyangkut aspek manusia, peralatan, material dan lingkungan kerja. Umumnya risiko K3 dikonotasikan sebagai hal yang negatif (negative impact) seperti :

a. Kecelakaan terhadap tenaga kerja dan asset perusahaan
b. Kebakaran dan peledakan
c. Penyakit akibat kerja
d. Kerusakan sarana produksi
e. Gangguan operasi

Menurut data kecelakaan di Indonesia, pada tahun 2007 terjadi 89.000 kecelakaan kerja pada seluruh perusahaan yang menjadi anggota Jamsostek yang meliputi 7 juta pekerja. Salah satu upaya untuk mengendalikan risiko K3 adalah dengan menerapakan sistem manajemen K3 dengan salah satu aspeknya adalah melalui identifikasi bahaya dan penilaian risiko yang diimplementasikan di berbagai perusahaan.5. Risiko keamanan (security risk)

Masalah keamanan dapat berpengaruh terhadap kelangsungan usaha atau kegiatan suatu perusahaan seperti pencurian asset perusahaan, data informasi, data keuangan, formula produk, dll. Di daerah yang mengalami konflik dan gangguan keamanan dapat menghambat atau bahkan menghentikan kegiatan perusahaan.

Risiko keamanan dapat dikurangi dengan menerapkan system manajemen keamanan dengan pendekatan manajemen risiko. Manajemen keamanan dimulai dengan melakukan identifikasi semua potensi risiko keamanan yang ada dalam kegiatan bisnis, melakukan penilaian risiko dan selanjutnya melakukan langkah pencegahan dan pengamanannya.

6. Risiko sosial

Risiko sosial adalah risiko yang timbul atau berkaitan dengan lingkungan sosial dimana perusahaan beroperasi. Aspek sosial budaya seperti tingkat kesejahteraan, latar belakang budaya dan pendidikan dapat menimbulkan risiko baik yang positif maupun negatif. Budaya masyarakat yang tidak peduli terhadap aspek keselamatan akan mempengaruhi keselamatan operasi perusahaan.

Resiko Kecelakaan Kerja pada Proyek Konstruksi

Kecelakaan kerja dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu

a. Kecelakaan umum
Adalah kecelakaan yang terjadi tidak ada hubungannya dengan pekerjaan seperti kecelakaan pada waktu hari libur/ cuti, kecelakaan di rumah dll.

b. Kecelakaan akibat kerja
Adalah kecelakaan yang berhubungan dengan kerja di perusahaan. Kecelakaan karena pekerjaan atau pada waktu
melaksanakan pekerjaan.

Kecelakaan di industri konstruksi termasuk kecelakaan akibat kerja. Industri konstruksi sangat rawan terhadap kecelakaan kerja. Hal ini disebabkan karena sifat-sifat khusus konstruksi yang tidak sama dengan industri lainnya yaitu :

a. Jenis pekerjaan/ kegiatan pada industri konstruksi pada setiap proyek sangat berlainan (tidak standar), sangat
dipengaruhi oleh bentuk/ jenis bangunan, lokasi, kondisi dan situasi lingkungan kerja serta metode pelaksanaannya.
b. Pada setiap pekerjaan konstruksi terdapat berbagai macam jenis kegiatan yang seringkali dilaksanakan secara simultan dengan tujuan untuk mencapai target waktu yang tepat sesuai dengan kontrak yang telah disepakati bersama antara pemilik dan pelaksana proyek.
c. Masih banyaknya kegiatan konstruksi yang menggunakan tangan (manual), yang mungkin tidak dapat dihindari.
d. Teknologi yang menunjang kegiatan konstruksi selalu berkembang dan bervariasi mengikuti laju perkembangan
kegiatan konstruksi dan tergantung dari jenis-jenis pekerjaanya.
e. Banyaknya pihak-pihak yang terkait/ ikut ambil bagian atau berperan aktif untuk terlaksananya kegiatan konstruksi.
f. Banyaknya tenaga kerja informal yang terlibat pada kegiatan konstruksi dengan turn over yang tinggi sehingga
membutuhkan sistem penanganan yang khusus.
g. Tingkat pengetahuan (knowledge) dari pekerja konstruksi yang beragam/ tidak merata, baik untuk pengetahuan teknis praktis maupun tingkat manajerial khususnya dalam pengetahuan peraturan/ peruandangan yang berlaku.

Manajemen Risiko pada Proyek Konstruksi

Manajemen risiko adalah suatu sistem pengelolaan risiko yang digunakan di dalam suatu organisasi, atau perusahaan, yang pada dasarnya merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus (continue), untuk mengendalikan kemungkinan timbulnya risiko yang membawa konsekuensiv merugikan organisasi atau perusahaan yang bersangkutan.

Keselamatan Kerja Pengoperasian Peralatan Crane

a. Syarat layak pemakaian crane:

  • Crane yang akan digunakan harus memiliki pengesahan pemakaian yang dikeluarkan oleh KEMENAKERTRANS.
  • Semua safety device berfungsi dan bekerja baik.
  • Perawatan secara berkala harus dilaksanakan sesuai dengan petunjuk pabrik pembuat.

b. Syarat operator :

  • Memiliki pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan mengetahui bahaya potensial mobile crane.
  • Memiliki Surat Ijin Operasi (SIO) yang dikeluarkan oleh KEMENAKERTRANS.
  • Sehat secara fisik maupun mental

c. Pemilihan Crane :

1) Perlu dilakukan peninjauan lapangan terlebih dahulu untuk mengetahui:
a) Kondisi permukaan tanah.
b) Ruang kerja aman yang dipergunakan.
c) Bahaya-bahaya potensial yang mungkin terjadi, misal instalasi pipa bertekanan, kabel listrik TT, dll.

2) Menentukan jenis, kapasitas angkat dan batas-batas kerja crane.
a. Syarat penempatan beban :

  • Pemilihan lokasi penempatan keran mobil harus mempunyai permukaan landasan yang rata.
  • Landasan harus mampu menahan berat crane dan berat beban.
  • Lokasi penempatan harus bebas dari rintangan dan lalu lalang orang.
  • Lokasi pengoperasian harus bebas dari bahaya-bahaya potensial.

b. Pemeriksaan sebelum pengoperasian :

  • Periksa semua safety device yang terpasang dan harus berfungsi.
  • Periksa stir roda, rem dan sistim operasinya (bila tidak dioperasikan dapat dilakukan perbaikan / penyetelan komponen).
  • Periksa bahan bakar. Dilarang mengisi bahan bakar selama engine hidup.
  • Gunakan pompa tangan pada saat pengisian bahan bakar.
  • Periksa air pendingin dengan engine berputar dan dalam keadaan dingin.
  • Dilarang melakukan service selama engine jalan.
  • Periksa tekanan udara ban.
  • Periksa kebersihan di dalam dan di luar kabin.
    Periksa APAR untuk memastikan dapat digunakan sewaktu-waktu, periksa secara berkala, ketahui cara penggunaannya.
  • Daftar Beban harus terpasang pada kabin sesuai dengan aslinya.

c. Pengoperasian crane :

  • Sebelum engine dihidupkan :
    *) Ketahui letak dan fungsi semua kontrol.
    *) Daerah operasi harus bebas dari lalu lintas orang.
  • Pasang semua penumpu dengan sempurna dan sepatu diletakkan pada landasan yang rata. Kemiringan 3º dapat mengurangi kapasitas crane ≥ 50%.
  • Tempatkan crane pada daerah yang aman dari arus listrik.uk
  • Beban termasuk beratnya pancing blok, berat ABA dan ABA lainnya harus dikurangkan terhadap kapasitas dalam Daftar Beban untuk menentukan kapasitas beban bersih.
  • Dilarang mengoperasikan crane pada radius dan panjang boom yang tidak tertera pada Daftar Beban.
  • Pengoperasian harus dihentikan bila kecepatan angin > 20 MPH.
  • Pengangkatan beban harus tegak lurus dengan ujung boom.
  • Peralatan pengangkatan (pancing blok, ABA dll) jaraknya harus selalu dijaga dengan ujung boom pada saat menurunkan dan memanjangkan untuk menghindari pancing blok menyentuh ujung boom (two blocking).
  • Beban yang diangkat selalu disesuaikan dengan panjang boom dan radius operasi.
  • Gerakan naik dan turunnya boom diusahakan tidak terlalu sering dan dilarang digunakan untuk pengangkatan awal dari barang.
  • Dilarang mengangkat barang melalui samping boom atau pembebanan samping, letakkan boom tegak lurus dengan beban yang akan diangkat.
  • Bila crane dioperasikan tanpa outriggers, pasang kunci ayunan as roda belakang.
  • Pengoperasian tanpa outriggers tidak diijinkan dengan boom tambahan terpasang.
  • Untuk pengoperasian crane dengan mengangkat beban sambil berjalan, boom harus lurus ke depan dan pasak pengunci swing dalam keadaan terpasang.
  • Untuk pengangkatan beban menggunakan lebih dari satu crane, kapasitas crane harus sama dan gunakan panjang boom yang sama serta gerakan yang sama. Posisi masing-masing crane antara boom dan
    pengikatan barang harus selalu tegak lurus. Pastikan beban tidak berat sebelah.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dalam Pengelasan

Bekerja dengan menggunakan media pengelasan semakin berkembang , sehingga disetiap kesempatan kerja selalu diikuti dengan potensi terjadinya kecelakaan kerja akibat kurangnya perhatian manusia, cara penggunaan peralatan yang salah atau tidak semestinya, pemakaian pelindung diri yang kurang baik dan kesalahan lain yang terjadi dilingkungan kerja bidang pengelasan. Keselamatan dan kesehatan kerja paling banyak membicarakan adanya kecelakaan dan perbuatan yang mengarah pada tindakan yang mengandung bahaya.

Untuk menghindari atau mengeliminir terjadinya kecelakaan perlu penguasaan pengetahuan keselamatan dan kesehatan kerja dan mengetahui tindakan tindakan yang harus diambil agar keselamatan dan kesehatan kerja dapat berperan dengan baik. Untuk membahas hal tersebut faktor yang paling dominan adalah kecelakaan, perbuatan yang tidak aman, dan kondisi yang tidak aman.

a. Kecelakaan
Faktor yang paling banyak terjadi di lingkungan kerja adalah adanya kecelakaan, dimana kecelakaan merupakan:
1) Kejadian yang tidak diinginkan yang dapat menimbulkan cedera fisik seseorang bahkan fatal sampai kematian/cacat seumur hidup dan kerusakan harta milik
2) Kecelakaan biasanya akibat kontak dengan sumber energi diatas nilai ambang batas dari badan atau bangunan
3) Kejadian yang tidak diinginkan yang mungkin dapat menurunkan efisiensi operasional suatu usaha

Hal-hal dalam kecelakaan dapat meliputi:
1) Kecelakaan dapat terjadi setiap saat (80% Kecelakaan akibat kelalaian)
2) Kecelakaan tidak memilih cara tertentu untuk terjadi
3) Kecelakaan selalu dapat menimbulkan kerugian
4) Kecelakaan selalu menimbulkan gangguan
5) Kecelakaan selalu mempunyai sebab
6) Kecelakaan dapat dicegah/dieliminir

b. Perbuatan tidak aman (berbahaya)
1) Tidak memakai APD (Alat Pelindung Diri) standard yaitu: Helm dengan tali, sabuk pengaman, stiwel dan sepatu tahan pukul, pakaian kerja, sarung tangan kerja dan APD sesuai kondisi bahaya kerja yang dihadapi saat bekerja
pengelasan.
2) Melakukan tindakan ceroboh/tidak mengikuti prosedur kerja yang berlaku bidang pengelasan.
3) Pengetahuan dan keterampilan pelaksana yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang dibebankan padanya.
4) Mental dan fisik yang belum siap ntuk tugas-tugas yang diembannya.

c. Kondisi tidak aman (berbahaya)
1) Lokasi kerja yang kumuh dan kotor
2) Alokasi personil/pekerja yang tidak terencana dengan baik, sehingga pada satu lokasi dipenuhi oleh beberapa pekerja. Sangat berpotensi bahaya
3) Fasilitas/sarana kerja yang tidak memenuhi standard minimal, seperti scaffolding/perancah tidak aman, pada proses pekerjaan dalam tangki tidak tersedia exhaust blower
4) Terjadi pencemaran dan polusi pada lingkungan kerja, misal debu, tumpahan oli, minyak dan B3 (bahan berbahaya dan beracun)

d. Waspadai kondisi berbahaya sebagai berikut:
1) Saat berada didalam ruang tertutup/tangki waspadailah gas hasil pengelasan.
2) Gas mulia/Inert gas: gas yang mendesak oksigen sehingga kadar oksigen berkurang dibawah 19,5% sehingga berbahaya bagi pernapasan manusia.
e. Bahaya-bahaya dalam pengelasan dan pencegahannya sebagai berikut:
1) Kejutan listrik selama pelaksanaan pengelasan dengan mesin las busur listrik
2) Ledakan karena adanya kebocoran pada gas-gas yang mudah terbakar seperti gas asetilin
3) Cedera pada mata akibat penyinaran
4) Silau nyala api gas
5) Cedera karena asap dan gas yang dihasilkan selama proses pengelasan
6) Kebakaran, ledakan dan luka bakar akibat percikan terak pengelasan
7) Ledakan tabung asetilin, oksigen, gas CO2 dan gas argon

f. Sebab-sebab utama kejutan listrik selama pengelasan dengan busur listrik
1) Karena perlu menyalakan kembali dan menjaga kestabilan busur las, maka tegangan listrik AC pada mesin las busur listrik harus dijaga agar tetap tinggi
2) Isolasi yang tidak efektif karena adanya kerusakan pada pembungkus kabel las
3) Isolasi yang tidak efektif dari mesin las busur listrik dan terbukanya bidang pengisian pada terminal penghubung kabel mesin las
4) Isolasi yang tidak efektif pada gagang batang las
5) Pengelasan busur listrik pada lokasi dikelilingi oleh material konduksi seperti bejana tekan atau struktur dasar ganda dari kapal

g. Cara-cara mencegah bahaya kejutan listrik selama pengelasan dengan busur listrik
1) Pencegahan arus listrik mengalir ke seluruh tubuh manusia

  • Pakaian kerja harus kering dan tidak boleh basah oleh keringat atau air
  • Sarung tangan harus terbuat dari kulit, kering dan tanpa lubang pada ujung jari
  • Harus memakai sepatu karet yang seluruhnya terisolasi.
  • Mesin las busur listrik AC harus memiliki alat penurun tegangan otomatis atau mesin las busur listrik DC tegangannya harus relatif rendah, sekitar 60V

2) Memastikan tidak adanya kebocoran arus listrik

  • Mesin-mesin las busur listrik itu sendiri, meja kerja las dan lembar kerja yang akan dilas harus benar-benar “membumi”.
  • Jika pembungkus kabel-kabel input atau output sobek dan kawatnya terbuka, maka tutuplah dengan pita isolasi atau ganti seluruh kabelnya.
  • Isolasi terminal-terminal kabel pada sisi input/output, kabel pada gagang elektrode dan sisi gagang elektrode, dan hubungan pada konektor kabel harus sempurna.
  • Hubungan kabel-kabel yang ada di meja kerja las, lembar kerja yang akan dilas dan logam dasar dengan benar menggunakan penjepit-penjepit khusus.
  • Ketika meninggalkan bengkel pengelasan untuk beristirahat, pastikan bahwa batang elektrode las telah dilepaskan dari gagang elektrode (holder).

h. Bahaya-bahaya sinar busur las dan nyala api gas
1) Temperatur busur las sama tingginya dengan temperatur permukaan matahari, kira-kira 5000-60000C, sedangkan temperatur nyala api gas asetilin adalah kirakira 31000C.
2) Keduanya menimbulkan radiasi sinar yang kuat sehingga berbahaya bagi mata. Sinar-sinar tersebut meliputi, sinar-sinar yang kasat mata, juga sinar ultraviolet (gelombang elektromagnetik) dan sinar inframerah (thermal) yang tidak kasat mata.
3) Sinar yang ada pada las busur listrik kebanyakan adalah sinar ultraviolet, sedangkan nyala api las memancarkan sinar infrared. Sinar ultraviolet dan sinar infrared menimbulkan kerusakan pada mata dan kulit dapat terbakar seperti terbakar sinarmata

i. Alat-alat pelindung dari sinar yang berbahaya
1) Kaus tangan atau masker pelindung wajah sejenis helm dengan plat-plat baja anti-cahaya dilengkapi dengan jumlah penyaring yang cukup memadai serta kacamata pelindung digunakan ketika mengerjakan las busur listrik atau las gas
2) Pekerja las harus memakai pakaian kerja lengan panjang dan menutupi leher dengan handuk sehingga kulit terlindung dari paparan sinar busur las
3) Pekerja harus merawat kedua matanya dengan meneteskan obat tetes mata dan menggunakan kompres pendingin untuk melindungi lingkungan pekerja dari sinar-sinar yang berbahaya tersebut, perlu digunakan layar pelindung cahaya

Keselamatan Kerja Menggunakan Listrik

Listrik merupakan energi dibangkitkan oleh sumber energi biasanya generator dan dapat yang mengalir dari satu titik ke titik lain melalui konduktor dalam rangkaian tertutup. Potensi bahaya listrik adalah:
• Bahaya kejut listrik
• Panas yang ditimbulkan oleh energi listrik
• Medan listrik

Pekerja dapat mengalami bahaya listrik pada kondisi-kondisi sebagai berikut:
• Pekerja berhubungan/menyentuh kedua konduktor pada rangkaian listrik yang bertegangan.
• pekerja berada pada bagian antara konduktor yang ditanahkan (grounding) dan konduktor yang tidak ditanahkan (grounding)
• Pekerja berada pada bagian konduktor yang ditanahkan dengan material yang tidak ditanahkan.

Gambar 1 Arus listrik yang mengalir pada tubuh manusia
Dampak cidera akibat bahaya arus kejut pada manusia (pekerja) tergantung:
a. besar arus yang mengalir ke tubuh manusia
b. bagian tubuh yang terkena
c. lama/ durasi pekerja terkena arus kejut

Besar arus yang mengalir tergantung besar beda potensial dan resistansi. Efek arus kejut pada manusia dapat mengakibatkan kematian. Arus kejut listrik yang mengenai tubuh akan menimbulkan:

  1. menghentikan fungsi jantung dan menghambat pernafasan.
  2. Panas yang ditimbulkan oleh arus dapat menyebabkan kulit atau tubuh terbakar, khususnya pada titik dimana arus masuk ke tubuh.
  3. Beberapa kasus dapat menimbulkan pendarahan, atau kesulitan bernafas dan gangguan saraf.
  4. Gerakan spontan akibat terkena arus listrik, dapat mengakibatkan cidera lain seperti akibat jatuh atau terkena/tersandung benda lain.

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah bahaya listrik? Kecelakaan listrik disebabkan oleh kombinasi tiga faktor, yaitu :

• Peralatan/instalasi yang tidak aman
• Tempat kerja berada di lingkungan yang tidak aman
• Praktik kerja yang tidak aman

a. Pengendalian bahaya listrik dari sentuh langsung

  1. Mengisolasi bagian aktif
  2. Menutup dengan Penghalang atau Selungkup
  3. Membuat rintangan
  4. Memberi Jarak aman atau diluar jangkauan
  5. Menggunakan alat pelindung diri.

Pengendalian yang harus dilakukan antara lain :

  • Menutup semua instalasi yang terbuka
  • Mengisolasi bagian aktif/ konduktor
  • Memperbaiki penutup instalasi yang rusak
  • Memperbaiki atau mengganti peralatan yang rusak
  • Menghindari lingkungan kerja yang tidak aman
  • Mengecek / memeriksa kondisi kawat atau core kabel
  • Memeriksa dan melakukan pengukuran grounding
  • Menggunakan peralatan/ sistem grounding yang benar
  • Menghindari penggunaan yang melebihi kapasitasnya
  • Memeriksa dan memelihara peralatan listrik dengan baik
  • Menggunakan peralatan/ sistem pengaman

Tips aman dari bahaya listrik

  • Gunakan sarung tangan dan sepatu khusus untuk bahaya listrik;
  • Simpan peralatan listrik yang tidak digunakan di tempat yang kering;
  • Jangan menggunakan peralatan listrik yang basah/ lembab;
  • Usahakan tempat kerja listrik terang;
  • Pastikan tidak mendekati potensi bahaya listrik;
  • Jangan membawa alat dengan kabel;
  • Jangan mencabut/menyentak untuk melepaskan tusuk kontak;
  • Jaga kabel dari panas, minyak dan benda tajam;
  • Lepaskan dari sumber listrik, peralatan yang tidak digunakan;
  • Ganti setiap peralatan yang rusak;
  • Menyediakan sistem ‘tidak menyalahkan’ untuk pelaporan kesalahan dan protocol yang mencegah peralatan listrik yang rusak dari penggunaan sampai diperbaiki;
  • Pastikan bahwa saklar daya utama untuk mematikan daya listrik mudah dijangkau dan jelas ditandai, sehingga dapat dengan cepat dimatikan dalam keadaan darurat.

Potensi Bahaya yang Mengakibatkan Risiko Langsung pada Keselamatan

Kategori ini berkaitan dengan masalah atau kejadian yang memiliki potensi menyebabkan cidera dengan segera. Cidera tersebut biasanya disebabkan oleh kecelakaan kerja. Ini biasanya terjadi ketika risiko yang tidak dikendalikan
dengan baik. Saat prosedur kerja aman tidak tersedia atau sebaliknya tetapi tidak diikuti.

Sebagai contoh:
• alat berat jatuh menimpa kaki pekerja dan mengakibatkan patah tulang;
• posisi papan perancah tidak benar dan jatuh ketika pekerja melangkah.

Selain kecelakaan kerja, terdapat kejadian yang tidak biasa di tempat kerja yang mungkin dapat berakibat membahayakan orang atau properti jika keadaan sedikit berbeda. Hal ini biasa disebut “Hampir celaka” Baik kecelakaan atau hampir celaka mengakibatkan cedera, masing-masing harus diselidiki untuk menentukan akar penyebabnya. Tindakan korektif kemudian dapat diambil untuk mencegah kemungkinan terulangnya kejadian dan cedera yang sama.

Kecelakaan atau hampir celaka jarang terjadi karena satu hal. Sebaliknya, seringkali dipicu oleh beberapa faktor kausal yang mengakibatkan kecelakaan. Faktor-faktor ini seperti penghubung dalam rantai yang berakhir dengan
kecelakaan.

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penyebab kecelakaan dapat dikelompokkan menjadi lima kategori:

  • Faktor manusia: Tindakan-tindakan yang diambil atau tidak diambil, untuk mengontrol cara kerja yang dilakukan
  • Faktor material: Risiko ledakan, kebakaran dan trauma paparan tak terduga untuk zat yang sangat beracun, seperti asam
  • Faktor Peralatan: Peralatan, jika tidak terjaga dengan baik, rentan terhadap kegagalan yang dapat menyebabkan kecelakaan
  • Faktor lingkungan: lingkungan mengacu pada keadaan tempat kerja. Suhu, kelembaban, kebisingan, udara dan kualitas pencahayaan merupakan contoh faktor lingkungan.
  • Faktor proses: Ini termasuk risiko yang timbul dari proses produksi dan produk samping seperti panas, kebisingan, debu, uap dan asap.

Sangat penting untuk memiliki sistem pelaporan kecelakaan dan hampir celaka yang baik, menggabungkan penyelidikan ‘tidak menyalahkan pekerja’. Salah satu atau semua faktor di atas dapat berkontribusi terhadap risiko, yang akhirnya dapat mengakibatkan kecelakaan yang menyebabkan cedera atau kematian. Sebuah sistem pelaporan keselamatan yang baik merupakan cara penting untuk memutus rantai kecelakaan.

Pengelolaan Kebersihan dan Lingkungan Area Kerja

Lingkungan hidup yang bersih dan sehat merupakan dambaan bagi setiap warga masyarakat” Lingkungan bersih dan sehat juga merupakan salah satu modal dasar penting bagi pembangunan manusia Indonesia karena kualitas lingkungan sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu pemerintah bersama-sama dengan masyarakat harus berupaya untuk menciptakan lingkungan menjadi bersih dan sehat.

Lingkungan yang bersih dan sehat adalah lingkungan yang bebas dari berbagai kotoran, termasuk di antaranya debu, sampah dan bau. Karena proses penularan penyakit disebabkan oleh mikroba, lingkungan yang bersih dan sehat juga berarti harus bebas dari virus, bakteri pathogen dan berbagai vektor penyakit. Lingkungan bersih dan sehat juga harus bebas dari bahan kimia berbahaya. Namun demikian masalah kebersihan dan kesehatan lingkungan selalu menjadi polemik berkepanjangan di masyarakat. Bahkan kasus-kasus yang menyangkut masalah kebersihan dan kesehatan lingkungan selalu meningkat setiap tahun.

Dampak buruk terhadap kualitas lingkungan, misalnya pengelolaan sampah dan limbah yang kurang baik, meningkatnya penggunaan bahan-bahan yang tidak mampu didegradasi oleh alam, meningkatnya jumlah dan penggunaan kendaraan pribadi dan kendaraan yang tidak layakjalan, dan operasi industri yang berpengelolaan buruk. Perencanaan tata ruang dan wilayah yang tidak mempedulikan kaidah pelestarian lingkungan, kelemahan birokrasi, penegakan hukum dan kelembagaan juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi kualitas lingkungan.

Kepedulian masyarakat yang rendah terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan semakin memperparah kondisi lingkungan. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah di sungai atau selokan yang dapat menyebabkan meluapnya air sungai atau banjir yang tidak terduga. Bahkan banyak berdiri bangunan yalng tidak memikirkan saluran air pembuangan sehingga air tidak mengalir normal atau sistem drainase yang tidak berjalan karena banyaknya penyumbatan.

Rendahnya kualitas lingkungan akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Lingkungan yang tidak terawat, kumuh dan kotor akan menjadi tempat berkembangnya berbagai macam mikroorganisme penyebab penyakit dan organisme vektor pembawa penyakit. Akibatnya masyarakat menjadi rentan terhadap berbagai macam penyakit. Kondisi ini jelas akan menghambat pembangunan yang sedang dijalankan.

Kualitas lingkungan permukiman sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Penduduk yang menempati lingkungan permukiman yang bersih dan sehat umumnya juga dalam keadaan sehat, sebaliknya yang menempati lingkungan permukiman yang jelek dan tidak teratur mereka sering menderita bermacam-macam penyakit, sehingga menyebabkan banyak kematian di kalangan anak-anak yang berumur di bawah lima tahun. Penyakit yang timbul karena jeleknya lingkungan permukiman itu, misalnya TBC, radang paru, bronchitis, tipus, disentri, influenza, campak, caca\malaria dan sebagainya.

Melihat kondisi di atas maka pemerintah harus menjadi pionir dalam menggalakkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dengan cara ini diharapkan masyarakat dapat menyadari akan kebutuhan pokok mengenai permukiman yang sehat. Mereka harus diberi pengetahuan dan pemahaman akan pentingnya permukiman yang bersih dan sehat melalui berbagai media sosialisasi atau pelaksanaan program pemerintah yang lebih menitik beratkan pada peningkatan partisipasi masyarakat setempat, sehingga mereka lebih banyak memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan mempertahankan atau bahkan meningkatkan kondisi lingkungan menjadi lebih baik. Kegiatan dapat di lakukan melalui media sosial agar lebih efektif.

Pemerintah dan masyarakat diharapkan mampu untuk bekerja sama dalam hal menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Pemerintah sebagai aparat negara selama ini sudah berperan dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Peraturan Daerah tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan telah diterbitkan oleh pemerintah dalam upaya menggalakkan kesadaran masyarakat terhadap kesadaran lingkungan. Selain itu, pemerintah juga sudah melakukan berbagai upaya dalam menjaga kebersihan dan kesehatan melalui Dinas Kebersihan walaupun dapat dinilai belum maksimal.

Jika pemerintah melaksanakan tugas dengan baik dalam menciptakan kebersihan dan kesehatan lirtgkungan, kemudian masyarakat ikut memelihara kebersihan lingkungannya, maka dapat kita lihat alangkah indahnya kondisi lingkungan tempat kita melaksanakan aktivitas seharihari. Oleh karena itu, kita harus memulai dari hal terkecil dan harus mulai dari lingkungan terdekat dalam upaya menjaga kebersihan dan kes ehatan lingkungan.

Konsep 5R di Dalam Area Kerja

Semua tempat kerja dan proyek harus menerapkan konsep 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin).
• 5R adalah langkah awal untuk pencegahan kecelakaan kerja.
• Seluruh personel harus berkomitmen untuk menerapkan konsep 5R.

Ringkas
Ringkas adalah memisahkan segala sesuatu yang diperlukan dan menyingkirkan yang tidak diperlukan dari tempat kerja. Mengetahui benda mana yang tidak digunakan, mana yang akan disimpan, serta bagaimana cara menyimpan supaya dapat mudah diakses terbukti sangat berguna bagi sebuah perusahaan. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan mendata berbagai jenis barang yang dimilikimenggolongkan sesuai dengan jenis dan kegunaannya, memberi tanda untuk barang-barang tertentu, kemudiamenempatkan barang pada tempat yang semestinya.

Rapi
Rapi adalah menempatkan barang pada tempatnya sehingga tidak terlihat berserakan pada tempat kerja yang mampu membahayakan keamanan pekerjanya. Rapi adalah menerapkan prinsip kaizen yang merupakan perbaikan yang berkelanjutan.

Resik
Resik adalah melakukan pembersihan tempat, peralatan maupun pakaian kerja yang digunakan. Dengan prinsip ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan kerja yang bersih dan nyaman.

Rawat
Rawat adalah melakukan perawatan agar apa yang diperoleh pada tiga tahapan sebelumnya dicapai dapat dipertahankan. Perawatan tidak terbatas pada produk yang dihasilkan melainkan perawatan pada peralatan yang digunakan dalam menjalankan proses produksi.

Rajin
Rajin adalah terciptanya kebiasaan pribadi karyawan untuk menjaga dan meningkatkan apa yang sudah dicapai. Rajin adalah terkait dengan ketepatan waktu kerja, ketepatan memenuhi permintaan pelanggan, ketepatan mencapai target yang hendak dicapai. Setelah tercapai kemudian dipertahankan agar kondisi kerja yang kondusif dapat dipertahankan.