Peningkatan K3 Melalui Optimalisasi Sektor Informal

keselamatan dan kesehatan kerja

keselamatan dan kesehatan kerja – Pengusaha kecil serta menengah adalah kelompok industri modern, industri tradisional, serta industri kerajinan dengan nilai investasi serta modal usaha dibawah Rp 70 juta dengan dampak investasi modal/tenaga kerja Rp 625.000 ke bawah.

Berdasar BPS atau Badan Pusat Statistik, usaha-usaha menengah dibagi beberapa bagian, yakni: Usaha rumah tangga terdiri 1-5 tenaga kerja, Usaha kecil menengah terdiri 6-19 tenaga kerja, Usaha menengah terdiri 20-29 tenaga kerja serta Usaha besar lebih dari 100 tenaga kerja.

Tiap jenis usaha serta tempat kerja baik pada sektor resmi atau informal memiliki dampak bahaya gangguan kesehatan serta kecelakaan. Biasanya, para pekerja sektor informal kurang mempunyai kesadaran serta pengetahuan mengenai dampak bahaya yang ada di tempat kerja.

Pekerja di bidang informal mempunyai beban serta waktu kerja lebih sebab tuntutan dari pengusaha pada jumlah produk yang dibuat tanpa memerhatikan kesehatan serta keselamatan pekerjaanya. Ini berlangsung salah satunya sebab minimnya sosialisasi pada pengusaha atau pekerja berkaitan dengan dampak bahaya di lingkungan kerja.

Usaha keselamatan serta kesehatan kerja (K3) tidak hanya hal teknik, mekanik harus memerhatikan dengan khusus faktor manusiawi. Dalam hal ini, menambah pengetahuan serta pemberdayaan pada pekerja mengenai keselamatan kesehatan kerja (K3) adalah hal yang penting .

Pentingnya mencegah penyakit akibat kerja serta kecelakaan bisa di tempuh dengan memberi pemahaman mengenai keselamatan serta kesehatan kerja dan penerapan sikap pada keselamatan kerja pada karyawan untuk mengurangi serta mencegah munculnya kerugian.

Untuk menambah pengetahuan serta kesadaran pada masyarakat industri bidang informal, peranan pos UKK jadi sangat penting. Pos Usaha Kesehatan Kerja (UKK) adalah usaha kesehatan kerja bagi pekerja informal yang bersumberdaya dari, oleh, serta untuk masyarakat pekerja tersebut.

Pekerjaan yang dikerjakan mencakup usaha promotif, mencegah serta penyembuhan sederhana yang berbentuk pertolongan pertama pada kecelakaan serta pertolongan pertama pada penyakit.

Penekanan pada usaha promosi serta preventif untuk mengubah perilaku beberapa pekerja untuk mengurangi dampak kecelakaan serta penyakit karena kerja, dan usaha meningkatkan kesehatan pekerja.

Peranan Kader Pos UKK diantaranya ialah Identifikasi masalah kesehatan di lingkungan kerja, menyusun gagasan pemecahan masalah, melakukan kegiatan kesehatan di lingkungan kerja melalui promo.

Dengan menjalin kemitraan dengan beberapa faksi, lakukan pelayanan kesehatan kerja fundamen, melakukan kewaspadaan dini pada dampak serta masalah kesehatan pekerja, melakukan rujukan ke Puskesmas, pendataan serta pelaporan.

Optimalisasi pos UKK yang ada dipuskesmas jadi langkah riil yang dikerjakan pemerintah untuk menigkatkan kesehatan serta keselamatn bagi masyarakat pekerja pada bidang informal melalui program publikasi.

Kegiatan publikasi adalah kegiatan posisitif yang bisa dikerjakan oleh pos UKK untuk menambah pengetahuan sebab pengetahuan ialah suatu domain yang bisa membentuk tingkah laku.

Pembentukan tingkah laku melalui penambahan pengetahuan diharapkan bisa mengubah iklim keselamatan serta kesehatan (safety climate) yang ada dilingkungan kerja hingga budaya K3 (safety culture) bisa tercipta.

Tidak hanya peningkatan pengatahuan lewat publikasi perlu diselenggarakan pemeriksaan kesehatan dengan berkala khususnya puskesmas yang ada di daerah yang memiliki jumlah UKM yang besar.

Pengecekan kesehatan yang ditujukan ialah pengecekan kesehatan kerja berdasar identifikasi serta analisa dampak bahaya yang ada di tiap UKM.

Sehingga pengecekan kesehatan yang dikerjakan bisa mengambarkan dampak yang berlangsung karena paparan bahaya khusus, contohnya pengecekan faal paru karena paparan debu, pengecekan trans,trans-muconic acid (ttMA) karena paparan benzene dan sebagainya.

Safety Behavior atau Perilaku Aman dan Kesehatan Kerja (Safety)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Erat Produktivitas Kerja

Sikap aman kesehatan keamanan kerja – Dalam mengidentifikasi serta memahami potensi yang beresiko dalam tempat kerja meliputi : Perilaku serta sikap kerja yang aman. Tindakan dalam mengidentifikasi serta memahami potensi yang beresiko dalam tempat kerja meliputi :

  • Perilaku serta sikap kerja yang aman.
  • Tindakan pemeliharaan tempat kerja.
  • Lingkungan kerja yang aman
  • Perlindungan personal
  • Memakai perlengkapan tangan serta listrik dengan aman.
  • Pemadam kebakaran.

1. Perilaku serta sikap aman.

Kenapa keamaan, kesehatan, kerja (safety) di tempat kerja sangatlah penting? Jika di satu tempat kerja setiap tahun lebih dari 50 orang meninggal, lebih dari 35,000 orang cedera serta lebih dari 5,000 orang sakit yang disebabkan oleh tempat kerja yang tidak aman. Biaya yang perlu ditanggung untuk seluruhnya ialah menakjubkan $ 2.5 Milyar. Tapi kita bisa mencegahnya dengan :

  • Meningkatkan kesadaran pada keamanan, kesehatan, kerja.
  • Memperlakukan keamanan, kesehatan, kerja (safety) dalam tempat kerja.

a. Meningkatkan kesadaran keamanan, kesehatan, kerja (safety).

Bagian yang mutlak untuk melatih anda serta anda meningkatkan kebiasaan berpikir serta berperilaku aman (safety) setiap saat.

Belajar kerja dengan aman :

  • Kapanpun kalian akan mempelajari sesuatu mengenai pekerjaan, kalian diwajibkan untuk belajar serta menanyakan bagaimana kerja dengan aman (safety).

Mencegah kecelakaan :

  • Berlaku cermat pada pencegahan kecelakaan serta sadar pada pemicu serta konsekwensi dari kecelakaan. Bila kalian sudah tahu mengenai apakah pemicu kecelakaan, tentu kalian juga akan tahu apakah yang tidak akan ditangani.

Peringatan Keamanan :

  • Sempatkan diri untuk membaca peringatan keamanan, kesehatan, kerja (safety).

Kehadiran tempat kerja anda :
Ketahuilah kehadiran tempat kerja anda dengan tuntas, mencakup tempat :

  • Pemadam kebakaran.
  • Perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan.
  • Saklar darurat atau emergensi daya listrik.
  • Perlengkapan perlindungan serta pakaian pelindung.
  • Pintu darurat keluar.

b. Perilaku aman dalam tempat kerja.

Perilaku kalian sendiri sebagai aman saat kerja serta istirahat. Mungkin kalian bisa bermain bola, dengan ekstrim akan membahayakan tempat kerja.

  • Janganlah menyandung atau menyenggol orang yang lain.
  • Tetap berjalan dalam tempat kerja, janganlah lari.
  • Janganlah bergurau.
  • Janganlah mempermainkan alat pemadam kebakaran.
  • Janganlah mempermainkan alat atau perlengkapan bengkel.
  • Janganlah mengganggu pengoperasian perlengkapan atau alat yang berhahaya.
  • Konsetrasi pada pekerjaan, tapi sadar kejadian apakah di sekitar tempat kerja anda.
  • Patuhi rambu-rambu keamanan serta pembatas pada ruang terlarang.

Demikian, info yang bisa kami berikan untuk kalian. Semoga info ini bisa bermanfaat untuk kalian semua.

Keselamatan Kerja dan Kesehatan Di Industri Konstruksi

Industri konstruksi merupakan sektor industri yang mempunyai tingkat risiko tinggi baik dari segi risiko usaha maupun risiko keselamatan kerja dan kesehatan. Berdasarkan data dari International Labor Organization (ILO) yang dikutip dalam Bisnis Indonesia (22 Januari 2010) menyebutkan setidaknya ada 1,1 juta kasus kematian setiap tahunnya di dunia, akibat kecelakaan kerja atau penyakit yang ditimbulkan lingkungan kerja.

King dan Hudson (1985) menyatakan bahwa kematian pada proyek konstruksi di negara-negara berkembang lebih tinggi 3 kali lipat dibandingkan dengan di negara-negara maju sebagai akibat penegakan hukum yang sangat lemah. Tingginya tingkat risiko ini akan berpengaruh terhadap keseluruhan tingkat keberhasilan pekerjaan konstruksi.

Kegagalan penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif seperti penundaan penyelesaian proyek, menurunnya produktifitas kerja, membengkaknya anggaran, rusaknya citra perusahaan penyedia jasa, serta akibat-akibat negatif lainnya.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan K3 yang baik sebagai salah satu bagian dari CSR dapat menjadi competitive strategy bagi perusahaan. Porter (1985) menjelaskan competitive strategy sebagai kemampuan perusahaan untuk menciptakan optimum value bagi klien.

Pelaksanaan K3 yang baik terbukti dapat meningkatkan serta memperbaiki kedisiplinan kerja serta produktivitas karyawan yang akhirnya mempengaruhi produktivitas perusahaan. Muniz et al. (2009) menemukan beberapa aspek kunci yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan K3 yaitu : kebijakan, insentif & partisipasi karyawan, pelatihan, komunikasi, perencanaan serta control/pengawasan.

Perusahaan kontraktor yang memiliki catatan pelaksanaan K3 yang baik (tanpa kecelakaan kerja) pada proyek-proyek sebelumnya akan lebih mudah untuk mendapatkan kepercayaan  dari  stakeholder  atau  klien  untuk  mendapatkan  proyek-proyek selanjutnya.